
Suasana jalan raya sore ini lumayan padat. Jam pulang kantor menjadi salah satu pemicunya. Nana dan Bara berada dalam mobil dan tengah terjebak macet. Mereka berdua akan menghabiskan waktu sore ini di salah satu pusat perbelanjaan.
"Kita mau ngapain sih, Bar? Ini belum weekend dan kamu udah ngajak jalan." tanya Nana karena sedari tadi tunangannya itu tidak menjelaskan tujuan mereka pergi ke mall.
"Kamu penasaran banget sih!" Bukannya menjawab pertanyaan Nana, pria itu malah menggodanya dan tersenyum jahil.
"Coba tebak, apa yang bisa dilakukan orang-orang di mall!"
Nana memutar bola matanya dan menarik satu sudut bibirnya. Ia mulai jengah melihat Bara yang mulai jahil.
"Banyak tujuan orang kesana sayang!" ucap Nana pada Bara. Jika harus menyebutkan satu persatu mungkin sepuluh jemari tangannya tidak akan cukup untuk menghitungnya. Dan ia yakin, Bara pasti memintanya menyebutkan satu persatu.
"Sebutin dong!" pinta Bara.
Benar kan dugaannya! Nana menarik nafas berat. "Main, nonton, shopping, makan, numpang ngadem sama numpang pipis!"
"Hahahah...." Bara tertawa keras. "Yang dua terakhir paksa banget, Na! Kalau mau pipis, di SPBU juga bisa."
"Mau ngadem di maret-maret juga bisa kali, Na."
Nana tertawa. "Habisnya kamu nyuruh aku nebak. Ya aku tebak begitu."
"Sebenernya, aku lagi bosen aja. Lagi laper juga."
"Ck! Yang mana yang bener? Laper apa bosen?" tanya Nana bingung.
"Hahah... Dua-duanya. Kita kan gak pernah jalan-jalan kayak orang pacaran, Sayang!"
"Sejak tunangan, kita gak pernah healing. Jadi aku ajak kamu hari ini. Kita healing-healing tipis." Bara tersenyum simpul.
"Healing itu ke puncak, ke pantai, atau ke tempat yang pemandangannya bagus sayang! Bukan malah ke Mall." sahut Nana agak kesal.
"Hahah... Oke... oke ibu negara, nanti kapan-kapan kita healing agak jauhan dikit ya... Hari ini kita nge-mall dulu, ya sayang!" Bara mengusap rambut Nana.
"Aku lagi pengen japaness food nih!" ucap Bara. "Kayaknya enak banget sore-sore gini makan ramen."
"Di resto kan bisa sayang! Kita ngelewati banyak restoran Jepang loh ini!"
"Kalau kita makan di resto, pasti habis makan, kamu langsung minta balik."
"Nah, kalau ke sana kan enak. Udah kenyang, masih bisa nonton, masih bisa shopping, masih bisa main."
"Kalau gitu kan kamu gak buru-buru ajak aku balik!"
"Huu! Modus kamu, bilang aja mau lama-lama sama aku!" Nana memanyunkan bibirnya.
"Aku lagi nyetir, sayang! Gak bisa ciu*m kamu!" ucap Bara lalu tertawa.
"Dih! Siapa yang minta ciu*m?" tanya Nana sinis.
"Tuh, bibir kamu yang minta!"
"Ck!" Nana berdecak. "Kamu tuh yaaaa. Makin kesini makin...." Nana tidak melanjutkan ucapannya.
"Makin apa, Sayang?" tanya Bara.
Nana menggeleng.
"Makin apa, sa-yang?" ulang Bara dengan tangan yang sudah berada di perut Nana bersiap menggelitik.
Nana diam saja. Ia pura-pura tidak peduli dengan tangan Bara yang sudah bersiap menggelitik pinggangnya.
"Makin apa, Nana sayang?" Dua detik tidak dijawab, tangan Bara sudah menggelitik pinggangnya.
"Hahaha... Kamu... Kamu... makin mesu*m!" sahut Nana cepat.
"Udah Bara!" teriak Nana sambil memegangi tangan Bara.
"Siniin tangan aku, Na. Aku lagi nyetir!" pinta Bara karena tangannya masih dipegangi Nana.
"Gak mau."
"Nana sayang!"
"Gak mau, Bara."
"Nana... Aku minggirin mobil nih!" Ancam Bara main-main.
Nana langsung melepaskan tangan Bara dan ia tertawa. "Kamu suka ngancem sekarang!"
"Aku malah seneng loh kalau kamu gak lepasin tangan aku!"
Nana tertawa. "Iya.. kamu bakalan berhenti dan gelitikin aku pake tangan kamu yang satu lagi!"
Bara tertawa karena Nana dapat menebak pemikirannya dengan mudah.
"Kenyang!" Nana mengelus perutnya saat ia dan Bara baru saja keluar dari restoran di dalam mall.
"Sering-sering begini, mau?" tanya Bara.
"Mau lah!" jawab Nana cepat dan Bara tertawa.
"Tapi kamu harus inget. Hidup ini bukan cuma untuk senang-senang, Bar!"
"Makan gak harus diluar kok!"
"Utamakan nabung, buat masa depan kita. Buat anak-anak kita."
"Jangan sampe anak-anak kekurangan biaya sekolah karena mama sama papanya kebanyakan hamburin uang buat makan di restoran!"
Bara tertawa. "Penasehat keuangan yang cerdas. Gratis lagi!" Bara merangkul bahu Nana.
"Kalau konsultasi, udah habis berapa duit!"
Nana tertawa. "Berlebihan kamu, Bar! Semua cewek yang mikirin masa depan, dia pasti bakalan ngomong begitu!"
"Dug!"
Nana terkejut karena seorang bocah laki-laki berusia sekitar lima tahun menabrak bagian samping tubuhnya hingga bocah itu jatuh terduduk di lantai.
"Ya ampun! Kamu gak kenapa-kenapa sayang?" tanya Nana. Ia langsung berjongkok dan membangunkan bocah laki-laki yang sama sekali tidak menangis itu.
Anak laki laki itu menggeleng pelan.
"Dewa! Are you okey?" tanya seorang pria yang berlutut di dekat anak itu.
Nana melihat, pria yang membawa beberapa paperbag di tangannya itu terlihat begitu khawatir.
"Daddy sudah bilang, jangan lari-lari! Mamimu bisa marah kalau kamu sampai terluka."
"Terima kasih! Maaf karena putra saya menabrak kamu. Dia memang anak yang sangat aktif. Saya sampai kewalahan."
"Tidak apa-apa, mas!" Nana dan pria itu berdiri. Nana tersenyum kecil. "Saya duluan, ya."
Nana berbalik dan kembali menggandeng tangan Bara.
"Sayang!" Suara wanita yang sepertinya tidak asing bagi Nana dan Bara. Keduanya sama sama menoleh kebelakang dan kening mereka kompak berkerut. Mencoba mengingat siapa wanita yang memakai jeans dan kaos ketat berwarna putih itu.
"Dewa kenapa, Mas? Dia jatuh?" tanya wanita itu panik. Terlihat jelas bahwa wanita itu sangat over protektif terhadap putranya.
"Gak sengaja, dia nabrak orang tadi."
"Kamu gak kenapa-kenapa, sayang?" tanya wanita itu pada putranya.
"Gak kenapa-kenapa, mami. Dewa gak sakit, kok!" jawab bocah itu.
"Dillara..." gumam Nana saat mengingat siapa wanita itu. Wanita yang dulu pernah menjebak Bara. Dan kini wanita itu tak jauh berbeda dari lima tahun lalu. Masih cantik, dan bertubuh langsing.
Tapi, seorang anak yang memanggilnya mami dan seorang laki-laki yang dipanggil Daddy membuat Nana tersadar, Dillara sudah menikah.
Dillara menatap wanita yang menyebut namanya. Ia perlahan berdiri dan mundur selangkah. Ia menarik tangan putranya dan menggandeng lengan suaminya.
"Selena... Bara..." gumamnya dan dua orang yang ia sebut namanya itu bisa mendengar dengan jelas.
"Gendong Dewa, Mas." perintah Dillara pelan.
Bara dan Nana saling melihat satu sama lain. Keduanya sama-sama tidak menyangka bisa bertemu wanita itu disini.
Selama ini, tepatnya setelah kejadian dimana Dillara menjebak Bara, mereka tidak lagi pernah bertemu. Setelah dibebaskan dari hukuman, terdengar kabar bahwa gadis itu pindah keluar kota sesuai perjanjian agar ia tak muncul lagi dihadapan Nana dan Bara.
Seketika keduanya terheran karena Dillara langsung pergi meninggalkan tempat itu.
"Dia Dillara kan, Bar?" tanya Nana masih belum percaya dengan apa yang ia lihat. Tapi anggukan Bara membuatnya percaya bahwa apa yang ia lihat memang Dillara.
"Dia udah nikah? Dan... Dan itu tadi anaknya?" tanya Nana pada Bara.
Bara menggandeng tangan Nana dan mengajak wanita itu untuk kembali berjalan. "Bukan urusan kita sayang!"
"Dia juga langsung pergi. Itu artinya, dia gak ingin ketemu kita."
Nana mengangguk. "Anaknya ganteng, Bar!"
"Ck! Entar ku buatkan yang lebih ganteng dan lucu dari anak itu."
Nana mencubit lengannya. "Hahaha..." Bara malah tertawa. "Aku ikhlas sayang, gak apa-apa kok. Aku gak keberatan malah!"
"Sssst! malu di denger orang!" Bisa-bisanya Bara mengatakan hal seperti itu di depan umum. Bagaimana jika ada yag mendengar? Mereka pasti dikira pasangan mes*um yang sedang dimabuk cinta hingga tidak bisa melihat situasi sedang berada di mana.
Bara senyum-senyum sendiri. Ia menahan tawanya karena melihat pipi tunangannya itu sudah memerah karena malu dan salah tingkah.