
Malam ini, Bara pulang ke rumah melewati pukul sepuluh malam. Hal yang biasa ia lakukan sejak beberapa hari terakhir.
"Plak! Plak! Plak!" Suara tamparan keras bertubi-tubi Bara dengar dari arah kamar orang tuanya.
"Stop menuduhku!"
"Kamu juga kemana saja, Tamara! Kamu juga baru pulang, kan?" Teriakan Wawan membuat Bara semakin mendekat.
"Hei! Kamu juga sama, Mas. Jangan menudingku seolah-olah kamu orang paling suci!"
"Aku muak!" Pekik Wawan kuat.
"Aku lebih muak melihat suami yang tidak jujur!"
"Lalu kamu apa, Tamara!"
"Membiarkan dirimu di jamah lelaki lain yang tak lain adalah atasanmu sendiri? Itu apa namanya Tamara?"
Bara muak dengan pertengkaran yang tidak ada ujungnya ini. Ia memegang handle pintu dan membukanya.
Ia bisa melihat mama dan papanya berdiri saling berhadapan dengan tatapan tajam penuh kilatan kemarahan.
"Aku juga muak dengan pertengkaran kalian!"
"Bara!" Keduanya menatap kearah pintu dimana Bara yang pulang dengan keadaan kacau membuat mereka saling tatap.
Rambut Bara berantakan. Ia hanya memakai kaos putih dan jaket yang di sampirkan di bahunya.
"Dari mana saja kamu?" Wawan mendekat.
"Heeeh?" Tanya Bara dengan senyum sinis. "Dari sekolah, ke bengkel dan pulang ke rumah."
"Jelas tempat dan tujuannya."
"Sekarang ku tanya sama kalian?"
"Kalian dari mana?"
"Menghilang selama tiga hari."
"Masih ingat kalau punya anak?" tanya Bara memancing kemarahan Wawan.
Tangannya terangkat keatas dan siap menampar Bara. "Kurang ajar!"
"Cukup, Mas! Jangan pernah melampiaskan amarahmu pada Bara." Tamara mencekal tangan Wawan.
Wawan menghempaskan tangannya. Bara sakit melihat itu. Ia benci papanya berbuat kasar pada mamanya dan ia tidak suka mamanya yang selalu melawan papanya.
Tamara memegang pipi Bara. "Bara, kalau sulit bertahan di rumah ini, kamu mau kan ikut kakakmu-Samara?"
Bara menatap orang tuanya bergantian. Ia tidak menyangka akan ide mamanya yang seperti bersiap membuangnya.
Samara, kakak perempuannya yang tinggal ikut suaminya di negara tetangga. Samara memilih menikah muda karena muak dengan pertengkaran orang tuanya. Ia memilih pergi jauh dari pada hidup senang tapi tidak tenang.
Buat apa fasilitas lengkap dan kantong terjamin jika pelukan hangat seorang ibu begitu mahal harganya di rumah ini.
Kadang harus mengorbankan kesehatan hanya demi disebuah pelukan. Kadang harus mengorbankan surat panggilan dari sekolah hanya untuk diperhatikan.
"Lihatlah! Sekarang bahkan kalian ingin membuangku?"
"Aku akan pergi tanpa kalian pinta!"
Bara keluar dari kamar itu. Ia masuk ke dala. kamarnya. Ia mencoba menenangkan dirinya.
"Haruskah gue pergi dari rumah ini?"
****
Esok paginya, jam pelajaran olahraga.
"Pak Jamil tidak datang."
"Tapi karena ini jadwal kita ke lapangan, maka kalian bebas ke lapangan." Ucap Putra disambut sorakan kebahagiaan dari murid-murid.
"Tapi ingat! Jangan ke kantin hanya untuk duduk-duduk."
"Jangan keluar kelas cuma untuk mampir ke kelas lain yang gurunya tidak hadir."
Semua murid sudah faham peraturannya. Jika guru olahraga tidak hadir, mereka tetap bisa ke lapangan dengan syarat harus tertib.
Nana baru saja masuk ke kelas setelah kembali dari toilet untuk berganti pakaian olahraga. Sebagian temannya sudah keluar dan sebagian masih di dalam.
Nana menyimpan seragamnya di laci meja. Ia bisa melihat pakaian olahraga Bara masih tersimpan di lacinya tapi ia tidak melihat lelaki itu.
Nan keluar kelas dan tidak melihat Bara di lapangan basket atau futsal. Nana terus berjalan mencari Bara.
"Put, lihat Bara gak?" Putra mengangkat bahu. "Di kelas?"
"Gak ada."
Nana terus mengedarkan pandangan. Ia berselisih jalan dengan Dimas. "Dim, lo lihat Bara gak?"
Dimas diam sejenak. "Coba ke tangga sana Na."
"Gue lihat tadi dia naik kesana."
Nana mengikuti arah yang Dimas tunjuk. Ia menaiki setiap anak tangga dan membawanya ke lantai dua. Sepanjang koridor, tidak ada murid yang diluar, karena jam pelajaran sedang berlangsung.
Nana naik ke atas, ya rooftop. Nana sampai di ujung anak tangga terakhir dan ia bisa melihat Bara berdiri menghadap area belakang sekolah.
Nana menghembuskan nafas lega. Ia berdiri di samping Bara. Lelaki itu menyadari kehadirannya dan meliriknya sekilas.
Nana ikut memandang ke depan. Sebuah area yang menyajikan pemandangan taman hijau dengan sebuah danau di tengah-tengahnya.
"Ini tempat persembunyian lo kalau bolos dari jam olahraga?" tanya Nana tanpa menoleh.
Bara menatap gadis disebelahnya. "Heeh?" ia tertawa sinis. "Gue gak pernah sembunyi?"
"Ini apa namanya?" tanya Nana.
Bara diam saja. Nana bisa melihat ada raut kesedihan, kebingungan dan putus asa di wajah Bara.
"Bukan urusan lo," jawab Bara ketus.
"Oke sih kalau gak mau cerita." Nana berbalik, ia menyandarkan punggungnya di tembok pematas setingi 1,2 meter itu.
"Itu hak lo."
"Tapi percaya atau gak. Kadang dengan menceritakan masalah kita ke orang yang tepat itu bisa membuat perasaan kita lega."
"Kadang berdamai dengan keadaan juga bisa bikin masalah kita itu jadi gak berarti apa-apa."
"Kita kayak, jadi lebih santai menghadapinya." Nana menatap Bara sekilas.
"Ngomong doang mudah!" jawab Bara sinis.
Oke. Kepancing kan lo?
"Ya emang. Ngomong doang mudah. Lo tinggal ngomong sama siapapun yang lo percaya, maka semudah itu perasan lo akan lega."
"Gak percaya?"
"Cerita ke gue!"
Hah! Modus gue basi.
Bara tersenyum sinis. "Lo gak akan ngerti."
"Oke, gue memang gak bakal ngerti karena lo belum cerita."
"Tapi gue akan cerita sedikit tetang kehidupan berat gue yang lo sendiri mungkin bakal nangis ngehadapinya."
Nana kembali berbalik dan menatap pemandangan taman.
"Lo tau? Saat usia gue 12 tahun, gue harus ikhlas orang tua gue berpisah."
Bara langsung menatap Nana. Gadis itu bisa melihat dari ekor matanya kalau Bara tengah memandanginya.
"Bukan mereka yang ingin, tapi gue yang minta."
Bara semakin tercengang. "Dulu beberapa kali gue lihat papa sama mama bertengkar."
"Masalahnya sama, mereka menyebut masalah tentang anak, anak dan anak."
"Gue gak faham saat itu. Gue gak ngerti, mereka nyebut-nyebut anak dan gue mikirnya itu tentang gue dong." Nana menunjuk dirinya sendiri.
"Masalah gue hampir mirip." Nana terkejut dengan kalimat Bara.
Mananya yang mirip Bara? Soal anak atau... oh God, pertengkaran!
"Lanjut!"
Sialan, dia fikir gue lagi baca dongeng?
"Gue coba bicara sama mama. Karena gue ngerasa mama yang paling sedih saat terjadi pertengkaran itu."
"Akhirnya mama cerita ke gue. Mama bilang, Na, kamu gak akan ngerti sayang. Ini urusan orang dewasa."
"Cerita ke Nana, Ma. Gue bilang begitu ke mama. Gue paksa mama untuk jujur. Akhirnya mama mengatakan garis besarnya."
"Mama bilang, Papa ingin kasih adik buat kamu. Tapi mama gak bisa kasih sayang. Karena itu papa marah."
"Dan mama mulai cerita bahwa mama gak akan bisa kasih aku adik."
"Dulu mama gak cerita kalau ada salah satu penyebab rahim mama harus diangkat."
"Dan sekarang, gue udah fahamlah duduk masalahnya."
"Terus, di umur 12 tahun itu gue putuskan untuk biarkan papa pilih kebahagiaannya dan mama pilih kebahagiaan mama."
"Papa bahagia jika ia punya anak lagi. Apalagi laki-laki."
"Dan mama bahagia saat ia tidak harus dituntut berlebihan oleh papa."
"Keduanya pisah dan gue ikut mama."
"Gue waktu itu merasa marah sama papa. Dia ingin anak sementara ada gue disisinya. Gue ngerasa kayak gak dianggap."
"Tapi, setahun terakhir gue faham. Papa butuh anak laki-laki sebagai pewaris."
"Dari kecil papa sayang dan manjain gue."
"Dan dia gak mau besar nanti gue harus pusing dan bersaing di dunia bisnis."
"Papa cuma mau lindungi gue dari kerasnya dunia bisnis yang kadang suka menghalalkan segala cara."
"Dan papa beranggapan, lelaki lebih kuat dan tahan banting dalam menjalani perusahaan."
"Dan gue sih setuju soal itu."
"Akhirnya gue damai sama keadaan, gue nerima papa dan mama baru gue."
"Gue nerima mama dan suami barunya dengan senang hati."
"Dari mereka gue punya saudara. Anak sambung mama seorang kakak laki-laki bagi gue. Dan Syakiel adik gue sendiri."
"Gue dan mereka bahagia."
"Mereka menemukan kebahagiaan mereka masing-masing."
"Tapi lo korban." Potong Bara.
"Awalnya iya. Tapi lama lama gue merasa sebagai pahlawan dalam keluarga gue sendiri."
"Gue seperti ibu peri yang bisa memperbaiki keadaan meski tidak instan."
"Ya, sekarang gue faham bahwa sebuah ikatan bukan menjadi jaminan kebahagiaan itu akan datang."
"Tapi kadang kebahagaian justru datang saat manusia saling melepaskan."