Selena's First Love

Selena's First Love
BAB 33 AKU DAN KAMU



"Na, kamu kenapa?" tanya Bara saat Nana tiba-tiba diam setelah jam istirahat pertama sejam lalu.


Nana melihatnya sekilas lalu tersenyum kecil dan akhirnya menggeleng lemah.


"Bohong. Kamu gak bisa bohong, Na. Mata kamu gak bisa bohongi aku." Bara terus menatap wajah yang terlihat tenang namun kening yang beberapa kali terlihat mengerut itu jelas menunjukkan siempunya tengah memikirkan sesuatu.


Keduanya saling diam karena Nana masih enggan untuk bicara. Seisi kelas tampak tenang karena tengah mengerjakan soal latihan yang diberikan oleh guru Matematika.


Nana menatap nanar soal nomor sepuluh, soal terakhir yang belum ia jawab. Ia kembali teringat kejadian saat jam istirahat pertama tadi, saat ia tengah berada di toilet.


Flashback on


"Makin mesra yaaa? Setiap hari pergi bareng!" Nana menatap bayangan di cermin, seorang gadis yang berdiri di belakangnya tengah tersenyum sinis, berdiri melipat tangannya di dada dengan tubuh bersandar di tembok. Tak lupa kaki jenjang nan putih itu ia silangkan.


"Bukan urusan lo!" Nana melanjutkan mencuci tangannya di washtafel. Lalu, ia mengeringkan tangannya dengan tissu. Lalu melemparkan tissu itu ke dalam tong sampah.


"Gue bisa dengan mudah mendapatkan Bara!" Ucap gadis itu percaya diri. Diandra, ya Diandra yang ada di belakang Nana.


"Lo, gak akan bertahan lama sama dia."


Nana berbalik. Ia menyandarkan tubuhnya di washtafel dan menatap sinis gadis di depannya.


"Seyakin ini?" tanyanya. "Parfum lo aja udah ditangan orang lain." Nana tersenyum penuh kemenangan.


"Bara cuma penasaran sama lo. Setelah ini, lo akan ditinggalin." Diandra tak kalah melemparkan senyum sinis.


"Asal lo tau, dia mantan gue pas SMP." bohongnya.


Gue gak peduli, Na. Gue gak bisa dapetin Bara lagi. Yang penting lo juga gak bisa sama dia.


Calvin, gue juga incar dia demi popularitas di sini. Tapi dia juga milih lo!


Gue gak tau apa istimewanya lo! Tapi yang pasti gue akan rusak apapun yang buat menghalangi kesenangan gue! Batin Diandra.


Nana mengerutkan kening. Ia belum pernah mendengar kebenaran tentang hal itu. Sherly dan Zahra juga belum pernah cerita.


Bara mantannya Diandra? Batin Nana.


Nana menghela nafas. Ia tidak ingin terpancing oleh ucapan Diandra dan berakhir dengan adu cakar di toilet yang sepi ini. Dan bel masuk baru saja berbunyi. Nana tidak ingin terlambat lebih lama lagi untuk masuk ke dalam kelas.


"Jadi, kita akan balik lagi."


"Gak sekarang, tapi one day."


Nana tersenyum remeh. "Berhubung bel masuk udah bunyi. Gue gak bisa dengerin curhatan dan mimpi-mimpi indah lo lebih lama lagi, Di."


"Gue balik dulu, lo bisa minta WA gue ke Bara kalo lo pingin curhat dan ceritain masa indah percintaan kalian dulu." Nana melangkah maju menuju pintu keluar.


Saat tubuhnya sejajar dengan Diandra, ia menoleh kesamping dan tersenyum.


"Ah, ya. Satu lagi! Semua orang memanf harus punya mimpi, Di. Termasuk lo."


"Dan selain itu, semua orang juga harus punya yang namanya harga diri!"Nana menepuk bahunya dua kali lalu berlalu dari toilet.


Flashback off


Nana mengusap wajahnya. Ia merasa pusing memikirkan kebenaran tentang masa lalu Bara dan Diandra.


Bara terlihat tidak menyukai gadis itu. Tapi Gadis itu terus mengejar tanpa kenal lelah. Bahkan tanpa kenal rasa malu.


Apa mereka putus karena satu masalah yang buat Bara illfeel setengah mati?


Nana melirik pria yang sedang duduk menatap lembar jawaban yang sudah terisi sampai nomor 10 itu.


Seketika Nana teringat bahwa soal nomor sepuluh belum ia kerjakan.


"Waktu kalian tinggal 5 menit lagi." Ucap Bu Guru membuat Nana sedikit panik.


Mati gue! Batinnya.


Nana segera membaca soal dan menuliskan jawabannya. Ia mulai menghitung angka yang membuatnya sejenak melupakan hal yang baru saja ia lamunkan.


"1.245, Na." Nana melirik Bara.


"Itu, kamu salah nulis angka. Harusnya 1.245."


Nana melihat tulisannya. Ia menulis angka 1.345.


Nana mencoba menghitung ulang dan ya, jawabannya salah. Ia segera memperbaikinya.


Nana tetap mengerjakan sendiri soal latihannya. Dan Ia bisa menyelesaikannya tepat waktu.


***


"Na... Makan, yuk!" Ajak Bara kepada Nana saat mereka baru saja keluar dari gerbang sekolah.


Semenjak beberapa hari lalu, Bara rutin menjemput Nana dengan alasan demi keselamatan. Hadi dan Ayu tidak melarang karena semua juga memang demi keselamatan Nana.


Keluarga masih memastikan tidak ada pergerakan apapun dari Dillara dan dua orang pria suruhan yang ikut dibebaskan itu.


Nana mengangguk pelan. "Boleh..."


"Mau makan apa, Na?"


"Terserah lo aja, Bar!"


Bara mengehela nafas. Gini amat ngadepin cewek.


Bara memilih untuk menepikan mobilnya ke sebuah cafe. Ia memesan banyak makanan khususnya dessert. Cake coklat, es krim coklat dan beberapa menu mengandung coklat Bara pesan untuk Nana. Karena, sepertu yang ia ketahui, coklat dapat mempengaruhi mood seseorang menjadi lebih baik. Ia juga membungkus beberapa untuk gadis itu dan adiknya, Syakiel.


"Makan yang banyak, Na!" Bara mendorong sepiring kecil cake coklat ke depan Nana. "Coklat bisa buat mood kamu jadi lebih baik."


Nana mengerutkan kening. "Mood gue baik baik aja."


"Makan gih!" Bara enggan berdebat. "Jangan cemberut terus, nanti aku makin cinta sama kamu!" Bara mengerling.


Nana mengul*um senyum. Tak tahan melihat si pria pendiam dan ekspresi datar di depannya mulai bertingkah memikat.


Dasar manusia tampan!


Nana masih terus menatap cake itu. "Makan ya pacar!" Bara meraih sendok dan garpu kecil, lalu memotong cake dan menyuapkannya ke depan mulut Nana.


"Jangan sampe kamu jadi kurus karena jalan sama aku."


"Aku takut dicoret dari daftar calon mantu."


Nana terkekeh menutup mulutnya. "Malah ketawa..." Bara ikut tertawa kecil. Bara menyuapkan cake ke mulutnya sendiri. Ia menguyah dengan pelahan dan menelan makanan manis nan lembut itu.


Nana mengerutkan kening karena pria itu malah melahap cake yang harusnya masuk ke mulutnya.


"Makan gih!"


"Keburu gak manis lagi cakenya." Bara menyuapkan potongan lainnya ke mulut Nana.


"Kok bisa?" ucapnya saat cake dimulutnya sudah ia telan.


"Karena pindah ke kamu semuanya." Bara berucap santai sambil kembali menyuapkan cake ke dalam mulut Nana.


Gadis itu merona malu. Gini banget rasanya digombalin. Nih anak kebanyakan belajar sama Calvin, nih.


"Bar,"


"Ya..." Bara menatap Nana.


"Makasih." Ucapnya singkat namun tulus.


Bara menusuk cake dengan garpu dan menyuapkan potongan terakhir itu kemulutnya sendiri.


"Untuk?" tanyanya kemudian.


"Untuk semuanya."


"Aku gak melakukan apa-apa!"


"Gue..." Nana menyadari sesuatu.


Dari tadi Bara pakai aku-kamu?


Nana mulai mengingat. Bahkan dari pagi tadi?


"Bar..." Nana menatap Bara yang sedari tadi menunggunya melanjutkan bicara.


"Aku-kamu?"


Bara mengangguk. "Biasakan ya!" Ia menggenggam tangan Nana yang berada di atas meja. "Cepat atau lambat, aku akan bicara ke papa dan om Hadi tentang kita."