
Sudah tiga hari, Bara sama sekali tidak menunjukkan gesture tertarik terhadap Nana.
Ia tetap cuek dan bicara secukupnya saja. Bahkan game yang mengharuskan mereka berpelukan sepertinya tidak berpengaruh apapun bagi pemuda itu.
Padahal Nana mati-matian berusaha untuk menahan debaran jantung setiap kali ia mencium aroma parfumnya.
Jam pulang sekolah tiba, Nana segera berlari menuju parkiran. Sejak kemarin ia membawa mobil sendiri karena akan sangat merepotkan jika terus diantar jemput oleh mamanya.
Nana punya ide paling brilian. Ide yang tiba-tiba muncul saat jam pelajaran terakhir karena otaknya terus berusaha menemukan cara untuk bisa dekat dengan Bara, teman sebangkunya.
Dengan gunting kuku, Nana memotong satu kabel di mobilnya yang sama sekali tidak ia ketahui fungsinya untuk apa.
Nana mencoba menghidupkan mesin mobilnya.
"Yes! Mogok!" ucapnya senang. "Gak sia-sia mutusin kabel. Hihihihi."
Ia keluar dari mobil dan mencari Bara di parkiran. Matanya memindai segala penjuru.
"Itu dia," gumamnya saat melihat Bara berjalan bersama Putra dan Sherly.
Nana berjalan mendekat. Bertepatan saat Sherly dan Putra masuk ke mobil dan segera melesat meninggalkan parkiran.
"Bara!" Nana menahan tangannya.
Bara melihat tangan Nana yang menyentuh tangannya.
"Eh, sorry." Nana segera tersadar kalau dia terlalu agresif.
Huh! Oke Na, pelan-pelan. Jangan gegabah. Tugu perbatasan ini sulit ditebak.
"Ada apa?" tanya Bara dingin.
Huuh! Cool! Hihihihi
"I... itu. Mobil gue mogok. Gak mau nyala."
"Bawa ke bengkel lah!"
"Issh! Terus aku pulangnya gimana, Baraaa!" ucap Nana pura-pura kesal.
Acting yang bagus, Na.
"Taxi ada, ojol ada."
"Isssh! Lihat dulu, siapa tahu bisa nyala kalau kamu benerin!" Nana berdiri di belakang Bara dan mendorong tubuh kekar itu.
Uh! Punggungnya keras! Gimana lagi dadanya? Papaaaaa! Nana mau diaaa!
Mau tak mau Bara berjalan di depan Nana. "Mana mobilnya?"
"Disana."
Nana dan Bara saat ini sudah berada di depan mobil yang katanya mogok itu.
"Coba starter."
Nana masuk ke dalam mobil dan mencoba menyalakannya lagi. Huuh! Jangan nyala ya... please!
"Tuh kan, gak bisa?"
Nana kembali berdiri di samping Bara yang tengah membuka kap mobilnya. Sebuah pemandangan yang Nana tidak sia-siakan.
Ini baru cowok. Mainnya mobil, bukan cewek. Hihihihi.
"Belum seminggu loh ini diservis!" ucap Bara heran karena belum seminggu mobil ini di servis tapi sudah mogok lagi.
Mobil ini juga bukan mobil keluaran lama. Mesinnya dan semua spare partnya juga masih bagus.
"Ya mana gue tau, kan lo yang servis."
Bara memeriksan satu persatu bagian mesin mobil yang mungkin saja menjadi penyebab mobil tidak bisa menyala. Dan keningnya berkerut saat melihat kabel yang sepertinya sengaja di putus.
Bara melirik Nana yang melipat tangannya di dada. Gadis itu juga menggigit bibir bawahnya seperti sedang khawatir.
"Ini harus dibawa ke bengkel." Kalimat yang membuat hati Nana riang gembira.
"Loh? Gak bisa dibenerin disini?" tanya Nana pura-pura kaget.
Acting aja terus, Na.
"Bisa. Orang bengkel akan ke sini. Aku gak bawa perlengkapannya." Bara kembali menutup kap mobil.
"Jadi, gimana aku pulangnya?" gumam Nana.
Ia menendang ban mobilnya. "Lo sih, pake acara mogok segala! Gimana gue pulangnya nih!"
"Telpon mama!" Nana melirik Bara yang masih berdiri di tempatnya dan bersandar di kap depan mobilnya.
Ia mencari nomor siapapun yang kira-kira sudah tidak aktif lagi. Nomor lama mama!
Mendial nomor itu dan meletakkan ponselnya ditelinga. "Gak aktif." Nana menunjukkan ekspresi gusar.
"Papa." Nana menempelkan ponselnya ditelinga. Padahal ia tidak menghubungi siapapun. Ini hanya akal-akalannya untuk mengelabui Bara.
"Gak diangkat. Papa pasti lagi meeting."
Nana menatap Bara sekilas. "Terima kasih, kayaknya gue harus duluan!" Nana berjalan mendahului Bara.
Ayo dong! Stop gue kek! Apa kek! Tawarin pulang bareng kek! Ah... Bara mah gak peka!
"Lo pulang naik apa?"
Ah, ini yang gue tunggu.
"Cari taxi."
"Pesen online?"
Nana menggeleng. "Gak pernah pakai taxi online. Aplikasinya juga gak punya."
"Ayo ikut!"
"Ikut?" Nana mencoba menahan diri agar ekspresinya tidak berlebihan.
Bara berjalan lebih dulu. Nana mengekor di belakangnya. Mereka sampai di sebuah mobil berwarna putih. Bara membuka ointu mobil. "Masuk!" titahnya tanpa ekspresi.
Nana menurut, ia masuk dan duduk di samping kursi kemudi. Bara juga segera masuk dan melajukan mobilnya ke luar sekolah.
Mereka berhenti di depan gerbang sekolah. "Kunci mobil!" Bara mengengadahka tangannya ke Nana.
"Haa!"
"Kunci mobil."
"Buat apa?"
"Orang bengkel nanti gimana benerinnya kalau kuncinya lo bawa."
Nana menyerahkan kunci mobilnya dan Bara langsung turun dan memberikan kunci mobil itu pada satpam yang berjaga.
"Titip ya pak. Nanti orang dari bengkel D'Service datang. Mobilnya mogok di dalam."
"Siap, Dek."
Bara kembali melajukan mobilnya. "Lo buru-buru?"
"Eng... enggak."
Gue gak pengen buru-buru keluar dari mobil lo. Melihat lo dari dekat seharian juga gue betah.
"Gue harus ke bengkel sebentar. Lo ikut gak apa-apa?"
Haaah! Jangankan bengkel, KUA juga siap.
"Enggak apa-apa."
Bara melihat spion tengah, ia mengusak rambutnya sendiri dengan tangannya. Dan membuat rambut yang tadinya rapi kini tampak sedikit berantakan.
Dan itu berhasil membuatnya semakin terlihat keren. Nana hanya bisa melihat dan mengagumi ciptaan Tuhan yang menurutnya lebih indah dari pada pelangi.
"Biasa aja lihatnya. Lo udah pernah lihat gue yang begini." Kalimat menohok yang membuat Nana tersadar dari lamunannya.
"Ini juga udah biasa banget!" ucapnya sok cuek sambil terus menatap ke depan. Nana bertanya tanya dalam hatinya.
Kenapa Bara seolah menciptakan dua visual yang berbeda? Di sekolah ia terlihat biasa saja. Dan di luar sekolah ia tampak berbeda hanya dengan mengubah style rambutnya.
"Mikir apa?" tanya Bara tiba-tiba.
"Eh, anu! Enggak ada."
"Lo ngelamun terus!"
"Enggak!" bantah Nana cepat.
"Kelihatan banget."
"Apanya?"
"Ngelamunnya."
"Dibilang juga enggak!" Balas Nana jutek.
Sejenak, keduanya saling diam.
"Kenapa nolak?" tanya Bara.
"Nolak apa?"
"Tawaran Bella."
Dia banyak omong juga ternyata, ya walaupun singkat-singkat.
"Oh, itu. Gak tertarik aja."
"Pasti ada alasannya."
Keduanya mulai terbiasa untuk saling berbicara.
Nana mengangkat bahunya acuh. "Gak ada. Penawarannya sama sekali ya... itu gak membuat gue tertarik sedikitpun."
"Sedikitpun?"
Nana mengangguk.
"Jadi yang bisa buat lo tertarik apa?"
Lo. Ingin rasanya Nana menjawab seperti itu. Namun sayang, otaknya masih waras.
"Masuk Universitas negeri misalnya, bisa deh gue pertimbangin."
"Atau kuliah di luar negeri, free!"
"Langsung gue deal in saat itu juga."
Bara menyeringai. "Otak bisnis!"
"Harus dong! Realistis aja kali." Nana tertawa kecil.
"Ibarat kata nih, ya. Bella tuh kayak mau kasih gue sandal, padahal gue butuhnya topi."
"Buat apa lo terima sandal kalo lo butuhnya topi."
"Mending sandalnya dikasih ke yang lebih membutuhkan, kan?"
Bara mengangguk pelan. "Bener juga sih."
***
Terima kasih yang sudah bersedia mampir.
Boleh dong bagi jempolnya 😚