Selena's First Love

Selena's First Love
Bab 42 Dimas dan Bara



"Gue..."


"Gue buatin minum dulu... Pasti pada haus banget kan?" tanya Nana dengan senyum mengembang.


Ia segera berjalan menuju dapur. Akhirnya ia bisa menghindar. Ia juga bingung mengapa dirinya mendadak gugup hanya karena pertanyaan Dimas.


Nana mengambil sebotol sirup dan menuangkannya di dalam teko kaca lalu mengisinya dengan air putih dan beberapa blok es batu yang ia ambil dari kulkas.


Nana meminta Bibi mengambilkan gelas dan membawanya ke ruang tamu. Nana menghela nafas panjang saat ia akan membawa teko kaca berisi minuman dingin itu.


"Lagian, tuh orang ngapain sih ikut ke sini?" keluh Nana. "Emangnya gak ada kerjaan lain apa?" Nana sedikit kesal karena jujur saja ia tidak berharap kembali bertemu langsung dengan Bara dalam waktu dekat.


Saat Nana keluar dari dapur, ia bertemu dengan Bara yang berjalan kearahnya. Jantungnya berdebar tak karuan.


Ngapain nih orang nyusulin gue?


Nana berselisihan dengan Bara. Keduanya saling curi pandang tanpa ada yang menyapa. Nana menghembuskan nafas lega.


"Huuh! Gue fikir dia mau..." gumam Nana.


"Na, kamar mandi di mana ya?" tanya Bara dan Nana langsung berhenti.


Nana tidak ingin berbalik, "terus aja, nanti belok kanan, pintu warna putih."


Nana kembali berjalan meninggalkan Bara. Ia berjalan ke ruang tamu dimana teman-temannya sudah menunggu minuman yang ia bawa.


"Bara gak nyasar kan, Na?" tanya Zahra padanya.


Nana menggeleng dan tertawa. "Lo pikir rumah ini seluas apa, Ra."


Zahra ikut tertawa, "Ya kali, lo sasarin dia."


"Diih!" Nana mengerutkan keningnya. "Dia udah gede kali, Ra."


"Balik sendiri dari sini ke Jakarta juga gak balakan nyasar." Nana duduk di samping Zahra.


"Lo gak nyaman ya karena kita bawa Bara?" tanya Sherly yang seolah faham perasaan Nana. Nana memang terlihat berbeda.


Nana tersenyum canggung. "Enggak sih, cuma gue masih syok aja kalian ada di sini."


"Sebenarnya gue yang ajak, Na." Nana menatap Putra.


"Kasian dia, balik dari Jerman gak pernah liburan," Putra tertawa. Padahal entah apa yang lucu dari perkataannya tadi.


"Diminum, guys!" Nana mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia juga menuang segelas minuman dingin itu untuknya.


Bara yang baru saja kembali dari kamar mandi langsung bergabung. "Gugup ya, ketemu mantan?" bisik Dimas sambil terkekeh.


Bara tersenyum miring. "Biasa aja."


Bara menuang minuman di gelasnya. Ia tidak haus, tapi ia bingung mau berbuat apa.


"Oh, ya... disini cuma ada dua kamar kosong. Sebenernya ada tiga sih, tapi satu lagi kamar kakak gue. Dan sepertinya gak bisa kalian tempati karena biasanya weekend begini dia bakal datang sama keluarga kecilnya."


"Jadi tersisa dua kamar. Satu udah gue pake. Nanti Sherly sama Zahra, tidur sama gue gak apa-apa kan?" tanyanya.


"Jadi, kalian berempat akan tidur satu kamar," tunjuk Nana pada keempat pria itu.


"Gua akan kasih kasur tambahan nanti, gak apa-apa kan?" tanya Nana lagi. Keempat pria itu setuju saja.


"Bagus dong! Kita bisa cerita banyak sebelum tidur," balas Zahra senang. "Lo gak apa-apa kan Sher, gak sekamar sama Putra?" tanya gadis itu iseng.


Sherly langsung mencubit lengannya. "Emang lo pikir kita apaan? Ya gak lah, bagus malah!"


Putra tertawa kecil. "Kalau mau tidur bareng gak apa-apa sayang."


"Aku yakin, Nana bisa menyediakan satu sofa kosong untuk kita." Putra mengerling.


"Ih, jijay gue put!" Nana menatapnya jijik. "Lo makin hari makin sengklek ternyata." Nana tertawa lebar.


"Hahah, jauh-jauh healing sampai ke London. Bahasa jijay masih aja nyangkut diotak lo, Na." Balas Putra.


"Tau! Mana pulang masih jomblo lagi," timpa Dimas dan mereka terkekeh.


"Kenangan lama masih melekat ini mah," ucap Calvin tanpa sadar.


Nana langsung diam dan Calvin menyadari kesalahannya setelah Dimas menginjak kakinya.


"Gue... gue gak maksud, Na!" Calvin merasa tidak enak, ditambah tatapan tajam Sherly dan Zahra mengarah padanya.


"Ah, ya..." Nana ingat sesuatu.


"Kalian pada capek gak?" tanyanya. "Sebenarnya hari ini gue mau hunting oleh-oleh buat gue bawa ke Jakarta."


"Jadi, lo mau keluar nih?" tanya Sherly.


Nana mengangguk, "Tapi mungkin bisa nanti aja." Ia berubah fikiran.


"Kalian istirahat aja dulu, agak sorean sedikit kita jalan, gimana?"


"Sekalian kita lihat sunset, indah banget tau!" Pamernya senang.


***


Jam tiga waktu setempat, mereka pergi ke beberapa tempat yang menjual oleh-oleh khas pulau dewata.


"Cari pernak-pernik aja dulu, Sher!" saran Nana. "Kalau makanan, kita beli pas mau pulang aja."


"Kalian juga belum tahu mau balik kapan, kan?"


Empat orang pria berjalan di belakang tiga gadis yang bersemangat masuk ke setiap toko.


Bara dan Dimas ada dibarisan paling belakang. "Kita tunggu di sini aja, Put." Dimas menunjuk kursi di pinggir jalan. Terlalu melelahkan menemani para gadis berbelanja.


Putra mengangguk. "Entar gue chat kalau udah selesai."


Dimas dan Bara duduk saling diam. Keduanya menikmati lalu lalang orang berjalan kaki. Ada banyak turis asing dan lokal disini.


"Kenapa? Lo nyesel ikut kita kesini, Bar?" tanya Dimas karena Bara lebih banyak diam. Pria lulusan universitas di Jerman itu tampak tidak menikmati liburan mereka.


Bara menatap Dimas sebentar lalu kembali menatap lurus kedepan. Bara menggeleng. "Satu-satunya penyesalan gue adalah ngebiarin dia pergi, lima tahun lalu."


"Lo yang pergi." Tuduh Dimas karena Bara yang memutuskan pindah sekolah waktu itu.


"Dia pergi dari hadapan gue, Dim. Dia memutuskan keluar dari hidup gue. Mana bisa gue terus melihat dia tapi gue gak bisa untuk sekedar menyapa," balas Bara.


"Lo bisa, cuma lo gak ingin. Nana aja bisa bersikap biasa walau gue tahu dia nahan sesak di dadanya."


Bara tertawa hambar. "Gue gak bisa, Dim."


"Lalu sekarang lo mau apa? Lo ikut kesini bukan sekedar karena Putra yang mengajak, kan?" tanya Dimas.


Bara diam sejenak. "Gue mau menyelesaikan semuanya, Dim."


"Apa yang mau lo selesaikan? Hubungan kalian berdua benar-benar uda selesai, Bar!"


"Gue harus melanjutkan hidup gue, Dim. Rasa bersalah gue membuat gue gak bisa nerima gadis lain untuk masuk ke hidup gue."


"Gue merasa gagal sebagai cowok. Gue gagal menjaga perasaan seorang gadis yang sayangnya gue cintai." Bara tersenyum kecut.


"Gue mau minta maaf dan melepaskan semua beban ini."


"Lo gak ingin memperbaiki semuanya, Bar?" tanya Dimas.


"Gue gak sepercaya diri itu, Dim."


"Ini yang buat lo terlihat seperti pengecut dimata Nana," ejek Dimas. "Lo sendiri yang membatasi diri lo."


"Lo belum apa-apa, mikirnya 'gak bisa'."


"Mumpung Nana masih jomblo."


"Kalau lo gak mau, biar gue aja yang maju." Dimas tertawa pelan. "Mana tuh anak makin cantik."


"Di Jakarta nanti, pasti dia bakal jadi rebutan."


"Pernikahan Putra sebentar lagi. Gue yakin, partynya pasti jadi ajang reunian."


"Lumayan juga kalau gue bisa gandeng Nana jadi partner kondangan gue!"


"Terus kita nangkep buket bunga yang Sherly dan Putra lempar."


Bara berdiri dan membiarkan Dimas mengoceh sendirian.


Dimas tertawa pelan. "Panas kan kuping, lo?" gumamnya.


"Gengsi sama pesimis aja yang di gedein."