Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Di Mobil (21+)



Sebetulnya tidak hanya hari ini saja Raja menunggui Sekar bermain cello. Hari-hari sebelumnya bila dia tidak ada urusan bisnis, Raja akan datang ke resort tempat Sekar bekerja. Raja selalu duduk di sofa palig ujung dan menyuruh waiter untuk matikan lampu di tempat dia duduk. Begitulah cara Raja menikmati wajah manis Sekar yang bermain cello dengan bernyanyi.


Tidak lupa juga Raja selalu memberi amplop berisi tip berlembar-lembar dollar untuk Sekar dan para karyawan di lounge bar resort itu. Pernah Sekar ingin menjumpai Raja untuk sekedar berterimakasih. Tapi begitu Sekar selasai bermain cello, Raja akan pergi ke toilet. Dan bila Sekar berlanjut bermain cello, Raja akan kembali ke tempat duduknya.


Seperti itulah sampai akhirnya hari ini Raja membulatkan tekadnya untuk menjumpai Sekar. Raja sudah tidak peduli lagi dengan phobia aneh yang diderita Sekar. Yang dia tahu, dirinya menginginkan Sekar malam ini.


Jarum jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Ini adalah waktunya Sekar harus segera pulang, karena jam-jam ini biasanya Boy dan Gadis terbangun dari tidurnya.


“Good Night semuanya… Aku pulang dulu ya…” kata Sekar melambaikan tangan untuk karyawan di bar konter.


“Thanks cik Cello! See you tomorrow!” Sahut salah satu bartender yang tidak sibuk. (Terimakasih cik Cello! Sampai jumpa besok).


Tidak lupa Sekar juga berpamitan kepada setiap tamu yang masih menikmati suasana malam dengan pasangan mereka. Yah, karena rata-rata tamu resort itu adalah pasangan honeymoon.


Sekar mulai berjalan menuju tempat parkiran. Sejak kehadiran pak Ansu, Sekar selalu dimanjakan dengan pemberian fasilitas dari kakek anak kembarnya itu. Sekar diberi fasilitas antar jemput mobil dengan sopir pribadi pak Ansu.


Sambil meregangkan tangan ototnya karena lelah bermain cello, Sekar mulai membuka pintu mobil. Biasanya sopir pribadi itu selalu standby di dalam mobil, jadi Sekar tidak akan kebingungan mencarinya. Raja yang sudah siap di kursi kemudi sedikit membungkukan  punggungnya, karena sopir pribadi Sekar sebetulnya bertubuh kecil. Begitu Sekar masuk dan menutup pintu mobil. Raja mulai menekan tombol central lock pada mobil untuk mengunci semua pintu.


KLIK!


Sekar mulai merasa aneh karena biasanya sopir pribadinya itu tidak pernah menekan tombol central lock. Betapa kagetnya Sekar melihat wajah Raja ada di kursi kemudi. Tubuhnya mulai gemetaran dan nafasnya mulai mengejang. Tapi Sekar mencoba melawan rasa takutnya itu.


“Mau apa kamu?!” Dada Sekar yang sedikit nyeri tidak mampu berkata keras. Selain itu suaranya sudah habis karena selesai bernyanyi 5 jam. Raja hanya menanggapi pertanyaan Sekar itu dengan tersenyum. Dia mulai menyalakan mobil dan membawa Sekar keluar dari area resort.


“Tolong….! Tolong….!” Sekar menggedor-gedor pintu mobil berharap ada orang yang melihatnya. Dia juga menggunakan heelsnya untuk mencoba memecah kaca pintu mobil itu.


“Buka pintunya! Aku mau turun! BUKAAA…! Huh!” Sekar berusaha mendobrak pintu mobil, tapi tidak bisa. Usahanya untuk memecah kaca mobil pun sia-sia. Kondisi jalanan Tarempa malam hari yang sepi itu membuat Sekar semakin takut.


Masih dengan usahanya untuk meminta pertolongan, Sekar meraih handphonenya untuk menelpon bantuan. Tapi usahanya itu dilihat oleh Raja dari kaca sepion tengah. Raja segera menginjak rem mobil. Hal itu membuat handphone Sekar yang ada di genggamannya terlepas.


GLUDUG!


Raja mulai mengambil handphone yang jatuh di sampingnya. Tangan Sekar yang mencoba meraih handphonenya sudah didahului oleh Raja. Raja menyimpan handphone itu ke saku jaket kulitnya.


Sekar mulai kehilangan harapan untuk melarikan diri dari Raja. Air matanya mulai mengalir. Tenggorokannya sudah kering berteriak meminta tolong. Tapi tidak ada orang di sepanjang jalan tepi laut yang sebelahnya bukit dengan banyak pohon rimbun.


“HUAAAAAA…! TOLONGGG…! Hiks… Huhuhu…!” Sekar mulai menaikan kakinya di kursi sambil mendobrak-dobrak pintu mobil. Sebetulnya Raja sudah tidak tega melihat Sekar meraung-raung seperti orang kesetanan.


Tapi kesabarannya menunggu Sekar juga sudah habis. Raja sudah sangat menginginkan Sekar menjadi miliknya. Bila cara menghamili paksa Sekar akan berhasil, Raja akan melakukan itu agar Sekar tunduk dengannya.


Sudah sekitar 15 menit Raja mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh. Raja mulai memarkirkan mobilnya di tepi jalan yang sampingnya bukit dengan banyak pohon. Lebih tepatnya hutan yang depannya lautan lepas.


Bibir Sekar mulai menggigil melihat Raja yang melangkahkan kaki medekatinya.


“JANGAN DEKAT DEKAT BRENGS3K!” Sekar menyembunyikan wajahnya. Dia sangat takut melihat ekspresi wajah Raja. Raja mulai meraih pinggang Sekar.


“Sekar…”


“Sekar maafkan aku…” Raja mulai memeluk tubuh Sekar dan membenamkan wajahnya di leher Sekar.


“Huaaa… Jangan jangan… Aku gak mauuu… Huhuuu…” Pikiran Sekar membayangakan kalau Raja akan memperkosanya lagi. Beberapa detik Raja memeluk tubuh Sekar. Raja berharap pelukannya itu bisa mengobati phobia Sekar.


“Aku sayang kamu. Aku mencintaimu…” Raja mengeratkan pelukannya meski tubuh Sekar terus memberontak. Raja mulai mencium leher Sekar. Mengkecupi rambut wangi milik Sekar. Sementara itu Sekar terus menggelengkan kepalanya.


“Jangan… huuu… Aku gak mau… Hkzzz,” Raja melihat air mata Sekar sudah banjir di pipi. Sebetulnya hati Raja juga kasihan melihat Sekar seperti itu. Tapi Raja mau mencoba menggunakan cari ini. Raja berharap setelah ini Sekar akan menurut kepadanya.


Raja mulai meraba mencari resleting gaun yang dipakai Sekar. Sekar yang merasakan hal itu mulai menutupi bagian slider di punggungnya. Sekar mulai memberanikan diri untuk membuka matanya.


Setelah sekian lama tidak saling pandan, mata mereka saling bertatapan kembali. Masih dengan derai air mata, Sekar mencoba meminta belas kasihan Raja.


“Hiks… Jangan mas… Aku gak mau… Hkz…” tangan Raja mulai terhenti beberapa detik sambil memandangi wajah Sekar yang memelas. Tapi dari posisi Raja melihat Sekar itu nampak belahan dada Sekar. Hasrat kelakiannya muncul lagi.


Raja mulai mencium bibir Sekar yang sedikit terbuka. Raja merangkup wajah Sekar. Merabai telinga dan rambut Sekar. Raja m3lum4+ bibir Sekar dengan halus. Tapi karena Sekar terus melakukan perlawanan, lum4t4n halus itu menjadi sedikit kasar… semakin kasar… dan brutal. Tangan Raja yang kesusahan menurunkan slider pada resleting gaun Sekar membuatnya tidak sabar. Dia mulai merobek gaun Sekar sekali tarik.


Krekkk…!


“TOLONGGG…!” Sekar meraung lagi disaat Raja membuka celananya. Raja mulai berjongkok dan merangkup gunung kembar Sekar yang terlihat lebih berisi. Sekar terus melakukan perlawanan dengan berusaha menendang Raja. Gerakan kaki Sekar itu justru digunakan Raja untuk membuka paha Sekar agar lebih terbuka lebar. “Jangan mas… Ampun… Jangan… Huhuhuuu!”


Birahi Raja yang sudah di ubun-ubun tidak bisa dikendalikan lagi. Raja mulai menelusupkan mulutnya untuk membasahai bagian intimnya Sekar agar tidak terlalu melukai Sekar.


Sementara salah satu tangan Raja terus meremas dan memainkan bulatan di gundukan dada Sekar. Sekar melanjutkan usahanya menggedor pintu dengan tangannya.


Mas… Kenapa kamu melakukan ini lagi? Apa salahku? Kenapa kamu terus menghancurkan hidupku? Kenapa kamu gak meminta ini kepada Mona? Mintalah kepada istrimu. Biarkan aku pergi dari sisimu. Kenapa kamu ganggu aku lagi? Aku gak sanggup bila harus hamil anakmu lagi. Aku gak sanggup melihat anak-anakku tumbuh tanpa sosok ayah. Sudah cukup aku gak bisa memberikan kasih sayang yang utuh untuk Boy dan Gadis… Aku gak mau kamu menanam benih lagi, gumam Sekar dengan rasa ketakutannya.


Nafas Sekar yang tidak stabil itu membuat otot pada bagian intimnya menolak kejantanan Raja yang sudah menekan-nekan minta masuk. Raja mulai mendorong lutut Sekar agar lebih terbuka lebar. Disaat itulah…


Sttt… Sttt… Sttt…


Sekar mulai mengrenyitkan dahi dan matanya, merasakan kejantanan Raja yang berukuran besar dan panjang menerobos lubang yang otot-ototnya sudah lama merapat. Sekar mulai meremas kedua bahu Raja sambil menggelegkan kepalanya.


“Uuhhh… Sakit mas…” Raja menikmati ekspresi Sekar itu. Raja mulai mencium pipi dan bibir Sekar. Dia mulai menggoyangkan pinggangnya. Raja terus menekan pinggang Sekar mendekati pinggangnya. Raja terus menggoyangkan pinggang Sekar terus menerus sampai Sekar berhenti meraung karena kelelahan. Raja semakin merobek baju Sekar yang masih mengganggunya sampai Sekar telanjang tanpa sehelai benang. Raja yang merasakan kalau lahar panasnya akan keluar semakin menekan kejantanannya agar bisa tumpah semuanya di dalam.


Tapi tiba-tiba mobilnya tergoncang. Kaki Raja sedikit meleset dari tumpuannya. Sekar yang merasakan Raja kehilangan keseimbangan mencoba menggeser tubuhnya menjauhi Raja. Lahar panas yang seharusnya tumpah di dalam justru menyembur di kursi panjang mobil.


“Shit…!” (Sial) Raja mengumpat sambil melihat ada monyet dan kijang yang sedang bertarung di luar mobilnya. Sekar sedikit merasa beruntung karena kehadiran monyet dan kijang itu.


Tak lama kemudian, suara handphone Sekar dan Raja saling bersahutan berbunyi.


*****


Bersambung…


*****