
Kabar mengenai kehamilan Dillara sampai ke telinga Wawan dan Hadi. Bahkan Bara dan Nana juga mengetahui akan hal itu.
Malam ini, dengan segenap kerendahan hati. Suryo dan Salsabilla datang ke kediaman Hadi. Ia kembali memohon agar kasus ini berakhir damai.
"Aku mohon, Hadi."
"Ku mohon." Salsabilla memohon pada Hadi. "Dia putriku, Di. Satu-satunya putriku."
"Apa yang akan kamu lakukan jika putrimu ada di dalam tahanan dalam keadaan hamil tanpa kamu tahu siapa pria yang telah keji melakukannya." Salsabilla menangis tersedu-sedu.
Ayu hanya bisa menunduk lemah saat melihat wanita yang lebih tua darinya itu menangis memohon kebebasan untuk putrinya.
"Selena, Tante mohon, Sayang! Bebaskan Dillara, Nak."
"Dia seusia kamu tapi cobaan yang dia hadapi sungguh luar biasa."
"Dia tertekan. Batin dan fisiknya sama sama sakit, Na."
"Tante mohon!."
"Sambara. Tante mohon."
Bara dan Nana hanya bisa saling tatap saat melihat Salsabilla terisak. Wawan juga terlihat pasrah karena keputusan ada di tangan Nana.
Suryo tidak bicara apapun. Ia sebenarnya benci untuk memohon. Tapi nama baiknya sedang dipertaruhkan.
Bagaimana jika media tau kalau putrinya dipenjara dalam kondisi hamil tanpa suami. Sungguh aib yang sangat luar biasa.
"Tante mohon, Nak."
"Kalau tidak, Papanya Dillara akan memaksanya mengg*gurkan kandungannya."
"Membuat janin tak berdosa itu menjadi korban."
Nana mengehela nafas. "Apakah om dan tante sudah tahu siapa ayah dari bayi itu?"
Keduanya saling diam. "Sebenarnya, Dillara tahu siapa pria itu."
"Tapi dia enggan bicara. Dia memilih untuk menutup mulut."
"Dia mengatakan mereka sama-sama mabuk malam itu."
"Tante sudah berusaha cari?" Salsabilla mengangguk. "Pasti. Tante akan cari, Na."
"Gimana, Pa?" tanya Nana pada Hadi.
"Terserah kamu, Na."
Nana menatap Bara. "Keputusan ditangan kamu, Na."
"Kita buat perjanjian, Om, Tante."
Salsabilla mengangguk lemah. "Apa isinya, Sayang?"
"Hitam diatas putih."
"Dillara harus pergi jauh dari kota ini."
"Terserah kemanapun asal jangan menampakkan wajahnya di hadapan kami."
"Jangan mencoba untuk mendekati kami apalagi sampai membuat rencana buruk lagi."
"Tante janji, Na. Tante jamin. Setelah ini kami akan kembali ke Bali, Nak. Atau akan membawanya ke luar negeri."
"Menjaga kehamilannya hingga melahirkan nanti."
Wawan dan Hadi diam saja. Sulit memaafkan kesalahan putri sahabat mereka itu. Tapi mau bagaimana lagi, Nana sudah mengambil keputusannya.
"Lo gak akan menyesal, Na?" tanya Bara. Karena bisa saja Dillara kembali merencanakan hal buruk pada mereka.
Nana mengangguk. Memaafkan memang sulit. Tapi ia tidak sanggup membayangkan bagaimana melewati masa kehamilan di tahanan yang sempit. Belum lagi gizi untuk janin yang tidak terpenuhi.
Bagaimana jika janin itu lahir disana? Ya Tuhan, membayangkannya saja Nana tidak mampu.
"Tante, Om."
"Saya akan mencabut laporannya. Dillara akan segera bebas. Tapi... berjanjilah untuk menepati hal-hal yang Nana sebutkan tadi."
"Karena jika tidak. Maka kasus ini akan Nana buka kembali."
"Tante janji, Na." Salsabilla menangis dalam pangkuan Nana. Wanita itu berterima kasih dengan bersimpuh dihadapannya.
"Bangunlah, tante." Nana membantu Salsabilla untuk kembali duduk.
"Om Suryo. Anda belum bilang terima kasih, loh!" Bara menyidir Suryo yang sedari tadi hanya diam membisu.
Lihat istrinya berjuang demi anak, bukannya bantu malah tetap diam mempertahankan harga diri. Batin Bara kesal.
"Oh, Ya... Om setujukan dengan syaratnya?" Bara tersenyum miring saat Suryo meliriknya tajam. Tapi Bara tidak peduli. Lirikan Wawan dan Hadi saja tidak ia hiraukan.
Lo apa apaan sih, Bar! Bendera putih baru aja dikibarkan. Lo malah kembali menabuh genderang perang!
"Selena, Om janji akan memenuhi syarat dari kamu. Om akan bawa Dillara jauh dari kota ini," ucap Suryo dengan suara pelan.
Suryo menahan geram dihatinya. Sebenarnya ia tetap ingin Dillara mengug*rkan janin itu saat terbebas dari hukuman. "Om akan... usahakan, Selena."
"Usahakan apa, Om?" tanya Bara.
"Ck!" Wawan berdecak pelan. Ia menyenggol kaki putranya agar berhenti membuat keruh susana. Suasana hati Suryo maksudnya.
"Om dan tante akan berusaha menjaga Dillara dan janinnya."
"Kami juga akan berusaha mencari ayah dari janin itu."
***
"Dillara bebas." Ucap Bara menyandarkan kepalanya di sofa. Calvin, Dimas, Putra, Zahra dan Sherly membulatkan mata.
Saat ini mereka tengah berada di apartemennya. Sepulang sekolah Bara meminta mereka ikut. Sepertinya ia memang butuh teman cerita.
"Ahh! Gil*! Kok bisa!" Calvin menendang udara. Ia yang tengah duduk di meja makan itu sangat terkejut mendengar kabar dari Bara. "Main duit?"
"Loh, Kok bisa, Bar?" Sherly juga terkejut.
"Nana cabut laporannya." Jawab Bara cepat.
"Apa? Nana?" Sherly dan Zahra sama sama terkejut. "Wah, gak bener nih?" Sherly geleng-geleng kepala.
"Dia dapet ancaman kali, Bar? Makanya setuju untuk cabut laporanya."
Bara menaikkan bahunya. "Dillara hamil."
"Apa?" Calvin kali ini terkejut. "Lo yakin, gak ngapa-ngapain dia kan malam itu, Bar?" pertanyaan Calvin seperti tuduhan.
Bara hanya tersenyum sinis.
"Gak usah senyum, Lo! Buat gue makin curiga aja."
"Enggak, Vin!"
"Lo yakin?"
"Seratus persen!" Jawab Bara mantap.
"Gue gak percaya!"
"Percuma jelasin ke Lo, Vin."
"Denger ya..."
"Pertama, malam itu gue gak mabuk."
"Kedua, gue ketemu dia cuma di meja bartender."
"Setelahnya gue keluar!"
Calvin memicing curiga. "Ya kali, lo pe*petin dia di sudut meja, terus lo..."
"Lo fikir gue kucing!" Bentak Bara saat Calvin belum selesai bicara.
Dimas dan Putra kompak terbahak. Jelas beda isi kepala Calvin dan Bara. Jauh bahkan.
"Dasar lo!" Zahra melempar bantal Sofa ke wajah gantengnya. "Isi kepala lo gak ada yang bener, Vin!"
"Gue kan cuma menyampaikan analisa gue. Karena gue merasa curiga sama Bara."
"Gue cuma mau memastikan kalau Bara sebenarnya lugu banget atau gak lulu-lugu banget."
"Heem!" Bara menyeringai. "Si*alan lo!"
"Terus, Diandra gimana?"
"Kapok kali dia, Sher. Parfum mahalnya malah dikasih ke Anwar." Zahra terbahak.
"Gue rasa belum." Putra membuat mereka menatapnya. "Gue takut dia mundur beberapa langkah untuk lompat jauh kedepan."
"Itu yang gue takutin." Sambung Bara.
"Bantu gue jaga Nana dan awasi dia."
"Siap!" Calvin memberi hormat.
"Dia tau gue pacaran sama Nana."
"Apa!" Mereka sontak menjerit. "Lo pacaran sama Nana?" Mereka kompak bertanya dengan raut mene*gang.
"Anj*r! Nusuk Lo!" Tiba-tiba Dimas men*indih tubuhnya.
"Kampr*t! Nikung Lo!" Calvin ikut meni*ndih tubuhnya.
"Woii... mat* gue!" teriak Bara.
Zahra menarik rambutnya. "Mat* aja, lo! Dasar! Gak ngomong kalau udah jadian!"
"Traktiran gue! Mana traktiran buat gue!" Zahra geram menarik rambut saudaranya itu.