
"Kamu belum ambil keputusan apapun, Bar?" tanya Nana. Saat ini keduanya sedang berada di sebuah taman. Mereka memilih duduk di taman menghabiskan waktu sore di hari minggu ini.
Bara menggeleng. Ia duduk diatas rumput dengan kedua tangan dibelakang yang menopang tubuhnya. "Aku masih takut!"
Bara memang belum mengambil keputusan tentang pertunangan mereka. Nana selama beberapa hari membiarkan Bara berfikir dan tidak menanyakan hal itu. Tapi semakin Nana diam, justru semakin Bara enggan membahasnya.
Nana diam menatap wajah Bara yang menengadah ke langit dengan matanya yang terpejam. Ia tahu, fikiran pria di sampingnya itu tengah berkecamuk.
"Begitu beratkah untuk mengambil keputusan, Bar?" tanya Nana.
Bara mengangguk.
"Kenapa? Apa perasaanmu untukku sedangkal itu?" tanya Nana dengan nada datar.
Bara langsung menatap gadis disampingnya. "Sebenarnya perasaan apa yang ada untukku, Bar?" tanya Nana dari lubuk hatinya.
"Sekedar cinta main-main atau hanya cinta coba-coba?" Ia yang duduk bersila di rerumputan itu melihat kesamping guna menatap Bara.
"Atau kamu hanya ingin mencari pengalaman berpacaran sebagai bekalmu nanti saat keluar dari lingkungan putih-abu abu?"
Sebuah pertanyaan yang membuat Bara tertohok. Apa selama ini gue kelihatan cuma main-main?
"Kamu terlalu lambat dan santai menyikapi apapun, Bar!"
"Pertama Dillara, kemudian Diandra! Ya walaupun aku tahu, mereka juga gadis yang tangguh dan pantang menyerah."
"Tapi percayalah, lambatnya kamu mengambil keputusan akan membuatmu merugi."
"Karena ada waktu yang tidak bisa diulang."
"Dan rasa cinta yang terkikis oleh keraguan."
Nana membuat Bara ketar-ketir karena jika gadis di depannya sudah mode serius, ia akan mendapat ceramah paling berharga.
"Aku bingung..." Nana menatap ke atas guna untuk menahan air mata yang hampir menetes.
"Kamu ragu padaku atau ada hal lain, Bar?"
"Jika kamu ragu padaku, maka semua ini lebih baik di akhiri saja." Nana menyeka air mata yang ternyata tak bisa lagi ia bendung. Terlalu sakit menunggu keputusan Bara meski pun kata tidak yang keluar dari mulutnya.
Semua menggantung seolah hubungan mereka bukan apa-apa dan akan terlupa dengan sendirinya.
"Terbiasalah melihat dari sudut pandang orang lain, Bar! Bukan dari pikiranmu sendiri!" Nana terus saja bicara.
"Aku mungkin bisa menjaga rasa cintaku. Tapi sikapmu membuat ragu."
"Kadang lebih baik melepaskan dari pada hidup dengan orang yang asyik dengan dunianya sendiri."
"Coba buka mata kamu lebar-lebar, Bar. Keputusan kamu ditunggu oleh dua keluarga."
Nana tertawa. "Bahkan empat."
"Coba fikirkan orang lain juga."
"Jika memang enggan. Kita bulatkan tekad. Katakan pada mereka bahwa kita belum siap."
"Aku tidak masalah, Bar. Menunggu hingga lulus kuliah juga tidak apa."
"Jika setelah lulus sekolah, juga tidak mengapa. Asal perasaanmu padaku itu benar-benar tulus."
Bara menghela nafas. Ia menegakkan duduknya dan menghadap kearah Nana.
"Aku cuma takut salah mengambil keputusan, Na."
"Bukan gak cinta."
"Bukan juga karena aku main-main sama kamu."
"Mama papa pernah gagal, kita tahu itu." lanjut Bara. "Dan aku gak mau semua itu terulang dalam pernikahan aku kelak, Na."
Nana tersenyum kecil. "Kamu takut dengan apa yang belum kamu jalani, Bar."
"Kita masih membahas pertunangan, bukan pernikahan!"
"Kami terlalu takut dengan apa yang ada dalam fikiran kamu."
"Coba kamu fikirkan. Misalnya saat kamu berjalan disebuat jalan setapak dengan jurang disisi kanan dan kiri, apa yang kamu lakukan agar tidak jatuh?"
Bara diam sejenak. Mengapa dia malah menanyakan hal lain diluar topik pembicaraan kami.
Nana tersenyum. "Masih banyak cara untuk bertahan, kan? Bahkan disaat kamu berada dititik tidak aman sekalipun."
Nana menunjukkan dua telapak tangannya yang terbuka. "Masih ada tangan ini sebagai tempat berpegangan kamu, Bar!"
"Selama tidak kamu lepaskan dan berusaha meraih tangan orang lain, percayalah... Kita akan terus bersama. Meski sekarang, besok atau bertahun lagi kita baru menikah."
"Waktu hanya akan menambah umur kita."
"Kedewasaan itu tidak pandang usia."
"Rezeki sudah ada yang mengatur, selagi kaki dan tangan kamu masih bisa digunakan untuk bekerja."
"Jika tidak ada gadis lain dalam hatimu, maka kita akan terus bersama."
"Jika selisih faham dan pertengkaran kecil bisa kita selesaikan, maka tidak akan ada pertengkaran besar."
"Percaya atau tidak, bagiku masalah besar itu ada karena satu demi satu masalah kecil yang disembunyikan."
Bara diam sejenak. "Kalau kamu, maunya gimana?" tanya Bara.
Nana diam. "Aku bisa apa jika kamu sendiri gak yakin?" ucapnya kemudian.
"Aku yakin, Na." jawab Bara.
"Aku cuma takut kita gagal dan menyakitimu."
"Aku takut aku gak bisa membahagiakanmu."
Nana tersenyum hambar. "Itu sama aja artinya, Bara! Kamu gak yakin!"
"Jangan tanyakan apa mauku kalau cuma ketakutan yang ada di hatimu." Nana menunjuk dada Bara.
Nana berdiri. "Sangat sulit untuk membuat kamu mengerti, Bar!"
"Segera ambil keputusanmu. Karena sepertinya keputusan bersama akan sangat sulit di dapat kalau cara berfikir kita jelas berbeda." Nana pergi meninggalkan Bara.
"Na..." Bara mengejar Nana.
"Tunggu, Na!" Bara meraih tangannya. Keduanya berdiri saling berhadapan.
"Maafkan aku, Na. Aku memang lelaki payah yang gak bisa diandalkan!"
Nana menggeleng pelan. "Kamu pintar, Bar! Kamu cerdas!"
"Kamu bisa mengurus bengkel, nilai akademis kamu bagus bahkan kamu bisa lolos dari jebakan Dillara."
"Hanya saja kamu lemah dalam hal love relationship."
"Kamu gak bisa membuat sebuah komitmen."
"Sorry..." Bara menggenggam tangannya. "Sorry kalau aku gak sehebat yang kamu inginkan!"
"Ck!" Nana menghempaskan tangan Bara.
"Tegakkan kepala kamu, Bar!"
"Jangan jadi pria pesimis, dan pecund*ang!" Nana memijat keningnya. Ia tak habis fikir melihat sikap Bara yang kekanakan.
***
Bara menghempaskan tubuhnya di ranjang apartemennya. Pembicaraannya dengan Nana tak menemukan jalan keluar. Nana hanya diam selama perjalanan saat ia mengantar gadis itu pulang.
"Seberat apa sih?" tanya Putra. Bara sengaja mengajak putra ke apartemennya. Ia butuh teman cerita yang seusia dengannya.
"Sampai muka lo kucel begitu." Putra meletakkan segelas minuman dingin di nakas. Ia ikut berbaring di ranjang.
"Keluarga gue dan Nana mengusulkan agar kami berdua bertunangan dulu!"
Putra tertawa hambar. "Terus!" Ia menatap wajah Bara.
"Gue bingunglah. Gue sama Nana kan masih sekolah. Otomatis untuk menikah maaih sangat lama. Terus gue takut di tengah jalan nanti hubungan kami gagal."
"Gue gak mau aja, hubungan keluarga kami juga terkena imbas."
Putra tertawa lagi. "Sebenarnya gimana perasaan lo sama Nana?"
Bara diam sejenak. Perasaan gue ke Nana?