
Bara menghempaskan tubuhnya di kursi miliknya. Ia menekuk wajah berlipat-lipat. Selera makannya mendadak hilang kala melihat tawa Nana bersama Calvin dan Dimas.
Pagi ini, ia terlambat bangun. Tidak sempat membuat sarapan dan ia memilih segera ke ke sekolah agar bisa sarapan di kantin.
Ternyata sarapannya adalah melihat pemadangan yang membuat dadanya terasa terbakar.
"Sarapan, Bar!" Putra menunjukkan kotak bekal berisi nasi goreng yang tinggal setengah.
Entahlah, sepertinya menjadi masalah klasik jika murid-murid akan terlambat pada hari Senin. Bahkan Putra yang terkenal rajin saja malah membawa sarapan paginya ke kelas.
"Bawa dari rumah, Bar! Takut macet, jadi gak sempat makan di rumah. Tapi ternyata sampe sini lebih cepat dari perkiraan!" Putra menjelaskan pada Bara tanpa diminta.
Sherly dan Zahra masuk ke kelas. Sebenarnya Sherly berangkat bersama Putra, tapi mereka terpisah karena Zahra menarik pacarnya itu untuk diajak ke toilet.
"Nana belum sampe, Bar?" tanya Sherly.
Bara melirik sekilas lalu menggeleng.
"Dia kenapa?" tanya Zahra tanpa suara. Sherly mengangkat bahunya.
"Sarapan, Bar!" Zahra menyodorkan sekotak bekal berisi roti bakar.
"Udah tadi?"
"Oh ya?" tanya Zahra. "Tapi muka lo kelaperan gitu."
"Sok tau lo!" Jawab Bara ketus pada saudaranya itu.
"Wiiih!" Cibir Zahra dengan wajah lucunya.
"Makan apa lo? Jutek bener!" Canda Zahra sambil mengambil kembali kotak bekalnya.
"Makan ati!" sahut Bara.
Sherly dan Putra saling tatap lalu keduanya mengulum senyum.
"Bisa aja lo Bambang!" Sherly tertawa. "Pagi-pagi udah becanda!"
"Jangan ganggu, Sayang!" tegur Putra.
"Kenapa dia, Put?" tanya Zahra. "Kerasukan macan tutul?"
"Huushh!" Sherly mengibaskan tangannya di depan wajah Zahra. "Ngomong sembarangan!"
"Yeee... gue kan nanya!" Zahra duduk menghadap arah papan tulis dan menyantap bekalnya.
"Dia cembokur!" bisik Sherly.
Zahra menatap gadis disebelahnya dan membulatkan mata karena terkejut.
"Tiiiuusss?" tanya Zahra dengan mulut penuh berisi roti yang belum ia kunyah.
"Ih! Jorok bener nih bocah!" Sherly menepuk kening Zahra saat melihat mulut gadis itu penuh dengan makanan.
"Telan dulu, kek!" Kesal Sherly. Dengan kecepatan 150 km/jam Zahra mengunyah makanannya.
Ia bahkan segera minum agar lebih cepat mendorong makanan itu masuk ke dalam tenggorokannya. Zahra membersihkan mulutnya dengan mengusapkan punggung tangannya.
"Terus, lo tau dari mana?" tanyanya tak sabaran.
Sherly mengerling. "Entar lo juga tau!"
"Isshh!" Dibawah meja, Zahra menendang kaki Sherly. "Kesel gue! Susah payah telen tuh makanan, malah ngegantung kek status gue sama babang!" Zahra cemberut sementara Sherly tertawa keras.
"Babang yang mana? Selera lo uda ganti? Gak Oppa-oppa lagi?"
Zahra melirik Sherly, ia masih kesal. "Gak! Gue udah suka sama produk lokal."
"Morning eperi badeeeh!" Teriak Calvin saat masuk ke dalam kelas. Di depannya ada Nana dan Dimas.
"Berisik banget!" keluh Nana.
"Maklum dong, Na. Amunisi gue pagi ini nasi goreng ekstra pedasss!" jawab Calvin semangat. "Jadi, gue yaaa harus semangat!"
Dimas dan Nana duduk di kursi masing-masing. Dimas tertawa. "Ekstra pedas karena tutup saos sambalnya lepas!" cibir Dimas.
Nana terbahak. "Jadilah nasi goreng lavaaa!" Nana dan Dimas tertawa keras mengundang keingin tahuan Sherly dan Zahra.
"Kenapa sih, Na? Heboh banget ketawanya?" tanya Sherly.
"Hahahah... lo pasti kalau ada disana bakalan jungkir balik, Sher!" Nana masih memegangi perutnya yang terasa kram. Air matanya juga hampir menetes sangking lamanya ia tertawa.
"Aduh, perut gue, Vin!" Keluh Nana sambil tertawa.
"Tadi tuh, dia lagak mau review nasi goreng kantin."
"Live?" tanya Sherly.
Nana mengangguk. Ia menirukan gerakan Calvin. "Nah ini piring nih!" Nana menggerakkan tangannya di atas meja seolah itu adalah piring nasi goreng milik Calvin.
"Terus cerita, Naaaaa!" Nana tak peduli teriakan Calvin yang menyindirnya.
"Gaya deh tu anak! Oke guys, bla-bla-bla-bla... Ngomong lah dia kan tuh!"
Sherly dan yang lain fokus mendengarkan Nana.
"Gak enak nih kalau gak pakai saos sambal! Dia bilang gitu!"
"Sekali lagi dia pencet pake ilmu bela diri dari engkongnya!" Yang lain tertawa karena cara Nana menceritakan sangatlah lucu.
"Byuurr! Nyebur setutup-tutupnya!"
"Ambyar nasi goreng gue!" Sahut Calvin.
Semua orang tertawa. Tapi apalah daya, si Calvin dengan rasa percaya diri tinggi, langsung berdiri di kursinya.
"Wooi, yang mau lihat livenya bisa langsung di IGeh gue!" teriaknya sambil promosi.
Semua murid bersorak. "Huuuuuu!!!"
"Terima kasih! Terima kasih!" Ia malah membungkuk berkali-kali tanda berterima kasih.
"Gue emang selebgram terbaik di SMA ini!" ucapnya percaya diri.
"Turun, Vin!" Perintah Putra dan dia langsung turun.
"Hu! Dasar saleb panu!" Ejek Zahra padanya.
"Heeii nona pecinta Oppa! Punya masalah apa anda dengan saya!" Tanya Calvin.
"Teettt.... teeett.... teettt...!" Suara Bel masuk berbunyi.
"Alhamdulillah!" Teriak mereka karena akhirnya ada yang menghentikan perdebatan antara Calvin dan Zahra.
***
Seharian, Bara dan Nana tidak saling bicara. Keduanya masih enggan membahas hal buntu yang terkesan rumit hanya karena cara berfikir Bara yang menurut Nana berlebihan.
"Na, gue nebeng boleh?" tanya Zahra pada Nana pada jam pelajaran terakhir.
"Kenapa, bukannya bisanya lo di jemput?" tanya Nana heran.
"Iya, yang bisa jemput lagi pulang kampung! Gue aja tadi nebeng nyokap."
"Boleh deh, tapi gue mau mampir ke mall sebentar."
Zahra mengangguk. "Mau beli apa?"
"Gak ada sih, cuma pengen cari-cari aja. Tadi kan ada pengumuman, mulai Rabu sampai Sabtu kita bakalan libur karena ada kegiatan kelas XII, kan?"
Zahra mengangguk. "Gue kayaknya pengen ke Bali deh."
"Loh, bukannya libur semester lo baru akan ke Bali?" tanya Sherly.
Nana mengangguk. "Iya... tapi gak ada salahnya juga sih gue percepat. Mumpung ada libur, lumayan empat harian disana."
"Entar libur semester, gue kesana lagi!"
Bara jelas mendengar apa yang Nana katakan meski ia tengah menenggelamkan wajahnya di atas meja dengan berbantalkan kedua tangannya.
"Gue ikut, boleh?" tanya Zahra.
Nana tertawa kecil. "Jangan Ah, entar lo ilang gara-gara salfok sama bule!"
"Hahahah... Kali aja, Na selara gue gak Oppa sama produk lokal lagi!."
"Cari yang matanya biru kayaknya boleh juga!" Zahra terkikik geli.
"Ada noh, di rumah gue!"
"Kucing anggoraaaa, Miaaauuu!" sambar Calvin yang juga mendengarkan pembicaraan mereka.
"Dih, gue masih doyan manusia, Vin!"
"Terus manusianya doyan gak sama lo?"
"Astagaaaa!" Keluh Nana.
"Ada Bu Guru!" Bohong Putra. Padahal Bu Guru sedang keluar sebentar dan meninggalkan tugas untuk mereka.
Keduanya terkesiap dan menghadap ke depan untuk melihat situasi. Dan mereka berdecak saat menyadari Putra berbohong.
Saat bel pulang berbunyi, Bara menahan tangan Nana agar tetap di kelas.
"Ada apa?" tanya Nana.
"Kamu pergi cuma karena mau menghindar dari aku?" tanya Bara. "Menghindari masalah kita?"
Nana melepaskan tangannya dari genggaman Bara. Ia tersenyum dan menggeleng. "Bukan!"
"Aku pergi biar kamu bisa menilai. Bagaimana kalau tanpa aku."
Nana pergi meninggalkan Bara yang diam mematung.
***
Galau-galau deh lo Bar! 😅😅
Siapa dulu disekolah sering iseng. Pas temen lagi gosip, terus bilang... "Ada Bu guru!" 😅😅😅
auto bubar 😅😅😅