Selena's First Love

Selena's First Love
BAB 22 MELAWAN



Nana mengikuti langkah pria bertubuh besar itu menuju ke sebuah ruangan dengan angka 6 yang tertera di atas pintu.


Itu ruangannya. Batin Nana.


Nana mengintip dari jarak sekitar 10 meter. Setelah pria itu masuk dan tak lama kembali keluar, Nana segera berjalan mendekat.


Ia memegang handle pintu dan...


"Gak dikunci?" gumamnya pelan saat pintu terbuka.


Nana perlahan mengintip dan ia menemukan seorang pria tergeletak di sofa dengan kepala dan tubuh tertutup jaket.


"Bara?"


Nana mendekati pria itu dan terdengar bunyi suara pintu yang terbuka lalu kembali tertutup.


Nana berbalik dan melihat kearah pintu. "Oh my God!" gumamnya pelan dengan wajah terkejut.


Ia melihat seorang pria bertubuh besar yang ia ikuti tadi masuk ke ruangan yang lumayan luas ini. Wajah beringasan dan tawa licik yang pria itu tunjukkan berhasil membuat bulu kuduk Nana berdiri tegak.


"Ada kucing cantik yang nyasar rupanya." Pria itu mendekat ke arah Nana dan berhasil membuatnya ketakutan. Nana terus berjalan mundur hingga tubuhnya membentur sofa.


"Lumayan juga, lagi tiduran, eh... ada yang menawarkan tubuhnya!"


Suara yang lain membuat Nana melihat kesamping. Pria yang tidur di sofa ternyata bukan Bara. Dan pria berkumis tebal itu juga bergerak mendekati Nana.


Sialan! Gue kena jebak.


Calvin! Batinnya lagi.


Dengan ponsel di tangannya Nana segera mencoba menghubungi Calvin.


"Mau apa cantik?" Pria bertubuh besar itu berhasil merebut ponselnya.


"Balikin hp gue!" Bentak Nana. Tapi matanya melihat sekeliling, mencoba memperhatikan sekitar.


"Lo mau ini?" Pria bertubuh besar itu menunjukkan ponsel itu tepat di depan wajah Nana.


Nana berusaha meraihnya namun gagal karena pria itu kembali menjauhkan ponsel ditangan besar itu.


"Hahahaha.... kasih gue satu ronde! Baru gue balikin!"


"Cih!" Nana meludahi lantai tepat di depan kaki pria itu.


"Gak sudi," sambungnya.


"Kurang ajar!" Maki pria bertubuh besar itu.


"Tangkap dia!" Perintahnya pada pria bertubuh kurus dan berkumis tebal itu.


"Baik bos!" Pria itu mendekat dan berusaha menangkap Nana, tapi Nana berhasil menghindar. Ia menendang kaki pria bertubuh kurus itu hingga terjatuh di lantai.


"Sialan!" Pria bertubuh besar itu berusaha menangkap Nana dan tidak berhasil. Nana berusaha lari ke pintu. Namun sayang, pintu itu tidak bisa terbuka.


"Cari ini kucing cantik?" Nana berbalik dan melihat pria bertubuh besar itu mengayunkan kunci ke kanan dan ke kiri.


Gue harus cerdik. Kalau gak, bisa mamp*s gue diterkam sama mereka.


Kedua pria itu mendekat. Posisi membentur tembok sangat tidak menguntungkan bagi Nana. Saat ini dua pria berbeda postur tubuh ada di hadapannya.


"Kalian mau apa?" Bentak Nana.


Kedua pria itu saling tatap lalu tertawa. "Hahahahah..."


"Lo yang menjajakan tubuh lo ke ruangan ini."


"Ayo kita senang-senang!"


"Gak sudi!" Bentak Nana.


"Berani lo ngelawan! Dasar pelac*r!" Pria bertubuh kurus itu menarik rambut Nana kebelakang hingga kepalanya ikut tertarik.


"Lepasin!"


"Hahahah... Lepas sendiri kalau bisa." Rambut Nana semakin tertarik kebelakang.


"Pecundang!" Maki Nana.


"Plaak!" Tamparan keras Nana terima dari pria bertubuh besar itu.


Nana merasakan perih di sudut bibirnya. Tapi ia tidak meneteskan air mata sedikitpun.


"Bawa dia ke sofa."


Pria bertubuh kurus itu menarik rambut Nana menyeretnya kearah sofa. Setelah dekat dengan sofa, tubuh Nana di dorong dengan sangat keras hingga ia terjerembab.


Nana berbalik dan segera berdiri. Namun, tubuhnya kembali didorong hingga ia jatuh terduduk.


"Lo gak akan bisa keluar sebelum melayani kami!"


Nana menatap tajam keduanya. "Berani kalian sentuh gue! Gue pastiin lo berdua bakal menyesal."


Pria bertubuh besar itu melemparkan kunci dan ponsel Nana sembarangan ke salah satu sofa. Pria itu lantas membuka jaket kulit di tubuhnya serta celana jeans yang ia pakai hingga hanya menyisakan boxer dan kaos tipis.


Pria bertubuh kurus itu juga melakukan hal yang sama, membuka pakaian yang melekat di tubuhnya.


Nana melirik ponselnya yang layarnya masih menyala dan berlangsung panggilannya dengan Calvin.


Calvin masih dengerin panggilan gue! Gue harus kasih petunjuk ke Calvin. Batin Nana.


Nana menatap tajam kedua pria yang sudah menunjukkan wajah penuh nafs*. Bagaimana tidak, gaun yang tersingkap ke atas itu membuat paha putihnya sedikit terekspos meskipun Nana memakai inner pants.


"Kalian mau perkosa gue di VIP room nomor 6 ini? Haaa!" Bentak Nana.


"Gue ngikuti lo dari koridor yang dindingnya warna silver itu, lo pikir untuk apa?"


"Gue tau lo ngejebak temen gue dan sekarang lo mau ngejebak gue?"


"Gue cuma berharap satu hal asal lo berdua tau!" Nana menuding dua pria yang kebingungan melihat Nana tak gentar sedikitpun. Gadis itu justru berkata dengan suara keras seolah tengah menantang keduanya.


"Polisi ngegerebek tempat ini. Dan lo berdua, gue pastiin masuk ke penjara!"


"Hahahahah... Lo mau laporin kita atas tuduhan apa?"


"Pemerk*saan?" Keduanya tertawa keras.


"Lo sendiri yang masuk ke sini? Itu artinya lo sendiri menawarkan tubuh lo!" Pria bertubuh besar itu menaikkan satu kakinya ke sofa dan menunduk mendekatkan wajahnya dengan wajah Nana.


Nana menyeringai. Dengan sekali gerakan, ia berhasil menendang alat vital pria itu. "Lo mau main main sama gue?" Nana langsung berdiri dan menendang kaki pria bertubuh kurus yang mulai panik melihat temannya meringkuk di lantai sambil memegangi senjata miliknya.


Nana yang memakai sepatu kets, bisa bergerak bebas dan cepat. Ia juga menendang pria bertubuh kurus itu dan dengan langkah cepat, Nana berhasil meraih kunci serta ponselnya di sofa.


Nana berhasil memutar kunci untuk membuka pintu. Namun sayang, kedua pria itu sudah mendekat dan kembali menarik rambutnya.


"Aaahhh!"


Teriakannya berbarengan dengan pintu disamping tubuhnya yang terdobrak.


"Elaah! Gak dikunci!" Suara paling menyebalkan milik Calvin membuatnya jengah. Karena ia yang sudah berusaha setengah mati membuka kuncinya.


****


Bara masuk ke dalam Club dengan masker yang ia ambil di kantong celananya. Jaketnya ia tinggalkan di dalam mobil. Ia terpaksa kucing-kucingan dengan pria yang mengejarnya tadi.


Bara mencari di sekitar lantai dansa dan tak menemukan Nana. Bara masuk ke dalam ruang VIP dan menabrak tubuh Calvin.


"Bara!" Calvin membulatkan matanya.


"Calvin!" Bara juga terkejut.


"Nana mana?"


"Nana mana?" Tanya keduanya bersamaan.


"Lo gak sama Nana, Vin?" Tanya Bara panik.


"Enggak!" Calvin menggeleng. "Baru 10 menit yang lalu, gue masih chatan sama dia!" Calvin memeriksa ponselnya dan ponsel itu bergetar.


"Nah, ini dia nelpon." Calvin menatap Bara sekilas.


"Angkat, cepat!" Perintah Bara.


"Lo mau ini?" Suara pria yang Calvin dengar.


"Suara cowok Bar!"


Bara membulatkan matanya. "Kesini!" Bara menarik Calvin ke tempat yang tidak di lalui orang-orang, lalu meminta Calvin meloudspeaker panggilan itu.


"Hahahaha.... kasih gue satu ronde! Baru gue balikin!"


"Cih!"


"Gak sudi," .


"Kurang ajar!" Maki pria bertubuh besar itu.


"Tangkap dia!"


"Baik bos!"


"Nana dalam bahaya, Bar!"


"Iya! Tapi dia dimana sekarang!" Geram Bara.


Calvin berusaha mendengarkan apa yang terjadi di tempat itu.


"Jangan matikan dan jangan bicara apapun. Biarakan panggilan ini tetap berlangsung. Sambil kita cari dia."


Bara dan Calvin berputar kesana kesini mencari petunjuk keberadaan Nana. Mereka bahkan menempelkan telinga disetiap pintu untuk mendengarkan aktivitas di dalamnya berharap bisa menemukan Nana.