
"Sayang....!"
Bara menggeliat diatas kasur dibawah selimut tebalnya. Ia mulai membuka mata kala mendengar suara Nana terdengar sama memanggilnya 'sayang'.
"Na..." Bara menyibak selimut dan turun dari atas ranjang.
"Kamu dimana sayang?" Bara berdiri dan mencari Nana di dalam kamar, namun tidak terlihat.
"Kamar mandi, Bar!" Suara Nana terdengar serak dan perlahan isak tangis mulai terdengar.
Selama kehamilannya, Nana memang mengalami perubahan mood yang luar biasa acak. Kadang tiba-tiba menangis, kadang marah-marah, kadang juga ingin makan ini dan itu dan tak jarang juga Nana malas makan apapun.
Namun, tugas Bara hanya satu, yaitu tetap menjadi suami siaga dan bersabar menjalani drama yang berbeda genre ditiap harinya.
Hari-hari Bara selama hampir empat bulan ini justru semakin berwarna. Istri yang cerdas dan selalu rapih itu terkadang malah terlihat konyol dan berantakan. Tidak menyisir rambut kala rasa malas menghampiri menjadi hal yang mulai terbiasa Bara lihat.
Bara membuka pintu kamar mandi dan melihat Nana terduduk lemah diatas closet. Istrinya itu tampak menangis dengan rambut yang berantakan.
"Na... kenapa sayang?" Bara mendekat dan berjongkok di depan Nana. Ia tak panik karena sudah terbiasa menghadapi hal tak terduga seperti ini.
"Hiks... hiks..." Nana menangis dan merentangkan tangannya. Ia minta dipeluk.
Bara memeluk istrinya dan menengangkan wanita yang masih terisak itu dengan mengusap punggung yang tanpa disadari tampak melebar karena kenaikan berat badan Nana.
"Ada flek di pakaian d*lamku, Bar!" ucapnya sambil terisak.
Satu detik, dua detik, Bara belum faham.
"Flek?" gumamnya pelan.
"Astaga!" pekik Bara kemudian saat menyadari flek adalah salah satu tanda bahaya dalam kehamilan.
Bara mengurai pelukan mereka dan menatap wajah Nana yang ketakutan. Ia menangkup pipi yang mulai berisi itu dengan kedua telapak tangannya.
"Kita ke rumah sakit sekarang ya..."
Nana mengangguk pelan.
Bara langsung menggendong tubuh istrinya ke atas ranjang. Ia segera membantu Nana memakai pakaian yang lebih nyaman.
Keduanya segera menuju rumah sakit. Bara berusaha tenang, meski perasaannya sedang khawatir tak karuan.
Nana hanya bisa diam saat Bara sedang mengemudikan mobil. Ia berusaha untuk tidak panik karena tak ingin Bara ikut-ikutan panik.
Pagi tadi, ia dikejutkan dengan adanya bercak darah saat akan buang air kecil. Seketika ia terduduk lemas karena takut terjadi sesuatu pada calon bayi mereka.
"Na..." Bara menatap istrinya sekilas. "Perut kamu sakit?" tanya Bara.
Nana tersenyum kecil dan menggeleng. "Enggak." Memang benar, perutnya tidak terasa sakit.
"Terus, kenapa kamu diem aja. Kamu sabar ya... kita sebentar lagi sampai di rumah sakit kok! Aku berusaha untuk sampai secepatnya."
"Kamu yang tenang bawa mobilnya. Kalau sakit, aku pasti udah nangis atau jerit-jerit sayang," jawab Nana.
"Kamu tenang ya... aku yakin dia kuat kok!" Nana mengusap perutnya yang mulai tampak membuncit.
Mereka sampai di rumah sakit dan keduanya langsung bernafas lega karena tidak ada hal buruk yang terjadi pada janin dalam kandungan Nana. Detak jantung janin dan air ketuban juga dalam keadaan baik.
"Saya sarankan, jangan terlalu lelah."
"Istirahat yang cukup dan bedrest lebih baik demi menghindari hal hal yang tidak diinginkan." Itu adalah saran dari dokter yang menangani Nana.
Bara dan Nana kembali ke rumah setelah mereka menebus obat dan vitamin.
"Ingat kata dokter, Na. Bedrest!" Bara memperingatkan istrinya. Ia menutup kaki Nana yang sedang duduk bersandar di headboard ranjang dengan selimut.
"Aku pasti bosan sayang!" keluhnya.
"Demi dia sayang!" Bara mengusap perut istrinya.
Nana mengangguk pasrah. Dan Bara tertawa melihat wajah yang ditekuk itu.
"Kamu bebas mau nonton apa aja." ucap Bara kemudian.
Ia menunjuk tv di dinding kamar. "Tv itu full 100 % hak kamu." Bara terkekeh.
"Mau makan apa, tinggal klik di Hp kamu."
"Mau ku masakin, tinggal bilang."
"Tugas kamu cuma pipis, pup, makan, sama tidur."
"Memang, kamu baby aku..." Bara menggantung kalimatnya.
"Eh, gimana kalau aku panggil kamu Beb aja? Sayang mah udah basi!" Bara mengatakannya dengan antusian.
Nana makin tertawa. Ia mendorong dada suaminya yang duduk di depannya. "Sana deh kamu! Aku mau nonton drama korea."
"Di depan kamu sudah ada oppa korea, Beb! Ngapain lihat di tv yang bahkan gak bisa kamu peluk."
"Lihat aku!" Bara meraih tangan Nana dan menempelkan dipipinya.
"Bisa kamu peluk, bisa kamu kiss, bisa kamu..." Bara mikir sejenak.
"Bisa kamu jadikan bantal, dan yang pasti bisa menemani saat kamu tidur." lanjutnya.
Nana tersenyum kecil. "Kamu gak seromantis mereka, sayang!"
"Astaga!" keluh Bara. "Selama ini aku udah romantis banget loh sayang! Masih kurang romantis juga?" tanya Bara.
Nana mengangguk.
"Oke... kita candle light dinner malam ini!" Bara mencium kening Nana.
"Aku ke dapur dulu, kamu harus segera makan dan minum obat!" Bara keluar dari kamar.
"Kamu marah?" lirih Nana karena Bara langsung meninggalkannya dengan alasan akan ke dapur.
"Enggak. Kamu kan Ratu dan tak pernah salah!"
Nana makin merasa bersalah. Bara seperti menyindir dirinya.
Malam harinya...
Nana merias wajahnya dan memakai dress terbaik karena Bara mengatakan agar dirinya segera bersiap.
Bara bersikap seperti biasa. Bahkan saat makan siang tadi suaminya lah yang menyuapi dirinya. Pria yang sedang berada di dalam kamar mandi itu keluar dengan pakaian lengkap. Dengan celana cargo dan sweater berwarna putih.
Nana melirik suami yang sedang menyemprotkan parfum dan merapihkan rambut dengan sisir kecil.
Dia mau candle light dinner atau mau nonton? batin Nana karena suaminya itu tidak memakai jas atau blazer sementara dirinya memakai dress terbaik versinya.
Bara melingkarkan tangannya di perut Nana dari arah belakang dengan sedikit membungkuk. "Sudah siap?" tanyanya pelan.
Nana mengangguk. "Kita mau kemana sayang?" tanya Nana penasaran.
"Tebak dong!" Bara sempat-sempatnya mengajak Nana main tebak-tebakan.
"Restoran terkenal?" tebak Nana.
"Bukan." Bara menggeleng saat Nana salah menebak.
"Roof top hotel atau resto?" tebak Nana lagi.
"No, masih salah!" Bara tersenyum menatap bayangan mereka di cermin. Ia bisa melihat kening istrinya berkerut karena memikirkan jawaban yang tepat.
"Ah...! Pasti di taman," tebak Nana lagi.
Bara menggeleng. "Tutup mata dulu yaaa..."
Bara mengambil sehelai kain dari saku celananya dan menutup mata istrinya.
"Maskara aku bisa luntur, Sayang!" Elak Nana berusaha agar Bara melepas kain yang sudah terikat dibelakang kepalanya itu.
Bara tertawa. "Aku tahu, maskara kamu waterproof! Gak usah ngeles!"
Nana terkekeh karena Bara tahu itu hanya alasannya saja.
Perlahan Bara menuntun tubuh Nana keluar dari kamar. Ia perlahan membawa Nana ke balkon apartemen.
"Apa gak terlalu cepat kamu menutup mataku, Bar?" tanya Nana.
"Enggak!"
Nana semakin penasaran karena Bara entah membawanya kemana.
Keduanya berhenti melangkah dan Nana merasakan Bara perlahan membuka simpul ikatan kain yang menutup matanya.
Kain itu terlepas, Nana menerjab beberapa kali.
"Tadaaaaa!" Bara bersorak mempersembahkan sebuah meja dan dua kursi lengkap dengan hidangan diatas meja serta dua buah lilin yang menyala.