
Semua terlihat memakai pakaian formal malam itu. Madam Lily yang memang suka berpakaian gaya sosialita tetap cantik meski dirinya tidak tahu akan mendapatkan surprise.
“Wau wau… ganteng-ganteng sama cantik-cantik semua ya malam ini. Kenapa bisa kompak begini?” tanya madam Lily penasaran.
Tak lama setelah mereka berkumpul semua, Lia sebagai kepala koki mendorong trolly berisi kue yang atasnya diberi angka 57 tahun. Hampir semua yang berada di kapal itu ikut bergabung menyanyikan lagu ‘happy birthday’. Termasuk para awak kapal, kecuali 2 nahkoda yang bertugas mengendalikan kapal.
Madam Lily tampak bahagia sekali mendapat surprise yang kedua kalinya.
“Happy birthday, omaAA!” celetuk cucu pertama madam Lily memberi kecupan di kedua pipinya.
“Thank you sayang…” sambung madam Lily. Perempuan itu sebetulnya cukup malu dengan angka 57 yang tertancap di atas kue. “Saya jadi malu ketahuan usianya sudah 57. Hehee…” ucapnya sambil melirik ke arah pak Ansu. Yah, madam Lily cukup malu karena dirinya tahu kalau pak Ansu lebih muda 2 tahun darinya.
“Gak pa pa mami… Makin tua makin cantik kok… Yang penting sehat terus,” sambung Kasih yang menghamburkan pelukannya kepada ibu mertuanya itu. “Ayo potong kuenya mam! Saya bantuin.”
Madam Lily pun memotong kue itu dengan bantuan Kasih. Dia membagi-bagikan potongan kue tadi kepada semua orang di kapal itu tanpa memandang siapa pun mereka. Jadilah potongan kue-kue itu menjadi super kecil karena harus berbagi kepada awak kapal.
“Thank you Li, buat kuenya. Happy birthday…” ucap pak Ansu yang mendapat potongan kue terakhir.
“Thank you mas buat surprisenya.” Madam Lily kembali mencari kesempatan untuk mencium pipi pak Ansu. “Saya dengar dari Ben ini ide kamu ya?”
“Lebih tepatnya ini ide aku dan Galang, anak mu. Gimana kuenya? Enak?” tanya pak Ansu.
“Delicious… Pas banget aku suka chocolate cheese cake… Ini ngomong-ngomong bu dokter kemana ya? Kayaknya saya belum ngasih kue ke dia. Tadi sore pun dia keburu pergi.” Pak Ansu yang mendengar ucapan madam Lily pun mulai menyadari kalau dokter Ucy tidak ikut bergabung dalam perayaan itu.
“…Em… Aku juga gak lihat. Mungkin masih di kamarnya…” jawab pak Ansu tanpa rasa beban.
“Ya udah lah kalau gitu. Aku sisain sepotong buat bu dokter. Tolong kasihkan ke orangnya ya mas kalau nanti lihat bu dokter. Kue nya ada di sana,” ucap madam Lily yang kemudian menujuk trolly tempat kue tadi. “Aku mau gabung sama ibu-ibu dulu ya, mas…”
“Ya silahkan, Li…” ucap pak Ansu setelah meneguk segelas white wine.
Pak Ansu yang penasaran dengan keberadaan dokter Ucy mulai melangkahkan kakinya menuju deck lantai tiga tempat kamar dokter Ucy. Dia merasa tidak nyaman juga dengan hubungannya yang sekarang terasa renggang setelah kejadian siang tadi.
TOK TOK TOK
Beberapa kali pak Ansu mengetuk pintu kamar itu tapi tidak ada jawaban. Dia mencoba mendorong gagang pintu itu untuk mengecek apakah kamar itu dikunci atau tidak.
Ceklek…
“Kok gak dikunci?” tanya pak Ansu heran. Dia melangkahkan kakinya pelan-pelan. Bola matanya menjelajahi setiap sudut ruangan. Instingnya mulai mengarah kalau perempuan itu tidak ada di kamar. Pintu kamar mandi pun terbuka saat pak Ansu menoleh ke ruangan itu.
“Kemana dia? Apa dia minum-minum lagi?” tanya pak Ansu sambil berjalan mengecek ke teras luar. Penglihatannya mulai menangkap ada hal yang berbeda di kamar itu. “Kemarin alat make up nya masih di situ… Kenapa ini kosong sama sekali?” tanya pak Ansu dengan mengingat kondisi kamar saat dirinya mengantar dokter Ucy tengah mabuk berat.
Rasa penasarannya semakin bertambah. Dia mengecek wardrobe tempat baju dokter Ucy. Saat dibuka olehnya ternyata wardrobe itu kosong. Tempat koper yang berada di pojok bawah pun kosong.
“Hm… Kalau dia pergi dari sini, gimana caranya coba? Ck. Dasar perempuan, baru dibentak dikit mainnya kabur-kaburan.” Pak Ansu sedikit kesal dengan sikap kekanak-kanakan dokter Ucy. Dia mulai merogoh kantongnya untuk mengambil handphone. Mencari kontak nomor dokter Ucy untuk menanyakan keberadannya. Tapi baru saja dia pencet kontak nama dokter Ucy, handphonenya menolak untuk melanjutkan saluran panggilan. Beberapa kali dia mencoba, tetapi tetap sama.
“Kalau gak ada signal atau saluran sedang sibuk, setidaknya ada operator yang membalas… Ini kenapa gak bisa dihubungi sama sekali…? Apa dia mengeblock nomorku? Ck. Kenapa sih perempuan itu semua nya sama aja… Tersinggung dikit mainnya ngeblock nomor. Hm…” menggelengkan kepala dengan berkacak pinggang.
Pak Ansu pun memutuskan untuk menanyakan hal itu kepada Sekar menantunya. Dia menduga pasti Sekar tahu keberadaan dokter Ucy.
“Raj, mana istrimu?” tanya pak Ansu ikut duduk di depan Raja.
“Lagi di kamar bikin susu buat 2 bocil ini, Yah. Kenapa?” tanya Raja balik.
“Gak pa pa. Cuma mau tanya dimana si Ucy,” jawab pak Ansu.
“Nah tuw Boy sama Gadis lagi berebut ngobrol dengan dokter Ucy. Dari tadi video call an gak selesai-selesai. Rebutan terus mereka berdua,” celetuk Raja membuat pandangan pak Ansu teralihkan kepada kedua cucunya. “Yah, bisa nitip sebentar mereka berdua? Aku mau susul Sekar di kamar. Gak tahu tuw kenapa buat susu lama banget.” Raja mulai beranjak berdiri dari sofanya.
“Hm… Jangan lama-lama… Nanti Boy sama Gadis nangis,” sambung pak Ansu.
Setelah Raja meninggalkan sofa, pak Ansu menggeser pantatnya untuk duduk di samping Boy dan Gadis yang sedang ngobrol dengan dokter Ucy lewat video call. Suara perempuan itu cukup jelas di telinga pak Ansu karena mode speakernya aktif.
“…Boy… bagi handphonenya ke Adis sayang, tante mau ngobrol juga ama Adis.”
“No! Tante gak ucah obrol ama Adis. Obrol ama Boy aja tante…” Boy mendorong-dorong Gadis yang berusaha merebut handphone itu darinya.
“Ih! Boy nakal tante… Adis gak boleh oblol ama tante.” PLAK! Tangan Gadis mulai mengeplak kepala Boy. Boy yang melihat rambut punk nya di layar handphone sedikit tertidur menjadi bersungut-sungut. Balita laki-laki itu mulai mengeplak balik kepala kembarannya. Dan terjadilah insiden keplak mengeplak bergantian. “Huaaa… Adis kena pukul Boy, gendpaaa…” Gadis mulai mengadu ke pangkuan pak Ansu.
“Huaaa… grandpaaa... Adis nakal… Dia duluan pukul Boy, Huaaa!” Boy ikutan merengek dengan masih membawa handphone di tangannya.
Dari posisi tangan Boy membawa handphone, pak Ansu bisa melihat keberadaan dokter Ucy. Perempuan yang dicarinya itu tengah berada di ruang tunggu bandara. Dengan hati-hati pak Ansu meraih tangan Boy untuk mengarahkan layar handphone itu ke mukanya. Dokter Ucy yang tidak menyangka kalau muka pak Ansu akan nampak di layarnya, sedikit tersentak kaget.
“Cy…”
“…Em… Boy Gadis… Tante masuk ke pesawat dulu ya…” Boy dan Gadis yang merasa namanya disebut ikut mendusel-dusel mencari celah agar mukanya nampak di layar.
“Cy saya…”
“Semoga party nya menyenangkan ya, pak. Salam buat madam Lily. Da-da Boy… Da-da Gadis...” Setelah panggilan itu terputus, Boy dan Gadis melupakan keinginan mereka untuk berebut handphone. Mereka kembali asyik bermain bersama.
Kali ini pak Ansu semakin yakin kalau dokter Ucy marah kepada dirinya. Dia berusaha menelpon dokter Ucy lewat handphone itu, tapi panggilannya kali ini tidak direspon.
“Huft… Dia betulan marah sama aku,” bisik pak Ansu dengan memejamkan matanya. “Kemana lagi ini si Raja? Katanya bentar. Udah berapa menit ini gak nongol-nongol? Buat susu atau ngapain sih ini? Lama banget!” kekesalan pak Ansu sedikit meluap menyalahkan Raja yang tidak muncul-muncul. Padahal kalau mau menyadari, dirinya gemas kenapa dokter Ucy tidak memberi kesempatan untuknya berbicara. Tapi pak Ansu justru menyalahkan Raja.
*****
Mas Raja, ayahnya lagi pusing tuh
Jangan asyik asyik terus sama mbak Sekar
Bersambung…
*****