Selena's First Love

Selena's First Love
BAB 32 DOUBLE DATE



"Nge-date yuk!"


Nana menjauhkan ponsel dari telinganya. Entah mimpi atau tidak. Suara itu yang pertama kali ia dengar saat menjawab telpon dari Bara.


"Nih anak kenapa?"


Nana kembali menempelkan ponselnya ketelinga.


"Gue jemput jam 7. Dandan yang cantik!"


tuut... tuut... tuut...


Nana mengerutkan keningnya. "Tuh anak kenapa sih? Aneh banget."


"Jam ?" Nana menatap jam dinding di kamarnya. "What!"


"Setengah jam lagi!" Nana mendelik tak percaya. Ia segera masuk ke kamar mandi.


Sebenarnya ia sudah mandi. Tapi untuk bertemu dengan Bara yang untuk pertama kalinya mengajak nge-date, ia harus tampil sempurna dan yang terpenting adalah wangi.


"Sia*lan! Kayak diburu set*an!" keluhnya saat baru saja keluar dari kamar mandi.


Ia mengeringkan rambutnya yang sedikit basah akibat mandi dengan terburu-buru.


Ia menatap jam dinding. "Sepuluh menit lagi!"


"Bara! Lo memang bener-bener ya!"


Ia terus mengomel dan menggerutu bahkan saat tangannya dengan cekatan memoles make up tipis di wajahnya.


"Perfect!" ucapnya Pede. "Untung gue cantik dari lahir!"


Ia menatap wajah dan rambutnya yang sudah tertata sempurna.


Suara deru mobil terdengar. Ia mengintip dari jendela kamarnya. "On time banget!" Ia melihat jam menunjukkan pukul 7 tepat.


"Oke saatnya keluar." Ia meraih heels di rak sepatu di kamarnya lalu duduk di sofa dan memakainya.


"Cklek!" Matanya membidik siapapun yang membuka pintu kamarnya.


Ia tersenyum kecil saat melihat Ayu ada disana. "Ada Bara dibawah. Udah janjian ya?"


Nana mengangguk. "Mendadak, Ma. Makanya belum sempat bilang ke mama." Nana berjalan mendekati Ayu. Ia meraih tangan wanita cantik itu dan mengajaknya turun bersama.


"Na..."


"Ya, Ma..."


"Kamu pakai bathrobe!"


Nana menatap pakaiannya. Ia lantas seketika menepuk keningnya.


"Astaga!" Ia mendelik menatap Ayu. "Nana lupa, Ma."


Ayu terkekeh saat Nana buru-buru masuk ke kamar. Ia langsung membongkar isi lemarinya untuk mencari pakaian yang cocok untuk ia kenakan.


"Aduh! Yang mana nih!" Nana tampak panik.


Ayu menarik satu dress berwarna putih polos. "Pakai ini, Na..."


Nana mengerutkan kening. "Putih, Ma?"


"Iya... biar kelihatan simple tapi tetap feminin..."


****


Bara tersenyum kecil saat ekor matanya menangkap bayangan gadis cantik berdress putih yang panjangnya selutut dengan heels hitam yang tidak terlalu tinggi.


Dia benar-benar tampil cantik. Padahal gue cuma becanda tadi.


Hingga di dalam mobil, Bara tak henti melirik gadis cantik yang saat ini masih diam membisu memperhatikan jalanan.


"Marah, ya?"


Nana menatapnya. "Enggak."


"Kelihatan, Na. Lo diem aja. Beda."


"Isss!" Nana menyerang dengan cubitan kecil bertubi-tubi di lengannya. "Lain kali kabari dari siang, atau sore, Bar!"


"Lo tau? setengah jam itu cuma cukup buat gue untuk mandi!"


"Jadi, ini loh gak mandi?" Bara mendekatkan wajahnya. Hidungnya mengendus berkali-kali.


Nana mendorong wajahnya. "Lo nyetir yang bener!"


"Lo wangi." ucapnya pelan.


"Habis parfum berapa botol?" tanyanya lagi.


Nana tertawa pelan. "Gue mandi, Bar!"


"Gue cuma butuh 2 semprotan."


"Tapi beneran. Harum banget." Bara lagi-lagi menghirup udara dalam-dalam.


"Lebih mahal dari parfumnya Dia..." Bara tau dia salah bicara hingga ia tak lagi melanjutkan kalimatnya.


Nana menatap arah luar lalu tertawa kecil. "Dilanjut aja kali..."


Seketika ia ingat pesan Putra yang sudah lebih lama punya pasangan. Hubungan Putra dan Sherly juga berawal dari persahabatan.


Kasalahan fatal lo di depan cewek, yaitu nyebut nama cewek lain.


Dia ngambek kalau lo bilang bau, gendut, atau terlalu kurus.


Dia ngambek kalau lo bandingin dia sama cewek lain.


Dia illfeel kalau lo ngu-pil. Sebagian benci kalau lo nge-rokok. Sebagian cewek benci kalau lo sok kecakepan.


Sebagian cewek juga benci kalau lo romantis berlebihan di depan umum.


Bara menghela nafas berat. Serumit itukah makhluk tuhan bernama cewek? Semoga Nana-nya tidak seperti itu.


Belum lagi si Calvin biang kerok


Rajin gosok gigi. Stok permen biar gak bau mulut.


Pomade standby di kantong. Awas rambut lo! gak boleh lepek. Karena cewek bisa klepek-klepek cuma dengan lihat style rambut lo!


Bibir lo jangan hitam! Kayak perokok berat. Sebagian cewek suka bibir pink kayak Oppa-oppa korea. Kalau lo gak malu pake lip gloss.


Bara bergidik ngeri mengingat pesan Calvin.


Bara membelokkan mobilnya ke salah satu Mall di kota itu. "Kita makan disini, ya.."


Ia menggandeng tangan Nana saat memasuki gedung besar nan dingin itu. Mereka berjalan ke lantai 3. Bara celingukan mencari dua orang yang sudah membuat janji dengannya.


"Cari siapa, Bar?" tanya Nana saat mereka tak kunjung duduk padahal masih ada beberapa tempat kosong di tempat itu.


"Teman. Udah janjian kok disini." Jawab Bara sambil memeriksa ponselnya.


"Itu disana!" tunjuk Nana pada seorang gadis berpakaian lumayan terbuka tengah duduk sendiri dengan makanan yang sudah dihidangkan. Moodnya langsung berubah.


Bara melihat orang yang Nana tunjuk. "Diandra?" gumam Bara pelan.


Dan entah kebetulan atau apa, Diandra menatap kearah mereka. Bara langsung menarik Nana untuk berjongkok.


"Kenapa?" bisik Nana karena mereka tengah bersembunyi dibelakang kursi orang lain.


"Kita pergi dari sini."


Perlahan Bara membawa Nana keluar dari tempat itu. Mereka pindah ke tempat lain.


"Bara!" Putra melambaikan tangan.


"Huuh!" Nana menghembuskan nafas lega. "Kita bareng mereka?"


Bara mengangguk.


"Lama banget?" tanya Putra.


"Sorry, gue baru buka pesan."


"Iya. Sorry juga karena kita pindah kesini. Ada Diandra sama Omnya." Sherly berbisik menyebut kata Om dan jemarinya membuat isyarat tanda kutip.


"Iya. Kita juga lihat." jawab Bara.


"Kita makan, setelah itu terserah cewek-cewek mau kemana."


"Tiket film habis. Jadi jangan harap masuk bioskop." Ucap Putra tegas.


"Gue pengen ke pasar malam yang kita lewati tadi, Na. Kesana yuk?"


Nana tersenyum kecil. Sepertinya pasar malam tak kalah seru dengan arena permainan di mall ini. Dan yang pasti tidak ada Diandra disana.


"Boleh. Gue udah lama gak makan jajanan khas pasar malam."


Putra dan Bara hanya bisa saling tatap melihat dua orang gadis yang malah memilih pacaran di pasar malam dibandingkan di Mall.


Bara dan Nana baru saja masuk kedalam mobil. Keduanya bersiap untuk ke pasar malam. Putra dan Sherly sudah lebih dulu menuju tempat itu karena mereka mengendarai sepeda motor.


Nana dibantu Bara memasang seatbeltnya. Dan pasangan yang tengah di mabuk asmara melewati depan mobil mereka.


Diandra dan pria bertubuh tambun bergandengan mesra. Puluhan paperbag menggantung ditangan keduanya.


Mereka masuk kedalam mobil dan seperti tak sabaran, pria yang berusia diatas 30 tahun itu menyerangnya bertubi-tubi. Menci*um dan menyerang bibirnya.


Nana mendelik tak percaya. Ia bahkan sampai kesulitan menelan ludah. Tubuhnya terasa kaku melihat adengan yang begitu nyata. Bagian dalam mobil yang bisa terlihat dari luar itu membuatnya merinding kala melihat dua orang di dalamnya tengah bertukar ia li... bueehhh... Nana menjulurkan lidahnya merasa jijik.


Bara terkekeh. Ia segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


"Di... dia kayak begitu, Bar?" Bara tersenyum sinis.


"Berarti tuduhan Bella ke dia gak salah dong?"


Bara mengangkat bahu. "Bukan urusan kita, Na."


"Tapi kan dia suka sama lo!"


"Kalau gue gak suka dia bisa apa?"


"Dia gak senekat Dillara kan?" Nana sedikit takut.


"Makanya tetap hati-hati, ya..." Bara mengusap rambut Nana.