
"Aku mohon, Hadi." Suryo datang menemui Hadi di kantornya. "Kita selesaikan masalah ini secara kekeluargaan."
"Tapi putriku hampir menjadi korban, Sur!" Hadi tidak ingin kasus ini berakhir damai. Kesalahan Dillara sangat fatal. Gadis itu tega ingin menyakiti gadis seusianya yang merupakan anak teman papanya.
"Tapi, Dillara gak sepenuhnya salah, Di. Bara juga salah!"
Hadi menatap Suryo tak percaya. Bisa-bisanya sahabat lamanya itu menuduh Bara yang merupakan sasaran penjebakan yang di rencanakan putrinya.
"Putriku frustasi karena Bara lebih dekat dengan putrimu."
Hadi tertawa sinis. "Jelas, Sur! Mereka teman sekelas. Wajar saja kalau keduanya lebih dekat jika dibanding dengan putrimu."
"Kita jalani saja proses hukum. Semoga ada keringanan untuk putrimu."
"Putriku sendiri tidak terima atas perlakuan putrimu. Aku yakin, putriku juga tidak ingin kasus ini berakhir damai."
"Jadi, maaf Suryo. Hukum tetap berjalan."
Suryo tertawa sumbang. "Kamu merusak persahabatan kita, Di."
Hadi hanya bisa diam karena apa yang Suryo katakan ada benarnya.
"Lagi pula, putrimu juga tidak kenapa-kenapa." Suryo tertawa sinis.
"Aku akan tetap berjuang untuk nama baikku. Rahasiakan ini dari media. Atau aku akan menghancurkan keluargamu dan keluarga Wawan," ancam Suryo.
Suryo pergi begitu saja meninggalkan ruang kerja Hadi. "Maaf, Sur. Ku yakin kamu akan melakukan hal yang sama jika ini terjadi pada putrimu," gumam Hadi.
***
"Good morning, pacar!"
Nana berjingkat kaget. Ia baru saja masuk ke gerbang sekolah, tapi hembusan nafas segar menyebut kata good morning, pacar membuatnya menoleh ke samping.
"Astaga! Bara!" Sebuah pukulan keras mendarat di lengan Bara. "Ngagetin aja."
Bara tertawa kecil. "Kok gak bawa mobil?" tanya Bara penasaran.
"Lo juga gak bawa." Bukan menjawab pertanyaannya, Nana malah mengatakan bahwa ia juga tidak membawa mobil.
"Gak boleh sama papa. Takut diculik." jawabnya acuh. Nana meliriknya sekilas lalu menggeleng pelan.
"Lo kenapa gak bawa?" tanya Bara.
Nana mengangkat bahu. "Gak tau. Papa yang mau ngantar gue."
Jam masuk masih lama, hingga belum banyak murid yang datang. Keduanya berjalan bersamaan hingga ke dalam kelas. Namun ada sepasang mata indah yang geram menyaksikan keduanya, yaitu Diandra.
Di kelas, Bara menarik kursi untuk Nana dan dia juga duduk di sebelahnya. "Makasih."
"Heem.."
"Mulai deh, tugu perbatasan!" gumam Nana saat Bara kembali dingin. Di kelas sudah ada beberapa orang yang datang dan memperhatikan mereka saat bersamaan masuk kedalam kelas.
Belum ada yang berhasil mendapatkan informasi mengapa Bara, Nana dan Calvin di panggil oleh wali kelas beberapa hari lalu.
Ada yang berasumsi ketiganya terlibat pertengkaran akibat cinta segitiga. Ada juga yang menebak ketiganya akan di ikut sertakan dalam sebuah perlombaan.
"Biasa aja. Biarin mereka mikir sendiri!" gumam Bara dengan mata fokus ke ponselnya. Ia tidak peduli sedikitpun dengan tatapan teman sekelasnya.
"Ajari gue buat cuek kayak lo!" Nana menatap Bara.
"Lo lebih pinter menempatkan posisi lo!"
"Gue gak bisa jadi secuek lo!"
"Bisa." jawab Bara mantap. "Lo bisa."
"Gue..."
"Gue bisa minta tolong, Na?" potong Bara.
"Ya?"
"Gue mau kita tetap backstreet."
Apa itu artinya Bara gak mau dekat-dekat gue kalau ada orang lain?
Nana membulatkan matanya. "Sampai kapan?" tanyanya kemudian.
"Sampai semua selesai dan keadaan membaik."
Nana mengerutkan keningnya. "Di depan murid-murid juga?" Bara mengangguk. Nana tak percaya itu.
"Mau lo gimana sih, Bar? Gue gak ngerti." tanya Nana. Baginya suatu hubungan memang bukan untuk dipamerkan. Tapi tidakkah bisa mereka menjalaninya seperti Putra dan Sherly.
Putra dan Sherly berpacaran. Hampir seisi sekolah tau. Dan mereka bisa menjaga sikap. Tidak mesra-mesraan di depan umum dan tidak juga lalai melaksanakan tugas sebagai ketua dan wakil ketua kelas.
Bara diam saja karena kelas hampir penuh. Lebih dari setengah murid di kelas ini sudah datang. Bagi Bara membahas hal itu di sini bukan hal yang tepat.
"Kita bahas lagi nanti," jawab Bara saat melihat Zahra mendekat.
"Apa ada hati yang lo jaga, Bar?" bisik Nana penuh kecewa.
Apa salahnya kalau ada yang tau tentang kita, Bar.
Hubungan lo sama Dillara juga udah benar-benar gak dilanjutkan lagi.
Om Wawan sendiri yang menyatakan bahwa perjodohan kalian dibatalkan.
Apakah Diandra? Gadis yang mencintai lo?
"Cie... pagi pagi ngomongin hati." Zahra membuat perhatian murid-murid tertuju padanya. Ia baru saja datang dan masih berdiri di samping mejanya.
Zahra langsung menyadari dia salah bicara saat Nana dan Bara kompak menatapnya tajam. Mat* gue! Tuh orang matanya pada kenapa, yak?
"Siapa yang ngomongin hati, Ra?" tanya Bella yang masih mencari informasi tentang Calvin, Nana dan Bara.
"Ehm...?" Zahra bingung. "Ya... ya... gue lah!"
"Gue mau ngomong sama lo semua, kalau gue makan hati ayam pagi ini." Jawabnya dengan senyum manis yang di buat-buat.
Beberapa orang bersorak. "Gue gak peduli."
"Gue gak tanya, Ra."
"Lo ngomong doang, bagiin kita dong!" Zahra hanya tertawa kecil mendengar respon teman-temannya.
"Pantesan, lo gendut!" cibir Bella pelan.
"Ah, biarin!" Zahra duduk di kursinya sambil mencebikkan bibir. "Dari pada makan hati sendiri gara-gara pacar!" lanjutnya. "Kenyang kagak, kurus iyaa."
"Pacar yang gak punya hati ya, Ra?" sambung Dimas terkekeh.
"Nah, pas banget bang Dimas. Yang jomblo aja faham, masak lo gak sih, Bell."
Murid-murid yang mendengar kalimat Zahra ikut tertawa. Sepertinya dia satu dari beberapa orang yang senang berurusan dengan Bella.
"Gue jomblo terhomat, Ra."
"Gue tau, Dim. Lo paling terhormat diantara para jomblo."
"Kok gitu?" tanya Dimas.
"Karena lo jomblo senior di kelas ini."
Beberapa murid terbahak. Dimas yang dulu disegani karena merupakan mantan ketua kelas kini malah menjadi bahan tertawaan meskipun hanya sekedar candaan.
***
"Bara..."
Nana menoleh kebelakang saat ada yang memanggil nama Bara. Ia baru saja keluar dari kelas saat jam pulang sekolah dan Bara ada di belakangnya.
Ia melihat Diandra sudah berdiri disamping Bara. "Gue kemarin pergi ke singapur."
Pamer lagi? Batin Nana.
"Buat, Lo!" gadis itu menyodorkan paperbag kecil kearah Bara.
Bara kembali berjalan dan tidak menerima pemberian Diandra. Gadis itu dengan susah payah mengikuti langkah Bara yang saat ini melewati Nana begitu saja.
"Sebagai tanda persahabatan, Bar!"
"Gue gak mau, Di. Gue udah bilang berkali-kali kalau gue gak mau lagi berurusan sama lo!"
"Gue gak ada maksud apapun, Bar! Gue tau lo udah di jodohin dan sejak saat itu gue mundur."
Udah batal, Di. Batin Nana.
Bara berhenti berjalan. Ia menatap Diandra sekilas lalu menatap paperbag ditangan gadis itu.
"Terima, ya. Anggap aja permintaan maaf gue karena selama ini udah buat lo gak nyaman."
Bara perlahan mengambil paperbag itu. Ia bisa melihat dari ekor matanya, Nana memperhatikan dirinya dan Diandra.
"Gue terima, Di. Makasih."
"Sama-sama." Diandra tersenyum penuh kemenangan.
Diandra berjalan mendekati, Nana. Lalu ia berbisik, "Hari ini barang dari gue! Besok-besok dia akan nerima, gue! Dia gak akan lama jadi pacar, lo."
Nana membulatkan matanya. Gil*a nih cewek! Gak nyerah-nyerah padahal udah berkali-kali di tolak.
Wait! Dia tau kalau kami pacaran*?
Bara kembali melanjutkan langkahnya. Tapi baru beberapa langkah. Bara memanggil teman dari kelas lain yang kebetulan lewat. "Anwar!"
Si empunya nama celingukan mencari siapa orang yang memanggilnya. "Aku?" tanyanya karena tidak biasanya Bara berinterksi dengan murid lainnya.
"Ya... Sini." Murid bernama Anwar itu mendekat.
"A... ada apa?" tanya Anwar sambil membenarkan letak kacamatanya.
"Nih, buat lo!" Bara memberikan paperbag dari Diandra kepada murid bernama Anwar itu.
"Bu.. buatku?"
"Ya..."
"Semoga suka." Bara meninggalkan Anwar yang masih tak percaya dengan hal yang baru saja terjadi.
Sementara itu ekspresi wajah Diandra seketika berubah masam melihat Bara memberikan barang pemberiannya kepada orang lain.
Dan itu senyum kemenangan terbit di bibir Nana. "Barang lo udah diover ke yang lain, tuh!"