
"Ini bekal untuk kamu!" Nana meletakkan tas berisi kotak bekal di atas meja makan tepat di depan Bara yang sudah selesai sarapan.
"Dan ini untukku!" Nana juga meletakkan tas bekal untuknya diatas meja.
Bara tersenyum senang. Ia menarik pinggang Nana dan mendudukkan istrinya itu dipangkuannya.
Bara mencium pelipisnya. "Terima kasih, sayang!"
Nana tersenyum lebar dan mengec*up kening Bara. "Sama-sama."
"Kalau aku sempat, aku akan selalu bawain kamu bekal kok."
"Kalau repot dan capek, jangan dipaksain ya? Aku gak mau kamu sakit, Na!"
Nana mengangguk.
Bara dan Nana berangkat ke kantor bersama. Hari ini keduanya mulai beraktivitas kembali.
Bara dan Nana sesekali bercanda untuk mengatasi kebosanan karena perjalanan yang sesekali mengalami kemacetan.
Sesampainya di perusahaaan, Nana mencium punggung tangan Bara dan dibalas dengan ciuman kecil di keningnya.
"Hati-hati, sayang!" Nana melambaikan tangan pada suaminya.
"Jangan lupa jemput!" Nana tertawa kecil.
"Kamu juga hati-hati, sayang!"
Nana keluar dari mobil dan tetap disana sampai mobil Bara melaju meninggalkan gedung perusahaan.
Sepanjang perjalanan menuju ruang kerjanya, banyak sekali karyawan yang mengucapkan selamat padanya, terlebih mereka yang tidak dapat hadir pada resepsi pernikahannya.
Nana maklum, karena sebagian dari mereka sudah berumah tangga dan pasti sudah punya agenda yang mereka rencanakan jauh-jauh hari.
"Selamat menempuh hidup baru, bu Selena." Siapa lagi kalau bukan Sam. Anak magang yang selalu tersenyum ramah padanya.
"Terima kasih, Sam. Kenapa tidak hadir?" Tanya Selena sambil melepaskan jabatan tangan mereka.
Sam menggaruk tengkuknya. Ia lantas nyengir kuda. "Maaf Bu, saya harus jenguk Ibu di kampung. Dan kebetulan kerabat dekat juga sedang ada hajatan."
"Gaya kamu! Sok orang penting, tau!" Nana terkekeh dan meninggalkan Sam yang salah tingkah karena Nana menepuk bahunya dua kali.
Nana masuk ke ruang kerjanya. Siulan menggoda teman-temannya membuat Nana terbahak. Enam bulan lebih ia bergabung di kantor itu, dan ia sudah sangat akrab dengan mereka.
"Basah gak? Basah gak? Basah laaaah!" Salsa terbahak di kursinya.
"Kering, mbak!" Jawab Nana mengibas rambut yang ia ikat ekor kuda sambil berjalan menuju kursi kerjanya.
"Fresh banget ya Na." Hilda, Seniornya yang berusia kepala 3 itu juga turut menggodanya. "Kena siram terus nih roman-romannya?"
Nana duduk di kursinya. "Hahaha... Kayak gak pernah aja sih, mbak!"
"Nyiram gratis ini!" Nana membuat mereka terbahak.
"Dari sumber mata air yang halal lagi!" Sambung Salsa.
"Masih pagi bahas siram-siram, bini gue lagi merah woi! Tiga hari nih gak nyetor siraman!" Seorang pria muda yang baru 3 bulan menikah itu membuat mereka terbahak.
"Sabarin aja, Jo! Cuma 7 hari dari 30 hari yang ada. Sisanya, siram terus sampai numbuh kecambah!" Sahut Hilda.
"Iya nih, belum numbuh juga kecambahnya, mbak. Bini gue sampe kadang suka negatif thinking." Pria yang mereka panggil Jo itu curhat colongan.
Nana jadi teringat akan ke khawatirannya. Ternyata banyak perempuan yang juga menghawatirkan hal yang sama.
Hilda tertawa. "Baru 3 bulan, Jo. Gue setahun baru berhasil."
"Mbak program gak?"
Hilda menggeleng. "Untung suami gue pengertian, Jo!"
"Dia gak paksa, gak nekan gue soal anak."
"Yang penting, istri lo jadwal bulanannya teratur. Buat dia happy, hindari stress dan jangan capek-capek."
"Entar pasti jadi, Jo."
Nana mendengar dengan baik apa yang Hilda katakan. Ia mendadak merasa sedikit lega. Semuanya cuma masalah waktu.
Jadwal bulanannya teratur. Ia juga jarang mengalami nyeri saat datang bulan. Membuat dirinya mendadak punya semangat baru untuk menanti datangnya calon bayi diperutnya.
"Kenapa, Na?" Tanya Salsa menyentuh sikutnya.
Nana yang terlihat tersenyum tipis mendadak terkesiap dan langsung menatap Salsa.
"Eh, gak kenapa-kenapa, mbak!" Jawab Nana.
"Kamu ngelamun loh, Na?" Bisik Salsa.
Nana tersenyum kecil dan mulai menyalakan komputernya.
"Ih, mulai gil* nih!" Salsa pura-pura bergidik ngerih. "Sedikit-sedikit senyum."
"Ih... beneran! Lo makin aneh, Na!" Salsa mengabaikan Nana yang tertawa.
Nana senang bisa menggoda Salsa. Ia akhirnya bisa membalas gadis yang selalu mengganggunya dengan menceritakan cium*an panas gadis itu dengan Dimas.
***
Bara sudah berada di lobby kantor. Ia duduk menunggu Nana yang belum keluar dari ruangannya padahal jam pulang sudah terlewat 10 menit.
Bara cukup menjadi perhatian banyak orang. Bahkan banyak yang menatapnya penuh tanya.
Memang, status Bara yang notabenenya bukan pemilik perusahaan dan tidak pula bekerja di perusahaan membuat orang-orang sedikit meremehkan Bara. Menjadi menantu keluarga kaya, hanya dengan pekerjaannya sebagai pemilik bengkel mobil.
Bara sadar akan hal itu. Tapi baginya, apa yang ia rintis dari bawah justru lebih membanggakan dan memberikan kepuas*an tersendiri.
Ia bisa saja bekerja di kantor papanya. Tapi ia tidak ingin. Baginya kerja di kantor dengan peraturan dan jam kerja yang tidak bisa sesukanya membuat waktunya untuk keluarga kelak akan sangat sedikit.
Tapi, dengan mengurus bengkel, ia bisa pulang kapanpun ia mau. Ia bisa menjemput Nana dan kelak jika ia punya anak, ia juga bisa punya waktu lebih banyak.
Toh, penghasilannya juga tak kalah dengan mereka yang berjas rapi dan duduk di meja kerja kantor.
"Bar!"
Bara melihat asal suara. Ia langsung menyalami mertuanya itu.
"Nana belum keluar juga?" Tanya Hadi pada Bara.
"Belum, Pa. Pesanku juga belum dibalas."
"Sebentar, ya!" Hadi meminta Bara menunggu.
Hadi berjalan menuju meja resepsionis. Ia meminta seorang wanita yang berada dibalik meja untuk menghubungi menager keuangan dan menanyakan apakah Nana sudah turun.
Hadi, tak lama kembali menemui Bara.
"Nana lembur, Bar! Sabar sebentar ya..." Hadi meminta menunggu. Hadi ikut duduk bersama Bara membuat Bara merasa sedikit tidak enak.
"Pa, kalau mau pulang, gak apa-apa, Pa."
Hadi tertawa. "Terima kasih ya, Bar."
"Nana memang seperti ini. Dia sama sekali tidak mau memanfaatkan posisi papa disini."
"Kalau harus lembur, ya dia lembur. Kalau harus meeting keluar kantor, dia ikut."
"Dia gak mau papa kasih kerjaan dengan jabatan yang lebih pantas, Bar."
Bara tersenyum. Ia tahu, istrinya itu memang seperti yang Hadi ceritakan.
"Bara ngerti, Pa." Ia mengangguk.
"Nana cuma mau profesional aja, Pa. Naik jabatan karena prestasi, bukan karena papa."
"Dia pasti gak mau membuat orang-orang lama yang lebih pantas dan layak, menjadi kehilangan kesempatan untuk bisa ada di posisi yang papa maksud kerena dirinya."
Hadi tersenyum kecil. "Menunggu Syakiel terlalu lama, Bar! Papa sepertinya harus sabar menunggu penerus itu tumbuh dewasa."
Bara tersenyum lebar. Ia senang karena Hadi bahkan tidak memaksa Nana untuk memimpin perusahaan. Ia cukup berterima kasih karena mertuanya itu faham bahwa Nana adalah istrinya sekarang. Nana punya tanggung jawab sebagai istri yang harus punya banyak waktu untuk suami.
"Nanti, papa mau Nana resign kalau seandainya dia sudah hamil, Bar!"
Bara menatap Hadi dan mengangguk senang. Satu lagi pemikiran yang sama antara dirinya dan mertuanya ini.
"Bara juga sempat mikir begitu, Pa. Papa gak keberatan kan?" Tanyanya.
Hadi menggeleng. "Papa justru berharap Nana tidak kelelahan dan bisa istirahat cukup."
"Pa, masih disini?" Suara Nana membuat keduanya menoleh.
Hadi mengangguk. "Ngobrol sebentar sama Bara, Na."
Nana ikut bergabung. "Lama nunggunya, sayang?" Tanyanya pada Bara.
"Belum. Kamu udah selesai lemburnya?"
Nana mengangguk. "Bukan lembur sih, cuma kerjaan nanggung. Jadi aku bilang ke manager kalau mau aku selesaikan hari ini juga."
"Jangan paksa diri kamu, Na. Kalau masih bisa besok, ya kerjakan saja besok," Hadi menasehati putrinya.
"Besok aku udah banyak kerjaan yang menunggu, Pa."
Hadi mengangguk. "Ayo, pulang!" Ajak Hadi pada mereka berdua.
Mereka terpisah mobil.
"Ngobrol apa aja sama papa?" Tanya Nana.
"Gak ada, cuma masalah kerjaan aja."
Nana membulatkan bibirnya mengucapkan kata "Oh."