
Pagi ini, sungguh berbeda dari pagi biasanya. Jika setiap jam 6 pagi Bara akan mulai mencium aroma masakan, tapi kali ini, dia harus rela turun ke dapur menyiapkan sarapan untuk ia dan istrinya.
Bara membuka kulkas yang sudah penuh dengan kebutuhan dapur selama seminggu ke depan. Asisten rumah tangga yang Ayu perintahkan untuk membawa semua bahan makanan itu.
"Dia bilang, sedikit mual." gumam Bara.
"Aneh!" keluhnya. "Kemarin saat ke dokter katanya gak mual."
"Hari ini, setelah minum vitamin dan obat dokter, bukannya sembuh malah jadi makin sakit."
"Baringan terus di ranjang, dan malas membuka mata." Bara mengangkat bahunya acuh.
"Keep spirit, Bara! Masih ada perjalanan 8 bulan ke depan!" Bara terkekeh sendiri.
Ia akhirnya memutuskan untuk memanaskan air dan membuat teh jahe hangat untuk mengurangi mual yang Nana rasakan.
Saat Bara akan membawa teh jahe itu ke kamar, ia melihat Nana keluar dari arah kamar dan duduk di meja makan.
Rambut yang diikat asal dengan wajah lesu membuat Bara menahan senyum. Baru bulan pertama, mama kamu udah beda banget baby Bara Junior! Batin Bara.
Nana berubah drastis. Biasanya dalam keadaan kurang enak badan sekalipun, Nana akan tetap menyisir rambutnya rapi.
"Kok malah bangun! Ayo ke kamar lagi!" ajak Bara dengan meraih bahunya.
Nana menggeleng. "Aku makin gak sehat kalau tiduran terus."
"Aku mau berjemur," ucap Nana dan Bara langsung membantu istrinya untuk berjalan menuju balkon di apartemen mereka.
"Duduk disini, sayang!" Bara mendudukkan istrinya di sebuah kursi malas di sudut balkon. Cahaya matahari lumayan cerah pagi ini.
Bara masuk ke dalam dan kembali dengan dua gelas teh jahe serta beberapa keping biskuit di atas piring kecil.
"Minum teh jahe, Na. Biar kamu gak mual!"
"Makan biskuitnya, buat ganjal perut!" Bara duduk di samping Nana. "Dari kemarin, kamu makan cuma sedikit, Na!"
Nana mengangguk dengan mata tertutup. "Aku gak selera, Bar!" jawabnya pelan.
"Sedikit asal sering, gak apa-apa, sayang!"
"Kamu pengen makan apa? Sarapan bubur ayam, mau?" Bara menatap Nana yang sama sekali tidak membuka matanya itu.
Nana menggeleng.
"Nasi uduk?"
Nana menggeleng lagi.
"Bubur sumsum?
"Bilang sayang! Aku akan langsung turun dan cari di bawah."
Biasanya, pagi hari seperti ini, banyak orang yang berjualan di sekitar gedung apartemen.
Nana menggeleng lagi dan Bara menghela nafas.
Nana membuka mata dan menatap Bara yang masih menatap dirinya.
"Gitu banget lihatnya!" ucap Nana manja. "Jelek banget ya?"
Bara tersenyum kecil dan mengangguk.
"Kan?" Nana membuang muka, merajuk. Tapi tidak jadi.
Ia kembali menatap Bara dan berhasil membuat kening suaminya itu berkerut.
"Belikan es krim, Sayang!" pinta Nana penuh harap. Ia sadar, penolakan pasti ia terima karena ini masih terlalu pagi untuk menikmati es krim dalam kemasan box seperti yang inginkan.
"Yang kemasan box!" lanjut Nana.
Bara terdiam. Ia kemarin banyak mendapat nasehat Ayu saat malam hari ketika Ayu menghubunginya.
Mood Nana akan berubah drastis.
Selera makannya akan menurun untuk terimester awal ini.
Dia akan ingin makan, makanan yang sedikit aneh, Bar.
Turuti kalau kamu gak mau anak kamu ileran!
Haah! Satu hal yang paling Bara takuti.
Apapun yang dia minta asal jangan makanan dan minuman yang dilarang untuk ibu hamil seperti minuman bersoda sama nanas muda.
Kamu harus ekstra sabar!
Jangan mengeluh di depannya apalagi bermasam muka!
Bara menatap Nana dan mengangguk membuat senyum dibibir pucat itu seketika terbit.
Nana menggeleng. "Itu aja!"
Bara segera berdiri. Ia mencium kening Nana dan mengusap rambutnya.
"Tunggu disini, ya."
Nana mengangguk. "Terima kasih!"
Bara segera turun dengan membawa dompet.Ia hanya perlu turun ke bawah dan tak perlu keluar dari kawasan apartemen karena disini sudah ada minimarket yang buka 24 jam.
Di dalamnya, Bara membeli banyak es krim. Ia hanya antisipasi jika Nana tiba-tiba berubah fikiran.
Ia kembali keatas dan sudah melihat Nana berdiri didepan washtafel dan muntah-muntah. Bara segera berlari dan menghampiri istrinya.
Ia memijat lembut tengkuk Nana yang terus berusaha memuntahkan isi perutnya meski tak ada apapun yang keluar.
"Kamu kenapa?" tanya Bara setelah Nana menyeka mulutnya.
Bara membantu Nana untuk duduk di sofa. "Aku baru tinggal sebentar, malah udah muntah-muntah."
"Teh jahe buatan kamu rasanya aneh!" ucap Nana dengan mengerucutkan bibirnya.
Ia kesal karena teh buatan Bara membuatnya muntah-muntah.
Bara mengerutkan kening, bukannya rasanya sama kayak biasa dia buat kalau aku mengeluh masuk angin?
"Ah, ya... mana es krimnya sayang!"
Astaga! Baru aja cemberut, sekarang udah senyum lagi cuma perkara ingat sama es krim pesanannya.
Bara mengambil satu plastik besar berisi es krim yang baru saja ia beli. "Pilih mau yang mana? Biar sisanya aku masukin ke kulkas."
Nana melihat ada banyak pilihan. Ia tiba-tiba menjadi bingung ingin makan yang mana.
Jarinya menunjuk ke salah satu es krim dan seketika menunjuk ke es krim lainnya. Bagitu terus hingga beberapa kali.
Dia lagi cap cip cup kembang kuncup gak sih? Batin Bara heran.
Nana mengambil kemasan cone dengan rasa coklat dan vanila. "Aku mau yang ini aja!"
Bara mengangguk. Ia menyimpan sisanya di kulkas. "Nah, feeling ku gak salah kan?" gumam Bara. "Mints yang box, tapi yang dimakan yang cone."
Bara mengambil beberapa lembar roti dan mengoleskan selai diatasnya. Ia ingin sarapan itu sekarang. Karena menemani Nana jauh lebih penting dari pada memasak dan membiarkan Nana sendirian. Toh, tidak sampai tengah hari Nanti asisten rumah tangga akan datang ke apartemennya.
"Sayang! Kesini sebentar!" pinta Nana.
Bara segera berjalan kearah sofa dengan membawa beberapa lembar roti yang siap disantap.
"Ada apa, Na!"
"Sini!" Nana menepuk sofa. Dan Bara langsung duduk di samping Nana.
"Temani aku nonton film kartun!" Nana langsung merebahkan kepalanya di bahu Bara. Padahal istrinya itu masih memakan es krim yang tersisa sedikit lagi.
"Manja banget istriku!" ucap Bara dengan mengusap rambut Nana.
"Sesekali, mumpung kamu belum berangkat ke bengkel!"
Bara tertawa pelan. "Aku gak akan ke bengkel hari ini."
Nana seketika menengadahkan kepalanya untuk melihat wajah Bara. "Kenapa? Kamu dari kemarin gak ke sana loh, sayang!"
"Gak kenapa-kenapa. Aku males aja. Pengen santai di rumah sama kamu!" ucap Bara membuat Nana tersenyum lebar.
Nah, aneh lagi? Biasanya nyonya perfect ini selalu marah kalau aku malas ke bengkel. Katanya aku memberikan contoh yang gak baik untuk karyawanku.
Dan sekarang dia tersenyum lebar. Ini moodnya yang cepat berubah atau dokter salah resepin obat sih? Batin Bara.
Seharian, Bara hanya terus dibuat heran dengan perubahan sikap Nana. Istrinya bahkan memilih tidur lagi di jam 10 pagi.
Bara akhirnya memilih untuk memeriksa laporan keuangan yang dikirim ke emailnya.
Bara tersenyum lebar. "Rezekinya baby nih!" gumam Bara saat melihat pemasukannya bulan ini meningkat hampir 3 kali lipat.
Bara menatap sekeliling kamarnya. "Sebentar lagi, apartemen ini gak layak untuk kami tinggali."
"Seorang bayi kurang cocok kalau tinggal di apartemen seperti ini."
Sebenarnya cocok-cocok saja. Tapi, apartemen yang sempit dan hanya ada satu kamar ini menurut Bara tidak cocok lagi bagi keluarga kecilnya saat bayi mereka sudah lahir nanti.
"Semoga, rumah yang kami bangun bisa selesai dalam waktu dekat."
"Nana akan lebih releks menjalani kehamilan di rumah yang punya halaman luas dan taman di sekitarnya."
"Dan renang merupakan olah raga paling aman bagi ibu hamil. Dan di rumah baru nanti, aku udah siapkan kolam renang di belakang rumah."
Itu hal yang baru Bara tahu. Ia mencari banyak informasi seputar kehamilan. Mulai dari apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakuan. Apa yang boleh dimakan dan yang tidak boleh.