
"Papa setuju dengan apa yang om Hadi katakan!" Wawan membuat Bara membulatkan matanya.
"Hadi berhak memberikan yang terbaik untuk putrinya, Bar!"
Bara sedang berada di rumah Wawan untuk membicarakan apa yamg terjadi kemarin malam di rumah calon mertuanya dimana mereka sempat membahas mengenai pesta pernikahan.
Dan tanpa Bara duga papanya malah mendukung calon mertuanya itu. Padahal papanya tahu bahwa uang yang Bara miliki dari 10 persen saham pabrik dan uang tabungannya sudah cukup untuk menanggung pesta pernikahan mereka.
"Tapi semua itu tanggung jawab Bara, Pa."
Wawan tertawa. Ia bisa melihat Nara begitu tidak ingin dipandang rendah seolah ia memanfaatkan calon mertuanya yang kaya itu.
"Jangan egois!" Mata Bara kembali membulat karena papanya mengatakan bahwa dirinya egois.
"Beri kesempatan bagi seorang ayah untuk melepaskan putrinya dengan memberikan kenangan yang terbaik, Bar!"
"Kamu belum apa-apa sudah mengusai putrinya." Ada tawa kecil diujung kalimat Wawan.
"Belum apa-apa sudah tidak ingin Hadi ada diantara kalian." Wawan tersenyum menepuk bahu Bara.
"Papa pernah ada di posisi Hadi. Melepas Samara bukan hal mudah, Bar! Meski hidup kita dulu tidak harmonis, tapi seorang ayah tetaplah seorang ayah dan seorang anak akan tetap menjadi harta paling berharga."
"Samara putri pertama papa. Malaikat kecil yang pertama kali hadir antara papa dan mama."
"Sejak tangis pertamanya, janji papa mengalir begitu saja. Papa berjanji akan membahagiakannya bahkan hingga kelak papa mengantarkannya hingga ke gerbang pernikahan."
"Meski papa bisa dikatakan gagal sebagai seorang ayah, karena keputusan Samara untuk menikah, sedikit banyak karena ia tidak betah hidup ditengah keluarga yang tidak harmonis, tapi papa tetap berusaha memberikan yang terbaik."
"Pesta pernikahan hingga sejumlah uang yang papa berikan hingga akhirnya mereka gunakan untuk membuka usaha."
"Dan sekarang, tidak ada penyesalan dalam hidup papa. Papa sudah memberikan yang terbaik dan terbukti Samara hidup mapan sekarang."
"Dia punya banyak cabang usaha," lanjut Wawan.
"Papa tidak lagi pernah mengirimkannya uang untuk membantu masalah ekonomi keluarganya. Papa tidak lagi ikut campur karena papa sudah serahkan dia pada suaminya."
"Papa biarkan mereka hidup berlayar di lautan dengan biduk pernikahan mereka sendiri."
"Jika papa ikut campur, papa khawatir biduk itu akan kehilangan keseimbangan dan karam di tengah laut."
"Papa harap, kamu mengerti, Bar! Meskipun nasehat ini keluar dari mulut pria yang pernah gagal dalam pernikahannya." Wawan mentertawakan dirinya sendiri.
"Hadi pasti sudah berjanji akan memberikan yang terbaik untuk putrinya." Wawan mengelus bahu Bara.
"Tidakkah kamu berfikir, dia yang membiayai Nana selama 23 tahun, dan setelah wanita itu sukses dan mandiri, Nana harus mengabdi padamu?"
Kalimat itu benar-benar seperti tamparan bagi Bara. 23 tahun Nana bersama orang tuanya, dibiayai, dibesarkan dan disayangi meski dengan keadaan terpisah.
Dan ia yang baru beberapa tahun mengenal Nana, akan memiliki gadis itu seutuhnya. Lalu bagaimana bisa ia begitu tega tidak memberikan kesempatan sekali seumur hidup ini pada Hadi?
"Tidakkah kamu mengerti akan hal itu, Bar?"
"Biarkan Hadi membantu, biarkan Hadi ikut serta dalam memilih konsep pernikahan kalian."
"Simpan sebagian uang yang kamu punya. Setelah menikah, gunakan uang itu untuk memberi kehidupan yang layak untuk Nana."
"Berikan dia rumah, nafkah, perhatian, kasih sayang dan cinta sebesar atau bahkan lebih besar dari yang seorang ayah berikan untuk Nana."
Bara menghela nafas. "Pa, Om Hadi juga salah faham tentang larangan Bara untuk mereka tidak perlu repot-repot ikut mengurus perusahaan..."
"Kamu salah, Bar! Ini momen yang orang tua tunggu. Melepas anaknya untuk menikah."
"Biarkan Hadi ikut serta. Kamu melarangnya, sama saja kamu melukai hatinya."
"Diskusikan dengan baik mengenai konsep dan semua hal mengenai pernikahan kalian."
"Hadi pasti tahu batasannya."
"Ia tahu, harus mengurus sampai batas mana."
Bara mengangguk ia tidak banyak bicara. Ia hanya ingin jadi pendengar yang baik.
"Papa juga akan bantu biaya pernikahan ini!"
"Jangan menolak!" Wawan mengacungkan telunjuknya sebagai peringatan.
"Papa akan bicarakan ini dengan Hadi. Kamu berikan mas kawin, dan seserahan yang terbaik untuk istri kamu."
"Papa rasa kamu harus beli rumah!"
Bara terdiam. Ia sempat memikirkan hal itu, tapi belum pernah membahasnya dengan Nana.
"Kenapa diam? Belum kamu fikirkan?"
"Sudah, pa. Tapi sepertinya, kami akan tinggal di apartemen dulu sambil menabung."
"Terserah kamu. Tapi papa rasa Hadi akan bangga jika kamu bisa memberikan tempat tinggal yang nyaman untuk putrinya."
***
Makan malam keluarga.
Diskusi yang Bara lakukan pada Wawan ternyata berhasil membuka fikirannya. Ia mulai bisa berfikir jernih dan menimbang banyak hal.
Memang benar, saat tubuh lelah, otak manusia tidak bisa bekerja dengan baik.
Nana melingkarkan tangan di pinggang Bara saat pria itu baru datang dan masuk ke rumahnya. Mereka ada di barisan paling belakang setelah keluarga Wawan dan Tamara.
"Happy banget?" tanya Bara karena Nana tak berhenti tersenyum.
Mereka sudah membahas mengenai pernikahan dan keduanya sudah sepakat akan memilih konsep yang seperti apa.
Mereka saling tukar pendapat dan tidak ada perdebatan alot diantara keduanya.
Bara benar-benar berniat membahagiakan gadisnya. Ia menyerahkan pilihan pada Nana dan ia hanya memberi pendapat sedikit jika kira-kira tidak terlalu pas di hatinya.
"Aku happy, karena sekarang kamu lebih bisa mendengarkan orang lain."
"Dan ini!" Nana menunjuk dada Bara. "Hati ini, sudah tidak sekeras dulu."
"Aku bahagia, kamu bisa belajar dari pengalaman."
"Semua ini karena kamu, Na!" Bara mengusap kepala Nana.
"Aku gak mau kamu pergi lagi. Aku gak mau kamu terluka karena aku."
"Aku harus bisa menyelesaikan masalah secepat mungkin, sebelum gadis yang ku cintai ini kehilangan kesabarannya dan pergi."
Nana tertawa. Mereka tiba di ruang makan dan langsung menikmati makan malam bersama.
Selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga. Mereka melihat di laptop Nana beberapa akun media sosial sebuah W.O dan melihat beberapa konsep pernikahan.
"Nana pengen yang seperti ini." tunjuk Nana pada satu gambar.
"Dan Nana rencananya akan menggunakan cukup dua baju. Satu kebaya untuk akad dan satu gaun untuk resepsi."
"Akadnya sederhana saja ya, Na. Kita undang keluarga inti saja," ucap Hadi.
"Nana sama Bara juga sudah setuju untuk hal itu, Pa." Bara mengangguk.
"Ya, Om. Karena kami ingin acara berlangsung khidmat. Tidak terlalu ramai dan meminimalisir kebisingan," sambung Bara.
"Papa setuju, Bar! Kamu juga akan lebih berkonsentrasi saat ijab kabul nanti," sambung Wawan.
"Kalau kita undang sekitar 100 orang saja, bagaimana Wan?" tanya Hadi. "Ya, lima puluh-lima puluh lah."
"Kamu undang lima puluh orang, aku juga akan mengundang lima puluh orang."
Wawan mengangguk. "Boleh, Di. Nanti akan ku kabari lagi kira-kira berapa orang yang akan ku undang."
Perbincangan terus berlanjut, tidak ada perdebatan. Saling memberikan pendapat juga iya. Tapi keputusan tetap ada ditangan Nana dan Bara.
****