Selena's First Love

Selena's First Love
Bab 83 Bara Junior



"Mulai sekarang, aku mau kita pakai jasa asisten rumah tangga!" Ucap Bara saat mereka dalam perjalanan pulang.


Ini adalah keputusan yang ia ambil demi membuat Nana tidak melakukan pekerjaan rumah dan agar istrinya itu bisa istirahat penuh.


"Gak perlu yang menginap, cari yang bersedia pulang-pergi aja!" Lanjut Bara.


Ia tak akan merasa nyaman jika ada orang lain dalam waktu 24 jam di apartemennya. Lagi pula, saat ia sudah pulang dari bekerja, ia bisa melakukan apapun jika Nana butuh bantuan.


"Mama setuju!" Sambar Ayu semangat.


Ia jelas mendukung keputusan menantunya itu. Dengan begitu, Nana tidak akan kelelahan.


"Mama akan minta papa untuk pecat kamu!" Lanjut Ayu bangga karena suaminya adalah bos dari putrinya sendiri. Namun, tak urung Ayu mengulum senyum saat mengatakannya. Ia hanya merasa lucu saat membayangkan seorang papa memecat putrinya sendiri dari perusahaannya.


Nana menegakkan duduknya dan segara menolehkan kepala kearah belakang dimana mama sambungnya itu berada.


"Ma... kok gitu, sih!" Nana merasa tidak terima karena Ayu sampai membawa-bawa masalah pekerjaan.


Ayu melipat tangannya di dada. Ia menatap putri sambung yang sudah ia anggap seperti putri kandungnya sendiri.


"Papa pasti setuju sayang!" Ucap Ayu percaya diri. Ia memang yakin suaminya akan sepemikiran dengannya.


"Kamu harus banyak istirahat dan makan-makanan bergizi." Ayu melirik Bara yang sedang tersenyum kecil padanya.


"Gak boleh kecapek-an apa lagi sampai stress."


"Mama gak mau kamu sakit karena pekerjaan kantor yang menguras fikiran, ya Na!"


"Mama mengemban tanggung jawab dari mama kamu, mama Salma!"


"Mama harus jagain kamu. Apa lagi sekarang di rahim kamu ada cucu dari empat pasang orang tua!" Ayu sedikit tegas kali ini.


"Mama... Nana sehat, Ma..." rengeknya seperti anak kecil.


"Pokoknya gak ada alasan apapun lagi, sayang!"


Bara senyum-senyum sendiri sambil mengemudi. Ia merasa tidak perlu melakukan banyak hal untuk membuat Nana berhenti bekerja karena mertua yang sangat pengertian itu sudah melakukannya.


"Nah, Bara aja senyum-senyum sendiri!" Tuding Ayu membuat Bara terkesiap dan kembali menunjukkan wajah datarnya.


"Dia pasti juga setuju sama ide mama!" Bisik Ayu pada Nana.


Nana seketika menatap suaminya yang tengah mengemudikan mobil.


"Kamu dukung mama, Bar?" Tanya Nana pada suaminya.


Bara menghela nafas lalu mengangguk lemah membuat wanita yang ia panggil mertua itu tersenyum lebar.


"Semua demi kebaikan kamu dan calon anak kita, sayang!"


Nana seketika cemberut dan ia menatap lurus kedepan. "Gimana caranya buat semua orang mengerti kalau aku akan baik-baik aja, sih!" Keluh Nana yang kini sedang melipat tangannya di dada.


"Aku yang tahu kondisiku! Kenapa semua melarang untuk ini dan itu?"


Bara mencoba untuk membuat Nana mengerti. Ia mengusap rambut Nana dan wanita itu langsung menyingkirkan tangan Bara dari rambutnya.


Ayu yang berada di kursi belakang bukannya khawatir, melihat anak dan menatunya bertengkar, ia malah mengulum senyum.


Mood Nana sudah tampak berubah-ubah sesuai dengan salah satu tanda kehamilan. Selera makan Nana juga menurun meski ia menuruti makanan apa yang Nana inginkan.


"Mengertilah sayang! Bukan semata-mata untuk memaksakan kehendak kami." Bara mencoba menjelaskan secara perlahan.


"Tapi fikirkan calon baby di perut kamu."


"Dua minggu ini saat yang mendebarkan sayang!"


"Bara benar, Na!" Ayu ikut bicara.


"Dalam dua minggu akan ada satu keajaiban dalam tubuh kamu sayang."


"Dua minggu ini, menjadi proses dimana kantung kehamilan akan mulai terisi janin."


"Kamu bayangkan saja, janin sebesar biji kacang hijau itu akan ikut kamu bekerja."


"Ikut pusing mikirin angka di berkas sama komputer kamu!"


"Kamu malas makan, dia juga ikutan gak makan!"


"Kamu capek, apa lagi dia."


"Kalau kamu aja gak nyaman saat perut kamu kram, gimana lagi dia yang ada di dalam?" Ucap Ayu asal. Padaha dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada janin yang masih sangat kecil jika perut sang ibu terasa kram.


"Mama pernah hamil sayang!"


"Mama nge-flek dan akhirnya benar-benar bedrest sampai usia kandungan hampir 5 bulan."


"Ayo sayang! Demi baby di perut kamu," bujuk Ayu lagi.


"Bara, Mama, Papa dan mertua kamu percaya kalau kamu kuat, tapi belum tentu sama baby kamu sayang!"


Nana menghela nafas. "Nana bosan di rumah terus, Ma!"


"Aku akan temani kamu, Na."


"Kamu kan harus ke bengkel, Bar!"


"Aku cuma butuh waktu 1-2 jam dibengkel. Lagi pula, gak masalah kalau aku gak ke bengkel, Na."


"Laporan bisa dikirim ke emailku."


"Berkas yang harus aku tanda tangani bisa di kirim ke apartmen."


"Banyak cara yang bisa kita tempuh sayang!"


"Bara benar. Kalau dia harus ke bengkel. Ada mama, mama Tamara juga gak keberatan kalau diminta untuk menemani kamu."


"Boleh Nana pertimbangkan, Ma?" Pinta Nana.


Ayu melihat Bara mengangguk lemah dengan tatapan memohon. Maksudnya, Bara ingin mereka setuju dulu dengan apa yang Nana tawar karena Nana akan tetap berkeras jika saat ini dipaksa mengambil keputusan.


Bara hanya ingin memberikan ruang pada Nana untuk berfikir dengan baik. Ia percaya, Nana akan mengambil keputusan terbaik. Naluri seorang ibu tidak akan pernah salah.


Biar Nana memikirkan ulang apa yang di ucapkan Ayu dan dokter kandungan yang menanganinya.


"Kita pulang ke apartemen, Bar!" Ucap Nana cepat.


Ayu sudah membuka mulutnya untuk menolak. Tapi bara sudah lebih dulu menjawab istrinya. "Iya. Kita antar mama Ayu dulu ya sayang!"


Nana mengangguk lemah.


"Gak apa-apa ya, Ma!" Bara melirik Ayu sekilas. "Nana pasti rindu sama bantal gulingnya."


"Dia rindu sama ranjangnya." Bara tertawa kecil.


Ayu mengangguk. "Kalian gak mau kasih kabar baik ini ke semua keluarga?" Tanya Ayu.


Nana diam saja.


Bara menggeleng lemah. "Kalau mama mau cerita ke papa Hadi, silahkan ma! Karena papa adalah atasan Nana di kantor. Jadi sebaiknya papa tahu kondisi Nana supaya papa bisa bertindak.


"Kalau ke yang lain, Bara mohon jangan dulu, Ma!"


"Tunggu 2 minggu lagi, sampai ada janin yang terlihat di hasil USG."


Ayu mengangguk.


Mereka sampai di rumah Hadi, tapi Nana dilarang turun oleh suaminya. Jadi, hanya Bara dan Ayu yang turun dari mobil.


"Kamu tunggu sebentar, ya. Aku mau ambil charger dulu di dalam." Pamit Bara dan Nana mengangguk lemah.


"Take care sayang!" Ayu mengusap kepala Nana. Wanita itu berdiri di samping pintu mobi disebelah Nana duduk. Kaca mobil yang terbuka membuat Ayu leluasa mengusap kepala putrinya.


Ayu juga menempelkan tangannya diperut Nana. "Tumbuh sehat dan kuat cucu oma!"


Ayu tertawa kecil. Ia sengaja menggoda Nana sambil menunggu Bara kembali dari dalam rumah.


"Ma, asisten rumah tangga jangan lupa!" Bara mengingatkan mertuanya saat sebelum masuk kedalam mobil.


"Oke, mama atur!" Balas Ayu. Ia akan meminta salah satu asisten rumah tangga untuk datang ke apartemen Bara.


"Terima kasih, Ma!"


Bara dan Nana kembali melanjutkan perjalanan menuju apartemen mereka.


Bara membantu Nana untuk turun dari mobil dan menuntun istrinya itu secara perlahan.


"Harusnya kita sewa atau beli kursi roda, sayang!" Usul Bara membuat Nana meliriknya tajam.


"Aku cuma hamil, Bara!" Ucap Nana kesal. "Bukan sakit-sakitan!" Lanjut Nana dan Bara tertawa.


"Iya... iya... Nyonya Bara memang kuat!" Bara mengalah.


"Apa lagi, Bara junior! Dia pasti juga kuat!"


Nana tersenyum kecil. Ia sebenarnya masih merasa speachless atas kehamilannya ini. Ia bahagia, tapi entah mengapa rasanya masih seperti mimpi.