
Bara menghentikan mobilnya ke sebuah minimarket. Nana tetap diam karena ia tahu, mungkin Bara ingin membeli sesuatu.
"Mau ikut turun?" tanya Bara saat melepas sabuk pengamannya.
Nana melihat Bara sekilas. "Enggak. Gue di sini aja."
"Atau nitip sesuatu?" tanya Bara lagi.
"Air mineral aja."
Bara segera turun dan masuk ke dalam minimarket itu. Tak butuh waktu lama bagi Nana untuk menunggu lelaki yang saat ini hanya memakai kaos putih itu.
Bara keluar dari pintu kaca dengan satu kantung kresek ditangannya. Ia masuk ke dalam mobil dan mengeluarkan beberapa botol air mineral.
Bara juga mengeluarkan handuk kecil yang baru ia beli dan membasahinya dengan air mineral dingin.
"Hadap sini, Na!" perintah Bara. Nana juga masih bingung apa yang akan lelaki itu lakukan dengan handuk kecil ditangannya.
"Enggak!" tolak Nana sambil menyambar sebotol air mineral dingin dengan tangan kanannya.
"Sini, gak?"
"Enggak, Bara!" Nana tidak peduli, ia memilih menenggak minuman di botol plastik itu dan fokus ke arah depan.
Bara bukan tipe pria penyabar yang akan merayu dan membujuk Nana secara berlebihan.
Setelah Nana menutup kembali botol air mineralnya, Bara membuka paksa sabuk pengamannya dan memaksa gadis itu untuk menghadap dirinya.
"Jangan bandel. Gue belum pernah latihan jadi orang sabar!"
Nana menatap heran pada lelaki yang sepertinya lebih banyak bicara malam ini. Bara mengompres sudut bibir Nana dengan alat seadanya.
"Sorry, Na." Bara mendekat dan menempelkan handuk basah itu ke sudut bibirnya.
"Gak ada es batu, jadi pakai seadanya aja."
Nana diam mematung. Bukan tidak sakit saat luka kecil itu tersentuh handuk basah yang Bara pegang. Rasanya tetap sakit, tapi kondisi jantungnya saat ini jauh lebih tidak sehat.
Nana bahkan kesulitan bernafas karena saat ini wajah Bara begitu dekat dengannya. Bara dengan telaten mengompres luka itu perlahan.
"Sakit, Na?" tanya Bara tapi Nana tidak menjawab. Nana sibuk menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang saat ini ada di depan matanya.
"Na?"
"Nana?" Bara menatap Nana yang memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong.
"Nana?" Bara meniup wajah gadis itu pelan.
"Ah... ya...." Bara terkekeh saat gadis di depannya tergagap.
"Hahaha... ngelamun terus?"
"E... enggak! Siapa bilang?" elak Nana kembali menatap ke depan karena Bara menatapnya dengan jarak yang begitu dekat. Bara juga sudah selesai mengompres sudut bibirnya.
Bara kembali ke posisi duduknya dengan menghadap ke depan. Bara bersiap melajukan mobilnya untuk mengantar Nana pulang.
Nana masih belum bisa melupakan situasi yang begitu mendebarkan beberapa detik yang lalu.
Dulu, gue berharap ada disituasi seperti ini. Dekat dengan Bara atau bahkan memiliki hubungan spesial dengannya. Tapi beberapa saat terakhir, gue pasrah dan bersiap mundur karena Bara dijodohin. Dan setelah kejadian malam ini, bolehkah gue kembali berharap dan melangkah maju?
Mobil Bara kembali berhenti di pinggir jalan yang tak terlalu ramai.
"Bar! Kenapa berhenti?" tanya Nana panik karena tiba tiba mobil Bara menepi di pinggir jalan.
"Gak apa-apa?"
"Mobil lo rusak?" tanya Nana seperti orang bod*h.
Bara tertawa pelan. "Enggak Na."
"Kalau gak, kenapa gak jalan lagi." Nana panik. Ia melihat ke belakang dan kesaping kanan kiri mobil.
"Lo mau kita kena razia polisi, Bar?" tanya Nana tak percaya saat melihat Bara malah menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
"Lo pusing?" Nana melepas sabuknya dan mendekati Bara. Nana menempelkan tangannya di kening Bara.
"Lo gak demam?"
"Lo minum apa tadi di club?" Bara menggeleng. Nana khawatir jika Bara sempat menenggak minuman beralkohol di dalam club.
"Gue yang nyetir, gantian!" Perintah Nana saat membuka paksa sabuk pengaman yang Bara pakai.
Nana mendadak panik, ia baru saja selamat dari rencana buruk Dillara. Dan apa jadinya dia jika malam ini digerebek polisi atas tuduhan berbuat mes*m di dalam mobil karena hanya berdua dengan Bara.
Ia ingin memiliki Bara, tapi dengan cara yang baik. Bukan karena digerebek polisi atau warga.
"Bara!" Pekik Nana saat kedua tangannya dipegang erat oleh Bara.
Bara refleks menutup mulut Nana dengan tangannya. "Gue gak bakal apa-apain lo!"
Nana mengangguk pelan. Ia percaya itu. Taoi gerakan Bara yang tiba-tiba membuatnya terkejut. Bara melepaskan tangannya yang membungkam mulut Nana. Jarak yang begitu dekat membuat jantung Nana kembali berdebar.
"Kenapa lo lakuin ini, Na?" tanya Bara saat manik mata keduanya saling beradu tatap.
"Gue..."
"Kenapa lo ada di club, itu?"
"Kenapa lo bahayain diri lo buat ngegagalin rencana Dillara?"
"Kenapa lo sebaik itu mau nyelamati gue?"
Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari bibir Bara namun tak satupun Nana jawab. Nana menunduk dalam.
Alasannya karena gue cinta sama lo, Bar. Gue gak mau hal buruk menimpa lo. Dan yang pasti, gue gak rela lo jatuh ke pelukan wanita licik seperti Dillara.
"Kenapa, Na?"
"Gue..." Nana mendadak gugup.
"Gue gak mau... lo kenapa kenapa?"
Bara tersenyum tipis. "Alasannya?"
"Karena..."
"Karena gue..."
Bara menunggu Nana dengan sabar. Tapi kalimat Nana tak kunjung ia lanjutkan.
"Gue cinta sama lo!" Ucap Bara tiba-tiba membuat Nana membulatkan matanya tak percaya.
"Sorry, selama ini gue cuek!"
"Sorry, selama ini gue menghindar!"
"Sorry, selama ini gue cuma bisa diam."
"Gue belum yakin dengan perasaan gue, Na."
"Dan saat melihat lo di ruangan bersama dua pria tadi. Gue sadar satu hal."
"Gue benci lo terluka."
"Gue benci lo sakit."
"Gue benci lihat lo dalam bahaya gara-gara gue."
"Dan semua itu karena gue sayang sama lo!"
"Gue bisa apa saat papa menjodohkan gue sama Dillara. Gue marah. Tapi mendekati lo bukan pilihan bijak. Gue gak mau papa lo sama papa gue mikir yang enggak-enggak soal kita."
"Gue gak mau papa nilai lo negatif, karena mendekati calon tunangan gadis lain."
"Gue juga gak mau dianggap brengs*k sama papa lo karena mendekati putrinya padahal gue udah dijodohin." Nana menatap Bara tak percaya.
"Gue jatuh cinta sama lo sejak pandangan pertama."
Nana sungguh dibuat kagum dengan lelaki di depannya ini yang dengan gamblang mengakui perasaannya.
"Sejak seorang gadis masuk kedalam barber shop dengan menggendong anak kecil yang mencari papanya."
Nana mendelik lagi. Kedua tangan yang di pegang Bara membuatnya tak bisa menjauh dari pria itu.
"Semenjak seorang gadis naik di belakang motor gue dan sialnya dia malah muntah-muntah." Ada tawa kecil di ujung kalimatnya. Dan Nana tersenyum kecil.
"Saat gue lihat gadis itu ada di ruang guru, dan gue sengaja geserin Calvin ke meja lain, demi menyisakan kursi kosong di sebelah gue."
Nana mendelik lagi. Ia tak percaya, kelakuan Bara yang menyebabkan ia duduk disampingnya.
"Mata lo bisa keluar, Na." Bara tertawa kecil.
Nana terkesiap. Ia kembali menatap manik hitam itu. Saat ini ia sudah mulai bisa menikmati ritme jantungnya yang masih secepat tadi.
"Dan gue terpaksa mengepotin orang bengkel hanya karena kabel mobil yang seperti sengaja diputus demi mengantar si pemiliknya pulang."
Nana menduduk malu. Ia ingat saat itu. Saat ia sengaja memutus kabel di mesin mobilnya hanya demi bisa pulang bersama Bara. Dan ternyata Bara mengetahui ide gilanya itu.
"Dan pertama kalinya gue ketemu gadis yang bisa kasih gue saran untuk menyelesaikan masalah di keluarga gue yang terlanjur kusut."
"Dan gadis itu adalah lo, Na."
"Sorry kalau selama ini kita stay di friendzone."
"Sorry kalau selama ini buat lo berada dalam situasi yang sulit."
Nana merasa Bara sepertinya benar-benar mengerti kondisinya. Bara seperti mengetahui posisinya. Bara juga sepertinya mengerti tentang perasaannya.
"Gue..."
"Say that you love me, Na." potong Bara saat Nana ingin mengakui perasaannya.
Nana mengangguk pelan. "I love you, more than you know."
Bara tersenyum senang. "And Sorry untuk ini."
Bara menepelkan bibir keduanya. Nana yang tak siap hampir limbung kebelakang. Dan tangan Bara dengan cepat memeluk punggungnya.
Bara menyapukan bibirnya perlahan, merasakan manis bibir merah muda itu dan melepaskan gadis itu saat merasa apa yang ia lakukan tidak dibalas oleh Nana.
Bara menatap dalam gadis yang masih setia menatapnya. Bara mengecup kening Nana sekilas. "Sorry, gue terlalu bahagia, Na."
Nana masih tak percaya bibir basah itu baru saja menjelahi bibirnya. Nana terus menatap bibir itu tanpa berkedip.
"Mau pulang atau ulang?" bisiknya tepat di wajah Nana.
Nana menatap sebal pada Bara. Untung saja saat ini otaknya mencerna lebih cepat.
Ulang! Itu yang otaknya katakan.
"Pulang." Nana cemberut, dan tangannya tak lupa memukul dada Bara.
Mobil kembali melaju menuju rumah orang tua Nana. Bara sesekali tersenyum sendiri sementara Nana sesekali menatapnya heran.
"Itu first kiss gue!" ucap Nana menatap ke depa dengan nada kesal.
Bara menatap Nana. "Gue juga."