
Tiga bulan berlalu...
Semakin hari, Bara semakin sibuk mengurus bengkelnya. Tiga bengkel miliknya kian hari kian ramai. Banyak pelanggan baru yang terus bertambah menambah pundi-pundi rupiah di rekening Bara.
Terlebih saat tiga bulan lalu, Papanya menyerahkan keuntungan perusahaan dari 10 persen saham yang ia punya. Dan, Bara masih menyimpannya dengan baik. Belum ia gunakan satu rupiah pun sehingga angka di tabungannya terus bertambah.
"Penghasilan meningkat, Dang!" Ucap Bara pada Dadang, manager bengkel yang duduk di depannya. Ia baru saja menerima laporan keuangan yang menunjukkan peningkatan penghasilan yang cukup signifikan.
"Pertahankan terus cara kerja anak buah kamu. Jangan sampai ada komplain dari pelanggan," lanjut Bara dan pria bernama Dadang itu mengangguk.
"Gajian bulan ini, akan saya tambahkan bonus untuk kalian semua."
"Alhamdulillah," gumam Dadang sambil melebarkan senyum.
"Terima kasih banyak, Mas. Anak-anak pasti seneng denger kabar begini."
Bara tersenyum lebar. "Saya cuma kasih apa yang menjadi hak mereka."
"Saya salut, mereka bisa bekerja dengan sangat baik. Banyak loh pelanggan yang langsung kirim pesan ke saya kalau pelayanan yang kalian kasih tuh T.O.P" Bara mengacungkan ibu jarinya kepada Dadang.
"Saya akui, Mas. Kerja mereka memang bagus. Mungkin karena kita pekerjakan penduduk sekitar, anak SMK yang baru lulus pula, jadi mereka lebih fresh dan lebih cekatan. Tapi tetap kita dampingin dengan senior yang selalu mengawaso hasil kerja mereka."
"Kamu benar Dang, tinggal bagaimana kita tetap mem-push agar mereka tetap semangat," balas Bara.
"Semoga dengan bonus bulanan ini bisa menambah semangat mereka, Mas."
Pembahasan mereka bukan hanya mengenai hal itu, mereka juga membahas beberapa hal lain seperti jadwal libur dan lembur untuk karyawan.
Selesai meeting dengan Dadang, Bara turun ke area bengkel dan melihat karyawannya bekerja.
Ia juga sempat menyapa beberapa pelanggan yang mobilnya sedang di perbaiki.
"Masih lama gak sih, Mas?"
"Saya sudah nunggu hampir sejam loh ini? Masa gak selesai-selesai juga sih?"
"Saya banyak kerjaan, Mas. Waktu saya terbuang sia-sia disini."
Bara mendengar suara seorang wanita yang berteriak memarahi karyawannya.
"Butuh waktu untuk memeriksa penyebab kerusakan mobil anda, Mbak. Dan ternyata kerusakan mobil anda lumayan parah," ucap seorang montir pada wanita cantik dengan dress dibawah lutut itu.
"Saya juga sudah katakan akan butuh waktu sekitar satu jam untuk memperbaiki dan mengganti spare part yang rusak. Anda juga sudah bersedia menunggu."
"Jadi, tunggu sebentar lagi ya, Mbak. Ini sudah hampir selesai."
Bara dan Dadang berjalan mendekat.
"Mana penanggung jawab bengkel ini?" teriak wanita itu. "Kalau perlu pemiliknya sekalian. Biar kamu di pecat! Dasar gak bec*s!"
Pria berusia 20 tahun itu hanya bisa menunduk lesu sambil terus memperbaiki mobil tersebut. Sudah hampir selesai, hanya saja wanita itu tidak sabaran.
"Permisi, ada apa, Mbak?" tanya Dadang.
Wanita itu menatap dua orang pria yang tampak paling rapi diantara yang lainnya.
"Anda pemilik bengkel ini?" tanya wanita itu.
"Bukan, saya managernya."
"Oh bagus!" ucap wanita itu sombong. "Saya mau komplain ya, Pak!"
"Saya sudah menunggu lama, tapi mobil saya belum selesai juga!"
"Montir anda ini bisa kerja gak sih?"
"Ternyata kabar kalau bengkel ini terkenal bagus, itu cuma hoaks. Saya sendiri merasa tidak puas dengan pelayanan kalian."
Dadang dan Bara hanya bisa menghela nafas. Hanya ada satu banding seribu pelanggan yang seperti ini. Mau cepat selesai tanpa mau peduli kerusakan mobilnya separah apa.
Mungkin karena ia seorang wanita yang tidak mengerti apapun mengenai mobil.
"Begini ya, Bu," Bara mencoba menjelaskan.
"Kamu siapa? Saya bukan ibu-ibu, saya masih single."
Oke Bar! Tenang! Mungkin mbaknya sedang PMS. Batin Bara menyemangati dirinya sendiri.
"Oke, Mbak! Sorry kalau begitu. Perkenalkan, saya Bara. Pemilik bengkel ini."
Wanita itu langsung membulatkan matanya. Ia tak menduga pemiliknya adalah seorang pria muda yang sangat tampan pula. Awalnya wanita ini mengira Bara adalah pelanggan yang juga sedang menunggu mobilnya diperbaiki.
Tampilan Bara bukan seperti pemilik. Ia lebih terlihat santai dengan setelan jeans hitam dan kaos putih yang ia pakai.
"Saya memilih menunggu, karena saya yakin mobil saya masih sehat."
Sehat kok masuk bengkel, mbak?
"Tapi karyawan saya pasti juga sudah memberi tahu, berapa lama waktu pengerjaannya."
Wanita itu mengangguk namun dengan caranya yang mempertahankan gengsi.
"Jadi, jangan marah padanya, Mbak."
"Anda bisa menunggu sambil memanfaatkan fasilitas wifi dari kami, disana juga ada coffee corner," tunjuk Bara di sebuah kedai kecil yang menyediakan beberapa jenis minuman dingin dan makanan ringan. Fasilitas yang Bara tambahkan sebagai tempat pelanggannya yang sedang menunggu kendaraan mereka diperbaiki.
"Anda bisa menunggu sambil minum kopi."
"Atau mau ditemani oleh manager bengkel, atau mau saya yang menemani?" tanya Bara sambil menyunggingkan senyum tipisnya.
Wanita tersebut sudah terlanjur malu. Ia memilih menggelengkan kepala. "Saya gak ngopi. Saya juga punya kuota sendiri, jadi gak perlu pakai fasilitas wifi disini."
"Sudah selesai, Bu." Seorang montir memberitahu pada wanita itu bahwa mobilnya sudah selesai di perbaiki.
Wanita itu diarahkan untuk membayar di bagian kasir. Bara sendiri yang mengantarnya. Namun, kening wanita itu berkerut saat melihat wanita cantik sedang duduk di depan meja kasir.
"Hei sayang! Udah lama?" sapa Bara membuat wanita itu menoleh pada pria muda disampingnya.
"Belum. Baru aja."
Bara mencium pipi Nana. "Tumben weekend main kesini?" tanya Bara yang heran melihat Nana ada di bengkelnya Sabtu siang ini.
"Hehehe... Aku masak buat kamu, kita makan siang bareng, mau?" Nana menunjuk sebuah paper bag berisi makanan yang ia bawa dari rumah.
"Mau banget, dong!"
Nana melihat wanita yang sedang duduk disampingnya dan meminta bill kepada karyawan yang menunggu di bagian kasir.
"Jihan?" Nana menyapa wanita itu.
Wanita itu menoleh dan tersenyum kecil. "Mbak, Nana."
"Mobil kamu rusak?"
Wanita itu mengangguk. "Sudah selesai kok, Mbak!"
Wanita itu terburu-buru meninggalkan bengkel. Ia tidak tahu bahwa bengkel itu adalah milik Bara, kekasih seniornya di kantor, sekaligus putri pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
Ia juga ketar-ketir karena takut perlakuannya malah akan mempengaruhi pekerjaannya. Pasalnya ia baru seminggu bekerja di perusahaan itu.
"Kenal, sayang?" tanya Bara sambil menuntun Nana menuju ruang kerjanya.
Nana mengangguk. "Anak baru di kantor."
Bara terkekeh. "Pantes, takut sama kamu."
Nana ikut terkekeh. "Emangnya aku apain?"
Bara mengangkat bahunya. "Dia marah-marah tadi sama salah satu montir. Ya, mungkin karena itu dia takut sama kamu."
"Hahah... gak ada hubungannya kali, yang! Aku kan bukan pemilik bengkel ini."
"Tapi kan kamu calon nyonya pemilik bengkel ini."
Nana tertawa. "Nikahi dulu kali!"
"Emang udah siap?" Bara menutup pintu ruang kerjanya. Ia melihat Nana langsung duduk di sofa.
"Na..."
Nana mengerutkan hidung dan dagunya membuat ekspresi yang sangat lucu. Jika ditanya siap atau tidak, ia sudah siap. Tapi entah mengapa ini terlalu cepat.
"Diamnya kamu aku anggap, iya," lanjut Bara lagi.
Nana membulatkan matanya.
Bara tertawa. "Aku akan bicara sama om Hadi."
"Ingat! Apapun harus aku yang mulai, kan?"
"Jadi, aku gak mungkin nunggu kamu ngelamar aku, Na."
Nana diam sejenak. Ya jelas, Bar! Gak mungkin aku yang ngelamar kamu duluan.