
Acara liburan di One & Only Reethi Rah Maldives setelah seminggu lamanya, akhirnya berakhir dengan penuh kepuasan. Mereka berlanjut dengan kembali ke Indonesia dengan mengambil penerbangan malam.
Dokter Ucy dan Sekar cukup lelah setelah honeymoon panas di negara kepulauan itu. Mereka terlelap tidur di dalam pesawat. Sementara mereka terlelap tidur, Boy dan Gadis diasuh oleh papa dan grandpanya.
Penerbangan yang mereka lakukan cukup lancar. Hanya saja pak Ansu dan Raja cukup kerepotan mengasuh Boy dan Gadis yang suka berjalan-jalan di dalam pesawat. Tapi hal itu tidak menjadi masalah selama kedua istri mereka bisa beristirahat.
“Raj, kayaknya ayah harus booking salah satu hotel di dekat rumah mamamu. Rasanya kurang etis kalau tiba-tiba mau menginap di tempat orang tua mamamu ini,” ucap pak Ansu dengan mengusap tangan istrinya.
“Hm… yeah. Gimana baiknya aja, Yah. Yang penting orang tua mama bisa menerima dan merestui hubungan ayah dan mama Ucy,” balas Raja.
“Ya harus menerima, dong. Orang anaknya udah ku nikahi di Maldives,” Gawangnya pun udah ku jebol, batin pak Ansu membayangkan aktivitas honeymoon bersama istri mudanya.
“Hm…” Raja tidak mau berdebat panjang lebar dengan ayahnya. Takut mengganggu tidur istri dan mama barunya itu.
“Terus kamu sama Sekar jadi ikut gak pergi ke Batam nengok keluarga mamamu di sana?” tanya pak Ansu.
“Yeah. Why not… Aku sih ok ok aja. Sekar pasti juga mau kalau diajak jalan-jalan ke sana,” jawab Raja.
“Ok, kita ke Batam buat nemuin keluarga mama mu ini di sana,” sambung pak Ansu.
Keduanya berlanjut membahas rencana untuk mendatangi keluarga dokter Ucy di Batam. Pak Ansu cukup antusias dan kuatir untuk menghadapi mertuanya yang baru.
Semoga mereka gak ngamuk kalau anak satu-satunya sudah ku nikahi, pak Ansu terus memikirkan kira-kira reaksi apa yang akan diberikan oleh kedua orang tua dokter Ucy. Rasa optimis dan pesimis pak Ansu sama-sama kuatnya dikarenakan memikirkan masalah usia yang terpaut jauh.
_____
Akhirnya mereka sampai juga di bandara Changi Singapore pada siang hari. Setelah itu mereka berlanjut tebang ke Batam dengan menaiki pesawat yang lebih kecil.
Perasaan pak Ansu menjadi tidak karuan setelah menginjakkan kaki di kota Batam. Padahal ini bukanlah pertama kalinya untuk mengunjungi kota itu. Tentu saja hal ini disebabkan oleh niatnya untuk mengunjungi orang tua istri mudanya itu.
“Mas, kenapa gak langsung nginap di tempat ku aja? Kan kita udah nikah. Kenapa sih harus pakai nginap di hotel segala?” tanya dokter Ucy saat mereka menunggu jemputan mobil di depan bandara Hang Nadim Batam.
“Sayang, masalahnya kita kemarin nikah belum minta restu kedua orang tuamu. Ini aku booking hotel buat Raja sama Sekar biar mereka bisa beristirahat langsung. Kasian kan Boy sama Gadis habis perjalan jauh butuh istirahat. Kalau kita datang secara rombongan ke rumahmu gini kan kurang sopan dan gak nyaman juga,” jelas pak Ansu memberi pengertian.
“Tapi kenapa kamu juga harus booking hotel segala?”
“Hm… Soalnya aku takut orang tuamu syok belum bisa menerima aku. Tapi kamu jangan kuatir soal itu. Aku janji buat ambil hati mereka,” jawab pak Ansu masih saja membuat muka istrinya itu cemberut.
Hm… Gini nih kalau nikah sama anak muda. Kalau udah ngerasain terong aja dia mau terus-terusan nempel, batin pak Ansu memandangi wajah istrinya. Meskipun cemberut, wajah istrinya itu tetap menggemaskan di matanya. Apalagi istri mudanya itu selalu mau berdekatan dengannya. “Ok deh… Gak usah cemberut lagi. Aku langsung datang buat nemuin bapak sama ibu kamu,” akhirnya pak Ansu pun mengalah dari istrinya.
Setelah berunding masalah menginap di depan Bandara, obrolan mereka berlanjut di dalam mobil setelah mobil jemputan menjemput mereka. Raja dan Sekar tetap memilih menginap di hotel terlebih dahulu. Raja berfikir ayahnya itu membutuhkan waktu khusus untuk bersama keluarga mama barunya.
“Wah, akhirnya hampir sampai kita,” ucap dokter Ucy membuat Raja dan Sekar menoleh ke arahnya. “Kalian serius gak mau langsung nginap di tempat mama?” tanya dokter Ucy kepada Raja dan Sekar.
“Nanti ma, kalau ayah sudah nemuin keluarga mama. Semoga semua lancar. Lagian kita juga nginap di dekat rumah mama,” jawab Raja.
“Yeah. Nanti Raja sama Sekar akan nyusul kalau aku udah ngomong sama orang tuamu. Kamu jangan kuatir,” ucap pak Ansu dengan mendaratkan ciuman di kepala istrinya.
Beberapa menit kemudian, mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan rumah dokter Ucy. Pak Ansu dan istrinya segera turun dari mobil.
“Ok Yah, nanti calling kita kalau semua sudah lancar. Good luck!” ucap Raja.
“Bye bye gendpa, oma…” kedua balita kembar ikut melambaikan tangan.
“Sampai jumpa nanti ma, yah…” sambung Sekar.
Kedua pengantin baru itu pun memasuki halaman rumah yang memiliki peliharaan burung Beo. Burung itu sangat aktif menyambut kedatangan dokter Ucy dan pak Ansu.
“Selamat sore… Good evening spadaaa! Skidipapap… Nona Ucy inget rumah! Welcome back welcome beeEKK!” Sapa burung itu dengan bahasa gaulnya. Burung itu melompat kesana-kemari di dalam sangkar melihat pak Ansu. Dia cukup penasaran dengan wajah asing yang belum pernah dia tangkap bermesraan-mesraan saat berjalan dengan nona pemilik rumah.
Astaga… Ini burung udah kena virus bule juga macam Boy sama Gadis. Batin pak Ansu sedikit terhipnotis dengan kata-kata yang diucapkan oleh burung Beo.
“Jeki… apa kabar? Mana bapak sama ibuk?” tanya dokter Ucy kepada si Beo dengan penasaran. Karena biasanya kalau ada orang masuk ke halaman rumah, salah satu dari orang tuanya itu akan cepat-cepat mengecek.
“Bapak lagi tiduran habis kena enjus sama nyonya. Pantatnya sakit. Kebanyakan nonton sinetron sampai malam jadi bikin badan meriang,” jawab burung Jeki dengan menggoyang-goyangkan kepalanya.
“Pergi ke pasar Jodoh hari Sabtu banyak barang Singaporean baru-baru,” ucap Jeki mengingat pesan nyonyanya.
(Note: Nama Pasar Jodoh memang ada di Batam)
“Pasar Jodoh? Pasar apa itu, Cy?” tanya pak Ansu kepada istrinya.
“Itu hlo mas, pasar barang-barang second yang harganya miring banget tapi kualitasnya bagus-bagus. Ada baju, rok, sepatu, tas… Barang-barang monja gitu,” jawab dokter Ucy menjelaskan dengan singkat.
“Ow barang-barang monza… Ku pikir cuma di Medan aja yang ada barang-barng monza. Ternyata di Batam juga ada toh? Jadi keingat sama mamanya El waktu dulu ketemu pertama kali di pasar monza,” pak Ansu sedikit mengingat masa lalunya.
“Ah! Malas ah ngomong sama kamu!” mulai ngambek karena suaminya memikirkan wanita di masa lalunya. Dokter Ucy mendorong tubuh pak Ansu agar menjauhi dirinya.
“Haduh… kamu ni ngambekan terus,” merangkul pinggang istrinya lagi. “Jangan ngambek-ngambek. Sekarang yang penting itu aku udah jadi hak milik kamu,” semakin merapatkan tubuh istrinya itu agar jatah nanti malam tidak berkurang.
“Cicuit… Cicuit… Ada yang jadian,” sambung si Jeki kegirangan di dalam sangkar.
Dokter Ucy sedikit terhibur dengan ucapan Jeki. Keduanya kembali bermesraan lagi dan berlanjut menuju dalam rumah.
Dokter Ucy menyuruh suaminya untuk duduk di ruang tamu. Sementara itu dia lanjut berjalan menuju kamar ayahnya.
TOK TOK TOK…
“Pak…” Beberapa kali dokter Ucy memanggil bapaknya tapi tidak ada sahutan. Dia memutuskan untuk langsung masuk ke kamar karena kamar itu juga tidak di kunci.
Ceklek…
“Hajar… Maju terus maju maju… Pukul…!!! Yeee Hajarrr!!!” Ternyata orang tuanya itu sedang bermain game mobile legend dengan memasang headset di telinga.
“Hm… Pantas aja dipanggil berkali-kali gak denger,” ucap dokter Ucy. Dia berjalan menuju bapaknya itu yang posisi duduknya membelakangi. “Pak…” dokter Ucy menarik headset dari telinga bapaknya.
“Hloh? Cy? Kapan pulang? Kok gak ngasih kabar dulu sama bapak?”
“Sejam yang lalu bapak udah ku kirim pesan. Tapi gak dibalas-balas. Keasyikan main game sih…”
“Heheee. Iya ni habis bapak susah tidur. Padahal tadi ibukmu nyuruh tidur biar bisa istirahat,” mengusap kepala anaknya. Baginya Ucy selalu menjadi anak kecil untuknya.
“Gimana badannya? Udah baikan? Kata Jeki bapak meriang.”
“Halah si Jeki kamu gubris. Bapak gak pa-pa. Cuma meriang dikit. Biasalah itu, kelebihan begadang.”
“Ow… Syukurlah kalau gitu. Em… Pak, ada yang mau ketemu sama bapak di depan,” ucap dokter Ucy dengan senyam-senyum.
“Siapa…?” bertanya dengan penasaran karena wajah anaknya terlihat malu-malu. “Em… bawa calon mantu buat bapak ya…?” menebak dengan muka bahagia.
Dokter Ucy dan bapaknya itu segera menuju ruang tamu. Tenyata di sana sudah terjadi sidang yang digelar oleh ibunya dokter Ucy.
“Jadi ini sertifikat nikah kalian?” tanya ibunya dokter Ucy dengan memegangi kertas sertifikat yang diberikan oleh pak Ansu.
“Pak Bambang, selamat sore…” sapa pak Ansu kepada mertua laki-lakinya yang baru saja muncul.
“Hloh buk? Kapan pulang? Kok cepet banget baliknya?” tanya pak Bambang kepada istrinya.
“Sertifikat apaan itu, buk?” tanya pak Bambang dengan mendekati istrinya. Kedua orang tua dokter Ucy mencermati tulisan di sertifikat. Nama anaknya tertera di sana dengan laki-laki bernama Benedictus Ansuman.
“Pak, buk, maaf kan saya yang sudah lancang menikahi Ucy tanpa meminta izin dahulu. Saya mohon bapak dan ibu mau menerima saya sebagai menantu. Saya dan Ucy saling mencintai,” ucap pak Ansu dengan wajah wibawanya. Tapi tidak dipungkiri rasa nervousnya juga meledak-ledak di dalam dada.
*****
Bersambung…
*****