
"Brak!" Bara membanting pintu mobil papanya saat ia sudah turun. Ia segera masuk ke rumah dan juga dengan membanting pintu dengan keras.
"Bara!" Bentak Wawan pada putranya.
Wawan mengejar Bara ke dalam rumah. Tamara juga ikut di belakang suaminya. Suami rasa orang asing karena hubungan mereka tidak lagi layak disebut sebagai sepasang suami istri.
"Bara!" Panggil Wawan dengan membentak.
Bara yang tengah berada di atas anak tangga berhenti melangkah dan berbalik. Ia menatap papanya yang berada di ujung tanggan. Jarak keduanya hanya beberapa anak tangga. Posisi Bara yang saat ini lebih tinggi membuatnya bisa melihat wajah penuh amarah yang papanya tunjukkan.
Tamara hanya bisa meremas bahu sofa melihat perdebatan yang akan terjadi pada suami dan putranya.
Ia tidak rela Bara dibentak. Baginya, cukup dia yang selalu bertengkar dengan Wawan. Bara tidak perlu merasakan bentakan dan makian itu.
Selama ini Wawan memang keras pada Bara. Tapi Wawan selalu mengarahkan Bara pada hal hal yang kelak berguna untuk dirinya seperti soal pendidikan.
"Kali ini nurut sama papa!"
"Bara selalu nurut sama papa!" ucapnya dingin.
Wawan tersenyum pada putra kebanggaannya itu.
"Tapi enggak untuk masalah tadi, Pa."
Senyum Wawan memudar dalam sekejap. Wajah penuh amarahnya semakin ia tunjukkan. Jika muncul taring dan tanduk, mungkin Bara bisa melihatnya dengan jelas.
"Jangan jadi anak kurang ajar kamu!" Wawan menuding wajah Bara.
"Jangan bikin malu papa! Om Suryo itu sahabat papa! Dia kaya! Dia sebanding dengan kita!"
"Masa depan kamu terjamin. Dillara jelas bibit, bebetnya. Dia cantik. Apa mata kamu tidak bisa melihat itu, Bara?"
"Pokoknya kamu harus mau!"
Bara menyeringai. "Lebih malu mana, Pa?
"Menolak perjodohan atau cerai setelah sebulan menikah?" Bara melipat tangannya di dada. Ia tertawa pelan.
Wawan langsung bingung menjawab pertanyaan putranya. Bercerai setelah menikah pasti membuatnya dan Suryo akan mendapat malu.
"Setelah menikah kalian tidak akan bercerai! Papa dan Om Suryo akan menjamin masa depan kalian."
"Lalu rumah kami akan semenyeramkan rumah ini!" Bara merentangkan tangannya menunjuk rumah luas yang terasa dingin ini.
"Kami akan berstatus suami istri tapi saling mencari kesenangan di luar!" Bara tertawa sinis.
"Waah! Hebat!" Bara bertepuk tangan. "Papa mau buat pernikahan Bara seperti pernikahan mama papa?"
"Bagus!" Bara memegang dagunya sambil menganggukkan kepala.
"Rencana bagus, Pa!"
Ini pertama kalinya Bara bersikap sekurang ajar ini pada orang tuanya karena Wawan sudah melampaui batas. Menjodohkannya dengan perempuan yang asing baginya.
"Papa gak mau tahu, kamu akan tetap di jodohkan dengan Dillara!"
"Mas!" Tamara mencoba menghentikan perdebatan itu.
"Stop!"
"Bara masih SMA, Mas! Masa depannya masih panjang."
"Dia berhak menentukan hidupnya. Dia berhak memilih gadis yang ia cintai!" Tamara dengan penuh keberanian melawan suaminya demi membantah keinginan Wawan tentang perjodohan itu.
"Diam kamu!" Wawan berbalik dan menatap tajam wanita yang menjadi istrinya sejak 23 tahun lalu itu.
"Lihat didikan kamu!" Wawan menunjuk Bara dengan tangan satunya lagi.
"Kamu sibuk kerja. Dan anak kamu gak ke urus!"
"Dimana peran kamu sebagai seorang Ibu?"
"Dia sekarang mulai jadi pembangkang," bentakan Wawan membuat seluruh asisten rumah tangga mengintip dari dapur. Mereka yang sudah beristirahat terpaksa bagun karena pertengkaran itu.
"Kamu!" tunjuk Wawan pada Tamara. "Main terus sama bos kamu yang baj*ngan itu!"
Tudingan paling menyakitkan yang selalu Bara dengar.
"Lalu apa bedanya denganmu?" Tamara menatap mata Wawan tajam.
"Untuk apa keluar kota tiap dua minggu sekali?"
"Tentu untuk meninjau pabrik yang ku dirikan!"
"Cih! Pabrik apa!"
"Pabrik anak?"
"Kamu fikir aku gak tau mas! Kamu punya anak dari wanita lain!"
"Jangan meracuni pikiran Bara agar membenciku!" Wawan menegakkan telunjuknya tanda otu merupakan sebuah peringatan keras.
"Dan kamu!" Wawan kembali menunjuk Bara.
"Kami bertahan demi kamu! Berada disini hanya demi memberimu keluarga!" Pria dewasa itu meluapkan semua isi hatinya.
Wawan seolah ingin menyampaikan bahwa bertahan dalam hubungan ini rasanya sakit, tapi untuk berpisah rasanya sulit. Demi Bara, Ya hanya demi Bara.
Wawan merasa mereka masih punya tanggungan, yaitu Bara. Mereka masih harus menjamin dan memastikan masa depan Bara. Tapi itu hanya teori, nyatanya dalam praktik. Bara sudah tersakiti sejak bertahun lalu.
Bara membuat tembok pembatas antara dirinya dan orang lain. Bara menciptakan karakter lain dari dirinya. Bara membuat orang lain tidak tertarik pada hidupnya.
Untuk apa? Agar orang lain tidak tahu betapa miris hidupnya.
"Papa senang kamu menjalankan bengkel dengan Baik." Suara wawan mulai melembut.
"Papa senang di sekolah prestasi kamu bagus."
"Papa senang selama ini kamu menurut!"
"Tapi kali ini, sekali lagi, Bara!" ucap Wawan penuh penekanan.
"Bersedialah dijodohkan dengan Dillara."
Bara membuang muka. Ia tak sanggup menjawab iya.
"Lulus SMA kalian tunangan! Pernikahan masih bisa di tunda beberapa tahun lagi sampai kalian siap!"
Bara mengehela nafas. "Bara ke kamar dulu, Pa. Bara ngantuk." Bara langsung berjalan masuk ke kamarnya.
Bara menutup pintu dan bersandar di pintu. Dadanya bergemuruh hebat, nafanya terasa memburu.
Ia menghirup oksigen dalam dalam dan berjalan lemas ke ranjang. Ia menghempaskan tubuhnya tanpa membuka sepatu.
***
Sepanjang perjalanan, Nana hanya diam dan diam. Sesekali ia tersenyum hambar pada Syakiel yang duduk di sampingnya.
Ayu merasa sesuatu terjadi pada putrinya. Dan ucapan Nana beberapa hari lalu membuat Ayu mengerti duduk masalahnya. Tapi ia tidak ingin menyimpulkan sendiri sebelum memastikan kebenarannya.
"Calon mantu mama." Kata-kata yang terngiang di telinga Ayu saat ini. Kalimat yang Nana ucapkan saat seseorang mengantarnya waktu itu
*Mungkinkah lelaki itu, Bara? Tapi mobilnya memang sama seperti yang Bara bawa saat mereka mengerjakan tugas kelompok kemarin.
Sayang sekali aku tidak memperhatikan plat mobilnya*.
Sesampainya di rumah, Nana langsung masuk ke kamarnya. Ia menghapus make up dan berganti pakaian.
Nana duduk di depan cermin untuk memakai krim malam di wajahnya. Nana menatap bayangan dirinya di cermin.
*Cinta pertama gue harus pupus sebelum berkembang.
Cinta pertama gue, hanya akan jadi angan-angan.
Apa karena ini Bara bersikap cuek ke semua perempuan?
Apa Dillara yang memang Bara tunggu?
Tapi kenapa ekspresi Bara sangat terkejut, tadi*?
"Aaaaarhhh!" Nana mengacak rambutnya.
"Gue bisa gila kalau begini terus."
"Hiks... hiks... hiks..."
"Padahal Bara udah mulai kelihatan kayak manusia! Dia gak kaku-kaku banget sekarang. Dia udah gak kayak tugu perbatasan lagi." Nana menghentakkan kakinya di bawah meja. Dan rasanya ia ingin meluapkan kekesalannya dengan mencakar meja rias yang terbuat dari kayu ini.
"Setiap hari gue harus lihat Bara yang nyatanya gak akan bisa gue dekap sampai kapanpun."
"Dia milik orang lain."
"Gue harus menjauh!"
"Gue gadis baik-baik yang gak boleh merusak hubungan orang lain."
"Gue gak boleh nyakiti Dillara."
"Gak! Gue gak boleh."
Tapi hati dan lidahnya bertolak belakang. Mulutnya berbicara seperti itu, tapi hatinya tidak rela. Air matanya bahkan tak henti menetes meski ia seka berkali-kali.
***
Selamat membaca dan terima kasih dukungannya 😚