Selena's First Love

Selena's First Love
Bab 89 End



"Hai, bayi ganteng!" Sapa Nana pada putranya yang tanpa terasa sudah berusia tiga bulan itu.


"Sudah bangun Sayang?" Nana membuka kelambu yang menutup bagian atas box bayi yang menjadi tempat tidur bagi Sagara.


Rutinitasnya setiap hari berubah drastis semenjak kelahiran Sagara. Ia harus bangun pagi menyiapkan sarapan untuk Bara tapi tak boleh melupakan Gara yang masih ASI ekslusif.


Ia tetap dibantu oleh satu asisten rumah tangga, tapi soal mengurus putranya, ia tidak ingin menggunakan jasa pengasuh. Sesekali mama Ayu dan mertuanya pasti datang dan membantu Nana menjaga Gara.


"Sayang! Lihat papa bawa apa!" teriak Bara di halaman depan rumah.


Nana yang mendengar suara Bara mulai mencari asal suara itu. Bara sebenarnya sedang bekerja, tapi tak jarang ia pulang pada jam makan siang.


Nana keluar dari kamar menuju balkon. Tampak Bara sedang berdiri di halaman depan. Disampingnya ada sebuah sepeda motor untuk anak-anak yang bisanya dikendalikan dengan remote control.


"Lihat! Papa belikan kamu motor!" teriak Bara membuat Nana mendelik.


Putranya bahkan baru belajar tengkurap, tapi Bara sudah membelikan mainan untuk anak diatas satu tahun itu.


Nana meminta Bara naik ke atas. Dan Bara segera masuk dan menuju ke kamar.


Nana masuk ke dalam karena angin dibalkon cukup kencang hingga membuat Gara sedikit terganggu.


"Selamat siang! Gara baru bangun tidur ya Sayang?" tanya Bara saat melihat Nana duduk di sofa yang biasanya memang digunakan untuk menyusui putra mereka.


"Hem!" Sahut Nana singkat karena ia sedang menatap mata putranya yang sedang menyusu.


"Bagaimana?"


"Tunggu sebentar, aku selesaikan menyusui Gara dulu."


Nana kembali meletakkan Gara di atas ranjang setelah bayi itu selesai menyusu dan sudah disendawakan.


"Bagaimana hadiahku?" tanya Bara tak sabar.


Nana berdiri menghadap kearah Bara yang sedang duduk di pinggir ranjang. Suaminya itu tak melunturkan senyum sedikitpun.


"Kamu beli itu untuk siapa, Sayang?" tanya Nana.


"Tentu untuk Gara, dong!"jawab Bara senang. "Dia pasti kelihatan ganteng seperti papanya saat naik motor sport seperti itu."


Bara sejak masih sekolah memang sering menggunakan motor sport miliknya.


Nana mengulum senyum tidak jadi marah pada suaminya. "Kamu pede banget ih!" Nana mengacak rambut Bara.


Bara tertawa. "Benar kan?" tanyanya. "Papanya Gara ini memang ganteng. Kalau gak, mamanya Gara mana mungkin jatuh cinta pada papanya Gara!"


Nana tertawa. Ia ingat saat pertama kali bertemu Bara. Saat itu mobilnya mogok dan Bara datang sebagai montir dari bengkel langgana papanya.


Ia langsung jatuh cinta. Pria pertama yang berhasil membuat dadanya berdegup kencang dan darahnya berdesir hebat. Sejak itu, Bara layak disebut sebagai cinta pertamanya.


"Kenapa malah melamun?" tanya Bara saat menyadari istrinya menatapnya dengan pandangan kosong.


Nana tertawa. "Kamu ganteng bukan karena motor itu."


"Lalu?"


"Karena kamu habis potong rambut!" jawab Nana polos.


Bara mengerutkan kening. "Aku jatuh cinta pada pandangan pertama, Sayang!"


"Kamu tampak ganteng!"


"Bukan karena motor kamu, tapi tampilan kamu yang sedikit apa-apa badboy gitu!"


Bara terkekeh. "Kalau seandainya bukan aku yang datang untuk memperbaiki mobil kamu, pasti kamu gak akan menjadi istriku sekarang."


"Mungkin Dadang, Fahri, atau pak Mandor."


"Eh, pak Mandor harus di skip. Dia sudah menikah waktu itu!" Bara tertawa.


Bara memegang tanya Nana yang menempel dipipinya. "Kalau aja aku gak lihat gadis cantik masuk ke barber shop sambil menggendong anak kecil yang terlepas dari orang tuanya, mungkin aku gak akan jatuh cinta."


"Nah, kan! Benar!" sambar Nana.


"Bukan karena motor kamu, tapi karena kamu potong rambut!" Keduanya tertawa.


Kadang kita tidak pernah tahu kapan dan dimana Tuhan mempertemukan kita dengan jodoh kita. Dan bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita, itu adalah rahasia-Nya.


Cinta juga bisa tumbuh kapan saja. Pada pandangan pertama atau saat sudah terbiasa bersama.


Berawal dari rasa suka atau bahkan benci. Berawal dari teman atau musuh. Berawal dari tidak saling mengenal, lalu cinta tiba-tiba tumbuh lewat rasa kagum.


"Kadang aku merasa, gak percaya karena kita bisa melewati banyak hal hingga akhirnya bisa bersama." Bara menarik Nana dalam pengakuannya.


Bara memeluk Nana dari belakang. Tangannya mendekap erat perut istrinya dan ia menyadarkan kepalanya di bahu Nana.


"Terlalu banyak, Sayang. Bahkan aku tidak ingat urutannya satu per satu."


Pikiran Nana flashback ke masa-masa beberapa tahun silam saat ia dengan terpaksa pindah ke rumah papanya dan juga terpaksa pindah sekolah.


Dari sanalah kisah asmaranya dengan Bara bermula hingga akhirnya ia bisa memeluk Gara sebagai buah cinta mereka berdua.


"Perjodohan, persahabatan, perdebatan, pengakuan, perbedaan pendapat, saling menjauh, mempertahankan ego, terluka, sedih, menangis semua sudah kita lewati," ucap Nana.


"Dan harapan terbesar ku adalah kita bisa selamanya bersama. Sama sama belajar menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari," ucap Bara.


"Belajar menjadi orang tua yang baik untuk putra kita- Gara atau mungkin untuk adik-adiknya juga." Bara menunjuk Gara yang terlelap di boxnya.


"Kesalahan orang tua kita, dan imbasnya cukup kita berdua yang rasakan, Na!"


"Pertengkaran mereka membuat mereka harus berpisah. Tapi, aku ingin kita tidak akan menyerah hanya karena pertengkaran."


"Tetaplah mencintaiku, Na. Karena saat kita masih memiliki cinta yang sama, aku yakin sehebat apapun pertengkaran, aku akan tetap menjadikan kamu rumah untuk pulang."


Nana melingkarkan tangannya di leher Bara. Ia melihat wajah tampan terawat yang ada di depan matanya kini.


"Kamu benar, Sayang!" ucap Nana. "Biarlah masa lalu menjadi pembelajaran terbaik untuk kita berdua."


"Mengajarkan kita bahwa cinta orang tua juga sangat berarti bagi anak-anak kita."


Bara mengangguk. "Semoga kita diberi umur panjang untuk bisa melihat Gara tumbuh bersama adik-adiknya kelak. Melihat Gara menemukan cinta pertamanya."


"Hahaha..." Nana tertawa. "Aku gak bisa membayangkan bagaimana kalau suatu saat nanti dia datang dan mengenalkan seorang gadis padaku, Bar!"


"Aku juga belum siap, Na!" Bara tertawa.


"Lihat!" Bara menunjuk Box bayi dimana Gara sedang menghisap jarinya.


"Dia masih bayi, tapi kita sudah membayangkan hingga puluhan tahun ke depan!" Mereka tertawa bersama.


Inilah akhir kisah mereka. Dimana dua anak manusia dipertemukan. Dua insan yang punya latar belakang keluarga yang broken home.


Keduanya bisa saling menguatkan, saling berbagi cerita dan juga saling menghibur.


Cinta pertama pada pandangan pertama. Terdengar aneh, tapi percayalah, memang terkadang sebagai orang merasakan hal itu.


Mungkin awalnya hanya sebatas mengagumi fisik, sikap atau cara orang tersebut memperlakukan orang lain.


Dan satu hal lagi. Perpisahan memang menimbulkan luka. Perpisahan memang akan berimbas pada anak-anak. Tapi bertahan dalam hubungan buruk juga bukan pilihan.


Membuat anak mendengar pertengkaran malah menyebabkan trauma bagi anak itu sendiri. Bahkan bisa saja menjadikan anak yang pembangkang dan mudah marah, seperti apa yang pernah mereka lihat dari orang tuanya.


Jika memang berpisah menjadi pilihan terbaik, maka tetaplah hadirkan cinta untuk anak-anak. Meskipun cinta datang dari orang tua yang tinggal berbeda atap.


Semangati anak-anak agar tumbuh menjadi anak yang tangguh. Yang bisa menjadi jauh lebih baik dari orang tuanya sendiri.


-End-