
Bara menggeliat dan merentangkan tangannya. Dengan setengah sadar, ia meraba sisi kirinya dimana seharusnya Nana tidur. Namun tangannya tidak menemukan Nana ada disana.
"Na..." Bara langsung terduduk. Ia mengucek matanya dan memang tidak menemukan Nana di sampingnya.
"Na..." Panggilnya lagi.
Dan suara gemercik air di kamar mandi membuatnya bernafas lega karena ia tahu Nana pasti ada di dalamnya.
Bara kembali berbaring sambil menunggu Nana keluar.
Semerbak aroma shampo dan sabun menusuk hidung Bara saat pintu kamar mandi terbuka.
Tatapan matanya langsung tertuju pada sang istri yang keluar celana kulot 7/8 dan kaos oblong serta kepala yang dililit handuk karena rambut basahnya.
"Mandi?" Tanya Bara heran.
"Tuh!" Tunjuk Nana dengan bibirnya pada jam dinding di sisi kiri kamar.
"Jam berapa?" Tanya Nana.
Bara nyengir kuda saat menyadari waktu Subuh hampir tiba. Kebiasaan barunya setelah menikah adalah menjadi imam Sholat bagi istri cantiknya. Tantangan yang Nana berikan setelah hari pertama mereka menjadi suami istri.
Bara buru-buru turun dari ranjang dan segera masuk ke kamar mandi.
***
"Harum banget?" Tanya Bara yang tadinya sedang menonton tv dan kini berjalan menuju kearah Nana yang sedang berkutat di dapur.
Bara berdiri di samping Nana. "Masak apa sayang?" Tanya Bara dan Nana tersenyum kearahnya.
"Nasi goreng dengan telur ceplok gosong."
Bara tertawa. "Istimewa dong, pakai topping coklat!"
Nana juga tertawa. "Jelas dong! Siapa dulu yang masak? Cheff Nana!" Ia membanggakan dirinya.
Bara mengambil dua piring untuk Nana isi dengan nasi goreng yang sudah matang dan siap disantap itu.
"Pakai tomat?" Tanya Nana.
Bara menggeleng. "Kerupuk aja, kalau ada."
Nana tertawa. "Ada kok."
"Mama mama cantik udah siapin semuanya."
"Kulkas aman sampai seminggu ke depan."
Bara tersenyum. "Dua minggu mungkin bisa bertahan, Na."
Bara melihat Nana meletakkan dua telur ceplok di atas nasi goreng dipiring mereka masing-masing
"Kenapa gitu? Aku suka sayur, loh!" Jawab Nana karena di kulkas juga banyak tersimpan sayuran.
"Ya, karena kalau kita sama-sama udah balik kerja, mungkin kamu gak akan sempat masak, Na."
Bara membawakan dua piring berisi sarapan mereka ke meja makan. Sementara Nana membawa dua gelas air putih dibelakang Bara.
Mereka duduk bersebelahan. "Aku akan sempetin masak, Sayang! Atau kamu mau aku bawakan bekal?" Tanya Nana.
Bara menggeleng tapi tak lama mengangguk.
Nana tertawa. "Ih! Gimana sih kamu. Enggak apa iya?"
Bara terkekeh. "Aku mau. Lumayan berhemat kan, Na."
"Tapi kalau kamu repot dan capek, lebih baik jangan."
Mereka makan dalam diam. Nana tidak suka makan sambil bicara.
"Aku yang cuci." Bara membawa piring mereka ke dapur dan mencucinya.
Nana membiarkan karena Bara pasti sudah terbiasa melakukannya dan Nana ingin membiasakan Bara tetap melakukannya. Nana sadar, mereka harus saling membantu mengurus rumah karena keduanya memutuskan untuk tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga.
"Kamu bisa cuci piring kan, Na."
Nana menggeleng namun menahan senyum. "Kalau kamu bisa, ya kamu aja!"
"Gini amat punya istri kalau temen sendiri!" Gumam Bara dan Nana tertawa pelan.
"Enak juga, punya suami temen sendiri! Bebas mau nyuruh apa aja!"
"Gak gitu juga kali konsepnya, Na!" Bara mengeringkan tangannya dengan lap yang menggantung di dinding.
Ia dan Nana keluar dan duduk di balkon apartemen.
"Ya gak gitu, sih... tapi kan gak ada salahnya aku minta bantuan kamu kalau aku kerepotan."
"Aku kerja ikut jam kantor loh, sayang! Gak kayak kamu, yang bebas datang jam berapa aja."
Nana dan Bara membiarkan tubuh mereka terpapar cahaya matahari pagi.
Bara menatap Nana. "Aku pasti bantu kamu, Na."
"Kalau perlu, aku aja deh yang masak."
"Kamu bantu seperlunya aja."
***
Bel apartemen berbunyi. Nana dan Bara sedang menonton tv setelah mandi sore. Rencana jalan-jalan sore ini akan mereka ganti dengan dinner di salah satu cafe terdekat dengan apartemen.
Bara membuka pintu. Dan muncullah wajah empat sekawan yang membuatnya jengah.
Salsa pertama kali masuk disusul Zahra dan ada Dimas serta Calvin dibelakang mereka.
"Kita bawa makanan, Na." Tunjuk Salsa pada kantong plastik ditangan Dimas.
"Thanks ya, mbak. Tau aja kita lagi gabut pengen makan yang enak-enak." Nana menerima kantong plastik yang Dimas ulurkan dan membawanya ke dapur.
Salsa melihat sekeliling dan menyusul Nana. "Enak banget ya, Na tinggal di apartemen begini."
"Berasa banget aura-aura pengantin barunya."
"Ini mah gak perlu honeymoon lagi. Disini aja udah quality time banget."
Nana tersenyum. Ia memindahkan beberapa cake ke piring. "Ya, beginilah mbak. Ini memang keputusan kami."
"Kalau tinggal di komplek. Apa lagi perumahan yang sederhana dan padat penduduk," Nana menggeleng. "Takut gak kuat gue ngadepin tetangga." Nana tertawa.
Salsa juga tertawa. Ia membantu Nana menusun gelas di nampan yang kebetulan ada di rak piring kecil di dekat washtafell.
Nana menuang air dingin dan sirup ke dalam teko kaca untuk dibawa ke ruang depan.
"Bener banget, Na. Kosan gue aja yang jelas-jelas isinya para single, masih sering gosipin orang di kamar sebelah atau di kamar nomor berapa, gitu."
"Lah apa lagi di komplek. Kang sayur sama mak emak nyetak dosa deh pagi-pagi."
Nana tertawa. "Ya gak semua begitu sih, mbak."
"Gue cuma menghindari yang kayak begiti aja."
"Lagian Bara punya apartemen dan udah tinggal disini, jadi gak ada salahnya juga gue ikut dia."
"Lah, ya memang harus ikut dia Na!" Salsa tertawa. Ia membawa nampan berisi gelas sementara Nana membawa tekonya.
"Dia kan suami lo!"
Nana tertawa. "Kan gak salah gue ngomong begitu, mbak!" Keduanya kembali ke dapur untuk mengambil beberapa piring berisi cake.
"Bantuin, sana!" Calvin menyuruh Zahra yang malah asik menonton film kartu di tv.
"Mereka bisa, Vin! Lagian biar mbak Salsa belajar gimana jadi seorang istri."
"Kan, bentar lagi Dimas mau nikahin dia!" Jawab Zahra santai.
"Gak cuma yang mau kaw*in aja yang harus belajar, Zahra!"
"Apa salahnya sih, kalau lo juga!"
Zahra menatap Calvin tajam. "Emangnya lo mau nikahin gue?" Tanya Zahra asal.
Ia hanya sedang kesal pada Calvin karena sebenarnya ia ingin kesini tanpa Calvin, tapi pria itu malah menjemputnya dengan alasan Dimas dan Salsa langsung berangkat dari kantor gadis itu bekerja.
"Cieee! Kode tuh, Vin!"
Nana dan Salsa kompak menggoda Zahra yang sepertinya hanya salah bicara.
"Apa lagi, hajar!" Dimas ikut-ikutan.
Zahra dan Calvin sama sama cemberut.
"Emang lo fikir tanding tinju!" Gumam Calvin.
"Tau ah, kalian tuh salah mengartikan apa yang gue bilang ke dia."
"Iya.. iya..." Nana menengahi. Ia tidak ingin mood Zahra dan Calvin yang down malah membuar acara kumpul-kumpul ini tidak asyik.
"Kita makan aja, deh. Biar kenyang!" Lanjut Nana.
"Ra, Sherly kenapa gak ikut?" Tanya Nana.
"Dia udah sering kontraksi palsu, Na."
"Khawatir entar lahiran dijalan, Na." Balas Zahra.
"Iya sih. Menjelang persalinan, dia harus banyak istirahat, Ra." Balas Salsa.
"Semoga lo lekas nyusul Sherly, Na." Ucap Salsa tulus.
"Amin!"
"Gue mah mau-mau aja, mbak! Tapi ya sedikasihnya aja sama Allah!"
Bara tersenyum kecil. Nana ingat malam tadi, Bara berulang kali meyakinkan Nana bahwa ia harus bahagia. Nana juga harus optimis bisa mengandung seorang bayi.
Aku aminkan, Na. Semua bukan karena aku yang menggebu untuk memilik anak, tapi untuk melihatmu tersenyum bahagia. Batin Bara