Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Drama Boy & Gadis



“Mas…” Raja yang mendengar suara itu tersentak kaget. Raja mencari asal suara itu dengan menoleh ke arah pintu kamar.


Sekar baru sadar kalau ternyata Raja mengubah penampilannya. Jantungnya mulai berdesir melihat perubahan penampilan itu. Tapi Sekar harus menepis perasaan yang tidak pantas itu.


“Sekar…” Raja menjadi gugup karena sebetulnya dia takut kalau Sekar akan marah atau mengamuk dengannya. “Maaf aku bikin Gadis nangis,” kata Raja dengan tampang bersalahnya.


Sekar melangkah mendekati Raja dan Gadis. Sebenarnya Sekar sudah ingin mengamuk dengan sikap Raja yang mencuri-curi mendekati Boy dan Gadis. Tapi melihat mata Boy yang berbinar-binar bermain dengan ayah kandungnya membuat Sekar mengurungkan niatnya.


“Sini… biar aku kasih minum Gadis,” kata Sekar sambil meraih Gadis dari tangan Raja.


Raja memandangi wajah Sekar yang begitu dekat dengannya. Jantungnya berdebar kembali. Raja merasa dirinya sedikit diterima oleh Sekar. Karena pertemuan sebelum-sebelumnya Sekar terlihat ketakutan dengannya.


Apa ini yang dikatakan Galang? Mendekati anaknya dulu baru ibunya…? Gak biasanya Sekar setenang ini mau berdekatan dengan ku? Gumam Raja masih terus memperhatikan punggung Sekar yang membawa Gadis duduk di tepi bed.


“Mas, bisa kamu keluar…? Aku mau ngasih asi ke Gadis,” kata Sekar sambil menimang-nimang Gadis yang tangisnya sedikit mulai reda.


“A?... Em iya,” Raja mulai melangkahkan kakinya menuju pintu. Tapi…


“Huaaaaaa! Heg heg pap pa… Huaaaaaa!” Sekar tidak menyangka kalau Boy sudah bisa sedikit berucap kata papa. Raja memperhatikan muka Sekar yang serba salah. Raja juga tidak tega melihat Boy meraung. Tapi mau bagaimana lagi, Raja juga harus tahu diri. Sekar masih belum menerimanya.


“Aku akan pergi…” kata Raja melangkahkan kakinya lagi. Tapi langkah kaki Raja tehenti setelah…


“Mau pergi kemana?... Gak denger si Boy manggil kamu?” celetuk Sekar. Raja mulai berjalan menghampiri Boy dan meraih tubuh Boy ke dalam pelukannya. Anak itu dalam sekejap berhenti menangis.


“Pap pa Pa…” Ucapan Boy itu membuat Sekar harus mengalah. Dia tidak mungkin mengusir Raja. Jelas-jelas Boy merasa nyaman bersama Raja.


“Aku bawa Boy ke ruang tamu ya? Kamu bisa ngasih asi ke Gadis,” kata Raja memandangi wajah Sekar yang membuang muka darinya.


Belum sempat Raja membawa Boy keluar dari kamar itu, Boy mulai menangis merengek berucap, “Mam mam ma heg heg mam ma…”


Raja mulai bingung membawa Boy mendekati ibunya lagi. “Pap paa…”


Sekar yang belum sempat membuka bajunya untuk memberi asi ke Gadis mulai paham apa yang diinginkan anak laki-lakinya itu.


“Kamu temani Boy bermain di ujung bed sana. Aku mau ngasih minum Gadis dulu,” kata Sekar.


“Aku boleh di sini main sama Boy?” tanya Raja tidak percaya dengan ucapan Sekar.


“Iya…” jawab Sekar sambil terus mengepuk-epuk pantat Gadis.


Raja segera membawa Boy untuk bermain di bed yang ujung. Raja tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dengan jurus andalannya cilup ba peek a boo… Raja mulai bermain dengan Boy. Sekar mulai memberi Asi ke Gadis yang sudah kehausan.


“Haus ya sayang…? Maaf ya mama pergi sebentar tadi…” kata Sekar mencoba berkomunikasi dengan Gadis.


Selagi Sekar memberi minum Gadis, Raja sudah bergulung-gulung bermain dengan Boy. Melempar dan menangkap Boy membuat balita laki-laki itu kegirangan.


“Cik icik icik…” goda Raja.


“He he he heg… Hiii…”


Sekar hanya memperhatikan kedekatan ayah dan anaknya itu lewat kaca riasnya. Raja yang penasaran dengan reaksi wajah Sekar, dia mulai mencuri kesempatan melihat Sekar dari kaca rias.


“Jangan liat-liat! Tolong dikondisikan matanya!” celetuk Sekar. Raja mulai menahan senyumnya.


“Engak kok yank… Aku cuma mau ngecek kamu udah selesai apa belom. Kasihan Boy juga haus…” mencari alasan yang paling masuk akal agar Sekar tidak marah.


Apa aku nggak salah dengar…? Sekar menawariku minum? Batin Raja bertanya-tanya.


“Emang boleh aku ambil minum disini?” tanya Raja memastikan.


“Hm… Ambil aja,” jawab Sekar singkat.


Raja mulai meraih tubuh Boy dan mengajak anaknya itu untuk membuka chiller dan mengambil jus apel. Raja menuangkan jus kotak itu ke gelas yang ada di depannya.


“Sekar, apa kamu mau jus juga? Aku tuangin ya?” tanya Raja menatap punggung Sekar.


“Tuang aja.” Raja kembali tersenyum lagi. Rasanya sangat senang meskipun hal-hal kecil seperti itu bisa membuat perasaanya bahagia. Raja mulai meminum jusnya.


“Aku taruh di sini ya… Yok kamu main lagi sama papa, nak… Kamu suka yang manggil papa… Hahaaa! Anak papa emang pinter,” kata Raja sambil melangkah menuju bed.


Begitulah beberapa menit yang berharga untuk Raja sampai Sekar selesai memberi minum Gadis. Dan sekarang giliran Boy. Raja ikut membantu menjaga Gadis selama Sekar memberi asi ke Boy. Gadis yang sudah kekenyangan mulai susah menggerakan perutnya ketika bermain dengan papanya. Raja mulai menggendong Gadis dan berusaha menidurkan Gadis. Sampai akhirnya Sekar berhasil membuat Boy tertidur dan Gadis juga tertidur dalam gendongan papanya.


“Anak papa bobok ya…” kata Raja sambil meletakkan Gadis ke bed. Mengusap-usap pipi Gadis dan mencium kepala Gadis.


Sekar pun mulai meletakkan Boy di samping Gadis. Raja yang masih belum puas bermain dengan Boy mulai naik ke bed dan mencium pipi gembul Boy.


“Udah jangan gangguin lagi. Ntar mereka kebangun,” kata Sekar yang kemudian keluar dari kamar itu.


Raja mulai memakai sepatu, mengambil topi dan masker wajahnya. Raja mulai melangkahkan kakinya keluar mencari keberadaan Sekar.


“Sekar… Sekar…” Raja yang melihat Sekar sedang berdiri di depan villa segera menyusulnya. “Sekar, aku minta maaf karena lancang menemui Boy sama Gadis. Aku kangen sama mereka.” Dari nada bicara Raja, Sekar menangkap kesungguhan laki-laki yang berdiri di sampingnya saat ini.


Sekar sedikit melirik mata Raja yang sedang menatapnya.


“Sekar…” Raja memberanikan dirinya meraih kedua tangan Sekar. “Apa boleh aku memperbaiki kesalahanku…?” Sekar memalingkan pandangannya, tidak mau terjelembab ke lubang yang sama. “Aku serius ingin menikahi mu.”


Sekar mulai memejamkan matanya. Rasanya ingin sekali Sekar mendengar kata-kata ini dari dulu. Tapi dulu… Bukan sekarang. Sekarang sudah berbeda cerita. Sekar menarik tangannya dari Raja.


“Em… gini ya mas… Aku izinin kamu buat nebus semua kesalahan mu kepada Boy sama Gadis… Kamu boleh mengunjungi Boy sama Gadis kapan pun kamu mau… Gak usah ngibulin kau suruh main cello 10 lagu…! Kalau kamu izin baik-baik, aku gak masalah…” Raja sangat senang mendengar ucapan Sekar itu. “Tapi kalau buat nikah sama kamu… Aku gak bisa!”


Mereka terdiam beberapa detik. Mungkin ajakan menikah terlalu cepat untuk sekarang. Aku harus bersabar lagi. Aku harus buktikan ke Sekar kalau aku bersungguh-sungguh ingin menikahinya, batin Raja.


“Yah, gak pa-pa. Terimakasih, Sekar… Aku akan berusaha menjadi ayah yang baik,” Termasuk aku akan buktikan keseriusan ku untuk mendekatimu kembali, gumam Raja sambil tersenyum memandangi wajah Sekar yang masih masam.


“Dah ah! Aku mau tidur…” kata Sekar sambil meninggalkan Raja.


“Sekar… good nite… Besok pagi aku akan datang lagi,” kata Raja yang tidak dipedulikan Sekar.


 


*****


Bersambung…


*****