Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Pak Ansu



Selesai menelpon ayahnya, Sekar pergi keluar dari villa. Tempat itu benar-benar tenang, jauh dari keramaian kota dan polusi udara.


Anambas… Pulau ini bagai surga di Ujung Barat Indonesia. Sunsetnya sangat cantik di sini. Haruskah aku menulis kisahku di novel? Bagaimana nanti akhirnya? Kisah Kasih sudah tentu bahagia dengan suaminya. Apa aku juga bisa mendapatkan kebahagian seperti Kasih?  Gumam Sekar sambil berjalan menikmati hamparan air pantai yang tenang.


Sekar berjalan menyusuri bibir pantai dengan mengetik di handphonenya. Sesekali dia menyentuh pasir dan air pantai yang jernih itu.


Dari kejauhan, dia melihat seorang laki-laki yang berjalan mendekatinya. Laki-laki itu melambaikan tangan ke Sekar.


“Sekar…!”


“Bang El?” Sekar memandangi El yang terengah-engah.


“Huft… Huft… Hehee. Sudah sampai sini kamu rupanya,” kata El sambil memukul dadanya. “Yuk! Ku ajak kamu jenguk Mona,” kata El meraih tangan Sekar.


Sekar mengikuti langkah kaki El. Sekar hanya terdiam mendengarkan setiap ucapan El. Perasaannya sangat sakit karena hanya nama Mona yang keluar dari mulut El.


El mengajak Sekar memasuki sebuah bangunan yang cukup besar di sana. Tempat itu seperti sebuah rumah sakit elit  dengan beberapa dokter dan suster yang menyambut kedatangan El.


“Selamat sore, bang El. Maaf, anda tidak boleh masuk sekarang. Mas Raja sedang ada di dalam,” kata salah satu dokter jaga.


“Yah, Saya tahu dok. Saya cuma mau melihat Mona dari jendela kaca,” balas El.


Akhirnya dokter itu mengizinkan El dan Sekar untuk menjenguk Mona dari jendela kaca. Dari sana Sekar mengamati Raja yang menggenggam tangan Mona. Rasanya seperti ingin menangis melihat adegan itu. Raja menciumi tangan Mona berkali-kali dan mengusap pipi Mona. Sekar yang tidak biasa menangis mulai meneteskan air matanya. Cepat-cepat Sekar menghapusnya agar tidak ada yang tahu.


Kenapa aku ini? Apa aku sudah gila merasa cemburu dengan Mona? Waktu bang El menceritakan tentang Mona, perasaanku gak sekacau ini? Aku pasti sudah gila kalau sampai menyukai mas Raja! Ini gak boleh terjadi. Sekar berusaha mengontrol rasa cemburunya.


“Bang El… Saya boleh permisi pergi? Saya ada janji sama kak Ben. Nanti lain kali kita jenguk Mona bersama lagi,” kata Sekar dengan menepuk lengan El.


“Mau aku antar?”


“Gak usah bang. Saya bisa jalan sendiri. Lagian kamar saya dekat dari sini,” kata Sekar sambil tersenyum.


Akhirnya Sekar pergi meninggalkan El dengan senyum kepalsuannya itu. Kepalanya seperti dipukul agar tersadar dari mimpi indahnya untuk mendapatkan El ataupun Raja. Sekar merasa sudah melangkah ke jalan yang salah.


Sudah… Sudah cukup sampai disini. Aku gak mau mengusik cinta segi tiga mereka. Aku gak boleh cengeng! Ini bukan diriku! Sekar menghapus air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


Dia berjalan kembali ke kamarnya untuk menenangkan diri. Memutar instrument cello dan menikmati secangkir teh. Kali ini Sekar benar-benar memutuskan untuk tidak ikut campur urusan El dan Raja.


Lebih baik mengakhiri sejak dini. Aku tidak sanggup menulis kisah hidupku kalau akhirnya menyedihkan. Aku hanya mengenal happy ending. Bukan sad ending. Batin Sekar sambil menghirup aroma teh di cangkirnya.


Sekar berusaha menepiskan rasa galau yang menjalar di hatinya. Sore itu dia membuat dirinya sibuk dengan berbagai aktivitas. Mulai dari menata baju di lemari, menelpon teman-temannya sampai akhirnya dia tertidur sambil berendam di bath up.


Sekar mulai terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara bel yang berbunyi.


Ting Tong… Ting Tong…


Sekar segera keluar dari bath up dan memakai baju secepat kilat. Rasanya malas sekali kalau orang yang mencarinya El atau Raja. Sekar mengecek lewat jendela kaca di kamarnya. Ternyata bukan. Orang yang di depan villa adalah Ben.


“Begonya kamu Sekar… Mana mungkin bang El atau mas Raja mencarimu! Otak otak tolong dikondisikan! Jangan ngarep orang yang gak jelas terus!” Bisik Sekar sebelum membuka pintu villanya.


Ceklek…


“Hai Sekar! Lama banget lah kau bukanya dek… Pak Ansu udah nunggu tuh! Yuk!” kata Ben sambil meraih tangan Sekar.


“Siapa bilang kau pakai baju ini? Ntar ada MUA disana… Kau ditesnya sekalian di depan banyak tamu tahu…” kata Ben dengan gaya girlynya.


“Hah? Itu tes atau langsung terjun kerja?”


“Dua duanya,” jawab Ben dengan senyum berseringai.


Akhirnya Sekar mengikuti perintah Ben. Bagaimana pun Ben adalah orang yang menawarkan kerjaan pertama kali. Sekar harus menuruti perintah Ben.


_____


Sekar dibawa Ben menuju kapal Phinisi yang ukurannya lebih besar dari kapal sebelumnya dia bekerja. Designnya juga lebih mewah. Katakanlah ini kapal phinisi bintang 7. Karena lantai decknya ada 7. Di kapal itu Sekar dibawa ke salah satu kamar untuk tacap make up. Sekar bergedik merinding melihat dress yang akan dia pakai.


Setelah kurang lebih 30 menit, akhirnya Sekar selesai dengan prosesi make up dan memakai gaun yang super berat. Itu menurut Sekar.


“Perfect!” kata Ben memandangi Sekar.


Ben membawa Sekar munuju deck pertama tempat pesta berlangsung. Disana ada banyak tamu yang menikmati hidangan pesta. Semua mata tertuju kepada Sekar saat dia datang menuruni tangga deck.



Di pesta malam itu ada banyak rekan bisnis pak Ansu. Termasuk Raja dan El juga hadir di kapal itu. El yang tidak pernah melirik Sekar mulai terpesona melihat wajah ayu yang selalu ditutupi Sekar. Berbeda halnya dengan Raja. Raja sangat geram melihat penampilan Sekar yang begitu mencolok keseksiannya.


Tangan Raja mulai mengepal menghantam hantam meja di dekatnya. Mukanya sudah merah menyala terbakar kemarahan.


Apa yang kamu lakukan? Apa kamu lupa dengan semua pelajaran yang aku berikan? Batin Raja dengan emosinya yang sudah di ujung ubun-ubun.


Semua mata semakin menyoroti Sekar saat dirinya sudah berada di atas panggung kecil di kapal itu. Pak Ansu selaku pemilik acara, ikut maju ke depan panggung. Ben segera memberikan mic untuk pak Ansu dan Sekar.


“Cantik sekali kamu… Siapa nama mu?” tanya pak Ansu dengan memandangi Sekar penuh senyuman.


“Sekar, pak,” jawab Sekar sembari tersenyum.


“Berapa usia?”


“Mau menginjak 23... 5 bulan lagi.”


“Hahahaa! Muda sekali kamu, nak. Andai saya masih muda. Sudah saya bawa kamu ke kamar saya. Hahahaaa!” Semua orang ikut tertawa mendengar ucapan pak Ansu. Yah, pak Ansu adalah duda, jadi sah sah saja dia bercanda seperti itu. Itu menurut pemikiran pak Ansu.


Sekar hanya bisa menanggapi nya dengan senyuman penuh geli. Untung ada kata ‘Andai masih muda’. Kalu tidak, Sekar ingin terjun ke laut saja bersama hiu.


Setelah sesi perkenalan dan bercanda, Sekar mulai menunjukan keahliannya bermain cello. Semua tamu semakin takjub melihat Sekar. Tak terkecuali dengan El yang sampai tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


 


*****


Raja… Sekar sudah lupa dengan pelajaran gila mu


Bersambung…


*****