
Sepanjang proses perpisahannya dengan Raja, Mona selalu mengamuk dengan orang-orang di sekitarnya. Dia tidak percaya Raja akan semudah itu menyudahi hubungan mereka. Melalui kuasa hukumnya yang bertindak, Raja meminta pengacara itu agar menyuruh Mona keluar dari Pulau nya. Hal itu dikarenakan Raja ingin mencari Sekar dan membawa Sekar kembali ke sisinya. Apa pun status Sekar, kalau pun dia sudah menikah dengan laki-laki lain, Raja ingin merebut Sekar dari laki-laki itu. Yang ada di otaknya saat ini hanyalah Sekar. Seluruh memori singkat yang terjalin selama kurang lebih 3 minggu bersama Sekar, setiap detiknya Raja ingat itu semua.
Hari ini Raja bersama yachtnya sedang berada di perairan Kep. Seribu. Membeli satu kardus alkohol di salah satu resort dan membawa ke yachtnya. Lalu dia akan menghentikan yachtnya di tengah lautan luas untuk mengenang memorinya bersama Sekar. Begitulah hari-hari Raja, tidak ada kebahagiaan. Minum… Mabuk… Tepar… Berteriak ‘SEKARRRRRRRR!!!’
Lalu setelah bangun dari tidurnya, Raja akan sedikit bisa berfikir tentang pekerjaan. Mungkin hanya 3 sampai 4 jam otaknya itu bisa diajak waras untuk bekerja. Setelah itu dia akan mencari alkoholnya yang tersimpan di chiller yacht untuk mengurangi rasa sedihnya karena ditinggal Sekar dengan laki-laki lain. Bahkan kalau ada lumba-lumba lewat, dia akan terjun ke laut dan memeluk lumba-lumba itu. Halusinasinya itu sungguh luar biasa. Dia selalu berfikir apa yang dia peluk adalah Sekar. Kemudian dia akan menangis dan berteriak kenapa dirinya selalu ditinggalkan oleh orang-orang yang dia cintai.
_____
PYAR KLONTANG KLONTANG BRAK GEDUBRAKKKK!
“BRENGS3K KAMU RAJA! SIALAN! SIALAN!” Mona mengobrak-abrik ruang kerja Raja di Pulau. Dia tidak terima diperlakukan seperti binatang. Dia tidak terima harga dirinya itu diinjak-injak. “DIMANA KEPAR4T ITU?!” Mona menumpahkan kekesalannya kepada pengacara Raja.
“Bu, tolong lepaskan tangan ibu dari kerah saya. Saya bisa menuntut anda dengan tindakan kekerasan,” kata pengacara itu dengan menyingkirkan tangan Mona yang mencengkram kerahnya.
“CUIH! FU^*^CK OFF!” (Persetan!) Mona menyingkirkan tangannya tapi sedikit mendorong pengacara laki-laki itu. Pengacara itu mencoba menahan amarahnya.
“Bu Mona, posisi pak Raja sedang ada di Kep. Seribu. Dia meminta saya menyerahkan dokumen-dokumen ini ke ibu,” kata pengacara itu dengan menyodorkan amplop coklat yang berisi dokumen. “Pak Raja tidak sekejam itu kepada bu Mona. Lagi pulau ibu Mona yang melayangkan gugatan cerai.” Mona mulai membuka isi amplop itu. Membaca dan memahami isi dokumen.
“Apa ini?” tanya Mona.
“Pak Raja memberi salah satu aset perusahaan berupa sebuah kapal yang bernilai 2 Milyar dan juga kertas cek 1 milyar.” Hemm... Mona sedikit tersenyum dan memeluk isi amplop coklat itu.
“Pak Raja beharap ibu Mona bisa bahagia setelah perceraian ini. Saya mohon kerja samanya. Saya akan mengantar ibu ke dermaga.”
“Gak usah! Saya bisa pergi sendiri!”
Akhirnya Mona melangkahkan kakinya meninggalkan pulau Raja dan pergi ke Singapore ke apartemen lamanya. Meski dia kehilangan Raja, setidaknya ada bekal hidup untuk beberapa tahun ke dapan. Oh tidak, mungkin beberapa bulan ke depan untuk total angka nominal 3 milyar.
_____
Hari-hari Raja setelah perpisahannya dengan Mona bukannya menjadi baik, tapi semakin buruk. Raja memforsir dirinya untuk mencari keberadaan Sekar, pagi, siang, sore dan malam. Dia juga menyuruh seseorang untuk mengkorek informasi dari keluarganya Sekar.
“Pak Raja, menurut informasi yang saya dapat dari ayahnya langsung, bu Sekar bekerja di Tarempa setelah putus dari tunangannya. Saya sempat bertanya siapa itu tunangannya bu Sekar, tapi ayah bu Sekar justru marah-marah.”
“Saya tunangannya Sekar. Kamu tidak perlu mencari tahu hal itu.”
“Baik pak.”
“Kamu bisa pergi ke Tarempa. Cari tahu dimana Sekar.”
“Siap! Laksanakan, pak.”
Orang suruhan Raja itu pergi keluar dari ruang kerja Raja. Ben yang sedari tadi berusaha mendengar lewat sambungan recordernya, tidak bisa mendengar apapun karena recordernya bermasalah. Terpaksa Ben menghadang orang itu dan mencari tahu apa yang sedang Raja rencanakan.
“Suiitttt…” Ben bersiul memanggil laki-laki yang berjalan keluar dari ruang kerja Raja. Ada uang ada informasi yang bisa Ben dapat untuk laporannya ke pak Ansu. Lama-lama Ben lelah bersiul-siul karena banyak sekali orang-orang dengan wajah asing keluar masuk ruang kerja Raja. Padahal rata-rata informasi yang dia dapat adalah sama. ‘Saya ditugaskan ke Utara Tarempa mencari Sekar’, ‘Saya ditugaskan ke Selatan Tarempa mencari Sekar’, begitulah seterusnya sampai 8 penjuru mata angin dari orang-orang berbeda melapor.
“Haduuuhhh… Belahan Tarempa sebelah mana lagi yang mau digasak bos gilaku?” bisik Ben ketika melihat wajah asing yang kesembilan menuju ruang kerja Raja. Karena arah mata angin cuma 8. Ben mulai menepuk jidatnya.
Akhirnya Ben melapor informasi yang dia dapat ke pak Ansu. Ben juga mengutarakan idenya untuk merekrut orang menjadi asisten Raja. Dimana asisten baru itu akan dipakai untuk memata-matai Raja. Secara pekerjaan Ben juga menumpuk. Dia tidak sanggup membagi tugas utamanya dengan membuntuti Raja terus-menurus.
Seminggu kemudian, Ben membawa seorang laki-laki yang perawakannya masih muda ke ruang kerja Raja. Dia mengenalkan orang itu akan menjadi asisten Raja kemana pun Raja pergi.
TOK TOK TOK (Ben mengetuk pintu ruang kerja Raja)
“Masuk!” Mendengar sahutan dari Raja, Ben segera mempersiapkan dirinya memberi mantra-mantra ajaib untuk asisten Raja yang baru.
“Siap om!”
Ben dan assisten yang baru itu mulai masuk ke ruang kerja Raja. Raja mengrenyitkan dahinya melihat wajah baru yang dibawa Ben.
“Mas Raja, perkenalkan ini adalah Shan, keponakan saya. Saya sudah meminta izin pak Ansu untuk menjadikan Shan sebagai asisten pribadinya mas Raja. Saya juga sudah memberi training untuk mendidik Shan agar bisa bekerja dengan baik di perusahan ini,” Ben menjelaskan dengan rinci.
“Mohon bimbingannya,” kata Shan dengan membungkukan badannya.
Raja sebenarnya tidak terlalu butuh asisten pribadi. Yang dia butuhkan saat ini cuma Sekar.
“Hm…” Raja menatap Shan. “Ikut saya…” kata Raja yang kemudian berdiri dan pergi keluar ruang kerjanya.
Raja dan Shan berjalan menuju dermaga. Sementara Ben kembali ke ruang kerjanya. Raja mengajak Ben untuk masuk ke yacht pribadinya. Disana Raja mengintrogasi Shan.
Dari ujung rambut sampai ujung sepatu, Raja mengamati Shan.
“Kamu laki-laki atau perempuan?”
“Ya laki lah pak,” jawab Shan sedikit jengkel kepada Raja.
“Siapa nama kamu tadi?”
“Shan… Shan Shan nama panjangnya,” jawab Shan sedikit tersenyum.
“Emmm. Ada pengalaman kerja di kapal phinisi?” tanya Raja sedikit menyelidik.
“Gak ada pak… Hehee. Saya baru selesai kuliah 3 bulan yang lalu,” jawab Shan dengan jujur.
“Ow. Fresh graduate… Apa yang kamu lakukan selama 3 bulan itu?” Tanya Raja sambil menyalakan api untuk rokoknya.
“Saya… Em… banyak baca novel pak. Dari buku dan… lebih sering baca lewat apk Noveltoon pak. Sama aplikasi yang lain," menjawab dengan bangga.
“Hm… Membosankan.” Mendengar kata membosankan Shan sedikit tersulut emosinya. Secara membaca adalah hobbynya.
“Mending membaca, pak... Dari pada bapak suka mabuk-mabukan. Habis itu teriak-teriak di tengah laut. Gak jelas! Ups!” Shan membungkam mulutnya karena keceplosan.
Raja sedikit tersenyum mendengar celotehan Shan. Karena memang yang diucapkan Shan benar semua.
“Hah! Darimana kamu tahu saya suka teriak-teriak di tengah laut?” Pertanyaan yang semakin menyelidik mengintrogasi Shan.
Shan mulai kebingungan menjawab pertanyaan Raja. Karena dia tidak mungkin mengatakan kalau dirinya membawa misi sebagai tangan kanan Ben dan pak Ansu.
*****
Shan, apa sudah baca karya Sekar yang berjudul 'Love Story Of Sekar' ?
Bersambung…
*****