
"Capek?" tanya Bara pada Nana yang langsung menghempaskan tubuhnya di sofa ruang kerja Bara.
Seluruh keluarga dan tamu undangan sudah pulang. Termasuk teman-temannya yang datang sedikit terlambat dan pulang lebih cepat karena memiliki acara masing-masing.
Bara maklum karena akhir pekan seperti ini pasti mereka sudah punya rencana sendiri-sendiri, dan ia merasa berterima kasih karena mereka masih menyempatkan diri untuk datang.
Di lokasi hanya tersisa beberapa karyawannya dan petugas catering yang membersihkan sisa sisa hidangan.
"Lumayan," jawab Nana. "Tapi aku seneng, semua berjalan lancar."
Bara ikut menghempaskan tubuhnya di sebelah Nana. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dan Nana juga melakukan hal yang sama.
"Mau balik sekarang?" tanya Bara menatapnya sekilas.
Nana melihat jam dinding yang menunjukkan sudah hampir jam 2 siang. "Udah mau ditutup?" tanya Nana balik.
Bara menggeleng. "Belum, Na. Masih ada yang beres-beres."
"Ditutup pun terserah, aku punya kuncinya," jawab Bara sambil tertawa.
Nana tertawa kecil. "Kalau gitu, bentaran lagi deh. Istirahat sebentar disini."
Bara mengangguk. Ia menatap wajah Bara yang sudah menatap lurus kedepan. Jarak mereka begitu dekat. Keduanya saling diam tapi Bara tidak tahu jika gadis disebelahnya sedang memperhatikan wajahnya.
Nana menatap mata Bara yang memang sedikit sipit. Pantes aja, mbak Salsa bilang kalau dia kayak oppa-oppa.
Nana menatap hidung mancung pria itu. Lumayanlah, buat memperbaiki keturunan gue. Seenggaknya anak gue entar gak pesek-pesek amat.
Nana menatap bibir Bara. Namun sekilas ucapan ibl*s bernama Salsa malah berputar-putar diotaknya.
"Na, lo gak tau aja gimana rasa benda kenyal nan memabukkan itu".
"Ehhmm.."
"Manis dan..."
Nana pernah merasakan bibir itu, lima tahun lalu, tepatnya saat pertama kali mereka saling menyatakan perasaan masing-masing.
Ciuman pertama yang tidak mungkin bisa semudah itu ia lupakan. Namun, soal rasanya, entahlah ia tidak tahu lagi rasanya seperti apa.
Bohong jika ia tidak ingin merasakannya lagi. Terlebih saat ini ia dan Bara sudah sama-sama dewasa. Ia sering melihat pasangan kekasih melakukannya di luar negeri. Bahkan dilakukan di tempat umum.
Seandainya... Astaga! Kenapa otakku jadi gesrek seperti mbak Salsa sih. Keluh Nana dalam hatinya karena sekilas ia memikirkan untuk kembali merasakan cium*an itu lagi.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Bara membuat Nana terkesiap. Entah sejak kapan Bara menyadari bahwa ia terus memperhatikan pria itu.
Mamp*us gue! Bara sadar gak ya kalau gue sedari tadi mengagumi wajahnya bahkan memikirkan hal yang...
Nana menggeleng guna membuang jauh-jauh fikiran kotor itu.
"Na? Kamu kenapa?" tanya Bara lagi. Ia mengubah posisinya menghadap gadis itu bahkan kini kedua tangan pria itu sudah menangkup pipinya.
"Aku..." Nana menunduk merasa malu.
"Na, lihat aku! Kamu kenapa?" Nana bisa melihat raut wajah khawatir itu.
"Aku... aku gak kenapa-kenapa, Bar!"
"Kamu tadi ngelamun, terus jadi kayak orang bingung begini."
Bara mengedarkan pandangannya. "Kamu gak lihat setan kan, Na? Atau penampakan apa gitu?" tanya Bara khawatir.
Nana menghela nafas karena pria di depannya malah berfikir terlalu jauh. Ia bukan anak indigo yang bisa melihat makhluk astral itu.
"Enggak. Aku gak kenapa- kenapa. Aku cuma..." Bara menunggunya.
"Cuma apa, Na?" tanya Bara lagi. Mata itu begitu tajam dan memikat. Hembusan nafas itu begitu terasa menyapu wajah Nana.
Debaran jantungnya. Oh God! Aku suka moment ini.
Nana menggeleng pelan. "Gak apa-apa," lirihnya karena tatapan mata Bara begitu membuatnya tak bertenaga. Ia terpaku dan tidak bisa bergerak sama sekali.
Bara sudah tidak fokus lagi dengan apa yang terjadi pada gadis di dekatnya itu. Wajah cantik dan manis itu membuat sesuatu dalam dirinya semakin tertarik untuk mendekat.
Fikiran Bara sudah entah kemana-mana. Mata, hidung, bibir dan dagunya. Huh! Tubuh Bara mendadak terasa terbakar terlebih saat Nana justru hanya diam dan diam. Gadis itu seolah membeku.
Bajing*an bernama hasrat mendominasi dirinya. Membuat setan semakin berbisik, "lakukan!"
Entah setan apa yang membimbing Bara untuk terus semakin dalam menye*sap bi*bir tipis dan manis itu.
[**** Thor! Pake nyalahin setan segala lo!] *Ma-k*i Bara ke Othor 😅
Semakin lama semakin panas meski Ac menyala dan bekerja dengan sangat baik. Bara semakin kehilangan akal.
Cium*an itu semakin dalam dan menuntut hingga tangan Bara perlahan turun ke leher.
Namun, ambyar! Kenikm*atan itu terhenti karena Nana menarik diri dan menghentikan olahraga terbaik untuk membakar kalori itu.
Nafas Nana naik turun. Ia jelas menikmati setiap detik sentuhan Bara yang menuntunnya untuk mengimbangi permainan. Namun, ia tak ingin terlalu jauh tersesat hingga lupa caranya untuk pulang.
Tangan Bara yang perlahan turun membuat akal sehat Nana seketika mengatakan ini harus dihentikan.
"So-sorry." lirih Bara menjatuhkan keningnya di bahu Nana.
"Maaf, melakukannya tanpa izin."
Sentuhan lembut di tengkuk Bara kembali memancing kembali hasrat yang seketika turun. Gadis mengusap rambut di tengkuknya dan menempelkan pipinya ke kepala Bara.
"Tidak apa, Bar!" bisik Nana. "Aku hanya takut kita melangkah terlalu jauh."
"Aku tidak marah, tapi lain kali kasih aku kesempatan untuk bernafas."
Bara mengangkat wajahnya. Ia menatap Nana dengan kening berkerut. "Lain kali?"
Nana terkekeh karena Bara lebih fokus kepada kata lain kali dibanding dengan dirinya yang tidak diberi kesempatan untuk bernafas.
Nana mengangguk kecil.
"Bagaimana kalau sekarang?" tanya Bara sambil tertawa.
Nana diam saja dan Bara langsung diam. Pria itu mengartikan, jawabannya adalah tidak.
Nana mengecup singkat bibir Bara. Pria itu mendelik tak percaya.
"Tidak sekarang, Sayang! Kita harus segera pulang dan cari makan. Karena kamu sudah berhasil membakar 1000 kaloriku." Nana berdiri dan merapihkan blazernya.
Bara tertawa menyadari candaan Nana. Ia ikut berdiri dan meraih tangan Nana.
"Katakan sekali lagi, Na." pintanya.
"1000 kalori."
"Bukan yang itu!" ucap Bara sambil membawa Nana keluar dari ruangannya.
"Tidak sekarang," jawab Nana lagi.
"Bukan yang itu, Na."
"Jadi yang mana, Bara."
"Setelah kata tidak sekarang, Na."
"Ehm... Katakan aja, Bar! Yang mana?" Pinta Nana.
Bara menghela nafas. "Maksudku sayang!"
"Sama, aku juga sayang sama kamu!" sahut Nana berhasil membuat Bara terkekeh.
"Pura-pura gak tau ternyata," gumam Bara.
"Masa iya, cewek yang mulai, Bar!" gumam Nana juga karena mereka melewati beberapa orang karyawan dan petugas kebersihan yang masih membersihkan area bengkel.
"Baiklah! Mulai sekarang aku yang akan memulainya."
"Silahkan!"
"Termasuk melakukan yang tadi!" Bara tersenyum dan mengerling kearahnya. Nana menggeleng pelan karena salah tingkah.
"Dang, balik dulu!" Pamitnya.
"Siap pak bos! Hati-hati!" Teriak Dadang.
****