Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Kondisi Sekar



Pagi itu dokter Ucy membawa Sekar menaiki kapal barang yang mendistribusi makanan kaleng atau makanan instan menuju Tarempa. Bau di kapal itu sangat menyengat di hidung Sekar. Berkali-kali Sekar muntah karena tidak tahan bau yang menyengat. Dokter Ucy merasa bersalah melihat tubuh Sekar yang semakin lemas.


“Hoek… Hoek…” Sekar sudah pasrah kalau dirinya bisa mati di tengah lautan. Dia menyenderkan kepalanya di tiang dekat tempat duduk. Tidak ada sepatah katapun yang diucapkan karena tubuhnya tidak ada tenaga. Hanya air mata yang terus mengalir menangisi nasibnya.


“Sekar… sabar ya dek. Bentar lagi kita sampai ke daratan. Kamu harus kuat.” Dokter Ucy hanya bisa mengusap bagian leher, perut dan dada Sekar dengan minyak kayu putih. Tidak ada obat-obatan yang dia bawa saat ini.


Setelah kurang lebih 1 jam perjalanan. Akhirnya mereka sampai di Tarempa. Sekar merasa lebih baik setelah sampai ke daratan. Dokter Ucy tidak henti-hentinya menghibur Sekar agar bisa melupakan Raja.


“Nah... Ini Tarempa. Itu adalah klinik dan rumah ku. Kalau kita jalan ke arah sana lurus terus… Ada air terjun yang cantik banget. Nanti sebelum kamu pulang ke Jogja, kita bisa kesana.”


“Iya, dok. Makasih ya udah bantu saya keluar dari pulau itu…” Wajah Sekar masih tampak sembab. Yah, ini wajar kalau lagi patah hati. Pemulihannya hanya waktu yang mampu menjawab.


“Ya udah, yuk kita makan!” Sekar berusaha tegar menghadapi kehidupannya yang baru. Tanpa Raja, hanya dirinya seorang diri yang merasakan patah hati.


_____


Saat Raja sedang berbahagia dengan Mona. Dia seakan benar-benar lupa dengan Sekar. Malam harinya setelah Mona tertidur di ruang rawat, Raja baru sadar kalau Sekar tidak ada di sisinya sejak pagi tadi dia mengeluh lututnya sakit.


Raja mulai menelpon Sekar tapi nomornya tidak aktif. Pesan di whatsapp hanya centang (v) satu. Padahal jaringan internet di pulau miliknya cukup baik. Raja mulai mencari Sekar di villanya Sekar. Betapa kagetnya dia karena villa itu kosong. Kosong tidak terisi baju-baju tunangannya.


“Sekar? Sekar? Diamana kamu sayang?” Raja mencari di kamar mandi dan dapur mini villa itu tapi dia tidak menemukan apa-apa. “ARGHHHH!” Kepala Raja semakin pusing mencari Sekar. Dia menelpon semua pos security. Dia meminta pengecekan semua CCTV di hari itu.


Seluruh security ikut panik karena Raja memarahi mereka habis-habisan.


“TEMUKAN SEKARRR…! Saya mau dia sekarang!” 20 orang security penjaga pantai mulai pontang-panting mengecek ratusan CCTV yang terpasang.


Kembalilah Sekar… Aku kuatir sama kamu, sayang… Kembalilah ke sini? Batin Raja sambil memantau salah satu CCTV yang dicek. Setelah 2 jam pengecekan, salah satu security memanggil Raja.


“Mas Raja… Ini posisi non Sekar masih di depan ruang rawat non Mona jam 10:17!” Raja segera melangkah untuk melihat rekaman cctv itu.


Betapa bodohnya dia melihat rekaman CCTV itu. Dia memeluk Mona di depan Sekar. Raja sama sekali tidak menyadari hal itu. Apa yang sudah ku lakukan? Pasti Sekar sangat marah Huft… Sekar pasti mendengar semua pembicaraan itu. Raja mulai pusing memikirkan keberadaan Sekar.


Di saat Raja berkonsentrasi melihat isi rekaman itu, seorang security mendekatinya. Gelagatnya menunjukan sedikit ketakutan.


“Mas Raja… Em… Kami minta maaf… 5 CCTV Dermaga Utama… ternyata rusak. Maaf, mas Raja.” Cepat-cepat security itu membungkuk, tidak mau melihat muka Raja.


KLONTANG PYAR BRUG DUBRAK!!!


Puluhan laptop yang berada di meja itu jatuh semua karena Raja membalikan meja. Tangan kekarnya itu benar-benar menghancurkan ruang keamanan. Security yang seharunya mengamankan kemarahan Raja, tidak berani menyentuh Raja. Puluhan security itu terdiam membisu menerima kemurkaan bosnya. Raja semakin pusing harus bagaimana lagi melacak kepergian Sekar? CCTV Dermaga Utama tempat kapal-kapal berlabuh tidak bisa dicek. Ini membuat kepalanya terasa mau pecah.


“Cek semua nakhoda! AKU MAU SEKAR! SEKAR! SEKAR SEKARANG JUGAAA!”


PYARRR! PYARRR! PYARRR!


Raja melempar beberapa laptop ke jendela kaca. Suasana semakin mencekam. Merasa tidak mendapatkan apa yang dia mau, Raja keluar dari ruangan itu.


_____


Saat ini Sekar tengah bersiap mengemasi baju-bajunya. Dia dibantu dokter Ucy mengecek penerbangan pesawat kecil dari Tarempa ke Batam dan Batam ke Jogja.


“Kak, makasih ya. Udah mau nampung aku disini. Rasanya lebih baik. Meski belum 100% baikan...”


“Iya… Aku tahu. Semua butuh proses…” kata dokter Ucy sambil mengotak-atik handphonenya. “Eh, makan yuk! Aku pesan mie goreng sama es jeruk!” Dokter Ucy menarik tangan Sekar menuju ruang makan.


Begitu Sekar membuka bungkus mie goreng, rasa mualnya tiba-tiba kambuh lagi.


“Hoek… HwuekK…” Sekar melihat taburan bawang goreng di mie nya. Sekar berlari menuju kamar mandi. Rasa mualnya semakin menjadi. Baru dia ingin keluar dari kamar mandi, badannya menyuruh kembali ke wastafel. Hampir 45 menit Sekar merasa mual yang begitu hebat. Dia sampai berjongkok di bawah wastafel.


“Haduh dok… Aku gak kuat bau bawang goreng. Hoek… HwuekK… hoek…”


Dokter Ucy menjadi curiga melihat tanda-tanda yang ditunjukan Sekar. Padahal udah 45 menit, masa bau bawang masih kecium juga? Lagian mereka juga ada di kamar mandi… Dokter Ucy tidak merasa ada bau bawang.


“Sekar… Yuk sini. Ku periksa dulu. Mungkin kamu masuk angin. Yuk ikut aku…” Ajak dokter Ucy sambil memapah Sekar ke ruang prakteknya.


Sekar membaringkan tubuhnya ke bed sambil menutup hidungnya. Sesekali memijit kepalamya yang terasa pusing.


Tangan dokter Ucy yang sudah memegang stetoskop mulai maraba dada Sekar. Mengecek denyut jantung dan mulai beralih ke perut. Berkali-kali dokter Ucy memastikan apa yang dia dengar. Dia mengecek stetoskopnya mungkin ada yang salah. Tapi tidak!


“Sekar… Ikut saya.” Ucapan dokter Ucy itu membuat Sekar sedikit kuatir. Ada apa dengan dirinya? Apa dia memiliki kelainan penyakit?


Dokter Ucy mengajak Sekar ke ruang praktek yang memiliki alat USG. Sekar tidak begitu paham alat apa yang digunakan dokter Ucy untuk memeriksa perutnya.


“Kenapa saya, dok?” tanya Sekar bingung melihat layar yang bergerak-gerak. Dia seperti melihat adegan di film-film saat ibu hamil mengecek kandungan.


Antara tega dan tidak tega dokter Ucy harus menjelaskan kondisi tubuh Sekar. Dokter Ucy mempersiapkan dirinya menghadapi respon yang akan diberikan oleh Sekar.


“Sekar, kamu hamil anak kembar dek…” Ucapan itu bagai petir di siang bolong menyambar-nyambar kepala Sekar.


 


*****


Bersambung…


Like, Fav, Hadiah, Vote…


*****