
Bara masuk ke dalam apartemennya dan ia segera menghempaskan tubuh lelah itu keatas ranjang.
Seharian ini ia disibukkan dengan persiapan pembukaan bengkel barunya. Mungkin akan selesai dalam beberapa hari lagi dan akan segera diresmikan membuatnya bisa mulai memikirkan tentang hubungannya dengan Nana.
Bara juga ingin sebuah kemanjuan dalam hubungan mereka. Ia tidak ingin terkesan main-main di kesempatan kedua ini.
Ia tak ingin kegagalannya dulu terulang lagi. Ia akan segera membicarakan hal ini pada Nana. Apakah gadis itu sudah siap menikah atau belum.
Bara memeriksa ponselnya. Biasanya Nana akan mengirim pesan saat siang atau malam hari seperti ini. Tapi, entah mengapa kali ini tidak. Setelah pesan terakhir yang Bara balas pagi tadi, Nana tak lagi membalas pesan itu.
"Kamu kemana, Na?" gumam Bara. Ia tertawa kecil menyadari dirinya yang merasa kesepian hanya karena gadis itu tak mengiriminya pesan chat seperti biasa.
"Gue udah gil* kayaknya nih!" Bara bermonolog. "Belum sehari dia gak nge-chat gue, gue udah kehilangan begini."
"Gue telpon aja kali, ya?" Bara menatap langit-langit dan meletakkan ponselnya di dada. Ia berfikir sejenak.
"Iya deh! Gue telpon aja!"
Bara menghubungi gadis itu dan cukup lama belum dijawab juga.
"Dia sibuk atau gimana?" gumam Bara lagi.
"Ha-llo?" Akhirnya terdengar suara Nana dari loudspeaker ponselnya. Suara yang terdengar seperti orang gugup.
"Hallo, Na. Lagi apa?" tanya Bara.
"Ehm, ini lagi... lagi santai aja kok, ada apa?"
"Kok ada apa sih? Memangnya gue gak boleh hubungi dia? Gue kan pacarnya?" gumam Bara pelan.
"Hallo Bar, kamu ngomong apa? Gak kedengeran loh sama aku."
"Hemmm, gak apa apa, Na. Cuma mau tau aja kamu lagi apa."
"Ehm, besok ku jemput ya..." lanjut Bara.
"Ehm, besok? Kamu gak ada pekerjaan penting, Bar?"
"Enggak, beberapa hari ini aku akan ke bengkel di daerah x. Karena beberapa hari lagi akan diresmikan, Na."
"Wah, selamat ya Bar!" balas Nana dengan nada bangga. "Semoga usaha kamu akan semakin maju dan sukses. Semoga bengkel ini ramai seperti D' Service yang sebelumnya ya..." Nana menyebut nama bengkel pertama Bara.
"Amin, dan semoga aku bisa segera nikahin kamu."
"Uhukk... uhuk...!" terdengar suara Nana sedang terbatuk.
"Na, kenapa? Kamu sakit?" tanya Bara. "Na?" panggil Bara karena gadis itu tidak menjawabnya.
"Ehm, enggak Bar! Aku gak apa-apa? Kebanyakan minum es sih kayaknya."
"Lain kali, direm sedikit Na. Apa yang kamu makan gak semuanya berdampak baik ke tubuh kamu."
"Jaga kesehatan, Na
"Dan doakan aku terus, Na. Supaya aku bisa menjadi orang sukses, bisa segera nikahin kamu."
"Aku bisa membahagiakan kamu dan supaya om Hadi tenang melepas kamu bersamaku."
Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Nana sedang terpaku mendengar suara pria yang ia cintai dari loudspeaker ponselnya.
Gadis yang sedang berdiri di balkon kamar itu merasa terharu sekaligus bahagia mendengar apa yang Bara katakan barusan.
Awalnya ia merasa ragu menjawab panggilan dari Bara karena ia masih merasa malu akibat ulah Salsa. Ia bingung harus bersikap bagaimana. Ia juga bingung untuk menjelaskan semuanya pada Bara.
Bara membalas pesan itu dan Nana mengartikan bahwa Bara percaya ia yang membalas pesannya tadi. Dan itu artinya, Bara percaya pesan berisi ciu*man itu benar-benar darinya.
"Aku akan terus mendoakan kamu, Bar! Aku berdoa semoga kamu terus mendapatkan kebahagiaan dan hal-hal yang kamu inginkan bisa tercapai."
Doaku tidak pernah berubah, Bar. Sejak dulu aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Meski terlalu sakit saat mengingat dirimu yang pergi dan memilih menjauhiku. Batin Nana.
"Aku akan menunggu sampai tiba saatnya kita akan bersama. Jika Tuhan sudah menakdirkan, maka akan terjadi."
***
Esok paginya....
"Hati-hati!" ucap Bara saat Nana bersiap turun dari mobilnya. Pagi ini ia menjemput Nana dan mengantarkan gadis itu ke kantor.
"Na!" Suara Bara menghentikan tangannya yang sudah bersiap membuka pintu mobil. Nana menatap Bara saat merasakan tangan Bara menyentuh pucuk kepalanya.
"Love you dan selamat bekerja!"
Nana tersenyum kecil. Ada rasa nyaman saat Bara menyentuh pucuk kepalanya. Ada debaran halus di dadanya saat melihat tatapan mata Bara begitu dalam.
"Love you too."
"Kamu juga, Semangat!" Nana mengepalkan tangannya dan mengangkatnya di udara.
Bara terkekeh dan akhirnya Nana benar-benar keluar dari mobil.
"Na, makan siang nanti ku jemput!" ucap Bara saat Nana menutup kembali pintu mobilnya.
Nana mengangguk. "Reservasi tempat makan dekat disini, ya. Aku takut terlambat balik ke kantor!"
Bara mengacungkan jempolnya. "Seprofesional itu, Na. Padahal kamu anak pemilik perusahaan ini," gumam Bara saat melihat punggung Nana perlahan menjauh dan masuk ke lobby kantor.
Bara melajukan mobilnya menuju tempat tujuannya yaitu bengkel yang akan dibuka. Ia hanya butuh waktu 30 menit untuk tiba disana.
Ia melihat Dadang sedang membuka pintu gerbang berwarna hitam itu. Dan pria itu langsung minggir saat melihat mobil Bara tiba.
"Terima kasih, Dang!" Bara membuka kaca jendela untuk mengucapkan terima kasih pada Dadang.
"Sama-sama pak, Bos?" jawab Dadang.
Bara memasukkan mobilnya kearea bengkel yang semua pembangunannya sudah rampung.
Disini, Bara dibantu oleh Dadang sebagai montir senior. Ya, karena Dadang sudah bekerja di bengkel pertamanya sejak beberapa tahun lalu.
Disini, Dadang akan diangkat sebagai manager bengkel yang akan mengatur semua hal mengenai operasional bengkel.
"Dang, spear part yang saya pesan sudah datang?" tanya Bara pada Dadang.
"Sudah bos!" jawab Dadang.
"Ehm, hari ini sudah mulai bisa di susun di tempatnya masing-masing Dang!"
"Minta anak buah kamu untuk bantu!" perintah Bara.
"Sekalian nanti saya mau check barangnya sesuai pesanan apa tidak."
Dadang mengangguk mengerti.
Bara langsung menuju ruang kerjanya. Ia sudah mendesain ruang kerja ini agar terasa nyaman karena sepertinya ia akan sering ke bengkel ini.
Mengingat bengkel ini masih baru dan harus ia pantau terus perkembangannya. Dan lagi pula letaknya dekat dengan kantor Nana.
Ia akan lebih mudah mengantar dan menjemput gadis itu. Apalagi saat mereka sudah menikah nanti.
Bara senyum-senyum sendiri memikirkan hal itu. "Gue nikah sama Nana?"
"Huh! Kayak mimpi sih! Tapi semoga aja bisa terwujud!" ucap Bara penuh harap.
Bara memijat keningnya. "Tapi duit gue udah habis untuk modal pembangunan bengkel ini." gumam Bara lemas.
"Gue harus cari modal buat ngelamar Nana." tekadnya.
Seketika terlintas di kepalanya untuk meminta bantuan Darmawan, papanya sendiri.
"Enggak! Gue gak boleh minta sama papa. Gue yang mau nikahin Nana, masa iya gue pake duit papa." gumam Bara lagi.
"Gue harus jadi pria bertanggung jawab, Nana pasti bangga kalau gue pake duit sendiri untuk nikahin dia."
Bara mengangguk -anggukkan kepala seolah membenarkan apa yang ia ucapkan tadi.
"Mana gue belum punya rumah, lagi! Oh Tuhan... ternyata nikah gak sesederhana itu!" keluh Bara.
"Banyak yang harus dipersiapakan, dan semuanya butuh duit!"
"Gue harus terus berusaha dan tampak menyakinkan dimata Nana dan Om Hadi."
"Gak akan mungkin Om Hadi melepaskan Nana kalau gue gak bisa menjamin kebahagiaan putri semata wayangnya itu."