Selena's First Love

Selena's First Love
BAB 19 MENCARI BARA



Nana turun dari mobilnya dan langsung menemui Calvin. Lelaki itu sudah berdiri disamping mobilnya.


"Vin."


"Na, ada apa?" tanya Calvin saat Nana sudah ada di depannya.


"Lo tau apartemen Bara gak?" tanya Nana.


"Apartemen? Bara tinggal di apartemen? Kok gue baru tau?" Calvin terkejut atas hal yang baru ia ketahui itu.


Nana semakin cemas. "Lo juga gak tau?"


Calvin menggeleng. "Sebenarnya ada apa, Na?"


"Panjang ceritanya, intinya ada cewek yang mau ngejebak Bara di club X." Nana berusaha menjelaskan inti masalahnya.


Calvin mendelik tak percaya. "Lo serius?"


"Iya kali gue becanda masalah begituan, Vin," sembur Nana kesal.


"Tapi lo tenang aja, Bara bukan tipe cowok yang suka keluar masuk club, Na." Calvin mengenal Bara dengan baik. Lelaki itu tidak akan pernah masuk ke tempat yang Nana maksud.


"Lo denger, Vin. Dia dijebak! Dijebak!" Nana menggerakkan tangannya kesal di depan Calvin karena sepertinya lelaki di depannya itu tidak menggaris bawahi kata dijebak.


"Jadi, pasti ada cara buat mancing dia kesana!"


"Telpon dia, Na."


"Isss!" Nana menendang kaki Calvin. Untung saja lelaki itu cepat mengelak.


"Na... lo bar-bar banget ih!"


"Kalo bisa, gue gak cari dia ke rumah. Gue juga gak bakalan ada di depan muka lo sekarang."


Nana memalingkan wajah. Ia segera berjalan kembali ke mobilnya. "Lo mau kemana, Na."


"Langsung ke club," jawab Nana ketus.


"Tunggu!" Calvin berlari dan menarik tangan Nana. "Lo gak bisa kesana sendiri, Na." Calvin berusaha mencegahnya. Tidak mungkin membiarkan gadis itu kesana sendirian. Terlalu beresiko.


"Tapi gue harus kesana!" geram Nana.


"Gue ikut. Dan lo jangan gegabah!" Calvin mengambil ponsel di kantong jaketnya.


"Kita bawa pasukan!"


Calvin menempelkan ponselnya di telinga. Ia menunggu seseorang mengangkat panggilannya.


"Dim, lo dimana?"


(......)


"Tunggu di depan gerbang rumah lo. Gue jemput sekarang."


(.......)


"Jangan banyak tanya. Intinya Bara dalam bahaya."


(.....)


Nana hanya mendengar kalimat itu yang keluar dari mulut Calvin.


"Satu orang lagi!" ucap Calvin pada Nana. Calvin kembali menghubungi seseorang.


"Zahra, stay di rumah. Sebentar lagi lo di jemput Nana."


.....


"Kemungkinan Bara dalam bahaya. Bagus kalo lo sama Sherly. Ajak dia sekalian."


Calvin memutus panggilannya dan kembali menyimpan ponselnya di kantong jaket.


"Lo mau bawa orang sekampung, Vin?" tanya Nana.


Calvin tertawa. "Siapa tahu kita butuh mereka nanti, Na."


"Masuk ke mobil," perintah Calvin.


"Di perumahan depan, lo belok ke blok C. Jemput Zahra dan Sherly di rumah Zahra. Rumahnya nomor 123."


"Gue mau jemput Dimas di blok F."


"Lo faham, Na?"


"Ya, gue faham." Nana mengangguk dan masuk ke mobilnya.


Bisa serius juga tuh bocah. Batin Nana saat melihat Calvin berjalan menuju mobilnya sendiri.


Mobil Calvin berada tepat di depan mobil Nana. Sepanjang perjalanan, Nana juga terus mencoba menghubungi Bara.


"Lo, bener-bener ya, Bara! Gue pites lo kalo sampe masuk dalam jebakan Dillara!"


"Ah!" Nana memukul setirnya. "Gue lapor ke om Wawan juga percuma. Gue gak punya bukti kalau Dillara punya niatan jahat sama Bara."


Nana terus mencoba dan akhirnya ia mulai lelah. Nana tiba di rumah nomor 123 dimana dua orang gadis sudah menunggu di luar rumah.


"Masuk, Sher, Zahra!" Perintah Nana.


"Sebenarnya ada apa, Na?" tanya mereka panik karena tidak biasanya mereka keluar malam-malam begini.


"Kalian tahu gak kalau Bara udah di jodohin?"


"Dijodohin?"


Nana menghembuskan nafas kasar. "Baru tau?"


Keduanya mengangguk. "Lo tau dari mana?" Kok kalian gak ada yang pernah cerita soal ini?"


"Ceritanya nanti aja." Nana melajukan mobilnya menuju persimpangan jalan untuk menunggu mobil Calvin.


"Jangan bikin gue penasaran, Nana. Gue paling gak bisa tidur kalau ada kabar yang ngegantung kek jemuran belum kering, Naaaa," Zahra menepuk kesal bahu Nana yang sedang mengemudi.


"Sambil cerita, Na," pinta Sherly yang duduk lebih tenang di kursi belakang kemudi.


"Intinya guy, pulang sekolah tadi gue gak sengaja denger Dillara, gadis yang dijodohin sama Bara punya rencana buat ngejebak Bara di club X."


"Serius?" Zahra sudah memotong kalimat Nana.


"Ih! Diem dulu, Ra!" Sherly mencubit lengan Zahra membuat gadis itu langsung diam dan cemberut kesal.


"Terus, Na?" tanya Sherly.


"Gue mau gagalin dan ternyata Calvin sama Dimas mau bantu."


"Lo yakin Bara bakal kejebak?" tanya Sherly sepertinya meragukan keyakinan Nana bahwa Bara akan terjebak oleh rencana busuk Dillara.


"Gue khawatir, Sher! Dari sore dia udah gak angkat telpon gue."


Sherly dan Zahra saling tatap dengan isi fikiran yang sama. Nana punya perasaan pada Bara. Mereka menyimpulkan dari reaksi Nana yang menurut mereka berlebihan.


"Pesan chat gue gak ada yang dibaca!"


"Gimana gue gak yakin!"


"Lo coba, Ra. Siapa tau Bara lagi ngembek sama Nana," perintah Sherly.


"Ngambek apaan! Kita berantem juga enggak!" Elak Nana sambil melaju cepat mengikuti mobil Calvin yang baru saja melewati mobilnya.


"Tapi lo kayak beda, Na." Sherly akhir-akhir ini memperhatikan ada sesuatu yang berbeda dengan Nana. Dan sekarang ia tahu, alasannya karena perjodohan Bara. Dan itu menyakiti perasaan Nana.


Lo pinter nyembunyiin isi hati lo, Na. Batin Sherly.


"Gak diangkat, Sher!" ucap Zahra setelah panggilannya tidak dijawab olah Bara.


"Kan, apa gue bilang," balas Nana.


"Lo tau, Bara pindah ke apartemen?" tanya Nana pada Zahra.


"Haaa! Dia pindah dari rumah om Wawan. Kok gue baru tau?" Zahra tampak sangat terkejut.


"Nah, lo juga baru tau kan?"


"Ini fix. Bara keterlaluan! Main sembunyiin hal sebesar ini."


Mobil Nana memasuki kawasan yang lumayan luas. Dimana terparkir banyak mobil pengunjung club.


"Kita turun!" Nana segera membuka seatbeltnya setelah mobilnya terparkir rapi.


"Tunggu, Na!" Cegah Zahra.


"Apa lagi, Zahra!"


"Lo gila, ke klub kayak orang mau jogging gini!" Tunjuk Zahra pada penampilan Nana.


"Astaga! Gue lupa!" Nana menepuk keningnya.


Nana segera membuka sweaternya, menyisakan tanktop yang melekat di tubuhnya. Nana mengambil dress di dalam paperbagnya.


Ia segera memakainya dengan cepat. Nana juga membuka jeansnya dengan posisi duduk di kursi kemudinya.


"Gilaaaa!" Zahra bergumam kagum. "Lo keren! Kayak agen rahasia, Na."


Sherly menggeleng pelan mendengar komentar Zahra.


"Gue turun." Belum sempat Nana turun, Calvin dan Dimas sudah berdiri di sebelah pintu mobil Nana.


"Gue mau keluar, Vin." Nana kesulitan membuka pintu mobilnya karena tubuh Calvin menahan pintu mobil.


"Gak bisa, Na."


"Kita atur rencana dulu."


"Itu, disana mobil Bara!"


"Ha, mana?" ketiga gadis itu kompak melihat arah lirikan mata Calvin.


"Itu bukan mobil Bara!" Ucap Nana yang tidak mengenali mobil itu.


"Itu mobil kakaknya," ucap Zahra yang mengenali mobil itu.


"Mobil kak Samara." Lanjut Zahra.


"Nah, jadi kemungkinan Bara sudah siaga satu nih!" tebak Calvin. "Dia udah hati-hati banget, dengan naik mobil yang gak mudah dikenali orang lain."


"Jadi, please! Kita jangan gegabah, atau hal itu akan merusak rencana yang mungkin udah Bara susun."


"Jadi, kita gimana? Diam disini nunggu Bara keluar dari club?" tanya Nana yang sudah tak sabar untuk segera masuk ke dalam.


****


next yaaa 😁 kita masuk ke dalam 😅