
Sebuah taman yang lumayan luas, menampilkan pemandangan yang begitu indah. Sebuah plaminan didominasi warna putih dengan panggung yang tingginya sekitar 30 cm dan ratusan meja dengan sepuluh kursi yang melingkari meja itu sudah selesai di dekorasi.
Sebuah konsep pernikahan outdoor dipilih oleh Nana dan Bara. Bahkan seluruh keluarga sepakat untuk hal ini.
Di tempat yang tidak jauh, ada sebuah meja dengan beberapa kursi yang berada di sekitarnya. Inilah, tempat dimana nantinya Nana dan Bara akan mengikat janji sehidup semati di hadapan penghulu, saksi, dan para tamu.
Sebenarnya disekitar taman ini terdapat dua bangunan yang biasanya digunakan untuk akad nikah. Namun, Nana dan Bara memilih akad juga dilakukan di luar ruangan.
Nana dan Bara hanya meminta tim W.O agar menyediakan ruangan atau kamar khusus untuk keluarga inti yang tidak akan pulang ke rumah setelah akad, karena malam harinya mereka akan melangsungkan resepsi pernikahan di tempat yang sama.
Sejak kemarin, Bara selalu singgah ke tempat ini demi melihat persiapan yang dilakukan oleh tim W.O.
Bara tersenyum puas karena pernikahan impian Nana akan segera terwujud. Ia merasa bangga pada dirinya dan keluarga, karena sebentar lagi, penantian selama 6 bulan yang diwarnai dengan perdebatan kecil akhirnya akan memasuki babak final.
Pernikahan antara dirinya dan Nana benar-benar membuat keluarga besar mereka begitu antusias.
Bara juga sudah mulai melakukan pembangunan rumah yang desainnya juga atas pilihan Nana. Rumah yang ia bangun di salah satu tanah milik Wawan.
Bara menerima setiap pemberian orang tua mereka. Ia menganggap semua yang ia dan Nana terima adalah sebagai hadiah karena keduanya berani melangkah ke hubungan yang halal.
"Bara, kamu harus tenang saat ijab kabul nanti! Jangan gugup! Anggap saja Om Hadi sedang mengajakmu bicara seperti biasa! Atau, anggap om Hadi seperti custumer yang biasa kamu tangani dibengkel." Wawan menasehati putranya.
Bara duduk bersama Wawan di kursi belakang supir dan dibagian paling belakang, ada istri kedua Wawan dan putranya.
Dibelakang mobil yang Bara tumpangi, menyusul mobil Tamara dan keluarganya, mobil Samara dan disusul oleh keluarga yang lain.
"Gugup sudah pasti, Pa. Namanya juga moment pertama kali dalam hidup Bara!"
"Papa iya, udah dua kali!" Wanita di kursi paling belakang malah tertawa mendengar Bara sedang memojokkan suaminya.
"Tuh, mama sampai ketawa." Bara menunjuk wanita dibelakangnya yang bisa ia lihat wajahnya dari spion tengah.
"Jadi kamu ingin dua kali juga?" tanya Wawan.
"Dih! Amit-amit, Pa!" Bara mengetukkan genggaman tangannya di jok mobil.
"Kalau bisa sekali seumur hidup. Kalau bisa, Bara dan Nana langgeng terus, sampai kakek-nenek. Sampai maut memisahkan!"
***
"Na, kebaya kamu gak susahkan buat jalan?" tanya Salma, mama kandung yang selalu berada di samping gadis itu sejak pertama kali tim MUA mulai memoles wajah Nana.
Nana sudah di rias dan ia sudah bersiap untuk masuk ke dalam mobil. Nana perlahan berjalan, rok yang membuat ruang geraknya terbatas membuat Salma dan Ayu sama-sama khawatir. Nana bukan tipe wanita yang sering memakai rok span seperti itu.
"Enakan pakai celana bahan, Ma." Nana nyengir.
Salma tertawa. "Kamu kebiasaan sih, ke kantor gak pernah pakai rok span yang panjangnya semata kaki, atau minimal 7/8 Na."
Ayu juga tertawa. "Nana mau pakai yang selutut aja udah syukur banget, mbak!"
"Dia kalau kerja keseringan pakai celana sama blazer. Kalau pakai rok kebanyakan pakai yang A line. Ya, kan Na?" tanya Ayu.
Nana mengangguk.
Entah inisiatif dari mana, kedua namanya malah melupakan suami masing-masing. Keduanya memilih masuk ke mobil yang sama dengan Nana, sambil terus mengapit gadis itu diantara keduanya.
"Sanggul Nana aman kan, Ma?" tanyanya dengan tujuan untuk mengurangi kegugupan.
"Aman!" Kedua wanita itu mengacungkan jempol mereka dan membuat Nana kembali tertawa.
Ia senang, keluarganya saling akur tanpa mengkhawatirkan masa lalu antara Mama dan papanya. Orang tuanya sudah hidup bahagia dengan pasangan masing-masing, dan ia yakin kini gilirannya untuk hidup bahagia bersama Bara.
Sepanjang jalan, ia terus berdoa agar acara hari ini berjalan lancar. Ia berharap cuaca juga bersahabat.
"Melepas kamu seperti mimpi, Na." Itu kalimat yang Jadi ucapkan malam tadi saat dirinya baru saja selesai melakukan perawatan berupa body spa.
"Papa tidak pernah menyangka secepat ini."
"Tapi papa bahagia, kamu bersama pria pilihanmu. Pria yang mencintaimu dan pria yang insyaallah bertanggung jawab atas dirimu."
Nana memeluk Hadi erat-erat. Air matanya tumpah, ia pernah hidup terpisah dengan papanya selama beberapa tahun dan hubungan mereka sempat renggang.
Tapi, ia akhirnya kembali pada papanya dan terpisah dari mama Salma. Semua itu demi kehidupan lebih baik bagi semuanya.
"Pa, Nana mau bilang terima kasih, karena sejauh ini Nana selalu merepotkan papa."
"Nana belum mandiri." Ya, karena ia masih saja mendapat kiriman uang sebagai jatah uang jajannya meski ia sudah bekerja di perusahaan.
"Nana sayang papa. Nana gak tau gimana caranya balas semua kebaikan dan pengorbanan Papa."
Hadi menangkup kedua pipi putrinya. "Kamu anak papa yang paling hebat!"
"Kami, papa dan mama kamu, dulu sudah membuatmu hidup dalam masa-masa sulit, bahkan saat kamu masih terlalu belia, Na." Hadi menyeka air mata putrinya.
"Papa ingin menebus semuanya. Kesunyian yang kamu rasa, trauma karena pertengkaran kami dan terpisahnya kita untuk sementara waktu."
"Papa tidak yakin bisa menebus semuanya, tapi papa akan berusaha membuat kamu melupakan luka-luka itu, Na."
"Maaf kalau papa belum menjadi seorang ayah yang sempurna untuk kamu."
"Papa yang terbaik, Pa!"
"Papa yang paling sempurna."
"Papa, doakan Nana selalu bahagia. Doa restu dari papa adalah segalanya bagi Nana."
Selain Hadi, kedua mamanya juga memberikan banyak sekali nasehat mengenai pernikahan. Mengenai hubungan antara suami dan istri.
Tentang bagaimana caranya agar masalah kecil tidak memicu pertengkaran besar. Dan Ayu juga mengatakan agar Nana terus belajar dan belajar untuk menjadi istri yang baik.
Pernikahan adalah ibadah terlama. Semua hal baik yang istri lakukan terhadap suami adalah ibadah dan mendapatkan pahala.
Nana tersentak kaget saat kedua mamanya memintanya untuk turun.
"Kita sudah sampai sayang!" Ucap Tamara yang sedikit khawatir melihat mata Nana yang berkaca kaca.
"Kamu sedih?" Nana menggeleng.
"Pasti berdebar ya, sayang?" Ayu mengusap bahunya. Dan Nana mengangguk.
Pintu mobil di buka dan Hadi dengan gagah mengulurkan tangannya. "Izinkan papa menantarkan kamu, sayang."
"Papa ingin melepas putri papa tanpa melewatkan waktu sedetik pun."
Tangis Nana hampir pecah melihat apa yang papanya lakukan. Ia langsung menerima uluran tangan pria hebat itu. Nana dengan bangga bercampur haru berjalan menuju meja akad dengan menggandeng erat tangan papanya.