Selena's First Love

Selena's First Love
Bab 53 Wedding Putra-Sherly (2)



"Selamat, Sher!" Pelukan erat dari Nana mulus di terima Sherly, gadis berkebaya putih dengan make up natural itu.


"Semoga langgeng sampai maut memisahkan," lanjut Nana. "Segera kasih keponakan lucu untuk kita semua." Nana melepaskan pelukannya.


"Amin. Dan semoga lo cepat nyusul, Na."


"Tunggu apa lagi," Sherly melirik Bara yang sedang bersama putra. "Dia kayaknya udah siap lahir batin buat meminang lo!"


Nana tersenyum kecil. "Gue yang belum siap!" bisik Nana.


"Takut sama first night ya?" bisik Zahra lalu tertawa geli saat melihat ekspresi Nana yang menurutnya lucu.


Nana mengerutkan keningnya, lalu matanya berbinar. "Sher, ntar review ke kita ya gimana rasanya!" bisik Nana pada Sherly.


Sherly terkekeh, "gue live-in aja gimana?"


"Hahahah... gue setuju banget!" sorak Zahra membuat perhatian orang-orang tertuju pada mereka.


"Seru banget?" tanya Putra yang merangkul bahu istrinya. "Bertiga aja kayak sekomplek."


"Pada ngobrolin apa sih?" tanya Putra lagi.


"Rahasia para gadis, sayang!" sahut Sherly yang melingkarkan tangannya di pinggang Putra.


"Uuuuhhhh!" goda Zahra. "Sayang-sayangnya udah gak pake malu-malu ya sekarang? Gue jadi pengen," ucap Zahra penuh harap.


"Ada Calvin yang masih jomblo, nih Ra," sahut Dimas.


Nana dan yang lainnya tertawa. Ternyata Dimas dan Nana punya pemikiran yang sama.


"Lo juga jomblo, Dim!" sahut Calvin santai. Ia tidak menolak bahkan mendebat ucapan Dimas. Ia hanya membalas ejekan temannya itu.


Dimas tersenyum tipis pada Calvin. Dan hal itu tak luput dari perhatian Bara.


"Wah, Vin! Feeling gue gak enak, nih!" ucap Bara diangguki oleh Calvin.


"Roman-romanya ada yang udah nemu gemboknya nih!" sahut Calvin merangkul bahu Dimas.


"Siapa Dim?" tanya Calvin pelan. "Bisikin ke gue maka aman rahasia lo!"


"Jiaaah, aman apaan! Habis lo jadi bahan kontennya bang Dim!" sela Zahra.


Dimas tertawa, "kita lihat malam nanti."


***


"Jangan menor-menor, Ra!" protes Nana saat Zahra menyapukan blush on ke tulang pipi Nana.


Saat ini keduanya sedang berada di sebuah kamar hotel, tempat yang Sherly siapkan untuk mereka berdua. Sementara kamar Bara dan Calvin serta Dimas berada tepat di sebelah kamar mereka.


"Lo percaya sama gue, Na. Chanel yo*tube gue ribuan subscriber dan semua orang suka sama tutorial dan hasil make up gue!" ucap Zahra percaya diri. Gadis itu memang sering memanfaatkan waktu luangnya untuk membuat video meke up tutorial.


Zahra tidak seheboh Calvin yang followersnya sudah jutaan. Ia tidak seperti Calvin yang lebih sering live di media sosial dari pada di aktif di chanel yo*tubenya.


"Ck! Iya... iya...! Gue tahu. Tapi muka lo sama gue kan beda, Ra."


"Lo agak chubby-chubby gimana gitu. Sementara gue kan..."


"Bilang aja gue gendut, Na!" sambar Zahra sambil terkekeh. Zahra berdiri dibelakang Nana, dan merapikan rambut gadis itu.


"Lo gak gendut sayang!" sahut Nana.


"Dih!" Zahra meringis dan Nana tertawa melihat bayangan wajah gadis itu di cermin. "Bara tuh, dipanggil sayang! Udah mupeng banget dia lihat lo romantis, Na!"


Nana tertawa kecil. "Geli gue, Ra!"


"Ck! Banyakin nonton drakor makanya. Biar bisa niruin adegan romantisnya!" Omel Zahra yang memang menggilai drakor sejak dulu.


"Minimal lo taulah cara balas ciuma*n Bara! Gue berani jamin, lo berdua belum pernahkan begituan?" tebak Zahra yakin.


Gadis itu berdiri tegak dan merapikan dress panjangnya dengan belahan hingga ke paha.


Nana menatap Zahra dan menangkup ke dua pipi gadis itu sampai Zahra mau tak mau menatap wajah Nana.


"Sok tau! Wleee!" Ejek Nana dan melepaskan pipi Zahra.


"Ceileee!" ejek Zahra makin menjadi-jadi. "Gak usah gugup gitu, Na."


Nana meraih handbag yang tergeletak diatas tempat tidur. "Ayo turun!" ajak Nana.


Zahra meraih handbagnya juga dan menggandeng tangan Nana. "Kenapa?"


"Gue takut makin kelihat cupu di depan lo!"


"Kaki lo udah ke London! Kaki Bara udah ke Jerman, masih kurang jauh apa lagi coba tempat main kalian!"


"Gila! udah pada gede gak ngerti ci...." Nana mencubit pinggang Zahra karena saat mereka keluar dari kamar hotel, dua pria di kamar sebelah juga sudah menunggu di depan kamar mereka.


"Apanya yang gak ngerti, Ra?" tanya Bara.


Nana mendadak gugup sementara Zahra mengul*um senyum membuat kedua pria itu menatap mereka curiga.


"Enggak! Lo para cowok gak bakalan ngerti urusan cewek!"


"Gue gak yakin tentang itu!" Calvin menelisik wajah Zahra.


"Terserah, lo!" Sahut Zahra enteng. Ia berjalan lebih dulu karena yakin Nana akan digandeng oleh Bara sementara ia tidak mungkin digandeng oleh Calvin.


Nana dan Bara berjalan berdampingan dan Calvin berjalan di belakang mereka.


"Bang Dim kemana, Bar?" Zahra menoleh kebelakang menyadari tidak adanya Dimas bersama mereka.


"Jemput cewek katanya!" Sahut Bara.


"Dia serius punya pacar?" tanya Nana.


Bara mengangkat bahu. "Entah. Kita lihat aja nanti. Dia bawa siapa."


"Emaknya juga cewek kali, Na!" sahut Calvin.


"Kenapa? Gak seneng lo, jadi jomblo sendirian?" ejek Nana.


"Dih, gue jomblo terhormat, Na! Gak usah fikirin gue deh, entar juga gue dapet cewek di partynya Sherly-Putra," sahut Calvin percaya diri.


Nana memutar bola matanya jengah. Seorang Calvin akan menjadikan siapapun sebagai pacarnya jika pria itu ingin. Mungkin jika ada boneka barbie di cake pernikahan Putra dan Sherly nanti, pria itu akan menyatakan cintanya dan menjadikan barbie mainan itu sebagai pacarnya.


"Lo tahu, Na! Dibelakang jas dia ada tulisan, dicari partner sewaan!" ucap Zahra sambil tertawa sementara Calvin hanya bisa menggeleng pelan karena enggan memperpanjang perdebatan dengan gadis yang malam ini terlihat cantik itu.


Mereka tiba di ballroom hotel. Tamu-tamu mulai berdatangan bercampur baur antara kamu muda mudi dan para orang tua.


Teman-teman sekolah mereka berkumpul dalam satu kelompok. "Ra, gabung yuk!" ajak Nana.


Mereka bergabung, tapi Bara memilih untuk menemui salah satu langganan bengkelnya yang ternyata merupakan rekan bisnis orang tua putra.


"Aku kesana dulu, Na! Gak enak lihat beliau, udah senyum dari tadi," bisik Bara pada Nana.


Bara menemui pria berusia empat puluhan tahun itu. Pria yang sejak dulu sudah menjadi langganannya di bengkel.


"Saya duluan, Pak! Mau bergabung dengan teman SMA." ucap Bara sopan.


Bara melihat Nana masih bergabung dengan teman-teman sekelas mereka dulu. Ia langsung melangkahkan kakinya, tapi seorang gadis berdress selutut nyaris menabraknya.


"Ehm, sorry!" ucap gadis itu cepat.


"Saya yang harusnya minta maaf," balas Bara sambil melihat gadis yang sepertinya ia kenal. Ya, dia adalah teman kantor Nana yang pernah ia antarkan pulang ke kos.


"Mbak Salsa!"


"Bara!" ucap keduanya bersamaan dengan ekspresi sama-sama terkejut.


"Lo disini?"


"Mbak disini?" tanya mereka berbarengan lalu keduanya tertawa.


"Iya... gue sama..." jawab Salsa ragu.


"Sama calon ya?" tebak Bara. Dan gadis itu tersipu malu.


"Lo sama Nana?" tanya Salsa.


"Iya. Itu dia!" tunjuk Bara pada gadis yang terlihat paling cantik dimatanya.


"Sayang, ngobrol sama siapa?"


Suara yang Bara kenal menyapa dari arah belakang gadis itu. Dan saat pria itu berdiri disamping Salsa, Bara membulatkan matanya.


Pria itu juga terkejut saat melihat wajah Bara.


"Lo?" ucap Bara tak percaya.


***


Siapa ya kira-kira? 😅😅😅