Selena's First Love

Selena's First Love
Bab 85 Dijenguk



Sudah 3 hari Nana tidak masuk kantor semenjak gadis itu pingsan di ruang kerjanya.


Teman-teman satu divisinya semakin khawatir karena takut Nana mengalami sakit yang serius. Sosial media dan ponselnya sulit dihubungi.


Salsa cemberut memandangi menu makan siang yang hanya ia aduk-aduk saja di meja kantin perusahaan.


"Lo kenapa?" tanya Hilda yang baru saja menyelesaikan makan siangnya.


"Kangen Nana, mbak!"


Hilda tertawa tanpa suara. "Lo kan sohibnya. Tau dia tinggal dimana? Datangin aja kali!"


Salsa menghela nafas. Mendatangi Nana sendirian, sepertinya terasa sedikit aneh. Apa lagi setahu dirinya, Nana hanya tinggal berdua dengan Bara di apartemennya.


"Ikut gue, yuk! Sore ini!" ajak Salsa pada Hilda.


Hilda menggeleng lemah. "Gak bisa gue, Sal! Anak gue lagi kurang sehat! Makanya gue kerja kayak dikejar setan supaya gak lembur sore nanti!" balas Hilda.


Salsa bertopang dagu. Gue sama Dimas masih belum berbaikan. Gak mungkin gue ngajak dia. Batin Salsa.


Namun, tiba-tiba melintas pula nama seseorang. "Zahra!" gumamnya sambil tersenyum kecil.


Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Zahra, salah satu teman pacarnya.


^^^Zahra, lo udah tau belum, kalau Nana sakit? Temani gue buat jenguk, yuk!^^^


Tak butuh waktu lama, Zahra langsung membalas pesan itu. Mungkin karena jam makan siang.


Loh, Nana sakit? Sejak kapan, Mbak?


^^^*D*ia pingsan di kantor tiga hari lalu, dan sampe sekarang dia belum masuk. Gue udah tanya ke manager, tapi gak ada kejelasan soal sakitnya Nana.^^^


Oke, jam 5 gue tunggu di depan apartemennya ya....


Salsa membalas dengan kata "Oke".


***


Bara menjemput Salsa dan Zahra di lobby apartemen. Keduanya menghubungi Bara karena tidak memiliki access card untuk bisa masuk ke dalam.


"Cuma berdua?" tanya Bara heran karena biasanya Salsa dan Dimas adalag sepasang kekasih yang selalu menempel seperti amplop dan perangko.


"Dimas mana?"


Salsa menggeleng. "Sibuk, Bar!"


Zahra mengerutkan kening mendengar jawaban Salsa yang begitu singkat.


"Nana sakit apa sebenernya, Bar?" tanya Zahra, padahal mereka masih di dalam lift.


Bara tersenyum kecil. "Cuma kecapek-an!" balas Bara. "Entar lo pada juga bisa lihat sendiri gimana keadaannya."


Mereka tiba di unit yang Bara dan Nana tinggali. Dan saat pintu dibuka, mereka bisa melihat dengan jelas Nana sedang duduk di depan tv sambil memakan rujak buah.


Nana melihat kearah pintu yang terbuka. "Eh, haiii kalian?"


"Sini... sini... ngerujak bareng gue!" ajak Nana semangat sambil melambaikan tangan meminta kedua gadis itu mendekat.


"Sayang! Kamu mandi dulu, sana!" usir Nana. Dan Bara langsung masuk ke dalam kamar.


"Apanya yang sakit, mbak?" bisik Zahra heran. Terlihat Nana sangat baik-baik saja. Tidak lemas dan cenderung lebih segar karena sepertinya sahabatnya itu baru selesai mandi.


Salsa mengangkat bahunya. Ia juga bingung. Managernya mengatakan kalau Nana sedang sakit. Apa mungkin dia cuma pura-pura karena malas bekerja?


"Ayo sini! Temenin gue!" Nana menunjuk sepiring bumbu rujak dengan taburan kacang diatasnya serta sepiring potongan aneka jenis buah.


Nana yang lesu setengah harian mendadak ingin makan rujak buah. Sebelum asisten rumah tangga pulang ke rumah mamanya, Nana sempatkan untuk meminta dibuatkan bumbu rujak itu.


Bara sampai terheran, karena saat pagi hari Nana ingin makan es krim. Siang hari makan sup iga sapi dan bakso. Lalu sore ini, Nana ingin makan rujak.


Sedrastis itu perubahan yang terjadi. Bahkan baru sehari sejak Nana diketahui sedang mengandung.


"Katanya lo sakit, Na?" tanya Zahra yang langsung memakan potongan buah dengan garpu kecil.


Nana melirik sahabatnya itu. "Kata siapa?"


"Tuh!" Zahra menunjuk Salsa dengan bibirnya.


Salsa terkesiap. "Ya... ya mana gue tau kalau lo sehat begini! Informasi dari manager katanya lo sakit."


"Ya gue ajak Zahra buat jenguk, lo!"


Nana diam dan mengangguk. "Kemarin sih gue emang sakit!"


"Tadi pagi juga!"


"Tapi lewat tengah hari gue langsung sehat!"


Zahra menjauhkan diri dari Nana karena takut tertular penyakit aneh yang di derita sahabatnya.


"Lo udah tau penyakit yang lo derita?" tanya Zahra pada Nana.


Nana mengangkat bahunya acuh. Ia sengaja menjawab begitu karena tak ingin kabar kehamilannya di ketahui siapapun sampai dua minggu lagi ia periksa kembali dan tampak janin tumbuh dalam rahimnya.


Ia tak mau semua orang mengucapkan selamat padanya, padahal kemungkinan hamil kosong masih bisa terjadi.


Nana banyak memahami masalah kehamilan semenjak ia menikah dan program ke dokter dua bulan lalu. Ia mencari informasi mengenai proses terjadinya pembuahan hingga menjadi bayi yang siap lahir.


Ia juga tahu, rata-rata janin akan terlihat diminggu ke 6-8. Ia hanya sedang menghindari kekecewaan. Dan nasehat Bara serta mamanya akan ia turuti demi perkembangan calon bayi dalam rahimnya. Seorang bayi yang ditunggu kehadirannya oleh empat pasang orang tua.


"Lo harus ke rumah sakit lebih besar, Na!" usul Salsa. "Lo masih muda dan gak boleh pasrah gitu aja sama penyakit lo!" Nana kesulitan menahan rasa menggelitik di hatinya melihat ekspresi Salsa yang begitu mengkhawatirkannya


"Untuk itu, Mbak! Gue libur kerja dulu. Gue mau mengutamakan kesehatan. Papa juga rencananya akan memberhentikan gue dari kantor."


Salsa menatap Nana iba. Pak Hadi sampai meminta Nana untuk berhenti bekerja? Apa penyakitnya separah itu? Apa penyakitnya sulit disembuhkan? Apa sejenis penyakit menular, atau mungkin penyakit autoimun?


"Lo yang sabar, ya Na!" Zahra juga menatapnya iba.


"Om Hadi pasti tahu mana yang terbaik buat lo, Na!"


"Ah, ya.. gue sampe lupa." Salsa mendorong sekeranjang parcel buah diatas meja.


"Banyak makan buah, Na. Lo butuh asupan vitamin yang banyak."


"Terima kasih, mbak!" ucap Nana.


"Na, malam ini kamu mau makan apa sayang!" tanya Bara yang baru keluar dari kamar dengan wajah fresh.


Nana menatap suaminya dengan mata berbinar. "Ganteng banget suami aku!" puji Nana tak peduli dengan dua orang yang menatapnya heran.


"Sini...! Aku mau peluuuukk!" Nana merentangkan tangannya lebar-lebar.


Bara terkekeh kecil. Ia mendekat dan memeluk Nana.


"Shampo kamu wangi." ucap Nana saat menghirup aroma rambut suaminya yang masih sedikit basah.


"Aku mau pakai shampo kamu sayang!"


Bara mengangguk. "Boleh! Kita berbagi yaaa!"


"Asal jangan sampai rambut kamu rontok gara-gara pakai shampo ku yang murah itu!"


Nana terkekeh. "Kita bisa konsultasi ke dokter kalau nanti rambut aku rontok!"


Salsa dan Zahra saling pandang. Keduanya merasa sedikit aneh dengan kelakuan Nana.


Mereka yang membuat kesimpulan sendiri akhirnya memutuskan untuk pamit pulang.


Bara mengantarkan mereka lagi. Bara merasa heran karena kedua sahabatnya itu malah lebih banyak diam.


"Makasih udah datang, Mbak! Zahra!"


Keduanya mengangguk. Selepas Bara pergi Zahra dan Salsa saling pandang.


"Kita sepemikiran gak sih, mbak?" tanya Zahra.


Salsa mengangguk lemah. "Dia sakit apa ya, Ra?" tanya Salsa.


"Dia makin manja sama Bara, Mbak!" balas Zahra. "Kayak orang yang sakit keras dan berusaha menghabiskan waktu berharga mereka."


"Huus!" Salsa mengibaskan tangannya. "Gak boleh ngomong begitu, Ra!"


"Gue gak mau sih mbak, tapi otak gue menjurus kesana terus!"


Salsa juga mengangguk. "Gue juga mikir begitu sih!"


"Nah kan!"


"Mana pak Hadi minta Nana untuk gak kerja lagi. Sebenarnya separah apa sakitnya? Butuh berapa lama untuk sembuh, Ra?"


"Gue juga gak tau, Ra! Kita berdoa aja semoga Nana segera sembuh dari sakitnya."


Sementara itu, Bara sudah kembali ke apartemen.


"Kalian tadi ngobrolin apa, Sayang?"


"Kok Zahra sama mbak Salsa lebih banyak diem?"


Nana menggeleng. "Gak ada ngomong apa-apa. Mereka tanya aku sakit apa?"


"Aku menggeleng. Aku cuma bilang, kalau lewat tengah hari aku langsung sehat."


Bara terkekeh. "Mereka pasti mikir sakit yang kamu derita itu penyakit aneh dan langka!"


"Aku juga nebaknya begitu." Nana tertawa. "Muka mereka khawatir banget sayang!"


"Kamu gak jelasin ke mereka?" tanya Bara. Dan Nana menggeleng lemah.


"Astaga! Kamu ngerjain orang yaaa!" Bara menarik hidung Nana membuat istrinya itu tertawa.