
Sesampainya di deck lantai satu, Raja dan Sekar melihat Ben sedang menghitung setiap total berat ikan yang dipancing oleh masing-masing peserta. Mereka yang ada di deck itu tercengang-cengang melihat salah satu pemenang di papan penghitungan adalah nama perempuan.
___________________________
Pak Ram: 357 kg
Dokter Ucy: 341 kg
Mas Ganteng Bartender: 301 kg
Pak Galang: 300 kg
Shan: 299,9 kg
Bang El: 283 kg
Mas Aan: 250 kg
…
…
…
Dan seterusnya…
Raka: 68 kg
Madam Lily: 50 kg
Pak Ansu: 10 kg
______________________________
Begitulah penghitungan selama 2 jam perlombaan memancing. Peserta terakhir yang mendapat jumlah berat ikan terendah adalah pak Ansu. Raja yang melihat total penghitungan di papan sampai tidak percaya.
“Bang, kenapa ayah bisa ada di paling bawah?” tanya Raja ketika berdiri di samping El.
“Sepenglihatan ku, ayah nukerin alat pancingnya sama punya dokter Ucy. Jadi kalau ayah udah dapet ikan, dia ngasih alat pancingnya ke dokter Ucy secara diam-diam… Entah modus apa itu. Hahaaa. Padahal sebelah dokter Ucy itu madam Lily. Ketawa aja dari tadi aku ngeliat mereka bertiga,” jawab El.
Dokter Ucy yang saat ini memiliki angka berat ikan terbanyak nomor dua sedang berjingkrak-jingkrak ria bersama pak Ram dan pemenang nomor 3. Mereka sangat senang karena memperoleh voucher liburan ke luar negeri.
“Dokter Ucy jangan lupa kalau gak ada partner pergi ke Maldives, saya siap sedia jadi partnernya bu dokter…” ucap Ben ikut senang untuk para peserta yang menang.
“Ya nanti kalau udah ke pepet… Tapi kayaknya gak mungkin saya ajak kamu. Saya mau ajak yang lain,” Hihiii… aku mau ajak pak Ansu… Hm… Maldives… I’m coming with my baby handsome Ansu, batin dokter Ucy sambil senyam-senyum ke arah pak Ansu.
Pak Ansu yang tidak sengaja melihat senyum aneh dari bibir dokter Ucy jadi salah tingkah. Dia pun melempar senyum ke dokter Ucy. Hanya sekedar menghargai sikap ramah dokter Ucy.
Haduh… Gimana ya caranya ngomong sama bapak ganteng itu kalau aku mau ajak dia? Jadi deg deg an gini… Makin gemESs deh kalau liat senyum dia gitu. Makin meleleh hati adek mas! Hahaaa Kapan aku bisa panggil dia mas? Hihiii… jadi gregetan sendiri… halusinasi dokter Ucy semakin melayang-layang membayangkan dirinya bisa pergi berduan dengan pak Ansu.
Selesai pengumuman lomba mancing, mereka berlanjut dengan makan siang. Kali ini pak Ansu memilih duduk berduaan bersama madam Lily. Dia menghibur madam Lily yang tengah kecewa karena tidak memenangkan lomba.
“Peraturan lombanya gak adil,” celetuk madam Lily sambil mengunyah buah. “Harusnya kan ada perbedaan gender. Masa laki lawan perempuan?” mengomel meluapkan kekesalannya.
“Aduh Ly… Kamu ini kalau mau liburan kemana-mana kan gampang. Emang kamu mau voucher ke negara mana?” tanya pak Ansu heran dengan sikap sosialita yang satu itu.
“Bukan masalah ke negara mana, mas! Aku tuh tadinya kalau menang mau ajak kamu berlibur,” madam Lily menjawab dengan senyum malu-malu.
“Hahahaaa!” Pak Ansu tertawa terpingkal-pingkal baru menyadari kalau madam Lily punya maksud terselubung. “Terus, kalau kita liburan bareng emang mau ngapain?” bertanya dengan tampang bodoh sok tidak tahu. “Kamu suruh Ben ngadain lomba lagi tuh. Nanti kalau kamu bisa menang, aku mau kamu ajak kemana aja. Hahaa!”
“Hm? Yang bener? Janji ya…” madam Lily mulai bergairah lagi untuk meminta lomba season 2 kepada Ben.
“Iya, janji,” jawab pak Ansu. Haduh Li…Li… Itu pun Ben harus tanya dulu ke aku kalau mau bikin lomba lagi. Kalau pun kamu menangin lomba, hadiahnya gak akan voucher liburan lagi. Mana mungkin aku liburan berduan sama kamu. Aku masih menghargai almarhum suamimu sebagai teman kerjaku dulu. Meskipun kamu memang cantik di mataku, tapi aku merasa aneh kalau harus menjalin hubungan lebih seperti yang kamu mau itu, batin pak Ansu sambil mengingat masa lalunya bersama mendiang suami madam Lily.
“Kalau gitu aku nyari Ben dulu nih,” sambung madam Lily yang mulai beranjak berdiri. Dia mulai melangkah ke deck belakang tempat Ben biasa nongkrong menggoda bartender favoritenya.
Dokter Ucy yang dari tadi memperhatikan gerak-gerik madam Lily dan pak Ansu, merasa memilki celah untuk mendekati pak Ansu setelah madam Lily pergi dari meja makan.
“Pak…” sapa dokter Ucy yang sudah berdiri di samping pak Ansu.
“Ya…? Kenapa Cy?”
“Boleh saya duduk sini?”
“Ya boleh, sini duduk sini…” pak Ansu menyingkirkan piring kotor milik madam Lily.
“Udah makan?” tanya pak Ansu setelah dokter Ucy duduk di sampingnya.
Makin lama kenapa makin manis aja sih pak mukanya? Lama-lama aku diabetes nih kalau deket-deket, bapak… Manisnya gak ketolongan, gumam dokter Ucy sambil memperhatikan wajah pak Ansu yang sedang memotong ikan di piring.
Keakraban yang terjadi di sekeliling pak Ansu itu ternyata dipantau oleh Raja dan Sekar yang sedang duduk berduaan di meja pojok. Raja tidak menyangka ternyata pesona ayahnya sangat kuat di kalangan perempuan. Dokter Ucy yang usianya terpaut sangat jauh saja bisa semangat menggebet ayahnya.
“Sayang…” Raja mengusap paha Sekar dari bawah meja.
“Apa mas…?” Sekar mulai menarik nafas panjang karena tangan suaminya sudah merogoh rok sampai ke bagian intimnya. “Auw… Mas?” Sekar meremas tanganya, merasakan sensasi jari telunjuk Raja yang sudah berdisko ria di dalam sana.
“Sini sayang agak geser sini,” pinta Raja sambil meraih pinggang istrinya.
“Mas tapi ini di tempat umum hlo…” Sekar berbisik pelan sambil mengikuti permintaan suaminya.
“Makannya kamu nurut biar pada gak curiga,” Raja mulai mendaratkan ciumannya ke kepala Sekar. “Mereka gak akan tahu karena meja depan ini ada papan penutupnya,” sambung Raja lagi.
“Tapi mas…?” Sekar mengkerjapkan matanya dalam-dalam menahan rasa panas.
“Tabunganku masih banyak. Kamu harus ingat itu,” Raja sangat menyukai melihat raut wajah istrinya menahan sensasi yang dia berikan.
“Kamu lihat itu sayang… dokter Ucy sama ayah.”
“Hm… Kenapa mereka?”
“Kayaknya dokter Ucy mau ngajak ayah buat pakai vouchernya ke Maldives.”
“Hm… Terus?”
“Ya aku sih gak masalah kalau ayah mau pergi sama dokter Ucy. Lagian ayah berhak bahagia di masa tuanya. Kalau menurut kamu, mereka cocok gak, yank?” tanya Raja masih dalam posisi jari berdisko.
“Hm… Cocok,” jawab Sekar singkat.
“Kamu ini kenapa sih? Hm… Hm… terus jawabnya? Sakit gigi ya?”
“Ah! Kamu ni gimana sih mas! Aku tuh nahan sakit dari jari kamu yang lagi ngegoyang aku,” sedikit kesal karena suaminya tidak menyadari akibat atas perbuatannya itu. “Udah dong mas main-mainnya… Dikasih jeda dulu. Badanku lemas tahu kamu giniin terus,” Sekar mengeluh karena tidak sanggup menghadapi suaminya.
“Nanti malam lagi ya… Lagian ini di tempat umum,”semakin merengek dengan mendorong tangan suaminya agar berhenti berdisko.
“Janji ya… Nanti malam lagi.”
“Huuffttt… Iya,” jawab Sekar mulai lega karena sudah bisa duduk bersila. Tapi tetap saja tangan Raja itu bergerilya mengusap-usap pahanya.
“I love you…” Raja mencium kepala istrinya lagi. “Kamu mau pergi honeymoon gak ke Maldives? Sekalian nemenin dokter Ucy tuh,” ucap Raja membuat Sekar senang dengan tawaran itu.
“Honeymoon ke Maldives? … Emang Maldives itu ada dimana? Bagus ya tempatnya?” tanya Sekar yang masih tidak tahu dimana itu Maldives.
“Maldives itu tempatnya bagus, sayang. Itu merupakan negara kepulauan kecil-kecil yang menjadi incaran banyak wisatawan dari semua negara. Lokasinya ada di selatan India dan Sri lanka. Pokoknya pas banget buat honeymoon.”
“Emang mas Raja dulu pernah honeymoon ke Maldives sama embak cantik itu?” Sekar menggoda menyinggung masa lalu Raja bersama Mona. Raja yang memang tidak suka masa lalunya diungkit mulai menunjukan raut muka tidak sukanya.
“Sekar… kalau ada sesuatu yang masih mengganjal di hati kamu, aku minta maaf,” ucap Raja dengan wajah seriusnya.
“Duh mas… Aku kan cuma bercanda. Kenapa jadi serius gini sih…” Sekar masih berusaha menggoda suaminya.
“Sayang…” Raja mulai meraih kedua tangan Sekar. Menatap kedua bola mata istrinya itu dalam-dalam. “Aku gak mau di antara kita membahas Mona lagi. Aku tahu aku salah. Untuk itu aku mohon kita gak usah membahas dia lagi, meskipun itu hanya bercanda. Aku cuma punya kamu, istriku yang paling cantik saat ini dan seterusnya.” Sekar tidak menyangka kalau ucapannya akan ditanggapi serius oleh Raja.
“Iya, mas. Aku gak akan bahas dia lagi. Maaf ya kalau ucapan ku itu nyinggung kamu,” ucap Sekar dengan wajah sedikit bersalah.
“Gak pa pa sayang… Jadi kamu mau kan ke Maldives? Biar aku pesan tiket untuk Boy sama Gadis juga.”
“Iya, mas. Siapa tahu dokter Ucy berhasil ngebujuk ayahnya mas buat berlibur sekalian ke Maldives. Jadi makin seruh deh nanti kita disana.” Raja dan Sekar mulai memandangi pak Ansu dan dokter Ucy yang semakin serius berbicara di meja makan sudut lain.
Dokter Ucy yang saat ini sudah mengutarakan niatnya untuk mengajak pak Ansu masih belum menerima jawaban. Laki-laki paruh baya itu masih sedikit syok dengan tawaran dokter Ucy.
“Jadi gimana, pak? Pak Ansu mau ya nemenin saya pergi ke Maldives?”
*****
wah bu dokter gerak cepat ni ya...
GreCep GreCep...
Bersambung…
*****