
Seorang gadis tengah duduk di hamparan pasir putih menikmati deburan ombak dengan cahaya jingga mentari terbenam.
Ia melihat begitu indah lukisan Tuhan yang ia lihat kali ini. Bertahun tahun berada di negara orang nyatanya tak membuatnya bisa setakjub ini.
Bali, sebuah pulau yang menjadi tujuan wisata bagi para turis luar negeri. Sebuah pulau yang baru dua hari ini ia injakkan kakinya kembali setelah lebih dari tiga tahun.
Lima tahun berlalu, Nana sudah menjadi gadis dengan gelar sarjana lulusan universitas ternama di Inggris. Ia memilih bertolak ke negara itu setelah kelulusannya.
Cinta pertama yang kandas namun tetap bisa ia lihat orangnya begitu terasa menyakitkan. Sejak kejadian di roof top lima tahun lalu, kisah mereka benar-benar berakhir.
Cinta yang baru tumbuh bahkan belum berkembang itu harus layu dalam sekejap. Orang tua yang tidak bisa memaksa dan Nana yang tidak ingin bertahan membuat hubungan itu hanya terjalin sebagai teman.
Bara yang tidak bisa menahan kesal dan rasa bersalah, memilih pindah sekolah. Terlalu pengecut menurut Nana, karena setelah kesalahannya lelaki itu malah memilih pergi.
"Na..." suara lembut mama Salma membuatnya menoleh kebelakang.
"Setelah menunggu matahari menghilang, apa kamu juga akan menunggu hingga bulan muncul?"
Nana tertawa. "Iya ma..."
"Terlalu damai untuk ditinggalkan," jawabnya.
"Masih ada besok, besok, dan besok sayang!"
Nana menggandeng tangan lembut itu. Ia merapatkan tubuhnya. "Ma, Nana kerja di Bali aja, gimana?" pintanya.
"Sayang..." Salma mengusap bahunya. "Papa pasti menunggu kamu, Nak!"
"Mama sih senang, kamu tinggal di sini. Tapi perusahaan papa butuh kamu. Kamu akan lebih bisa belajar dengan baik disana sayang!"
"Eehhmm... Gak juga sih, Ma," jawabnya. "Mana ada yang mau kritik dan marahin Nana kalau mereka tahu Nana anaknya papa."
Salma tertawa. "Sayang, gak gitu juga, Nak!"
"Mana mungkin mereka gak ngamuk kalau kamu salah input data atau kamu buat laporan asal-asalan."
"Hahah... siapa tahu aja, Ma. Apa lagi kalau Nana ancam."
"Marahin gue! Habis lo gue laporin bokap. Hahahah." Salma tertawa saat mendengar Nana benar-benar totalitas mempraktekkannya.
***
Nana menatap ponsel pintarnya. Ia beranilan diri membuka sosial media yang sudah beberapa hari ini tidak ia buka sama sekali. Bukan sok sibuk, hanya saja tidak ada yang menarik baginya.
Sebuah akun media sosial milik Calvin menandai akun miliknya.
Sebuah foto Zahra, Calvin, Dimas, Bara dengan Sherly dan Putra berada di tengah, sedang memamerkan cincin pertunangan di jari manis mereka.
"Nana, minus lo doang!" Nana membaca caption yang tertulis.
"Astaga! Mereka tunangan?" Nana mendelik tak percaya. Ia tidak mendapat kabar sama sekali.
Apa-apaan ini? Gue gak dapat kabar sama sekali?
Meski berjauhan, mereka tetap berkomunikasi dengan baik. Kadang video call dan kadang hanya sekedar chat. Hanya saja perbedaan waktu yang begitu jauh membuat mereka kesulitan untuk mencari waktu.
Mereka terpisah cukup jauh demi menempuh pendidikan. Zahra tetap di Jakarta, Sherly dan Putra ada di Bandung, dan Calvin di Jogja. Dan yang terakhir, Bara. Dia di Jerman.
Ia lantas langsung membalas dengan menyebut akun Sherly dan Putra.
Oh, God! Kenapa gak ada kabar? Gue di Bali guys! Tega lo pada emang! ðŸ˜
Nana terkekeh membaca balasannya. Tak berapa lama Calvin membalasnya.
What! Lo balik gak bilang-bilang! Sini lo. Gue pites!
Nana tertawa lebar. Ia tahu, Calvin tidak pernah berubah.
Sini lo, gue gak takut. Wleeee! Ejeknya.
Setelahnya tidak ada balasan lagi. Nana tetap menatap foto itu. Selama ini hanya dengan Bara ia tidak berkomunikasi lagi. Ia hanya akan melihat wajah pria itu jika Calvin mengikut sertakannya dalam Video Call.
"Hemm." Nana tersenyum sinis. "Dia banyak berubah." Pria yang ia maksud adalah Bara. Pria yang tampak lebih dewasa dengan kumis tipis di wajahnya.
Wajah pria yang masih mengingatkannya akan cinta pertama yang kandas saat hubungan mereka masih seumur jagung.
"Kalau gue balik ke Jakarta, apa yang akan terjadi, Bar?"
"Apa kita akan tetap seperti orang asing atau akan kembali seperti dulu kala."
Nana menghembuskan nafas dan memejamkan matanya. "Entah mengapa sulit cari pengganti lo, Bar!"
Nana tersenyum kecil. "Kalau seindah ini cinta pertama, harusnya gue gak pilih lo."
"Lo udah buat kisah cinta gue gak sempurna, Bar!"
"Impian menikah dengan cinta pertama udah gak mungkin lagi bagi gue!"
Nana kembali menatap foto Bara. "Lo apa kabar?" Nana tertawa kecil. "Lucu banget, baru nanya kabar sekarang sementara kita sering berjumpa dalam panggilan video."
"Gimana? Lo pasti udah dapat pengganti gue kan?" Nana tertawa lagi.
"Gue mikir apa sih? Lo gak mungkin menjomblo di negara yang banyak gadis cantiknya. Bule lagi." Nana menggeleng pelan.
"Ehm!" Nana menghela nafas. Ia menyadari apa yang ia lakukan ini adalah salah. Untuk apa ia memikirkan pria itu. Dia harusnya berusaha melupakannya. Ia harusnya tidak lagi mengingat masa lalu. Mengakhiri hububgan mereka adalah pilihannya dan ia harus menerima itu semua.
"Dari pada gue mikirin lo, mending gue tidur!" ucap Nana sambil membaringkan tubuhnya dan menarik selimut.
***
Pagi ini, Nana kembali bersiap menghabiskan waktu untuk keliling kota Bali. Ia ingin membeli banyak oleh-oleh untuk ia bawa ke Jakarta.
Bel rumahnya berbunyi. Ia yang hanya berdua dengan asisten rumah tangga mau tak mau berjalan menuju pintu depan dan membuka pintu.
Mama dan papanya masih bertugas di rumah sakit sementara Evan sudah punya runah sendiri dan tinggal bersama istrinya.
Nana membulatkan mata tak percaya melihat apa yang ada di depan matanya. Di teras rumah, tampak 6 orang berdiri tegak memegang koper masing-masing dengan senyum mengembang di wajah mereka.
"Oh God!" Seru Nana. "Ini... ini... ini benaran?" Nana masih tak percaya.
Pelukan Zahra dan Sherly membuatnya yakin bahwa apa yang ia lihat adalah nyata.
Zahra, Sherly, Putra, Dimas, Calvin dan Bara saat ini ada di depannya.
"Apa kabar, Na..."
"Makin cantik, makin mirip bule!" Zahra memujinya.
"Bule temannya Pak le?" tanya Nana menggoda Zahra.
Sebuah pukulan di bahunya membuat Nana mengaduh lalu tertawa.
"Kita numpang tinggal disini, boleh?" tanya Calvin iseng.
"Ah, ya... boleh dong! Ayo masuk!" ajak Nana yang sudah berjalan lebih dulu.
"Ini kejutan luar biasa banget buat gue," ucap Nana sambil mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu.
"Kenapa gak ada yang ngabarin gue kalau pada mau ke sini, sih?" tanya Nana.
"Ya, berhubung akan ada yang honeymoon..." kalimat Calvin terpotong.
"Kemarin cuma tunangan, bukan nikahan, Vin!" Sambar Putra cepat.
Nana tersenyum kecil, "Dan lo berdua gak ngundang gue," ucapnya pura-pura merajuk.
"Kita gak tau kalau lo udah balik, Na," jawab Sherly.
"Lagi pula, bulan depan lo bisa kok jadi bridesmaid kita," lanjut Sherly sumringah.
Nana terkejut, "Langsung married nih?"
Sherly dan Putra kompak mengangguk.
"Biasa aja muka lo, Na," ucap Dimas karena Nana benar-benar terpaku mendengar kabar baik itu.
"Ini udah biasa, Dim. Tapi mendadak banget. Lo gak..." Nana menggerakkan tangannya di depan perut seolah mengisyaratkan perut buncit.
"Enak aja!" Sherly tertawa. "Ya gak lah! Iya kali gue hamil. Habis gue Na, digantung di pohon toge sama bokap!"
Yang lainnya tertawa karena pemikiran Nana yang terlalu jauh.
"Na, yang itu gak lo sapa?" tanya Putra sambil melirik Bara yang sedari tadi hanya diam.
Nana mendadak gugup. Ia sedari tadi memang enggan menatap pria yang seribu persen lebih tampan dibanding yang ia lihat di foto malam tadi.
"Gue..."
***