
Setelah kurang lebih setengah jam kapal mereka bertengger di pelabuhan Batam, Ben dan Shan datang kembali ke kapal. Mereka melanjutkan perjalanan menuju Anambas, tempat Pulau pribadi Raja.
“Sepertinya aku harus menemui Ucy. Aku harus memastikan semuanya,” ucap pak Ansu dengan menatap birunya lautan Anambas.
Perjalanan dari Batam menuju Pulau Raja di Anambas membutuhkan waktu kurang lebih satu setengah jam. Pak Ansu berencana setelah sampai di tempat itu, dia akan berlanjut pergi ke Tarempa menemui dokter Ucy.
_____
“Yee… Hore…! Kita udah sampai!” ucap Sekar dengan mengajak kedua anaknya turun dari kapal. Ini adalah pertama kalinya Boy dan Gadis menginjakan kaki di Pulau milik papanya. Kedua anak itu tampak ceria karena sekarang sudah memiliki keluarga yang lengkap.
“Boy, sini papa gendong. Kasihan kakinya kepanasan. Gadis digendong mama ya…” ucap Raja sambil meraih tubuh Boy.
Kedua anak itu menurut mengikuti perintah papanya. Mereka berjalan menuju buggy jemputan untuk menuju rumah utama.
Raja sangat senang bisa membawa Sekar kembali ke rumahnya. Apalagi saat ini Sekar sudah menyandang status sebagai istrinya. Dia selalu bersikap lengket terhadap istrinya. Meski hanya berjalan, Raja selalu menggenggam tangan Sekar. Kalau tidak itu, tangan Raja akan mengusap-usap rambut istrinya. Bila Sekar merasa terganggu, Raja akan menggeser tangannya merangkul pinggang Sekar. Seperti itulah Raja, tidak pernah lelah memberikan sentuhan-sentuhan kepada istrinya.
“Mas… Tangannya dikondisikan dong. Masih di buggy ni! Kasihan tuh ayah mu. Udah tiga hari ini banyak melamunnya. Mas Raja coba tanyain kenapa tuh… Takut nanti kebablasan. Mungkin aja dia ada masalah,” ucap Sekar dengan menoleh ke bangku belakang buggy dimana pak Ansu duduk.
“Hm…” Raja ikut menoleh melihat ayahnya. Raut wajah pak Ansu terlihat kurang tidur. “Kemarin aku sama El udah nanyain. Katanya gak ada masalah. Urusan kerjaan aku cek juga gak ada masalah… Dia cuma bilang butuh check up full body di Tarempa. Katanya akhir-akhir ini susah tidur, macam insomnia gitu… Itu pun katanya…” Raja tersenyum miring di akhir ucapannya. “Padahal kalau mau check up di pulau ku ini juga ada dokter yang selalu siap. Tapi dia bilang mau ke Tarempa sekalian mau ambil barangnya yang ketinggalan di rumah dokter Ucy.” Sekar yang mendengar ucapan suaminya ikut tersenyum gemas dengan tingkah laku aneh mertuanya itu.
Setelah sampai di halaman rumah, mereka turun dari buggy. Ben dibantu sopir buggy menurunkan semua koper dari buggy untuk dibawa masuk ke rumah.
“Raj, kayanya ayah mau lanjut terbang ke Tarempa pakai heli. Badan ayah udah gak enak. Ayah mau segera check up disana,” ucap pak Ansu setelah mencium kedua cucunya.
Apanya coba yang mau dicheck up? Itu sih penyakit galau sok jual mahal nolak dokter Ucy, batin Sekar.
“Check up nya di rumah sakit atau di rumah dokter Ucy, Yah?” tanya Raja.
“Rumah dokter Ucy,” sahut pak Ansu menjawab tanpa berpikir. Raja dan Sekar saling pandang tersenyum heran mendengar jawaban ayahnya. Karena rumah dokter Ucy tidak ada peralatan yang lengkap untuk melakukan check up. “Maksud ayah di rumah sakit. Nanti biar si Ucy yang ngechek disana. Biasanya kalau sore gini, dia masih standby di rumah sakit,” ucap pak Ansu yang masih ingat dengan shift kerja dokter Ucy.
“Hloh? Emang ayah gak dikasih tahu ya kalau kak Ucy resign dari rumah sakit ayah?” sambung Sekar dengan pertanyaan yang mengagetkan pak Ansu.
“Resign…?” Pak Ansu membulatkan kedua bola matanya. Masih tidak percaya dengan hal yang baru saja dia dengar
“Iya, Yah… sekitar 2 jam yang lalu lah dia kirim pesan whatsapp ke saya. Kak Ucy mau mengundurkan diri. Mau fokus kerja di klinik rumahnya aja. Kalau kliniknya sepi dia mau cari peruntungan kerja di rumah sakit Singapore.” Semakin gemas saja pak Ansu dengan keputusan dokter Ucy.
“Ben, kamu antar saya ke lapangan helikopter. Saya mau ngechek, ngapain perempuan itu harus pakai drama resign segala, Ck!” mendengus kesal. Raja dan Sekar hanya mampu menahan senyum di bibir mereka. Bagi keduanya ini adalah lelucon manis di sore hari.
“Siap pak mari saya antar,” jawab Ben dengan berlari menuju kursi kemudi buggy. Mereka pun berangkat menuju lapangan helikopter.
Hm… Jangan sampai ntar ada drama nyari perempuan hilang lagi. Dari dulu kalau udah nyangkut soal perempuan, keluarga ini gak ada yang beres, batin Ben memandangi pak Ansu yang sedang menelpon seseorang.
“Saya mau kamu tahan Ucy disana. Bentar lagi saya sampai di Tarempa,” ucap pak Ansu yang kemudian menutup telponnya.
_____
Raja dan Sekar yang saat ini berada di halaman rumah bisa melihat helikopter yang ditumpangi pak Ansu terlihat di udara, semakin merasa lega. Akhirnya ayah mereka terketuk hatinya untuk menemui dokter Ucy.
“Semoga kak Ucy bisa jadi grandma nya anak-anak ya mas,” ucap Sekar masih mendongakkan kepalanya melihat helikopter.
“Iya sayang,” Raja kembali mendaratkan bibirnya ke hidung Sekar.
“Hm… mulai lagi deh.”
“Hehee… Kan udah sah. Lagian ini juga di halaman rumah kita. Jadi bebas dong mau minta cium kapan aja,” Raja semakin merapatkan pelukannya ke tubuh Sekar.
Di saat keduanya lagi asyik bermesra-mesraan, handphone Raja berbunyi. Kontak di layarnya itu menunjukan panggilan berasal dari security bagian keamanan di pulaunya.
“Hallo?” sapa Raja.
“Selamat sore, pak Raja. Saya mau menyampaikan kalau bu Mona ada di dermaga. Beliau mau bertemu dengan pak Raja.”
“Tapi pak… Dia bilang kalau gak bisa ketemu bapak, dia gak akan pergi dari pulau ini.”
“Hm… Ya. Saya kesana,” Raja merasa malas harus menemui Mona. Setelah panggilan itu terputus, Raja memeluk istrinya lebih erat. “Kamu jangan pergi kemana-mana ya. Kamu harus tetap di sini,” ucap Raja membuat Sekar curiga.
“Kok kalimatnya kayak gitu? Macam aku mau kabur aja. Emang siapa yang nelpon?” tanya Sekar membuat Raja sedikit gugup.
“Cuma security. Ada orang nawarin bisnis. Dia maksa minta ketemu sekarang. Kamu gak pa-pa kan aku tinggal sebentar.” Raja terpaksa harus berbohong karena tidak mau membuat Sekar marah. Raja berfikir ingin segera menemui Mona sehingga mantan istrinya itu bisa segera pergi dari pulaunya.
“Iya mas. Kamu tuh kalau ada orang ngajak berbisnis, usahakan harus ngasih kesempatan. Kasihan kan mereka jauh jauh ke sini, tahu-tahunya kena tolak sebelum ketemu sama kamu,” sambung Sekar membuat Raja merasa tidak nyaman karena dirinya telah berbohong.
“Ya udah sana. Peluk-peluknya dikasih jeda dulu.”
“Iya sayang… Jangan kemana-mana. Tetap disini.”
“He’em sana. Aku sama anak-anak disini.”
Setelah Raja yakin kalau Sekar tidak curiga, barulah dia pergi ke dermaga dengan buggy untuk menemui Mona.
Wanita yang pernah jadi istrinya itu sedang ditemani oleh 2 security. Penampilannya sekarang terlihat sedikit berbeda. Mona yang dulu selalu indentik dengan pakaian sexy sekarang berubah menjadi lebih tertutup. Sore itu dia mengenakan celana panjang model palazzo yang tidak menampakan lekuk tubuhnya. Ditambah tshirt warna putih yang sedikit kedodoran. Penampilan Mona sore ini mengingatkan Raja saat pertama kali bertemu dengan Sekar.
“Mas… Apa kabar?” sapa Mona.
“Baik,” jawab Raja dengan memandangi kapal yang ada di depan matanya. Lebih tepatnya kapal yang pernah dia berikan kepada mantan istrinya itu.
“Happy wedding for you sama Sekar. El told me if you got married again (El bagi tahu aku kalau kamu menikah lagi). I’m happy for both of you (Aku senang untuk kalian berdua),” ucap Mona dengan mengulurkan tangannya. Berharap mantan suaminya itu mau berjabat tangan dengannya. Tapi Raja tidak mau menanggapi ajakan Mona.
“Thank you Mona. Langsung aja ke point nya, mau apa kamu kesini?” tanya Raja tidak mau berbasa-basi lagi.
“Aku datang buat ngembaliin kapal kamu.” Kali ini Raja tidak percaya dengan ucapan Mona. Raja cukup mengenal kepribadian mantan istrinya itu. Dia tidak bisa hidup tanpa kata mewah. Lalu bagaimana mungkin sekarang dirinya mendengar Mona akan menyerahkan kapal yang sudah pernah dia berikan secara cuma-cuma?
“Are you sure (kamu yakin)?” tanya Raja dengan senyum yang mengejek. Dirinya masih tidak percaya dengan ucapan Mona.
“Yeah… I’m sure (aku yakin). Aku mau balik lagi sama El. Dia bilang kalau aku mau balikan sama dia… Aku harus berubah. So… Aku pikir, aku harus balikin apa yang pernah kamu kasih ke aku. Untuk uang yang pernah kamu berikan, aku belum bisa balikin. But, I will return soon as possible (Tapi, aku akan balikin secepat mungkin)… El mau aku jadi lebih baik. El selalu cerita tentang Sekar istri kamu sekarang. That’s why I want to be like her (Itu mengapa aku mau jadi seperti dirinya)…” ucap Mona dengan rasa malunya.
“Hahaaa! Ok… Good luck for you.” Drama apa lagi ini? Dulu Sekar ingin menjadi seperti Mona. Sekarang Mona ingin menjadi seperti Sekar. Hm… Semua perempuan ingin berubah menjadi seperti apa yang diinginkan laki-lakinya. Tapi setelah banyaknya pelajaran yang ku lewati bersama Sekar… Sebenarnya mereka cukup menjadi diri mereka sendiri. Tidak perlu menjadi orang lain… Tapi kalau berubah untuk kebaikan itu memang harus. Semoga usahamu gak akan sia-sia Mona… Gumam Raja dalam batinnya.
“Mas… Apa itu Sekar?” tanya Mona dengan memperhatikan perempuan yang sedang naik buggy bersama 2 anak balita.
Sreettt… Raja segera menoleh ke buggy yang dilihat oleh Mona. Ternyata memang benar perempuan itu adalah istrinya. Jantung Raja mulai berdegup kencang karena Sekar menangkap basah dirinya bersama Mona.
“Shan, jalankan buggynya. Kita balik ke rumah,” pinta Sekar dangan raut muka kesalnya.
“Baik bu,” jawab Shan, hanya mampu menuruti kemauan nyonya barunya.
*****
pak Ansu hati-hati ya pergi ke Tarempa nya...
Bersambung…
*****