
Nana memasuki ruang kerja dimana ada salah satu meja kerja yang menjadi singgahsananya disana. Kubikel-kubikel itu mulai terisi oleh pemiliknya.
Ia melangkahkan kaki dengan semangat pagi ini. Lelah liburan kemarin tidak sebanding dengan betapa freshnya isi otaknya.
Nana tersenyum senang menyapa temannya. "Morning, Mbak Salsa!" Nana meletakkan tas jinjingnya yang berwarna soft pink senada dengan warna outfitnya pagi ini diatas meja kerjanya.
"Ajib! Semangat banget!" Ucap Nana melihat Salsa juga tampak fresh di hari Senin ini. Gadis dengan outfit warna merah menyala itu tampak sedang membersihkan meja kerjanya.
"Harus dong!" jawab Salsa dengan senyum termanisnya.
"Roman-romannya, baru jalan sama gebetan baru, nih?" Nana tertawa. Ia juga membersihkan debu halus di mejanya. Sebenarnya tempat ini sudah bersih, hanya saja kedua gadis penggila kebersihan ini selalu melakukan hal yang sama tiap pagi.
"Bukan lagi," ucap Salsa sambil tertawa. "Lihat!" Salsa memamerkan cincin mungil di jari tengahnya.
"Bukan main!" Sorak Nana sambil menggelengkan kepala. "Mahal ini, mahal!" Serunya sambil memperhatikan benda kecil berwarna silver itu.
Salsa tertawa. "Hahah... Cincin palsu, Na!" canda Salsa.
Nana memicing curiga. Ia juga tahu beda perhiasan asli dan palsu. Ia menyeringai. "Kalau palsu, coba lempar ke luar, mbak!" tunjuk Nana kearah jendela.
Salsa menggeleng pelan. Ia lantas tertawa. "Habis gaji gue sebulan buat beli gantinya, Na."
"Hahah... Jangan main-main sama Nana," ucapnya sambil terkekeh. "Barang mahal dikata palsu."
Nana duduk di kursi dan langsung memeriksa ponsel mahal miliknya. Ia hanya ingin mengirim pesan pada Bara bahwa dirinya sudah sampai di kantor dengan selamat.
"Ceile... yang habis ke villa, ketawa mulu," ejek Salsa. "Pasti sweet banget ya Na, liburan disana."
Kemarin Salsa menghubungi Nana agar tidak ikut dalam pesta yang Dodit adakan di Club malam. Dan Nana memberitahu Salsa bahwa memang gadis itu tidak bisa pergi karena sedang liburan.
Pengalaman buruk yang pernah Salsa alami, ia tak ingin terulang lagi pada Nana. Dulu, ia juga pernah ikut dalam pesta yang sama. Saat itu seniornya yang mengadakan pesta. Karena masih karyawan baru, Salsa terpaksa ikut hanya karena ingin mengakrabkan diri dengan rekan kerjanya.
Namun, sebuah hal yang entah kebetulan atau disengaja. Salsa diberi minuman dengan kadar alkohol tinggi. Untung saja ia tak meneguk segelas penuh karena rasanyanya yang tidak enak dan asing di lidahnya.
Salsa juga bisa pulang ke rumah karena ia meminta di jemput oleh sepupunya. Jika tidak, mungkin entah sudah bagaimana nasibnya.
Belum Nana menjawab. Dodit yang baru datang berdiri di dekat kursi milik pria itu.
"Jadi kamu kemarin nginap di Villa, Na? Sama pacar kamu?" tanya Dodit dengan suara keras dan ekspresi seolah Nana melakukan suatu hal yang begitu menakjubkan.
Semua orang di ruangan itu menatap kearah Dodit yang kini malah tersenyum remeh pada Nana. Dodit memandang seolah gadis dihadapannya itu adalah gadis yang mudah jatuh ke pelukan laki-laki.
Meski belum semuanya hadir, tapi tatapan beberapa orang di dalam ruangan itu membuat Nana sedikit tidak nyaman. Ia merasa terpojok karena ucapan Dodit yang menjatuhkan harga dirinya.
"Pantes aja, ku undang ke pesta, kamu gak bisa datang!" seru Dodit lagi. "Oh, ya. Kemarin juga pacar kamu kan yang jawab telponku?"
Nana mengangguk sekali.
"Miris lihat muda-mudi zaman sekarang. Sama pacar, mainnya ke villa, yang tempatnya dingin pula."
Dodit duduk di kursinya. "Memang anak zaman sekarang masih kecil tapi suka cari kehangatan!" ucapnya pelan pada Nana.
Beberapa orang diruangan itu tertawa geli. Antara mentertawakan Nana dan membenarkan ucapan Dodit atau merasa geli karena menganggap Dodit berlebihan.
Nana menatap tajam pria di depannya. Dia gak takut sedikitpun mengatakan tuduhan berlebihan itu? Harusnya dia sadar sedang bicara dengan siapa!
"Pak Dodit! Ssst! Ssst!" Panggil pria di belakang Dodit.
Dodit kembali menatap Nana. "Akukan bicara kenyataan. Gak cuma dia kok! Banyak yang seperti itu."
"Jadi tenanglah, Selena. Jangan khawatir. Itu semua udah jadi rahasia umum!"
Salsa yang sudah geram dengan kelancangan mulut Dodit sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia bersandar di kursinya. Membalas dengan cara elegan sepertinya lebih tepat mengenai sasaran dibanding adu otot leher yang hanya akan membuat kepalanya pusing.
"Mendingan, masih muda tapi sanggup sewa Villa, mahal lagi ya kan, Na." Salsa menatap Nana sambil tersenyum lebar.
"Dari pada udah tua, mainnya di mobil butut, dipinggir jalan pula!" Ucap Salsa seolah menyindir seseorang. "Gak modal!" sambungnya dengan wajah sinis.
"Sewa hot*l murah aja udah gak sanggup. Boro-boro nginep di villa." Salsa tertawa.
"Maklum aja deh, gimana duit mau ngumpul, kalo tiap hari kerjanya jajan terus!" Lanjut Salsa.
Dodit menatap Salsa tajam tapi dibalas dengan senyum lebar oleh gadis berblazer merah itu.
Kena mental gak lo! Jadi laki, mulut lemess banget! Batin Salsa.
Tapi tunggu dulu, Salsa belum selesai. "Jadi budak di kantor orang, sampe pensiun, belum kawin, duit simpanan gak punya, tua kena HIV."
"Aduuuh! Merinding gue, Na!" Salsa pura-pura merinding dan mengusap kedua lengan atasnya.
Nana tertawa riang. Ia tahu siapa yang Salsa maksud. "Lain kali suruh check up sering-sering, mbak!" timpah Nana semakin membuat panas suasana.
Ia jelas tak ingin ditindas. Dia tak boleh kalah atau hal seperti ini akan terus terulang.
"Takut nular!" Bisik Nana. Ia bergidik geli. Sementara Salsa tertawa dan karyawan lainnya senyum-senyum sambil pura-pura kembali bekerja padahal jam kerja belum dimulai.
Dodit adalah salah satu manusia yang bisa dikatakan tertua di ruangan itu. Semua karyawan sudah tahu bagaimana kelakuannya. Rumor yang beredar tentang Dodit sudah menjadi rahasia umum bagi mereka.
"Mbak Salsa, lebih terhormat mana sih? Main di mobil atau main di Villa bareng sama keluarga pacar?" tanya Nana penuh sindiran, sebagai balasannya kepada Dodit.
Semua orang kembali menatap Nana. Salsa tersenyum senang. "Tentu pilihan kedua dong, Na!"
"Berarti tuh cowok jelas asal usulnya. Jelas niat baiknya, jelas tujuannya. Beruntung baget loh kalau ada cewek yang langsung dikenalin ke calon mertuanya."
"Dari pada, di ambil dipinggir jalan, main di pinggir jalan, eh... dituruni di tengah jalan. Hahaha..." Salsa tertawa karena ucapannya sendiri.
"Cuma laki-laki bangs*t yang cara mainnya kayak begitu, mbak!" Nana melirik Dodit yang tampak kalah telak.
"Pak Dodit!" Nana menatap pria di depannya.
"Gak semua muda-mudi itu kelakuannya sama seperti yang anda bayangkan."
"Tidak semua orang yang pergi dengan pacarnya, lantas mereka berbuat di luar batas."
"Tidak semuanya seperti itu, pak Dodit."
Dodit membuka mulutnya, ia hampir bicara tapi Nana tidak memberinya kesempatan untuk bicara.
Nana mengacungkan jari telunjuknya. "Dan satu lagi! Kalau anda tidak tahu apapun tentang saya, please! Jangan nge-judge!"
Dodit diam dan tidak berkutik sama sekali.
***