
Tiga minggu kemudian, Sekar terbang ke Jogja untuk menghadiri pernikahan kakaknya. Sekar meminta izin 2 hari dari tempat dia bekerja. Sebelum terbang ke Jogja, Sekar menyetok persediaan asi untuk Boy dan Gadis. Sekar juga menitipkan Boy dan Gadis kepada pak Ansu, dengan catatan pak Ansu menginap di rumah dokter Ucy dan tidak boleh membawa Gadis dan Boy kemana-mana.
Sesampainya Sekar di rumahnya daerah Malioboro, dia disambut oleh tim MUA. Mereka mendandani Sekar untuk menyumbang permainan cello. Kali ini Sekar ditemani Kasih yang ikut hadir di acara pernikahan kakaknya juga. Jadi kakak Sekar yang bernama mbak Tia menikah dengan kakaknya Kasih yang bernama mas Aan.
Kebetulan sekali gedung tempat acara resepsi pernikahan dekat dengan rumah Sekar. Jadi begitu Sekar sampai di rumah, dia langsung dibawa ke ruang make up oleh mamanya.
“Sekarrr! Muah… Muah…” Kasih teman lama Sekar menghamburkan pelukan di ruang make up.
“Haduh… lagi pakai lipstick ni aku… Kecoret kan…” Sekar meraih tissue untuk menghapus warna lipstick yang keluar dari garis bibir. “Pie kabar mu?” tanya Sekar menepuk lengan Kasih. (Gimana kabarmu?)
“Selalu sehat… Tapi kadar kecantikan udah berkurang. Dah brojol anak cewek satu.” Sekar hanya mengangguk-angguk mendengar jawaban Kasih. Sekar tidak mampu berbagi cerita kalau dirinya juga sudah melahirkan anak, bahkan kembar. “Hlah kamu pie kabar e?” tanya Kasih balik.
“Sehat, Kas… Eh, mana anakmu?” tanya Sekar mencari-cari balita di sekitar ruangan itu.
“Si Putri lagi ikut sama mas Galang. Maunya nempel sama ayahnya. Kalau ditinggal mas Galang bentar aja udah Oekkk Oekkk… Nangis gak berhenti berhenti,” jawab Kasih penuh semangat membayangkan betapa manjanya anaknya itu kepada ayahnya.
Sekar hanya tersenyum menanggapi cerita Kasih. Padahal dalam hatinya mengatakan… Andai ayahnya Boy dan Gadis adalah orang baik, pasti Boy dan Gadis akan nempel juga ke ayahnya. Tapi kenyataanya tidak. Ayah Boy dan Gadis gila dengan perempuan lain.
“Eh, gimana ntar kita di panggungnya? Kamu ya yang nyanyi…” Sekar mengalihkan pikirnnya, tidak mau memikirkan hal-hal sedih.
“Gak! Aku juga main piano. Biar adil kamu juga ikut nyanyi.” Sekar tersenyum mendengar jawaban Kasih. Begitulah sifat Kasih yang selalu menawar.
Akhirnya mereka keluar dari ruang make up dan menuju tempat resepsi. Lagu pertama yang dipilih Kasih dan Sekar adalah ‘Endless Love dari Lionel Richie ft Diana Ross’. Suara keduanya itu sunguh menggema merdu di gedung tempat resepsi. Para tamu undangan tampak sibuk memotret kedua wanita cantik yang sedang berduet.
Suami Kasih yang benama Galang menyadari kalau istrinya tengah bernyanyi dengan Sekar, mencoba menghubungi Raja. Karena Raja pernah bertanya tentang keberadaan Sekar. Sayangnya sambungan telpon Galang itu tidak terhubung ke Raja.
Setelah selesai bernyanyi 3 lagu, Kasih dan Sekar turun dari panggung dan melayani sesi foto bersama tamu undangan. Mereka bagai bintang diacara pernikahan kedua kakaknya itu.
Tapi kebahagian Sekar tiba-tiba sirna setelah Sekar mendapat telpon dari dokter Ucy kalau kondisi Gadis memburuk. Suhu tubuh Gadis cukup tinggi. Bahkan anaknya saat ini sedang berada di rumah sakit menjalani pemeriksaan yang lebih intensif.
Sekar yang mendengar berita itu menjadi panik. Tubuhnya terasa sakit mendengar anaknya sakit.
Ya Tuhan… Cobaan apalagi yang akan ku hadapi? Kenapa Gadisku sering sakit? Apa ini karena saat di dalam perut pernah kena sod0*mi itu? Huft… Jangan ambil Gadis dariku… aku mohon, Tuhan. Biar kan aku membesarkannya. Berilah kesempatan agar aku bisa menebus dosa-dosa karena pernah berniat mengaborsi anakku. Aku mohon… Aku gak sanggup kehilangan Gadis… Gumam Sekar dalam hatinya.
Cepat-cepat Sekar meminta izin kepada mama dan ayahnya untuk segera kembali ke Tarempa dengan alasan pekerjaan. Galang yang memergoki Sekar pergi dengan taxi, mulai bertanya kepada Kasih istrinya.
“Sayang, itu Sekar kenapa pergi? Setidaknya kan dia harus tetap ada di acara pernikahan ini sampai selesai?”
“Kurang tahu, mas. Dia bilang ada urusan kerja di Tarempa. Jadi dia mau cepat-cepat balik ke sana. Tumben mas Galang tanya-tanya soal perempuan lain…? Kenapa? Naksir ama Sekar ya?!” Kasih mulai cemberut memandangi suaminya.
“Hahaaa! Ya gak mungkin lah aku naksir perempuan lain. Satu aja gak habis habis ngapain cari lagi? Jangan cemburuan gitu ah…” Galang mulai mengusap kepala istrinya.
“Daripada cemberut gitu mending ngasih asi dulu buat Putri. Kasihan dia laper.”
“Iya iya… Aku susul Putri di kamar dulu ya, mas. Awas… Jangan lirik-lirik. Gak ku kasih ntar malem!”
“Hahaaa! Iya sayang… Mana berani aku puasa ritual…”
_____
Saat ini Raja yang tengah melakukan perjalanan bisnis dengan Shan di daerah Pulau Belitung. Selagi Raja memimpin rapat, Shan selalu memakai waktu luangnya untuk membuka aplikasi Noveltoon. Sudah ada ratusan novel yang ada di daftar favoritenya. Mulai dari karya penulis terkenal sampai penulis baru Shan tidak pernah ketinggalan update.
“Eh? Ya pak mas? Kenapa kenapa?” Ini sudah kesekian kalinya Shan tidak fokus dalam bekerja. Tapi Raja menyukai kehadiran Shan. Karena kalau dia lagi kesal dan geram dengan rasa rindunya kepada Sekar, dia bisa menumpahkan kekesalannya kepada Shan. Atau terkadang dia mengajak Shan untuk menemainya minum alkohol bersama.
“Bisa kamu angkat panggilan itu?” tanya Raja sambil menunjuk handphoennya yang berdering.
Akhirnya Shan beranjak dari tempat duduknya dan mengambil handphone Raja yang ada di pojok meja. Selagi Shan mengangkat panggilan itu, Raja kembali memimpin rapat.
“Hallo selamat sore? Ini dengan Shan, ada yang bisa dibantu?” sapa Shan memberi salam.
“Sore… Saya Galang. Kalau tidak salah ini bukannya nomor handphone Raja, ya?”
“Betul pak Galang. Ini nomornya pak Raja. Beliau lagi ada rapat penting. Ada yang mau disampaikan?” tanya Shan balik.
“Em, bisa saya bicara dengannya sekarang? Mungkin informasi ini lebih penting. Raja sempat tanya tentang perempuan bernama Sekar puluhan kali ke saya. Bisa kamu beri handphoennya ke Raja sekarang?”
“Baik, pak. Tunggu sebentar ya…” Shan segera memberi handphone itu ke Raja.
“Sore, Lang. Ada apa ya?” tanya Raja.
“Sore, Raja. Kamu lagi dimana?”
“Saya ada di Belitung. Kenapa?” tanya Raja.
“Saya mau bagi info kalau Sekar lagi mau terbang dari Jogja menuju Tarempa. Mungkin sekitar 2 jam lagi dia akan transit di Batam.” Senyum kebahagian mulai merekah di bibir Raja. Akhirnya ada titik terang mendapat informasi tentang Sekar.
“Tarempa? Kamu tahu lokasinya yang lebih spesifik di daerah mana? Saya sudah mencari-cari di seluruh pelosok Tarempa tapi sulit menemukannya.”
“Kata istri saya, dia kerja di Tarempa. Tapi saya gak tahu nama tempat kerjanya. Nanti kalau saya dapat informasi lagi, saya akan infokan ke kamu,” jawab Galang. Sebetulnya Galang tidak tahu ada hubungan apa antara Raja dan Sekar. Karena baginya itu tidak penting. Selain itu Galang tidak mau cari perkara dengan istrinya karena Kasih tipe perempuan yang sensitive dan mudah curiga.
“Ok Lang, thanks buat infonya.”
“Yeah. No worries. Saya akan bagi info kalau tahu tempat kerja Sekar.”
“Yeah. Thanks again. Saya akan telpon kamu lagi nanti.”
Raja segera menutup telponnya. Dia membubarkan rapat dengan jajaran direktur. Yah, itu bukanlah hal yang penting. Karena dia adalah bos di perusahannya. Raja lebih mementingkan mencari Sekar.
Sore itu juga Raja berangkat dari Belitung menuju bandara Batam menggunakan helikopternya. Raja berharap dia bisa menghadang Sekar di bandara Batam.
*****
Apakah Raja bisa bertemu Sekar di Batam?
Bersambung...
*****
Hai untuk para readers yang mengikuti kisah Sekar dari awal. Sebenarnya kisah ini dibumbui sedikit kisah nyata 5%. Mungkin ada yang sudah bisa menebak nyatanya bagian mana dan halunya bagian mana. Bagian konglomerat-konglomeratan sudah pasti khayalan othor sematah...❤