Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Trauma



Mona tidak menghentikan langkah kakinya mengikuti Raja. Dia ikut masuk ke kamar yang dimasuki Raja. Dia menunggu Raja sampai selesai mandi. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Raja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk yang dikaitkan di pinggangnya.


Tubuh seksi dengan badan atletis itu sangat dirindukan oleh Mona. Dia menghampiri Raja, melepaskan handuk yang terkait di pinggang Raja. Mona yang karakternya agresif mulai menuntun Raja agar terbaring di tempat tidur.


Dia melepaskan bajunya satu persatu dan mulai melampiaskan rasa rindu yang menggelora. Raja hanya pasrah mengikuti kemauan Mona. Mona memaksa Raja melakukan penyatuan untuk menghangatkan sangkar dengan kejantanan Raja. Tapi di menit pertama permainan, Mona tidak merasa Raja merespon. Dia berfikir mungkin saja Raja lelah dari perjalanan bisnis.


Raja tidak merasakan ada gairah untuk bermain dengan Mona. Usahanya untuk mengimbangi permainan Mona, justru semakin menyiksa dirinya karena teringat betapa kejamnya Sekar berpaling memilih laki-laki lain. Bahkan dia sampai hamil saat ini.


Sekar, apa semudah itu kamu berpaling dariku? Apa kamu tidak melihat ketulusanku ingin bersamamu? Kenapa kamu harus mengandung anak laki-laki itu? Batin Raja dalam diam.


“Ouh... Ah… Ah…” Mona mulai mencapai klimaksnya dan menjatuhkan tubuhnya ke dada Raja. “Mas…”


“Kenapa?”


“Kenapa dari tadi bengong…? Mas Raja lagi mikir apa?” tanya Mona sambil memainkan jari-jarinya di dada Raja.


Raja mengangkat dagu Mona untuk melihat mata calon istrinya itu. Tatapan kosong tanpa getaran apapun sedang dirasakan Raja. Rasanya jauh berbeda ketika dia melihat maniak mata Sekar. Bibir Sekar memang tidak seseksi Mona, tapi bibir mungil itu yang dia rindukan saat ini. Tubuh Sekar yang selalu gemetaran saat berhubungan justru menjadi gairah tersendiri bagi Raja. Tidak sama dengan karakter Mona. Jika boleh jujur, milik Sekar jauh lebih hangat ketika dirinya menembus batas nirwana yang pernah berdarah karena ulahnya.


Hatinya menginginkan Sekar. Tapi Sekar sudah berselingkuh dengan laki-laki lain sampai hamil. Apa gunanya dia menginginkan Sekar lagi?


“Apa kamu siap untuk menjadi ibu untuk anak-anakku nanti, Mo?” Pertanyaan itu disambut senyuman oleh Mona.


“Iya… Aku siap.”


_____


Sudah 2 hari lamanya Sekar tidak sadarkan diri. Dia sedang berjuang dengan maut dalam kondisi lemahnya. Puluhan Dokter dikerahkan oleh pak Ansu untuk menangani kondisi Sekar yang terus menurun. Hatinya juga semakin hancur ketikan dirinya mencoba menghubungi Raja tidak dibalas. Hal itu karena Raja mengeblock nomor pak Ansu sejak mamanya meninggal. Setiap pak Ansu berganti nomor untuk menghubungi Raja, anaknya itu akan mengeblock nomornya lagi. Begitu seterusnya tidak pernah ada komunikasi yang baik antara pak Ansu dan Raja.


Pak Ansu semakin geram ketikan dirinya bertanya kepada Ben tentang kesibukan Raja. Anaknya itu sedang sibuk bermain ranjang dengan Mona. Bahkan Raja mengumumkan kalau pernikahannya akan segera dilaksanakan dalam waktu 2 minggu lagi.


Pak Ansu sangat malu kepada dokter Ucy. Dia berjanji untuk menyadarkan Raja dan membuat Raja bertanggung jawab, tapi sekarang Raja justru semakin dekat dengn Mona.


“Ucy…”


“Ya pak? Ada apa?” tanya dokter Ucy sambil mengecek kondisi tubuh Sekar.


“Saya minta maaf. Raja sepertinya sudah dibutakan mata dan hatinya… Dia akan menikahi Mona dalam waktu dekat,” kata pak Ansu dengan suara getir.


Ini bukanlah hal yang mengagetkan bagi dokter Ucy. Dia hanya menanggapi ucapan pak Ansu itu dengan senyuman tipis.


“Pak… Sekar pernah bilang ke saya. Kalau dirinya sudah siap untuk menjadi sosok ayah dan ibu untuk anak kembarnya… Pak Ansu tidak usah kuatir soal itu. Sekar juga pernah bilang kalau dirinya mengiklaskan Raja.” Pak Ansu mulai mengusap air mata yang menggenang di pelupuk matanya. “Kita doa kan saja kesembuhan Sekar dan juga agar janinnya kuat… Saya juga tidak yakin kalau Sekar mau kembali kepada anak bapak lagi… Sepertinya ada banyak hal yang dipendam Sekar. Kasihan sekali anak malang ini…” Dokter Ucy mengusap kepala Sekar.


Akhirnya setelah 3 hari mengalami masa kritis, Sekar mulai membuka matanya. Penglihatannya yang masih sedikit kabur mulai menangkap sosok wajah pak Ansu. Sekar memberi respon yang cukup histeris. Mataya terbelalak penuh ketakutan melihat pak Ansu.


“Mau apa kamu kesini? Ha?! Mau apa?! Jangan ambil bayiku…! Jangan ambil anakku…! Pergi kamu dari sini! Pergi sana…! Dia bukan cucumu! Dia anakkuuuu! Dia hanya milkku!”


HWUS... HWUS…


Pak Ansu sedikit terhuyung mendengar ucapan Sekar yang penuh emosi. Ekspresi yang diberikan Sekar itu ditangkap oleh dokter Ucy.


“Pak, tolong keluar dulu. Saya akan mengecek kondisi tubuh Sekar,” pinta dokter Ucy.


Mau tidak mau pak Ansu harus keluar dari ruang rawat Sekar. Sekar mulai sedikit tenang setelah kepergian pak Ansu.


“Kak, jangan biarkan dia dekat-dekat kita lagi. Aku gak mau berurusan dengan keluarga mereka. Mereka semua kejam.” Sekar meremas-remas tangan dokter Ucy yang memeluknya.


“Tenang Sekar… tenang ya…” Dokter Ucy mengeratkan pelukanya ke Sekar untuk memberi ketenangan. “Aku senang sekali kamu bisa siuman. Kamu harus kontrol emosi mu. Kasihan janin mu… hirup nafas dalam dalam… tarik… hembuskan…” Begitu cara dokter Ucy menenangkan Sekar. “Jangan mikir macam-macam. Kamu harus fokus sama kesehatan kamu demi kandunganmu.”


Akhirnya Sekar mendengar saran dokter Ucy. Dia mengesampingkan seluruh amarahnya untuk menjaga kesehatan janin yang tumbuh di perutnya.


Sementara itu dokter Ucy memberi penjelasan kepada pak Ansu supaya memberi waktu untuk Sekar agar lebih tenang. Karena kehadiran pak Ansu saat ini juga mengganggu emosi Sekar.


Akhirnya pak Ansu memilih untuk kembali ke pulau anaknya. Dia menitipkan Sekar ke dokter Ucy. Tidak lupa juga meminta dokter Ucy untuk selalu memberi informasi mengenai kondisi Sekar.


_____


Sesampainya di pulau Raja, pak Ansu mengemasi barang-barangnya untuk kembali ke rumahnya di Makassar Sulawesi Selatan.


“Ben, bantu saya packing barang-barang saya. Saya gak mau lagi menetap disini. Saya mau balik Makassar.” Ben sebagai asisten pribadinya pak Ansu cukup terkejut dengan permintaan bosnya itu. Selama-lamanya pak Ansu melakukan travelling, dia pasti akan kembali tinggal dekat dengan Raja, meskipun hubungan pak Ansu dan Raja tidaklah baik.


“Pak? Kalau boleh tahu ada masalah apa? Apa sebaiknya tidak tinggal di sini sampai acara pernikahan mas Raja dan Mona selesai dulu?” tanya Ben sambil membuka koper milik bosnya itu.


“Hah?... Saya gak tertarik memiliki menantu seperti Mona yang boros. Mending dia koma saja terus… Habis bangun dari koma masa hampir tiap hari party…? Buka aja kasino sekalian di pulau ini. Meskipun bisnis hura-hura setidaknya ada pendapatan.” Ben menganggukan kepalnya, karena semua yang diucapkan pak Ansu memang benar.


“Betul betul betul... Kalau gitu… saya akan memfollow up pak. Mengusulkan mas Raja agar buka kasino di sini,” kata Ben dengan enteng.


“BUKAN ITU MAKSUD SAYA, BEN!” Ben terkejut mendengar suara pak Ansu yang memekik.


“Saya itu mau Raja menikah dengan Sekar. Bukan Mona! Sekar tidak matre kaya si Mona.”


“Ow… saya juga suka Sekar daripada Mona. Kerjaan saya sudah numpuk. Mona malah bikin repot tiap hari minta dibuatin party. Eh…? Maaf pak jadi curhat. Hihiii. Terus saya gimana, pak? Apa saya juga harus packing ikut bapak ke Makassar…?”


“Gak usah. Kamu tetap disini mematai-matai Raja. Kirim laporan khusus tiap detik apa saja yang dia lakukan. Apapun itu saya mau tahu. Saya akan bawa El ikut bersama saya. Kamu sana bawa 6 koper ini ke dermaga. El sudah nunggu saya disana. Saya mau ketemu Raja sebelum pergi.”


“Siap pak.”


Ben segera membawa koper pak Ansu menuju buggy. Sedangkan selesai packing, pak Ansu pergi keluar villa dan menyalakan buggynya. Dia menuju ruang kerja Raja. Pak Ansu langsung membuka pintu ruangan Raja. Untung saja disana tidak ada Mona. Hanya ada Raja.


 


*****


Bersambung…


*****