
Bertukar nomor ponsel tak lantas membuat Nana dan Bara menjadi dekat. Nana yang enggan bersikap SKSD, dan Bara yang memang sangat tertutup membuat komunikaai mereka tidak sesuai harapan Nana saat ia memberikan nomor ponselnya kemarin.
Dan satu hal yang Nana mulai pahami adalah ternyata Bara tidak terlalu suka membagikan story di akun WAnya.
Bahkan Bara hanya mengirimkan foto bill kepada Nana tanpa memberikan nomor rekening. Memang, tagihan yang harus Nana bayar hanya puluhan ribu saja.
Bara hanya mengirimkan kata- kata ini dibawah foto itu.
Cuma segitu, bayar cash aja.
Nana mengartikan, Bara tidak ingin terlibat percakapan terlalu jauh. Bara tidak ingin ada balasan-balasan lagi setelah ini. Karena jika dia tidak minta cash, maka pesan ini akan berlanjut dengan Nana menanyakan nomor rekening dan bla-bla-bla.
Nana rasanya ingin menyerah mengejar pria itu. Tapi saat di sekolah dan melihat Bara, semangatnya kembali berkobar. Terlebih Bara yang tidak terlihat cari-cari perhatian pada murid lain membuat Nana merasa kesempatan itu masih ada.
Bara selalu ada di kelas saat mereka membuka bekal pada jam istirahat pertama. Bara bahkan sesekali membawa roti atau makanan lain yang ia beli di minimarket sebelum berangkat ke sekolah. Demi menambah jumlah makanan yang bisa mereka makan.
Siang ini, jam istrirahat kedua.
"Nih...!" Nana meletakkan satu lembar uang bernominal lima puluh ribu rupiah. Ia baru ingat harus membayar tagihan untuk memperbaiki mobilnya yang rusak.
Bara sedang duduk sambil menulis catatan dipapan tulis. Bara hanya melirik gadis disampingnya sekilas. Pelajaran telah selesai tapi ia belum selesai mencatatnya. Tidak terlalu banyak, hanya tinggal sedikit lagi.
"Bara!" Nana memanggil Bara geram karena lelaki itu sama sekali tidak menggubrisnya.
"Lain kali aja, gue belum butuh!" ucap Bara datar.
"Haaa!" Nana melongo mendengarnya. "Maksud lo?"
"Gue belum butuh, entar kalau gue butuh, gue minta," jawab Bara lagi. Kali ini ia menatap wajah Nana membuat gadis itu berdebar hebat.
Tatapannya aja berhasil buat gue deg-degan.
"Sini, buat gue aja, Na." Zahra mengambil uang itu dari tangan Nana setelah membalikkan tubuhnya menghadap belakang.
"Bara banyak duitnya, Na. Dia mana mau duit segitu." Sherly ikut berbalik. Gadis itu tertawa pelan.
"Mending buat traktir kita nge-bakso di depan, Na."
"Issh! itu mah maunya lo, Ra." Sherly mencubit paha Zahra dari luar roknya.
"Aduhh Sher, sakit tau!" Zahra bersungut kesal. Nana malah tertawa melihat Zarha yang mengaduh kesakitan.
"Balikin! Bokap lo tajir, masih juga doyan yang gratisan!" perintah Sherly dan Zahra langsung mengembalikan uang itu pada Nana.
"Haii Bara!" suara seorang gadis membuat Nana, Zahra, Sherly dan Bara menatap kearah gadis itu.
Nana bertanya tanya tentang siapa gadis yang berdiri di dekatnya itu. Bara langsung menunduk untuk kembali menulis, sementara Zahra dan Sherly memasang ekspresi muak.
"Lo, bisa pindah tempat duduk sebentar gak?" pinta gadis itu pada Nana.
Nana terpaksa segera berdiri, dan pindah ke bangku di depan Sherly, dimana pemiliknya tengah keluar kelas. Otomatis Zahra dan Sherly kembali membalikkan badan menatap ke depan. Nana berbalik, hingga ia dan Sherly saling berhadapan tapi mata Nana tertuju pada dua manusia berbeda jenis dimeja paling belakang.
"Fans beratnya Bara. Namanya Diandra. Anak kelas IPS 2. Gak ditanggepin tapi masih aja nguber!" Zahra memanyunkan bibirnya merasa tak suka pada gadis bernama Diandra itu.
"Ada orangnya! Kedengeran baru tahu rasa," geram Sherly melirik Zahra tajam.
Nana bisa melihat, gadis itu cantik. Dia punya kulit putih dan rambut sedikit kecoklatan. Dari wajahnya ia tampak seperti campuran lokal dan manca negara.
"Gue mau kasih ini!" Diandra meletakkan paperbag kecil diatas meja tepatnya di depan Bara yang masih terus menulis.
Ketiga orang di depan saling diam. Bukan tidak ingin bicara, tapi tanpa sadar ketiganya kompak menajamkan pendengaran. Mencoba menguping pembicaraan mereka.
Karena tidak di respon, Diandra semakin mendekatkan kursinya dengan kursi Bara. Membuat hampir tidak ada jarak diantara keduanya.
Bara tak bergerak sedikitpun. Ia tetap menulis.
"Nulis apa?" tanya Diandra sambil mencondongkan tubuhnya kearah Bara membuat dadanya menempel di sikut Bara.
Nana mendelik tak percaya atas apa yang di lihatnya. Seorang siswi melakukan hal serendah itu. Tidak menjaga harga dirinya sama sekali. Bahkan tubuh Diandra semakin menekan tangan Bara.
"Menjauh, Di!" geram Bara membuat Nana sedikit lega. Ternyata Bara tidak menikmati benda kenyal yang menempel di tangannya.
"Gak tanya!" cibir Zahra dengan suara pelan tanpa menoleh kebelakang.
Zahra semakin memasang ekspresi muak. Begitu juga dengan Sherly yang memutar bola matanya keatas.
Bara berdiri dari kursinya dan maju ke depan kursi Sherly sambil membawa buku dan pulpennya.
"Geser, Na!" perintah Bara pada Nana.
Nana langsung bergeser kesebelah, tepatnya di kursi dekat dinding dan kini ia berada di depan Zahra.
Diandra yang merasa kesal karena diabaikan, maju kedepan dan duduk di depan Bara.
"Bara... Gue masih mau ngomong sama lo!"
"Lo pakai ya parfum dari gue. Gue yakin harumnya cocok sama lo." Diandra berbicara pada Bara dengan nada manja.
"Awas, Di!"
"Lo nutupin tulisan di papan!"
"Tapi gue masih mau disini, Bara!"
"Lo gak lihat? Gue masih nulis."
"Bawa balik parfum lo!"
"Kenapa?"
"Gue lebih suka produk lokal." Jawaban sarkas dari Bara membuat Zahra, Nana dan Sherly mengulum senyum.
Bel masuk berbunyi dan Diandra segera keluar dari ruang kelas itu. Bara dan Nana kembali ke kursi mereka masing masing. Bara menutup bukunya dan menyimpannya di tas.
"Udah selesai? Kalau belum lo bisa bawa buku catatan gue!" tawar Nana yang merasa kasihan pada Bara karena ada gangguan tak terduga saat ia sedang menulis.
"Gak perlu. Gue udah selesai kok."
Astaga! Tugu perbatasan! Lo kaku banget sih!
****
Malam harinya...
Di rumah, Bara merasa kesepian. Dia punya kakak tapi sudah menikah dan tinggal bersama suaminya.
Papanya sedang diluar kota meninjau pabrik. Mamanya juga sedang diluar kota karena urusan kantor. Dua orang tua yang ada tapi tak pernah terlihat.
Hubungan buruk diantara keduanya membuat rumah ini terasa dingin. Entah apa yang membuat rumah tangga mereka maaih berjalan hingga kini. Bara tidak tahu alasannya. Tapi ia masih berharap orang tuanya bisa memperbaiki hubungan mereka.
Bara yang merasa bosan akhirnya memutuskan untuk keluar mencari udara segar.
Ia memacu kuda besinya di jalan raya. Masih jam 8 malam, kota masih sangat ramai.
Puas berputar-putar, Bara membelokkan sepeda motornya di salah satu minimarket yang hampir tersebar di seluruh kota bahkan kota-kota kecil.
Bara mengambil minuman kaleng dari lemari pendingin. Dan saat ia hendak menutup pintunya, sebuah tangan putih mulus terulur mengambil minuman yang sama dengannya.
"Terima kasih," ucap gadis itu ramah.
Bara terbelalak. Ia menatap gadis yang tingginya kalah jauh darinya.
"Nana...."
"Bara..."
****
Makasih yang udah support 😚😚
Selamat membaca dan tinggalkan jejak 😚