
Tanpa persetujuan Sekar, Raja mulai mencium bibir ranum yang sedari tadi menguji hasrat kelakiannya. Pelan-pelan Raja menuntun kepala Sekar agar terbaring di bantal kursi panjang itu. Raja merasakan dada Sekar yang bersentuhan dengan dadanya.
“Mas…?”
Raja tidak membalas ucapan Sekar barusan. Dia berlanjut mencium kembali bibir Sekar. Merasakan detak jantung Sekar yang sedikit mengembang dan mengempis lebih cepat. Raja menelusupkan lidahnya dan membasahi bibir Sekar. Sekar yang menutup rapat bibirnya merasakan lidah Raja yang terus mendorong terpaksa harus membuka bibirnya. Raja mulai menikmati lidah Sekar dengan mengadu dengan lidahnya. Raja mengusap-usap wajah Sekar agar perempuan itu lebih rileks. Raja semakin menggoyangkan lidahnya ke setiap sudut mulut Sekar.
Raja terus-terusan menghisap lidah dan mulut Sekar. Hasrat Raja semakin bertambah. Dia mulai meraba buah dadanya Sekar dan meremas-remas dengan kedua tangannya. Jari-jari Raja perlahan-lahan menarik baju tidur Sekar dan menurunkan bhra milik Sekar. Raja menyentuh dan meremas benda itu dengan kedua telapak tangannya. Merasakan sentuhan dari kulit ke kulit.
“Mas?! Stop stop stop!” Sekar memalingkan wajahnya sampai dahinya terbentur sandaran kursi rotan.
“Sekar, aku…”
“Enggak! Jangan kayak gitu mas! Bentar lagi kita nikah… Kamu bisa mendapatkannya setelah itu.” Sekar menjadi takut menghadapi sikap Raja yang tidak bisa terkontrol lagi.
Raja mulai mengatur pernafasanya. Dia menautkan dahinya ke dahi Sekar. Raja mengusap-usap kedua pipi Sekar. Raja berusaha menurunkan hasratnya yang sudah di ujung ubun-ubun untuk lebih bersabar.
“Maaf sayang… Aku sangat kangen sama kamu…” ucap Raja masih di posisi yang sama sambil memejamkan kedua matanya. Sekar pun mengontrol nafasnya setelah ciuman panjang dengan Raja.
“Sabar sedikit lagi, mas.” Sekar cukup paham kalau Raja tipe yang selalu menginginkan apa yang dia mau bila dia sudah suka. “Kita tidur aja yuk… Mas Raja sana bobok sama anak-anak. Biar aku di sini,” ucap Sekar sambil membetulkan bajunya.
“Iya, sayang,” Raja segera berdiri dari tempat duduknya. Kali ini dia harus menuruti kemauan Sekar sebelum perempuan itu marah. Raja mengusapa kepala Sekar. “Good nite sayang…” Raja mengkecup kepala Sekar dan berjalan menuju Boy dan Gadis.
Malam itu Raja merasa bersalah karena sudah membuat Sekar takut. Tapi keinginannya juga tidak bisa ditahan lagi.
Ya sudahlah mencicil dikit gak masalah, batin Raja.
Sepanjang malam itu, Raja mengamati wajah Sekar meskipun Sekar sudah memejamkan matanya. Dia melangkahkan kakinya mendekati sekar lagi ketika perempuan itu sudah terlelap tidur.
____
Keesokan harinya, Boy dan Gadis terbangun lebih awal. Mereka menangis saling berebut dot susu yang hanya ada satu di tempat tidur.
“Huaaa Mamma…”… “Huaaa Pappa…” Mereka saling beradu membuat Tia yang melintas di depan kamar Sekar, masuk ke kamar itu.
“Hloh? Dek… anakmu nangis nih!” Tia sedikit mengeraskan suaranya agar Sekar segera bangun dari tidur.
Sekar mulai membuka matanya. Dia melihat Raja ada di sampingnya masih tertidur. Raja memegangi pergelangan tangannya.
“Mas bangun…” Sekar menggoyangkan bahu Raja. “Ini kok kamu duduk di lantai gini sih? Lepasin tangannya. Itu Boy sama Gadis lagi nangis tuh.” Raja yang masih merasa ngantuk mulai berpindah duduk di samping Sekar. Sementara itu Sekar segera menghampiri anaknya.
“Eh Sekar, kok calon mu bisa tidur di sini? Bentar lagi ayah bangun. Kamu suruh dia pindah ke kamar sebelah sana cepet. Jangan sampai pagi-pagi ada keributan.” Tia memeri saran terbaiknya.
“Mas Raja… Jangan tidur sini! Sana pindah ke sebelah. Bentar lagi ayah bangun. Jangan sampai dia marah ke kita.” Raja yang masih ngantuk sedikit terhuyung berjalan keluar kamar Sekar.
_____
Pagi itu setelah Raja bangun dari tidurnya, dia mengecek ayahnya apakah beliau sudah berangkat ke Jogja atau belum. Raja juga mengundang El untuk ikut hadir di prosesi lamar yang akan diadakan hari ini.
Selesai mandi, Raja mengajak Aan dan Tia untuk belanja barang-barang yang akan jadi seserahan di hari spesialnya itu. Sementara Sekar harus mengasuh Boy dan Gadis. Pagi itu Sekar ditemani mama dan ayahnya untuk menjaga Boy dan Gadis. Sekaligus melayani pembeli karena mereka memiliki toko kue yang ada di rumahnya.
“E’hem… Anak bontot udah pulang ya, pak?” tanya tetangga sebelah yang bernama pak Ali.
“Sekali pulang oleh-olehnya 2 cucu ya, pak… Belom nikah lagi…” Sindir pak Ali dengan senyum yang mengejek.
Pak Ram sebagi rivalnya pak Ali sekaligus teman berdebat di pagi hari, merasa tidak suka dengan sindiran pak Ali.
“E’hem… Ya biar… Itu pertanda anak saya subur… Dari pada situ belom juga punya cucu…” sahut pak Ram membuat bu Ica cekikikan sambil menggendong Gadis.
“Wah wah… Bangga ya pak, anaknya punya anak dulu sebelom nikah?” pak Ali tidak mau kalah beradu mulut dengan pak Ram.
“Hm… Ya harus bangga lah. Pengusaha kapal kok orangnya,” sahut pak Ram membuat bu Ica menahan tawa sambil mencubitnya. “Aw? Biarin aja… Salah dewe (salah sendiri) suka pamer biasanya... Kita kan jarang-jarang pamer, ma."
_____
Sore harinya, pak Ansu datang bersama El, dokter Ucy, Ben dan Shan ke rumah Sekar. Banyak sekali oleh-oleh yang dibawa pak Ansu dan El untuk keluarga Sekar.
Sebagai calon besan, pak Ram dan bu Ica menyambut kedatangan pak Ansu dengan ramah. Pak Ansu yang sudah dikode oleh Raja kalau ayahnya Sekar masih belum menyukainya sepenuhnya, memberi perhatian lebih untuk pak Ram.
Saat ini Sekar tengah duduk di depan meja rias untuk memoles mukanya dengan make up. Tia yang memiliki skill khusus dalam merias memberikan hasil riasan terbaiknya untuk adiknya. Sekar memilih dress panjang dengan lengan panjang untuk acara lamarannya. Baju yang dipilih Sekar cukup simple karena acara lamarannya pun cuma dihadiri keluarga inti.
Selesai berias, Sekar keluar menuju ruang keluarga yang sudah penuh dengan banyak keluarga dari Raja dan dirinya.
“Sekar,” dokter Ucy mendekati Sekar. Mereka saling melepas rindu. “Selamat ya, akhirnya kamu balikan lagi sama mas Raja. Aku seneng banget bentar lagi kamu bakal nikah sama ayah dari anak-anakmu,” ucap dokter Ucy dengan memeluk Sekar.
“Terimakasih ya, kak.”
“Kamu cantik banget malem ini. Anggun,” puji dokter Ucy dengan melihat penampilan Sekar dari ujung kaki sampai kepala.
“Kak Ucy juga cantik…” Sekar balik memuji.
“Jadi gimana hubungan kakak sama pak Ansu?” bisik Sekar dekat telinga dokter Ucy.
“Hihiii. Kamu ini… Aku kan cuma pengagum rahasianya dia aja,” jawab dokter Ucy sambil melirik ke arah pak Ansu yang sedang sibuk ngobrol dengan pak Ram.
“Atau kakak sama bang El aja… Tuh dia lirik-lirik kakak terus tuh…” kata Sekar sambil melihat El yang tengah ngobrol dengan Aan.
“Mana ada dia lirik-lirik aku. Kamu nih… Dia tuh ya lirik-lirik kamu. Lagian usia dia jauh lebih muda di atasku. Enggak ah! Aku sukanya yang lebih tua.” Dokter Ucy mengelak tidak sependapat dengan Sekar.
“Ya udah… Kakak nyatain dong perasaan kakak sama pak Ansu… Ntar kalau sukses jadi ibu mertua aku. Hihiii.” Sekar terus-terusan menggoda dokter Ucy. Tia yang berdiri di samping Sekar menerka-nerka pembicaraan adiknya itu.
Akhirnya prosesi lamaranpun segera dilaksanakan. Ben selaku asisten pak Ansu yang selalu memimpin acara-acara besar, merasa sangat senang bisa memimpin jalannya acara lamaran bosnya itu. Shan kali ini sibuk di bagian konsumsi. Lebih tepatnya sibuk mencicipi hidangan yang disuguhkan.
Selesai prosesi lamaran, pak Ram dan pak Ansu membahas tanggal pernikahan untuk Raja dan Sekar. Mereka juga membahas tempat acara pernikahan akan dilangsungkan.
Kedua orang tua itu berunding untuk menyewa ballroom terbesar yang ada di Jogja. Bu Ica pun ikut memberi masukan kira-kira berapa ratus jumlah tamu undangan yang akan diundang dari keluarganya.
“Wah, belum lagi tetangga-tetangga kita ini, pak… Banyak banget pasti. Banyak pendatang baru di kampung kita ini,” sela bu Ica ikut nimbrung pembicaraan pak Ansu dan suaminya.
“Istri saya dulu juga orang Joga. Jadi saya akan undang keluarga besarnya juga. Kayaknya ballroom yang akan kita sewa gak akan muat ini. Gimana kalau acaranya di luar ruangan? Jadi outdoor party gitu?” Pak Ansu memberi idenya.
“Bisa-bisa… Dulu Tia mbaknya Sekar, nikahannya di dalam gedung. Jadi bagus juga kalau ganti suasana di luar gedung,” sambung pak Ram.
Raja dan Sekar yang menggendong Boy dan Gadis mendekati orang tuanya. Sekar yang sempat mendengar rencana pak Ansu dan ayahnya merasa memiliki pendapat sendiri.
“Yah, ma… maaf ya kalau aku punya pendapat sendiri. Kalau bisa pernikahannya gak usah mewah-mewah. Gak harus mengundang banyak orang. Lagian aku sudah ada Boy dan Gadis. Kasihan mereka kalau acaranya dibikin meriah-meriah nanti aku gak bisa ngurus anakku. Lagian yang terpenting itu kan aku sama mas Raja bisa sah secara agama dan hukum.”
Beberapa detik orang tua Sekar dan Raja terdiam memandangi Sekar. Termasuk Raja yang tak menyangka kalau Sekar memilih acara pernikahan yang simpel.
“Saya memang gak pernah salah menilai kamu dari dulu, nak,” pak Ansu berdiri mengusap kepala Sekar.
“Kamu yakin acaranya gak mau dibikin meriah, dek?” tanya bu Ica.
“Enggak, ma… Aku maunya yang simple-simple aja,” jawab Sekar dengan tersenyum.
“Kalau gitu, biar aku yang atur. Kita nikahnya di atas kapal phinisi aja. Biar suasananya lebih private,” sambung Raja dengan merangkul lengan Sekar.
*****
Bersabung…
*****