
“Sekar, kamu hamil anak kembar dek…” Ucapan dokter Ucy bagai petir di siang bolong menyambar-nyambar kepala Sekar. Air mata Sekar mulai mengalir. Dia menutup mukanya beberapa detik dan…
“HUAAAAAAA! TiDak MungKin! Aku gak boleh hamil dok! Itu gak mungkin! Aku gak bisaa… hamil sekaraangg… huhuhuuu. Aku gak mau… dokteerrr. Tolong aku… huhuhuu. Tolong aku tolong aku dok….!” Sekar menggoncang lengan dokter Ucy yang memeluknya. “Aku mohon tolong aku… hiks hiks.” Air matanya semakin deras membasahi baju dokter Ucy.
Dokter itu juga ikut meneteskan air mata. Tidak menyangka akan sejauh ini hubungan Raja dan Sekar. Andai Raja cuma ingin memuaskan nafsunya, kenapa sampai menghamili Sekar segala? Laki-laki macam apa yang tega mencampakan perempuan yang mengandung?! Dokter Ucy semakin geram karena pernah mengidolakan Raja.
“Aborsi janin ini, dok… hiks.”
DUARRR!
Ini jelas melanggar kode etik sebagai dokter. Dokter Ucy tidak bisa melakukan ini. Ini sangat bertentangan sebagai sumpahnya sebagai dokter. Secara tubuh Sekar dalam kondisi sehat. Tidak ada alasan untuk mengkuret nyawa yang tumbuh disana. Dokter Ucy menangis memeluk Sekar dengan erat. Dia juga bingung apa yang harus dia lakukan. Yang pasti dia tidak akan mengabulkan keinginan Sekar yang satu itu.
Di saat Sekar menangis sesenggukan, dokter Ucy melontarkan beberapa pertanyaan.
“Dek… apa kamu sanggup menanggung dosa…? Apa kamu tega membunuh darah daging mu sendiri…? Apa kamu siap dengan konsekuensinya…? Bagaimana kalau setelah aborsi, kamu menyesal…?”
Air mata Sekar semakin deras mengalir. Nyawanya terasa melayang memikirkan pertanyaan dokter Ucy. Dia tidak sanggup… Dia tidak tega… Dia tidak siap… Dia takut semakin menyesal nantinya. Tubuhnya semakin lemas menghadapi cobaan hidup.
Sekar terdiam mematung. Dia tidak banyak merespon apa yang dikatakan dokter Ucy. Rasanya seperti mimpi. Ingin sekali berharap itu semua cuma mimpi.
Sekar lebih banyak tidur setelah percakapan dengan dokter Ucy. Entah kenapa dia merasa tidak lapar.
Berkali-kali dokter Ucy menawarkan makanan tapi Sekar tidak mau menerima. Mulutnya membisu. Tapi otaknya bekerja mencari jalan keluar.
Apa jadinya jika ayah sama mama tahu? Apa mereka masih menganggapku anak? Apa mereka mau menerima aku dan bayi-bayiku? Hukuman apa yang akan mereka berikan? “Hiks…” Cobaan macam apa ini…? Tuhan… cabut nyawaku saja. “AKU GAK SANGGUP! Aku gak sangguupp… huhuhuuu…”
“Biar aku mati saja! Aku mau mati sajAAAAA!” Begitulah yang selalu diteriakan Sekar bila di kamar sendiri. Padahal dokter Ucy mendengar ucapan Sekar itu, karena kamar mereka saling bersebelahan.
Hanya rasa kasihan dan iba melihat kondisi Sekar yang seperti itu. Pernah dokter Ucy mencoba mengkorek informasi dari Ben tentang kelanjutan hubungan Mona dan Raja. Ben berkata kalau pernikahan Mona dan Raja akan dilangsungkan bulan depan. Karena Mona tidak mau menunda-nunda lagi. Dokter Ucy semakin yakin kalau Raja memang menggunakan Sekar sebagai alat pemuas nafsu saja.
Setelah seminggu berlalu, kondisi Sekar yang semakin memburuk membuat dokter Ucy cemas. Dia juga cemas dengan janin yang tumbuh di perut Sekar.
“Apa yang sudah ku lakukan? Aku pasti merepotkan kak Ucy. Ini kanapa bukan mimpi saja...?! Kenapa harus aku yang menjalani ini...? Hiks... Apa kabar mu nak? Apa kalian juga ngrasain kalau mama sedih? Apa kalian takut kalau mama pilih aborsi? Hiks... ” Sekar mengusap perutnya. Dia menatap air laut yang membentang luas dari kamar lantai dua itu.
TOK TOK TOK
“Sekar… makan yuk… Aku masak sup ikan nih buat kamu,” kata dokter Ucy. Sekar segera menghapus air matanya dan membuka pintu kamar.
Sekar menikmati sup buatan Ucy. Ada perasaan malu yang mencuat di dalam dirinya. Tanpa kebaikan dokter Ucy, mungkin dia sudah jadi gelandangan.
“Kak…”
“Habiskan dulu makannya. Jangan banyak ngomong,” ucap dokter Ucy sambil sibuk mengunyah makanan.
Akhirnya setelah makan, Sekar memberanikan diri untuk berbicara kepada Ucy. Dia mengutarakan rencana untuk kedepannya nanti.
“Kak, boleh aku minta bantuan gak?”
“Bantuan apa?”
“Aku pasti bantu. Aku akan bantu, adikku.” Sekar menjadi menangis sesenggukan mendengar dokter Ucy memanggilnya adik. Ini membaut Sekar rindu kepada keluarganya, ayah, mama dan mbak Tia kakaknya.
Dokter Ucy sangat senang dengan keputusan Sekar untuk merawat bayinya. Cobaan ini tidaklah mudah. Aku bahkan tidak akan sanggup bila aku di posisi kamu, Sekar, batin dokter Ucy.
_____
Akhirnya keesokan harinya, dokter Ucy membawa Sekar ke Utara Tarempa. Disana ada resort bintang 4 milik kenalan dokter Ucy. Nama pemilik resort itu adalah pak Djayus.
“Pak Djayus ini orangnya sangat baik, dek. Kakak sudah cerita kalau kamu hamil bayi kembar. Hihii. Kakak sekalian nitipin kamu ke dia. Biar kalau ada apa-apa pak Djayus bisa bantu kamu,” kata dokter Ucy sambil berjalan menuju ruang interview Sekar.
“Makasih ya, kak… Entah apa jadinya aku kalau gak ada kakak,” kata Sekar sambil mengusap perutnya.
“Tapi kamu harus hati-hati ya. Ditambah lagi, 2 istrinya itu garang-garang.”
“Apa? 2 Istri? Kalau aku mana mau dimadu. Gak sanggup aku. Mending kabur…”
“Hehee. Iya aku tahu kamu. Ya udah yuk kita duduk di sofa dulu. Pak Djayus nya lagi ada meeting. Eh… Kakak mau ngecek klinik kesehatan di resort ini. Kamu gak pa pa kan ditinggal?”
“Iya kak… Tenang aja. Aku udah baikan kok. 100% sekuat baja,” jawab Sekar dengan senyumnya.
Akhirnya dokter Ucy meninggalkan Sekar duduk di sofa. Sekar memperhatikan betapa cantiknya resort itu. Dia berharap bisa diterima bekerja di tempat itu.
Setelah menunggu 10 menit, akhirnya ada laki-laki yang berusia sekitar 30 tahunan mendekati Sekar.
“Hai…! Kamu yang bernama Sekar ya? Saya Djayus. Saya menerima foto kamu dari dokter Ucy.”
“Iya pak, saya Sekar,” Sekar mengajak orang itu berjabat tangan.
Pak Djayus mulai mengajak Sekar ke ballroom yang ada alat musik cello. Dia meminta Sekar bermain salah satu instrumen musik. Pak Djayus sangat menyukai permainan cello dari Sekar. Ditambah lagi dia bisa nyanyi. Ini merupakan nilai plus tersendiri.
Pintu ballroom yang tidak tertutup itu membuat langkah kaki seseorang tertarik dengan permainan cello Sekar. Langkah kaki lebar yang pernah selalu diikuti Sekar. Yah, dia adalah Raja. Raja yang sempat memiliki meeting di resort itu tertarik karena mendengar permainan cello dan suara perempuan yang dia kenal. Raja berlari menuju ballroom tempat suara cello dan nyanyian itu berasal. Betapa kagetnya dia melihat Sekar bersama laki-laki.
“Selamat, kamu diterima. Semoga bayimu juga senang mendapat berita ini,” kata pak Djayus sambil memeluk Sekar dan mengusap perut Sekar. Sekar pun kaget dengan sikap pak Djayus yang menyentuh perutnya. “Saya pergi dulu ya, nyiapin kontrak kerja kamu.”
“Terimakasih, pak.” Kata Sekar dengan senyum kebahagiaan. Pak Djayus berjalan keluar dari pintu yang lain dari tempat Raja berdiri.
Raja yang menyaksikan peluk-pelukan dan usapan tangan laki-laki di perut Sekar, sangat cemburu. Raja tidak tahu percakapan apa yang dibicarakan Sekar dan laki-laki yang dilihatnya itu. Yang dia tahu… Sekar sudah berkhianat darinya.
*****
Bersambung…
*****