Selena's First Love

Selena's First Love
Bab 82 Hamil?



"Silahkan masuk, Dok!" Ajak Ayu pada dokter Anggun yang baru saja tiba.


Ayu langsung keluar dari dapur saat ia melihat kedatangan Dokter Anggun.


"Siapa yang sakit, Bu Ayu?" tanya dokter Anggun. "Apakah Syakiel?" tanya Wanita 40 tahunan itu karena Ayu tidak memberitahunya siapa yang sedang dalam keadaan sakit.


"Bukan, Nana yang sakit, Dok!"


"Oh, si penakut." Dokter itu tertawa kecil.


"Wah, wah, ditungguin suami, pasti lebih cepat sembuh nih, Bu Ayu!"


"Pantas saja, lebih memilih untuk dirawat di rumah dari pada ke rumah sakit!"


Ayu tertawa saat Dokter berkomentar mengenai Nana yang dirawat oleh Bara.


"Perawatnya beda, Dok!" Canda Ayu.


Bara tersenyum sungkan. Ia tak sedetikpun meninggalkan Nana meski istrinya itu lebih banyak diam dan memejamkan mata.


"Saya periksa dulu, ya..." Bara memberi ruang pada wanita berjas putih itu.


Dokter Anggun tersenyum kecil. "Tekanan darahnya dibawah normal, dan sepertinya dia juga kelelahan."


Bara menghela nafas. Benar dugaannya, Nana hanya merasa sok kuat dan sok baik-baik saja.


"Dan saya merasa ada yang berbeda saat saya memeriksa denyut nadinya."


Bara dan Ayu mulai khawatir, takut ada masalah serius dengan kesehatan Nana.


"Kamu kapan terakhir datang bulan, Na?" tanya Dokter Anggun.


"Sebulan lalu, Dok!" jawab Nana.


"Sudah terlambat atau masih belum?" tanya Dokter Anggun karena Nana tidak menyebutkan secara spesifik tanggal berapa ia terakhir datang bulan.


"Sudah terlewat dua hari, Dok." jawab Nana.


Dokter Anggun mengangguk. "Saya resepkan vitamin dulu, ya."


"Saya sarankan untuk melakukan tespack besok pagi, karena waktu terbaik untuk mengecek kehamilan melalui tespack adalah pagi hari."


Bara dan Ayu saling pandang. Namun, Nana hanya mengangguk. Dia sudah dua bulan berturut-turut kecewa. Dan kali ini, ia tak ingin berharap terlalu banyak.


"Atau, bisa langsung ke dokter kandungan untuk USG. Agar lebih jelas dan pasti hasilnya."


"Jadi, kemungkinan Nana hamil, Dok?" tanya Ayu bahagia. Bara juga tersenyum lebar.


"Ini masih dugaan saya, Bu Ayu!" jawab Dokter Anggun.


"Tapi Nana gak mual seperti orang hamil lainnya, Dok?" tanya Bara dan Nana mengangguk. Ia setuju dengan Bara. Ia tidak merasa mual sama sekali.


"Tidak semua, ibu hamil merasakan mual, Mas!" ucap Dokter Anggun pada Bara. "Atau, bisa juga gejalanya belum muncul karena jumlah hormonnya masih sedikit."


"Kita langsung ke dokter kandungan aja, Bar. Untuk memastikan!" Sahut Ayu dengan senyum lebar yang tak luntur itu.


"Ma... jangan...!" Niat hati, Nana ingin mengatakan jangan senang dulu, Ma. Inikan masih dugaan.


Namun, kalimatnya terpotong. "Ssst! Kamu istirahat aja, sayang!"


"Jangan banyak bicara! Jangan banyak gerak, apalagi sampai kurang istirahat!" Ayu membuat Bara mengangguk setuju.


"Kamu baringan aja, Sayang. Aku pergi sebentar untuk beli tespack!" Bara bersiap meraih kunci mobilnya.


Ayu menahan Bara. "Kamu disini aja! Temani Nana dan jangan tinggalkan dia walaupun cuma sebentar!"


"Mama mau antar Dokter Anggun ke depan!" lanjut Ayu.


"Tapi, Bara mau beli...."


"Dipakenya baru besok pagi, Bara! Lagi pula, besok kita langsung ke dokter kandungan aja! Biar jelas!"


"Ayo dok! Saya antar!" Ayu membawa Dokter Anggun keluar dari kamar itu.


"Saya masih menduga, Bu Ayu! Maaf kalau seandainya nanti hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan!"


"Saya tidak mungkin memberikan sembarang obat untuk Nana karena mungkin saja sakitnya dia karena bawaan hamil!"


"Saya mengerti, Dok! Tapi saya juga begitu saat hamil Syakiel dulu."


"Saya juga sempat beberapa kali pingsan, Dok!"


"Sebaiknya, Nana diberi asupan makanan bergizi dan biarpun sedikit asalkan sering."


"Baik, Dok."


***


"Ma..." Nana menatap Ayu yang sedang menemaninya antri untuk masuk ke dalam ruangan dokter di salah satu rumah sakit.


"Kenapa gak ke praktek dokter aja, sih! Nana gak suka suasana rumah sakit, Ma!" bisik Nana.


"Kamu tenang ya, sayang! Ada mama, ada Bara juga!" Ayu mencoba menenangkan Nana.


Bara sedang keluar untuk membeli minuman karena antrian masih lumayan lama.


"Kalau hasilnya gak sesuai harapan gimana, Ma?" lirih Nana yang sedang merema*as jemari tangannya.


Ayu tersenyum. "Gak masalah sayang!"


"Mama ajak kamu segera periksa, bukan tanpa alasan, Na."


"Kalau seandainya kamu hamil, seenggaknya kan sudah ketahuan sejak dini."


"Asupan makanan bisa kamu jaga. Vitamin bisa kamu minum. Kamu bisa lebih hati-hati saat bekerja dan beraktivitas."


"Banyak keuntungannya, Na."


"Kalau seandainya kamu hamil, dan terlambat periksa. Kamu bisa aja tuh, paksain kerja kayak kemarin!"


"Kamu kecapek-an, kamu pingsan. Dan hal yang paling harus dihindari adalah terjadinya flek!"


"Kamu harus bedrest, kamu gak boleh ini, itu! Dan paling kasihan itu, baby yang gak berdosa di perut kamu sayang!"


"Dia udah hadir, tapi seolah kamu sia-siakan!"


"Kamu harus kuatkan hati kamu. Apapun hasilnya, mama yakin langkah ini yang terbaik sayang!"


Bara tersenyum saat mendengar serangkaian nasehat dari mertuanya. Sedari tadi ia diam mematung mendengarkan nasehat Ayu yang menurutnya sudah benar.


Bara duduk disamping Nana. "Mama benar, sayang! Karena kalau kita terlambat dan terjadi sesuatu yang berbahaya, kita cuma bisa menyesal."


"Apapun hasilnya, aku siap."


"Kamu juga harus siap."


Nana mengangguk.


"Minum dulu, biar gak tegang kayak karyawan yang dipromosikan naik jabatan dan lagi nunggu pengumuman!" canda Bara membuat Ayu tertawa.


Nana tersenyum kecil. "Wajar kan kalau aku deg-degan."


"Soalnya, tadi pagi aku ngerasa perutku kram. Jangan-jangan tanda mau datang bulan, Ma."


"Ciri orang hamil sama mau datang bulan, itu hampir mirip sayang!"


"Kram perut, kembung, dada nyari, bahkan badan pegel-pegel juga ada, Na."


"Udah, releks aja yaa..."


"Ibu Selena Kinara Wirya!"


"Nama kamu, sayang!" Bara membantu Nana berdiri dan menuntunya untuk segera masuk ke ruangan dokter.


"Ditemani suami sama mamanya, ya Bu?" tanya Suster untuk mengurangi ketegangan pasien.


Nana mengangguk. Ia dan Ayu duduk di depan meja dokter sementara Bara berdiri dibelakang keduanya.


"Sudah terlambat tiga hari, ya Bu?"


Nana mengangguk.


"Apakah sudah tespack?"


Nana menggeleng.


"Mau langsung ke dokter saja, supaya lebih pasti, dok!" jawab Ayu.


Ya, pagi tadi Ayu melarang Nana untuk tespack karena terkadang hasilnya belum akurat saat baru terlambat satu-dua hari.


"Kita periksa ya..."


Nana diminta untuk berbaring. Suster memberikan gel di perutnya dan tak berselang lama, Dokter cantik itu menempelkan alat di perut Nana.


Nana pernah melewati masa-masa ini saat ia memeriksakan kondisi rahimnya tiga bulan lalu.


"Bisa dilihat disini, Bu!" Dokter menunjukkan lingkaran kecil di layar.


"Ini kantung kehamilan!"


Ayu tersenyum lebar namun, Bara dan Nana masih bingung.


"Masih sangat kecil, ukurannya 5 mm."


"Belum terlihat janinnya, namun ukuran segitu sangat normal untuk usia kehamilan 4-5 minggu."


"Jadi, istri saya hamil, Dok?" tanya Bara senang.


Dokter cantik itu tersenyum dan mengangguk. "Selamat pak, Bu dan calon Omanya."


Bara tersenyum dan ia membantu Nana bangun dari tempat tidur. Meski ada suster yang membantu istrinya, entah mengapa Bara sungguh ingin melakukannya.


"Selamat sayang!" Bara memeluk Nana sebentar lalu mendudukkan istrinya disebalah mama mertuanya.


"Perbanyak istirahat dan makan makanan yang bergizi."


"Dan, kurangi aktivitas berat. Dan hindari stress ya, Bu."


"Suaminya harus terus mendampingi karena biasanya emosi dan mood ibu hamil sering berubah-ubah."


"Saya akan resepkan vitamin." Dokter menulis resep di kertas putih.


"Dan kembalilah 2 minggu lagi untuk mengetahui perkembangannya. Kita akan lihat apakah sudah ada janin atau belum!"


"Terima kasih dok!" ucap mereka bertiga kompak.


"Sama-sama. Selamat sekali lagi, ya..."