Selena's First Love

Selena's First Love
Bab 39 Cemburu Lagi



Sore ini, Bara sengaja datang ke rumah Nana untuk membicarakan masalah yang belum selesai. Ia sudah memikirkan matang-matang mengenai keputusannya.


Malam nanti, sesuai rencana Nana akan berangkat menuju Bali. Bara tidak ingin Nana pergi dengan membawa masalah yang masih menggantung dan perasaan kesal terhadapnya.


Tapi saat di gerbang komplek, Bara melihat Nana sedang berboncengan menggunakan motor matic dengan pria yang memakai helm dan masker.


Bara menebak-nebak, siapa pria itu. Terlihat tinggi dan tubuhnya sedikit berisi. Sudah pasti bukan Dimas atau Calvin. Bara mengikuti mereka dari belakang dan sepeda motor itu masuk ke kawasan pusat perbelanjaan terdekat.


Bara benar-benar mengikuti Nana sampai ke dalam Mall. Ia menemukan mereka mampir ke salah satu toko sepatu bermerek.


Nana mencoba satu sepatu berwarna putih dan pria itu duduk di depannya. Pria itu tampak memilihkan satu sepatu yang sepertinya limited edition.


Nana terlihat senang dan tertawa bersama pria itu. Tidak ada raut kesedihan sedikitpun di wajahnya.


Semudah itu dia akrab dengan orang lain. Tapi siapa pria itu? Aku tidak pernah melihatnya dan dia jelas bukan seusiaku.


Sialnya pria itu tampak dewasa dan tampan. Gayanya keren dan sepertinya juga bukan orang biasa.


***


"Hahahah..." Nana tertawa sambil menutup mulutnya saat pria dihadapannya memilihkan sepatu limited edition sambil berkata. "Semoga yang mahal ini gak muat di kaki kamu!"


"Aku tahu maksudnya, Kak." Nana pura-pura kesal.


"Takut sebulan gaji kakak habis karena ini, kan?" Nana menatap pria di depannya yang sedang tertawa juga.


Dialah Evan, putra sambung mama Salma yang tak lain adalah kakak tirinya. Seorang pria berusia 25 tahunan yang bekerja di perusahaan swasta di Bali. Keduanya pernah bertemu saat pernikahan orang tua mereka beberapa bulan lalu.


Mama Salma yang mendengar kabar bahwa Nana akan berlibur ke Bali selama beberapa hari langsung menghubungi Evan yang kebetulan sedang berkunjung ke Jakarta untuk urusan pekerjaan.


Ia meminta agar keduanya pergi bersama menuju Bali mengingat ini kali pertama Nana pergi sendirian.


Evan memberi hadiah sepasang sepatu untuk adik tirinya itu. Ia sengaja menganggap Nana sebagai teman agar tidak ada kecanggungan diantara keduanya.


"Gak juga sih, karena Mama akan menanggung setengahnya." Evan menahan tawanya.


"Oh God! Pantes aja!" ucap Nana sinis. "Kirain full dibayarin, Kak!"


"Tapi lumayan juga loh ini, meskipun cuma bayar setengahnya!" Nana berdiri dan berjalan beberapa langkah untuk memastikan sepatu itu nyaman digunakan.


"Kalau begitu, boleh dong ambil dua!" Nana menyengir menunjukkan dua jarinya. "Satu dari kakak, satu dari mama!"


Evan menggeleng pelan. "Pinter banget!" Lalu ia tertawa. "Kesempatan dalam kesempitan, uh?"


"Hahahah... harus dong!" jawabnya bangga.


Mereka keluar dari toko sepatu dan berbelok lagi ke salah satu restoran mewah.


"Tau aja kalau aku suka makan!" Nana tertawa kecil. "Jangan marah kalau ku habiskan uang kakak, ya?" tanyanya.


Evan lagi-lagi tertawa. "Isi perut kamu sampai penuh, Na. Kakak akan bayar semuanya!"


"Gak pake uang mama kan?"


"Enggak dong!" Jawab Evan. Ia sungguh menikmati bagaimana rasanya punya adik. Ia tak menyangka akan semenyenangkan ini. Terlebih saat ia dan Syakiel bisa berinteraksi dengan baik.


Evan tumbuh besar hanya bersama papanya. Mamanya sudah tiada sejak ia masih kecil sehingga dunia masa kecilnya tidak seperti anak-anak pada umumnya. Ia jarang keluar rumah dan jarang bermain dengan teman sebayanya.


Bara menghela nafas karena semakin melihat Nana dengan pria itu, dadanya akan semakin terasa sesak.


Bara memutuskan untuk pulang dengan banyak pertanyaan dalam benaknya. Ia mengemudikan mobil menuju bengkel. Bekerja sepertinya akan bisa mengalihkan fikiran buruknya.


Sepanjang perjalanan ia hanya bisa diam dan meredam emosi. Padaha ia ingin mengatakan pada Nana mengenai keputusannya.


Apa ini yang namanya cemburu? Apa seperti ini rasanya gak rela melihat gadis yang kita cintai bersama pria lain.


Mana tuh orang lebih perfect dari gue, lagi! Bara kesal. Ia memukul setir berkali-kali.


Setibanya dibengkel, Bara langsung disambut oleh karyawan-karyawannya.


"Bos!"


"Tumben Bos! Padahal bentar lagi tutup loh!"


"Galau lagi... galau lagi."


Ia sebenarnya merasa lucu karena ada yang bisa menebak mengatakan dirinya tengah dalam keadaan galau.


Bara membuka laporan keuangan dan kembali menutupnya. "Susah banget buat konsentrasi!" keluhnya.


Ia mengambil ponsel dan bermain game. Belum lima menit, ia kembali meletakkan ponselnya.


Huuh! Ia menghembuskan nafas kasar. Dengan rasa penasaran tinggi, Bara membuka mesin pencarian di ponselnya.


"Apa itu cemburu?." gumamnya sambil mengetikkan kalimat tersebut dalam kolom pencarian.


Ia membuka salah satu artikel. Ia membacanya perlahan dan penuh kehati-hatian.


"Cemburu adalah emosi yang kamu rasakan terhadap sesuatu atau seseorang yang kamu miliki dan ingin kamu pertahankan."


"Cemburu tidak beda jauh dengan keposesifan dan ketakutan bahwa yang sesuatu berharga untuk kamu bisa direbut darimu kapan saja."


Bara mulai mencerna apa yang ia baca. Ia mencoba merasakan apa yang ia rasakan.


Ya, gue takut dia direbut pria tadi. Mana gak selevel sama gue lagi! Bikin makin insecure aja!


Lagian itu siapanya Nana sih? Kenapa bisa akrab begitu?


"Ck!" Bara berdecak.


"Dari pada gegana gini, mendingan langsung ajak ketemuan, Bos!" Dadang tiba-tiba masuk dengan membawa secangkir kopi untuknya.


Dadang meletakannya diatas meja. "Biar rileks."


Dadang permisi untuk keluar dan...


"Dang!" panggilnya.


"Ya..." pria itu berbalik dan menatap Bara.


"Kamu punya pacar?" tanyanya membuat Dadang tersenyum malu.


"Belum!" ucapnya berbisik. "Tapi gebetan ada, Mas!"


Bara mengul*um senyum. Rasanya lucu sekali melihat pria dengan wajah menghitam akibat oli dan asap knalpot bersikap manis seperti anak kucing.


"Pernah cemburu dong?" pancing Bara lagi.


Dadang mengangguk. "Rasanya kesel, Mas. Mana saingannya berat!"


"Lebih ganteng dan lebih mapan. Saya sampai maju mundur mau deketin dia."


Bara mengerutkan kening. Lah! Sama kayak gue dong! Tapi, kan gue udah pacaran!


"Terus, mau maju atau mundur!"


"Maju terus pantang mundur, Mas!" Ucap Dadang semangat sambil mengepalkan tangannya. Bara terkekeh.


"Bagus! Berjuanglah!" Bara memberi semangat.


"Jelas, Mas." jawab Dadang mantap. "Janur kuning udah melengkung aja masih ada istilah ku tunggu jandamu!" Dadang tertawa.


"Apa lagi yang belum melengkung! Masih bisalah ditikung. Gak di perempatan, di pertigaan juga gak masalah!"


Bara tertawa bersama Dadang.


"Kenapa? Mas lagi cemburu juga, ya?" tanya Dadang dan Bara terkesiap.


"Perlu saya panggil pakar cinta, Mas?"


"Haaa! Siapa, Dang?" tanyanya kaget. Siapa yang dimaksud pakar cinta oleh Dadang?


"Pak Mandor!"


Dadang dan Bara saling tatap dan keduanya kembali kompak tertawa. "Hahahah...."


"Hahahah! Suami takut istri begitu, Dang! Ah, kamu ada-ada aja! Yang ada sesat semua nasehatnya!"