Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Daftar Penyesalan Raja



Raja dibuat panik dengan pingsannya Sekar. Dia juga kasihan melihat anaknya yang mulai menangis.


“Sekar… Bangung sayang… Maaf maaf. Dokterrrr!” Raja mengusap-usap pipi dan lengan Sekar berusaha menyadarkannya.


Tak lama kemudian Shan muncul di ruangan itu. Dia yang tidak tahu apa-apa melihat wajah bosnya kebingungan segera mendekatinya.


“Kenapa pak?”


“Sekar pingsan. Panggilkan dokter sana cepat…!” Perintah Raja sambil membopong Sekar ke sofa panjang.


“Waduh…? Kok bisa pak? Bu Sekar pasti kaget lihat rambut gondrong gimbal pak Raja. Ck...” Shan menerka-nerka penyebab pingsannya Sekar. “Makanya… Udah saya ingatkan. Potong tuh rambut. Sekarang bikin pingsan bu Sekar…” Tindakan Shan yang sedikit menggurui itu membuat Raja jengkel.


“Sana panggil dokter…! Jangan banyak ngoceh!” Raja semakin kesal mendengar Shan yang menggerutu.


Shan segera berlari keluar dari kamar. Dia melihat lorong di depan kamar itu tidak ada pegawai dengan baju medis. Shan segera menuju lift untuk pergi ke tempat resepsionis meminta bantuan. Baru saat dia memencet tombol lift, Shan berpapasan dengan pak Ansu yang keluar dari lift.


Muka pak Ansu itu cukup familiar untuk Shan, karena Shan pernah melakukan tes wawancara sebelum masuk kerja di manajemen kapal phinisi dengan pak Ansu.


“Pak Ansu?”


“Siapa ya?” tanya pak Ansu yang sudah tidak ingat dengan muka Shan.


“Saya asistennya pak Raja. Ini saya mau cari dokter. Bayinya oek oek. Bu Sekar pingsan juga,” kata Shan menjelaskan secara cepat.


“Pingsan...?!” tanya pak Ansu dan dokter Ucy bersamaan. “Saya dokternya Sekar. Kamu tolong cari dokter spesialis anak di lantai satu," pinta dokter Ucy.


Shan segera turun ke lantai satu sedangkan dokter Ucy bersama pak Ansu yang menggendong Boy terburu-buru ke ruang VIP 17. Raja yang masih hafal dengan muka dokter Ucy segera meminta tolong agar Sekar diperiksa.


“Mas Raja ini kenapa Sekar bisa pingsan…? Cepat bawa ke ruangan sebelah yang kosong,” pinta dokter Ucy karena dia tidak mungkin bisa menggendong Sekar.


Akhirnya Sekar ditangani oleh dokter Ucy dan baby Gadis diperiksa oleh dokter spesialis anak. Tinggallah Raja, Shan dan pak Ansu yang menggendong Boy di luar ruangan itu.


Pak Ansu tidak begitu mempedulikan Raja yang juga tidak peduli dengannya. Dia asyik menimang-nimang dan menggoda cucu laki-lakinya.


“Peek a boo… Baa Ciluuuppp Baa… Peek a boo… Icik icik icik…”


“Hek…hek…hek…hek… eee…” Boy yang masih belum bisa berbicara itu hanya meringis kegirangan melihat grandpanya.


Raja yang tidak tahu kalau balita yang bersama ayahnya itu adalah anaknya. Dia hanya memperhatikan tingkah ayahnya itu sambil memikirkan anak siapakah itu?


Apa ayah nikah lagi? Siapa ibu anak itu? Kenapa dia gak ngasih tahu aku? Terserahlah! Mau itu anak dia atau anak siapa aku gak peduli! Gerutu Raja dalam pikirannya.


Shan yang merasa ada ketegangan antara Raja dan pak Ansu mencoba mencairkan suasana. Shan mendekati pak Ansu yang sedang bermain dengan bayi laki-laki itu.


“Wah… Lucu sekali adeknya. Siapa namanya pak?” tanya Shan sambil mengusap pipi Boy.


“Boy,” jawab pak Ansu singkat.


“Iya saya tahu laki-laki... Namanya siapa?” tanya Shan masih belum paham.


“Namanya Boy ya Boy…” jawab pak Ansu masih sibuk menggoda Boy. Barulah Shan mengerti kalau Boy itu adalah sebuah nama.


“Ow… Si boy boy… Lucunya…” Shan ikut menggoda sambil menangkap lirikan mata Raja yang memandangi Boy dari kejauhan.


“Mamanya boy mana, pak?” tanya Shan lagi.


Raja yang mendengar jawaban ayahnya itu sedikit kaget. Anak Sekar? Apa Sekar sudah menikah? Tapi kan dia berpisah dengan Sekar hanya sekitar setahun…? Lalu bagaimana mungkin Sekar bisa melahirkan anak dalam waktu yang berdekatan? Apa Sekar sudah punya suami? Mungkinkah itu anak sambung Sekar? Pikiran Raja melayang-layang menerka siapa ayah bayi laki-laki itu.


“Apa maksud ayah anak Sekar? Siapa ayah anak itu?” tanya Raja dari kejauhan. Pak Ansu tersenyum tipis mendengar pertanyaan bodoh Raja.


“Ini anakmu Ja...! Bayi mu itu kembar cowok cewek. Kamu jangan mikir yang aneh-anaeh lagi. Sekar gak pernah berhubungan dengan laki-laki lain… Gak kaya kamu plin-plan ninggalin Sekar pas lagi hamil! Ayah sampai malu sama Sekar karna ulahmu.” Pak Ansu seperti diberi celah untuk meluapkan kekecewaannya.


Dengan segera Raja mendekati bayi laki-laki yang ada di dalam stroller itu. Raja berjongkok untuk memandangi lebih dekat wajah anak laki-lakinya.


“Siapa namanya tadi, yah?” tanya Raja mendongakan mukanya ke pak Ansu.


“Boy…”


Untuk pertama kalinya Raja dan Pak Ansu saling bertatapan dengan tersenyum, setelah sekian lama mereka melakukan perang dingin sejak kematian ibunya Raja. Sebagai seorang ayah, sudah sejak lama pak Ansu merindukan suasana akrab seperti saat ini. Tidak menyangka kehadiran Boy bisa menjalin hubungan baik lagi antara ayah dan anak itu.


“Boy… Ini ayah, nak…” Raja mendaratkan ciumannya ke pipi gembul Boy. Boy yang tangannya sedikit aktif mulai meraih rambut panjang Raja. Boy menarik rambut gondrong ayahnya dengan kedua tangan.


“Hek…hek…” Boy tersenyum lucu menatap mata ayahnya. Perasaan Raja menjadi merasa semakin bersalah pernah menelantarkan Sekar saat hamil. Wajah lucu dengan pipi gembul itu membuat tangan Raja ingin menggendong Boy.


Raja mulai meraih tubuh Boy keluar dari stroller. Untuk pertama kalinya Raja mendekap Boy dalam pelukannya. Bibir Boy terus memamerkan gusi yang belum ditumbuhi gigi. Raja mulai menciumi pipi kanan kiri Boy. Boy yang kegelian karena brewok lebat milik ayahnya itu menjadi tertawa tanpa henti. Raja sangat menikmati senyuman anaknya itu.


Tak lama kemudian Dokter Ucy keluar dari ruang rawat Sekar. Raja segera menghampiri dokter itu.


“Gimana Sekar, dok?” tanya Raja.


“Tekanan darah Sekar sedikit turun. Mungkin Sekar perlu istirahat. Kalau boleh tahu, gimana tadi mas Raja menemukan Sekar pingsan?”


“Saya… Saya cuma peluk dia,” Raja sedikit berbohong karena kenyataannya dia sedikit main sosor ke bibir Sekar.


“Em… Gini mas… Kondisi Sekar sepertinya belum siap bertemu dengan mas Raja…”


Dokter Ucy mulai menjelaskan tentang kondisi kejiwaan Sekar yang memiliki trauma atas perbuatan Raja di masa lalu. Dokter Ucy menghimbau Raja untuk lebih bersabar bila Raja ingin mendekati Sekar lagi. Dokter Ucy juga menjelaskan tentang kondisi tubuh Gadis yang sering demam. Gadis dan Boy yang masih balita membutuhkan asupan asi yang berkualitas dari Sekar. Sehingga saat ini kesehatan Sekar juga harus diperhatikan demi anak kembarnya itu.


Raja hanya bisa mengangguk menekan egonya untuk menjaga jarak kepada Sekar. Daftar penyesalan Raja semakin bertambah karena dia tidak mampu mewujudkan keinginannya bersama Sekar secepatnya.


“Apa saya boleh melihat Sekar, dok?” tanya Raja.


“Saya baru saja memberi suntikan penenang agar Sekar bisa beristirahat. Mas Raja kalau mau melihat kondisi Sekar sekarang gak pa pa. Tapi jangan terlalu mengganggu Sekar ya… Takutnya Sekar terbangun dan melihat mas Raja, terus tekanan darahnya jadi turun karena syok,” jawab dokter Ucy.


“Saya cuma mau melihatnya saja, dok.” Akhirnya dokter Ucy mengizinkan Raja bertemu Sekar.


Raja mulai masuk ke ruang rawat Sekar. Dia memasuki ruang itu seorang diri tanpa Boy. Raja mulai duduk di samping bed Sekar.


*****


Bersambung…


*****