
Acara pertunangan itu berjalan lancar. Semua tamu yang hadir dipersilahkan menikmati hidangan yang sudah disediakan.
Tak banyak yang diundang, tapi Dimas, Salsa, Calvin, Zahra, Putra dan Sherly sudah pasti hadir dalam moment penting ini.
"Vin, seriusan sedikit bisa gak?" marah Zahra karena gadis itu sudah bergaya habis-habisan di depan kamera ponsel yang Calvin pegang. Tapi Calvin malah melakukan live di akun media sosial gadis itu.
"Guys, yang punya akun marah... hahahah... padahal jarang-jarang kan orang femes kek gue numpang live di akun dia," ucap Calvin pada layar ponsel milik Zahra. Followers gadis itu memang tak sebanyak Calvin, tapi cukup menimbulkan pertanyaan tentang hubungan keduanya selain persahabatan.
"Calvin! Please, stop!" pinta Zahra karena pria itu tidak berhenti.
Calvin malah tertawa dan menunjukkan suasana di rumah ini. Zahra memberengut kesal dan beberapa saat kemudian Calvin menyerahkan ponselnya.
"Dih, cemberut aja neng!" Calvin mencolek dagu Zahra dan tangannya langsung di pukul. "Udah gue fotoin. Lihat aja kalau gak percaya!" Calvin menunjuk ponsel di tangan Zahra.
Zahra melihat galeri ponselnya. Benar saja. Ada beberapa foto dirinya yang baru Calvin ambil, tapi sayang semua foto itu menampilkan wajahnya yang sedang cemberut.
"Calvin!" Zahra kesal, ia memukul bahu Calvin berkali-kali. "Gue jelek begini, ngapain lo foto, sableng!"
"Hahaha... itu foto paling jujur, Ra. Ngapain marah sama gue. Ekspresi lo kan emang begitu, tadi."
"Salah lo sendiri! Yang penting gue udah fotoin," lanjut Calvin.
"Berantem mulu, entar suka baru tau rasa!" sambar Nana sambil terkekeh. Ia dan Bara mendekat ke kumpulan sahabat-sahabatnya.
"Ih... amit-amit..." Zahra memandang Calvin jij*ik.
"Ih, ogah gue!" Calvin menatap gadis itu dengan ekspresi yang sama.
"Jodoh emang! Kompak gitu," ucap Bara.
Sherly dan putra serta Dimas dan Salsa tertawa melihat dua manusia bak tom dan jerry itu saling memanyunkan bibir.
"Congrats, bro!" Putra dan Bara bersalama. Dimas juga melakukan hal yang sama.
"Thanks Bro!"
"Ayo foto dulu!" ajak Nana pada sahabat-sahabatnya.
Fotografer sudah standbye dan mengikuti kemanapun Nana dan Bara berjalan menyapa teman-temannya. Karena pasti ia akan dibutuhkan untuk mengabadikan moment itu.
Mereka berpose di depan kamera. Dengan jarinya, si fotografer memberi kode 1, 2 dan 3.
"Ganti gaya dong!" usul Calvin. Mereka berganti gaya, entah sudah berapa bidikan yang sudah fotografer itu lakukan.
"Terakhir, Bar! Fotoin kita!" Calvin tanpa dosa memberikan ponselnya pada Bara dan mereka berpose sambil memeluk Nana.
Bara menggaruk keningnya, karena dia malah menjadi fotografer dan memfoto calon istrinya bersama sahabat-sahabatnya.
"Jongkok, Bar! Angle gue bagus kalau lo jongkok!" Pinta Calvin mengerjai Bara. Yang lainnya sudah menahan senyum karena ulah Calvin.
Biar begitupun, Bara menuruti perintah Calvin. Tapi ia punya cara untuk membalas kelakuan pria itu.
"Lo dari sini juga kelihatan jelek, Vin!"
"Ah, masa'? Biasanya gue ganteng loh!" balas Calvin percaya diri. Ia sudah hampir maju ke depan dan melihat hasilnya.
"Udah, lo disitu aja. Gue bisa atur!" Larang Bara agar Calvin tidak melihat ponselnya.
Sebenarnya Bara sedang live di sosial media pria itu. Rasain lo tukang live. Gue kerjain!
"Yakin lo, Bar! Lo kan tukang servis mobil. Bukan tukang foto!" Keluh Calvin.
"Mas! Lihatin dia! Ajarin kalo perlu!" perintah Calvin pada fotografer yang sudah menahan tawa melihat kejahilan Bara.
"Gak percaya banget, Vin! Udah kan mas! Bagus kan ini?" tanya Bara dan fotografer itu mengacungkan jempol sambil tersenyum lebar.
"Vin! Cepetan! Kita udah pegel nih!" protes Dimas karena pria itu masih terus bersiap merapikan baju dan memilih pose yang menurutnya paling keren.
"Satu, dua, tiga!" hitung Bara. "Oke!" Padahal tidak ada foto yang diambil.
"Satu lagi deh, biar lo puas, Vin!" saran Bara.
"Muka jelek kek!" saran Bara dan herannya 7 orang di depannya itu menuruti perintah Bara.
"Satu, dua, tiga. Oke!"
Bara berdiri dan memberikan ponselnya pada Calvin. "Thanks, Bro!"
"Makasihnya nanti aja, kalo followers lo udah nambah 10 k," ucap Bara menggandeng lengan Nana.
"Kita kesana, sayang! Sapa anak bengkel dulu!" ajak Bara.
Calvin memeriksa ponselnya dan .... "Nji****r lo Bar!" maki Calvin dan Bara terkekeh sambil berjalan menjauh.
"Kenapa tuh mulut gak bisa sopan dikit sih, Vin! Bikin malu aja!" omel Zahra.
"Disini tuh tamu penting semua! Tapi lo malah bicara gak sopan gitu."
"Husss! jauh-jauh sana!" Zahra mengusir Calvin dengan mengibaskan tangannya. "Entar image kita juga jadi jelek gara-gara lo!"
Calvin terkekeh. "Gue bakalan menjauh dan lo bakalan sendiri." Calvin menjulurkan lidahnya.
"Daaaah Zahra... Gue mau caper-caper dulu sama teman kantor Nana...." Calvin melambaikan tangan dan menjauh.
Pria itu tertawa lepas karena meninggalkan Zahra sendiri. Gadis itu tidak tahu kalau Dimas dan Putra serta pasangan mereka sudah berjalan ke tempat lain untuk mencari spot foto yang bagus.
"Sher..." Zahra melihat sekeliling dan tidak menemukan dua pasangan itu disekitarnya. Suara musik yang tidak ada hentinya, membuat Zahra tidak menyadari kepergian mereka.
"Eh, gil*a! Gue ditinggalin!"
"Vin! Calvin!" panggil Zahra. "Tungguin gue ogeb!" Panggilnya lagi dan ia berjalan cepat menyusul Calvin.
***
Acaranya sudah selesai dan hampir semua tamu sudah pulang. Hanya tersisa keluarga inti Bara yang masih berbincang. Mereka juga sudah menetukan pernikahan akan diadakan 6 bulan lagi mengingat persiapan yang dilakukan harus benar-benar matang.
Orang tua mereka berdua harus mencari tempat luas dan nyaman untuk tamu undangan yang di prediksi akan berjumlah lebih dari seribu lima ratus orang itu.
Wawan dan Hadi sepakat mengundang semua bawahan mereka, kerabat, dan karyawan serta langganan bengkel Bara juga masuk dalam daftar.
Pesta itu direncanakan akan di laksanakan dengan meriah dan mewah mengingat Nana adalah putri tunggal bagi Hadi dan mama Salma.
"Balik dulu, Na, Bar!" Pamit Sherly dan Putra.
"Thanks ya, udah pada dateng!" Nana memeluk Sherly. "Jaga kesehatan, Sher! Semoga calon babynya sehat terus ya..." Nana mengelus perut rata Sherly karena kandungannya masih sekitar 8 mingguan.
"Thank you onty!" Sherly tertawa menirukan suara anak kecil. "Cepat buatkan teman buatku yaaaa."
"Ontynya married dulu ya sayang!" Balas Nana membuat Bara dan Putra tertawa.
"Calon, ayah!" Bara meninju lengan Putra. "Jurus seribu bayangan lumayan juga!" ejeknya.
"Hahaha..." Putra tertawa. "Usahanya juga tiap malem, Bar!"
"Kalo sekali-sekali doang, mah. Gak bakalan secepat ini!"
"Iya deh yang udah berlebel halal!" Bara tertawa. "Siang malem gempur terus!"
"Sekarang gak lagi, gue libur nih!" balas Putra.
Nana dan Sherly tertawa. "Kenapa gitu?" tanya Bara heran.
"Kamu ih! Nanya terus! Kepo banget!" ucap Nana sambil mencubit pinggang Bara.
"Ya kan gak papa sayang. Sekalian aku belajar!"
"Masih rentan, Bar! Bahaya buat calon babynya." Sherly menjawab dengan lembut.
Bara masih bingung. Sampai keduanya meninggalkan rumah itu, Bara masih belum faham mengapa bisa membahayakan calon babynya.
"Na, bahaya kenapa? Apa benih itu mengandung racun dan takut ke minum sama babynya?" bisik Bara saat mereka sedang berjalan menuju ke dalam rumah untuk bergabung dengan yang lain.
Nana terbahak. "Astaga! Kamu dari tadi masih mikirin itu?"
Bara mengangguk lemah. "Entar malem. Kamu searching aja di goo**gle. Ada kok jawabannya!"
Nana enggan menjelaskan karena momennya sedang tidak pas.