
Semenjak mengantar Salsa kala itu, Bara selalu memikirkan apa yang gadis itu katakan yaitu candaan Salsa yang memintanya untuk segera menikahi Nana karena menurutnya, Nana adalah gadis yang terlampau mandiri.
Yang dimaksud Salsa adalah mandiri dari segala hal. Nana selalu berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri, tidak bergantung pada orang lain dan ia terlalu pemberani.
"Gue nikahin aja gimana ya?" gumam Bara yang saat ini sedang menunggu gadis bernama Nana itu bersiap.
"Tapi, gue gak yakin dia mau. Dia kan baru aja masuk ke kantor papanya," gumamnya lagi.
*Ah, gue gak boleh pesimis begini. Gua harus tanya ke Nana dan gak boleh bergelut sama fikiran gue sendiri.
Gue harus berubah. Karena gak semua masalah bisa gue selesaikan sendiri. Dan gak semua keputusan yang gue ambil juga berdampak baik bagi orang lain*.
"Dari tadi, Bar?" tanya Hadi tiba-tiba hingga mengejutkan dirinya.
"Ehm, belum lama Om!" jawabnya. Pria yang ia harap menjadi mertuanya itu duduk di sampingnya. Mereka saat ini sedang duduk di teras rumah.
"Akad nikahnya pagi?" tanya Hadi lagi.
Bara yang tampil dengan kemeja batik dengan dominasi warna dongker dan putih itu mengangguk. "Iya, Om. Dan malam nanti acara resepsinya."
"Kalian malam nanti kembali lagi ke sana?" tanya Hadi lagi.
"Sebenarnya kami tidak akan kembali sampai malam nanti, Om."
"Setelah akad, kami akan tetap berkumpul di rumah Sherly dan sore hari kami akan ke lokasi resepsi, Om."
"Jadi, akad sama resepsinya beda tempat?"
Bara mengangguk. "Resepsinya di sebuah hotel, Om."
Hadi mengangguk mengerti. "Om tahu. Tapi om gak baca undangannya dengan jelas. Hahah." Ia tertawa kecil.
"Om cuma lihat tanggal sama tempat resepsinya." Bara tersenyum menanggapi pria yang tidak membaca semua tulisan di undangan itu.
"Kalau begitu, kalian duluan aja. Om sama tante nanti akan pergi tanpa Nana. Kita ketemu disana aja."
"Iya, Om!"
"Ayo!" Keduanya menatap siapa yang baru saja datang dari arah dalam rumah.
Nana yang tampak cantik dan berbeda dengan setelan kebaya berwarna dongker dan rok senada dengan corak batik milik Bara. Hingga membuat dua pria itu terpesona.
"Bar? Ayo!" ajaknya.
"Ah, ya..." Bara terkesiap.
Nana membawa sebuah koper kecil berisi pakaian yang akan ia pakai malam nanti. Keduanya berpamitan dan segera meninggalkan rumah besar itu karena acara sudah hampir dimulai.
"Kamu cantik." Puji Bara tanpa menatap wajah Nana. Riasan natural dan tidak berlebihan membuat wajah itu terlihat cantik dan awet muda. Nana terlihat seperti gadis belasan tahun.
Nana tertawa pelan. "Jangan puji aku dalam keadaan full make up begini, Bar!"
Bara mengerutkan kening. "Kenapa? Kamu beneran cantik loh, Na."
"Asal kamu tahu, zaman sekarang, kentang dibedakin juga bakalan kelihatan cantik."
Bara tertawa. Ia pernah melihat video itu. Saat sebuah kentang di make up layaknya wajah manusia.
"Tapi kamu kan bukan kentang," jawab Bara cepat. "Kamu itu mawar biru..."
"Haaa?" tanya Nana tak mengerti.
"Iya... Mawar biru, Ai lop yuuuu!" Bara menunjukkan jari telunjuk dan ibu jari yang ia silangkan.
Nana tersipu namun tetap tertawa. "Apaan? Gak nyambung banget!"
Bara tertawa melihat Nana yang malu-malu. "Gak nyambung memang karena nyambungnya langsung sama hatiku, Na."
Nana melengos. Sangat tidak cocok seorang Bara menggombal seperti Calvin.
Bara sadar Nana tak percaya begitu saja. "Itu tulus dari hati, Na."
Nana menahan tawanya. "Tau ah, Bar! Kamu kebanyakan belajar sama Calvin, nih!" tuduh Nana.
"Ih, mana ada?" sangkal Bara dengan wajah jenakanya. "Calvin aja lagi jomblo!"
Nana tertawa. "Dia jomblo, dan itu cuma bertahan 1-3 hari, Bar! Setelahnya, kamu lihat aja, bakalan ada yang baru lagi."
Bara menggeleng pelan. "Salut sama tuh anak."
"Padahal dia gonta-ganti terus loh. Apa gak pengen ya buat nge-recyle mantan-mantannya?"
Nana tertawa. "Emangnya kamu, mantan satu aja langsung di..." Nana menghentikan kalimatnya. Ia takut apa yang akan ia ucapkan ini menyakiti hati Bara.
Bara menatap Nana sekilas. "Kenapa gak dilanjut, Na?"
Nana menggeleng.
"Aku gak apa-apa kok! Justru aku senang, bisa kembali lagi sama kamu."
"Doakan urusanku cepat selesai ya..."
Nana menatap Bara yang sedang mengemudi itu. "Supaya kita bisa segera menyusul Putra dan Sherly."
Nana sedikit terkejut dengan kalimat Bara. "Aku sudah punya niat, Na." Bara meraih tangan Nana dan menggenggamnya.
"Tapi aku harus menyelesaikan satu bengkel lagi yang Insyaallah akan selesai kurang dari sebulan."
"Kamu jangan malu ya, mendampingi pria yang cuma seorang montir ini."
Nana menggeleng pelan. "Aku cuma butuh pria bertanggung jawab, Bar!"
"Mau apapun pekerjaanmu, selagi itu halal dan kamu sepenuh hati bertanggung jawab atas diriku, Insyaallah aku akan merasa bahagia, Bar!"
Bagi Nana, makna bertanggung jawab itu sangat luas. Mulai dari kebutuhan pokok, kasih sayang, cinta, perhatian hingga membuat pasangannya bahagia. Pria yang bertanggung jawab tidak akan membuat pasangannya kesusahan, dan pasti akan melakukan yang terbaik demi kebahagiaan wanita tersebut.
Bara mengangguk pasti. "Tegur aku jika aku salah, Na."
"Aku ingin menjadi pria yang pantas kamu banggakan, Na." Bara mengecup jemari tangan Nana membuat gadis itu merasa bak tersengat listrik.
***
"Sah...!" Seru para saksi dan kalimat Alhamdulillah langsung menggema di ruang tamu rumah Sherly.
Ruangan yang sudah di dekor dengan dominasi warna putih dan sedikit perpaduan warna dongker itu seketika berubah haru saat doa dilantunkan dan kata amin menjadi penutupnya.
Nana melihat gadis yang menjadi sahabatnya sejak SMA itu bersanding dengan pria yang juga merupakan sahabatnya.
Zahra bersandar dibahunya karena tak mampu menahan haru melihat bagaimana kedua pengantin tengah bersimpuh dihadapan orang tua mereka.
"Akankah kelak gue merasakan hal seperti ini, Na?" tanya Zahra padanya.
Nana mengangguk dan mengusap pipi chuby gadis itu. "Kita semua akan merasakan hal yang membahagiakan ini."
"Hanya perlu menunggu jodoh yang entah kapan datangnya," ucap Nana agak berbisik. Meski mereka duduk di belakang barisan keluarga Sherly, tapi mereka tidak ingin mengganggu suasana khidmat ini.
Zahra menarik diri dan menegakkan duduknya. "Masalahnya itu, Na..." rengek Zahra pelan. "Jodoh gue belum kelihatan, Na!"
Nana tertawa pelan. "Jangan ragu sama Allah, Ra."
"Jodoh lo bisa aja ada disini, atau bahkan bisa juga belom lahir."
Zahra memukul pelan bahunya yang berguncang karena ia tertawa tanpa suara. "Amit-amit, Na. Masa iya gue harus nunggu 20 tahun lagi sampe jodoh gue tumbuh gede!"
"Keburu menopouse, Na!" Zahra cemberut.
Nana memeluk gadis itu. "Uuuhh, tayang-tayang..."
"Kak Nana doain ya, semoga jodohnya dede Zahra lekas nongol."
Zahra mengangguk pelan. "Loh sih enak, jodohnya uda di depan mata. Mana ganteng, tajir lagi!"
"Coba lo lihat di depan. Siapa tahu jodoh lo juga ada di depan sana."
Zahra menatap lurus ke depan lalu menggeleng pelan. "Gak mau! Masa iya si Calvin yang ada di depan sana!"
Nana menatap ke depan. Memang benar. Calvin duduk tepat di depan Zahra. Jarak mereka memang jauh, karena Calvin, Bara dan Dimas duduk dibarisan paling belakang keluarga Putra.
"Coba dulu, siapa tahu cocok."
***
Terima kasih karena kalian masih setia baca cerita ini.
Sehat selalu guys 😊😚😚