
Hari ini, Nana izin untuk tidak masuk ke kantor. Ia dan Bara sengaja akan memeriksakan diri ke salah satu rumah sakit terbesar di kota.
Dua hari lalu, ia baru saja selesai datang bulan. Dan menurut informasi yang ia baca, memeriksakan rahim melalu Usg perut ataupun vagi*na sebaiknya dilakukan saat hari ke 7 siklus menstruasi karena saat ini, kondisi lapisan rahim sedang tipis-tipisnya sehingga jika ada gangguan pada rahim bisa dideteksi dengan maksimal.
"Deg-degan, banget sayang!" Nana duduk di atas ranjang dan melihat Bara yang sedang mengancingkan kemejanya.
Bara tersenyum kecil. "Ini baru periksa loh, sayang! Gimana lagi kalau mau melahirkan!"
"Kamu gak tau aja, aku gelisah sepanjang malam menunggu hari ini!" ucap Nana pelan.
Bara berdiri berhadapan dengan Nana. Ia menarik istrinya itu dalam pelukan dan mengusap rambut beraroma manis itu dengan lembut.
"Berhentilah berfikir negatif, sayang!"
"Kekhawatiran dan bayangan buruk di kepala kamu itu bisa jadi doa loh!" Bara bukan bertujuan menakut-nakuti Nana, tapi dia sedang berusaha agar istrinya berhenti khawatir berlebihan.
Nana menatap Bara. "Aku cuma..."
"Sssst!"
"Kita berangkat sekarang, ya..."
Nana mengangguk.
Keduanya tiba di rumah sakit. Mereka sebelumnya sudah membuat janji dengan dokter.
Banyak rangkaian pemeriksaan yang mereka jalani termasuk cek darah.
Nana setia menemani Bara yang juga sedang melakukan pemeriksaan terhadap sper*manya. Walaupun hasil lab tidak langsung bisa diketahui, setidaknya Bara sudah melakukan pemeriksaan juga.
Bara sungguh tidak ingin melihat Nana merasakan kegelisahan itu sendiri. Bara ingin, Nana tersadar bahwa untuk memiliki anak bukan hanya bergantung pada kesuburan istri, tapi juga kualitas benih suami.
Saat ini giliran Bara yang mendampingi Nana masuk ke ruangan untuk di USG.
Semua hasilnya baik. Tidak ada masalah sama sekali.
"Kondisi rahimnya bagus. Tidak ada kista, polip dan masalah lainnya. Kondisi sel telurnya juga baik." ucap seorang dokter membuat perasaan Nana menjadi sedikit lebih tenang.
Awalnya ia begitu tegang dan takut jika hasilnya tidak sesuai harapan mereka.
"Kemungkinan anda bisa hamil sangat besar, Bu."
Nana dan Bara bernafas lega.
"Kesempatan hamil akan lebih besar jika hubungan suami istri dilakukan pada masa subur."
"Kualitas ****** juga berpengaruh."
"Dan hal yang paling penting adalah kelolah stress!" Dokter cantik itu memperingatkan Nana.
"Jangan banyak fikiran dan jangan sampai anda kelelahan."
"Hal ini juga berlaku untuk Bapak."
Bara dan Nana mengangguk. Nana juga menanyakan beberapa hal mengenai program kehamilan ini.
Kapan masa suburnya? Makanan apa yang bagus dikonsumsi? Dan banyak lagi.
Nana dan Bara pulang dengan perasaan lega. Setidaknya apa yang Nana khawatirkan selama ini tidak terbukti. Nana sehat dan tidak ada oenyakit apapun dalam rahimnya.
"Lega?" Tanya Bara yang sedang mengemudi.
Nana mengangguk. "Banget!" Senyum lebar itu terbit di bibirnya.
"Gitu dong!" Bara mengusap kepala Nana. "Senyumnya dikembangin!"
"Aku nikahin kamu, supaya aku bisa lihat senyum itu setiap hari."
"Bukan untuk melihat kegelisahan kamu!"
"Mulai sekarang, jangan sedih-sedih lagi. Jangan mikir yang aneh-aneh lagi."
"Kesempatan untuk punya anak masih terbuka lebar."
"Aku akan terus berusaha menjadikan salah satu kecebong dalam diriku menjadi janin dalam rahim kamu!" Bara tertawa sambil tangannya mengelus perut Nana.
Nana ikut tertawa. "Aku cuma takut, karena ada empat pasangan orang tua yang menanti kabar baik dari kita sayang!"
"Ssst!" Bara meminta Nana berhenti bicara.
"Semua itu jangan dijadikan beban sayang!"
"Kita happy jalani pernikahan ini aja, udah buat aku bersyukur."
"Mereka pasti bahagia lihat kita akur dan rukun."
"Soal anak, papa Hadi masih punya Syakiel yang belum terlalu besar."
"Papa Wawan juga punya anak dari mama baruku."
"Mama Tamara, bisalah dia sesekali ke Singapura jenguk anaknya kak Tamara."
"Mama Salma, kan ada anaknya Kak Evan!"
Nana mengerti, ia mulai membuang beban itu jauh-jauh.
Bara benar, inti dari pernikahan adalah membuat dua orang bersama dan menemukan kebahagiaan.
Bara membawa Nana ke salah satu pusat perbelanjaan. Mereka turun tanpa Nana banyak bertanya.
"Kita belanja barang elektronik ya sayang!" Nana mengerutkan kening melihat Bara yang membawanya masuk ke sebuah toko yang menjual peralatan elektronik.
Bara memilih beberapa peralatsn elektronik yang dapat meringankan pekerjaan rumah. Ia tidak ingin Nana kelelahan karena membersihkan rumah secara manual.
"Vacum cleaner!"
"Vacum cleaner untuk kasur sama sofa."
"Alat pembersih lantai elektrik."
"Setrika uap!"
"Teko listrik."
"Juicer!"
"Ada yang mau kamu tambahin lagi sayang?" Tanya Bara pada Nana setelah ia mengabsen barang-barang yang sudah antri di kasir dan akan segera ia bayar.
Nana menggeleng lemah. Sedari tadi ia melarang Bara membeli barang-barang yang tak terlalu penting itu.
Tapi apa daya, dia tak bisa membujuk suaminya. Malah, Nana merasa malu karena pramuniaga tersenyum lucu saat Bara berulang kali mengatakan, "kamu gak boleh capek-capek sayang!"
Oh God! Kalimat itu rasanya sangat terdengar ambigu jika diucapkan oleh pasangan muda seperti mereka.
Sepanjang perdebatan, yang ada hanya pipinya yang memerah, karena malu atas perhatian kecil yang sesekali Bara ucapkan.
"Juicer ini berguna sayang! Kamu harus rajin minum jus selain makan makanan bergizi lainnya."
"Alat pembersih lantai ini cukup membantu, Na. Kita kan lagi program baby. Aku gak mau kamu capek-capek peras kain pel sebelum berangkat kerja."
Entah apa saja alasan yang Bara berikan. Nana terpaksa mengalah, karena memang keduanya akan tetap pada keputusan mereka, yaitu tidak ingin memakai jasa asisten rumah tangga.
"Bara, kita mau kemana lagi, sayang! Uang kamu udah abis disana tadi loh!" Tunjuk Nana pada toko elektronik yang baru saja mereka tinggalkan.
"Kita ke supermarket dulu. Kita stok buah-buahan di kulkas."
"Kita stok banyak bahan pangan yang bergizi."
"Stop junkfood dan makanan instan lainnya."
"Oh ya... kita beli sayuran juga ya Na..."
Nana seperti seorang anak kecil yang diatur oleh orang tuanya. Nana mengikuti langkah kaki suaminya yang sudah mendorong troli belanjaan.
"Nyonya Bara dong yang pilih!" Bara terkekeh karena ia hanya diam setelah sampai di rak sayuran.
Ia tidak tahu sayuran jenis apa yang Nana suka dan yang berkualitas bagus yang seperti apa.
Nana tertawa. "Gaya banget, jalan paling depan. Pas giliran harus milih, malah mundur!" Nana mencebikkan bibirnya.
Nana memilih beberapa jenis sayuran.
"Kamu suka sup, sayang?"
"Suka," jawab Bara.
Nana mengambil wortel, brokoli, kol buncis dan bawang daun.
"Soto?" Tanya Nana tanpa menatap wajah suaminya karena ia terus memilih berbagai jenis sayuran lainnya.
"Suka."
"Capcai?"
"Suka."
"Kalau sambal kering, atau ayam goreng, sambal terasi sama lalapan?"
"Suka..."
Nana seketika menatap Bara dengan kening berkerut. "Perasaan kamu kok suka semuanya, sayang?" Tanya Nana.
Bara menyeringai. "Asal kamu yang masak, aku suka semuanya!"
Nana memutar bola matanya, jengah. "Itu sih dasar kamunya aja yang pemakan segala!" Gumam Nana dan Bara tertawa pelan.
"Jangankan sayuran, kamu aja aku makan!" Bisik Bara dan Nana langsung mencubit perutnya.
"Kamu bikin malu tau! Tuh, dilihatin sama mbak-mbaknya!" Gumam Nana tanpa menggerakkan bibirnya.
Nana malah tersenyum lebar dan mengangguk pada pramuniaga yang berdiri tak jauh darinya.
Nana dan Bara beralih ke freezer berisi ikan, ayam dan daging. Nana memilih daging sapi, daging ayam tanpa tulang, dan beberap jenis ikan laut.
Dan Nana terkejut saat ia sedang mengambil daging beku. Ia melihat ada tangan cantik yang mengambil daging yang sama.
"Eh..." ucap Nana refleks.
Nana melihat wajahnya dan ia membelalakkan mata. "Dillara?"
Wanita bernama Dillara itu langsung berbalik dan bersiap melangkah meju meninggalkan Nana dan Bara.
"Dillara, tunggu, Di!" Nana meraih tangan wanita yang dulu pernah hadir diantara dirinya dan Bara.