Sekar & Raja Phinisi

Sekar & Raja Phinisi
Kemarahan Raja



Siang itu El mencoba menelpon Ben berkali-kali. Akhirnya setelah panggilan ke 10, barulah Ben mengangkat telpon El.


TUT… TUT… TUT…


“Good afternoon! Ben speaking! Ada apa ya bang?” sapa Ben.


“Kembalikan uang saya. Kamu sengajakan menyuruh saya cepat pergi dari Pulau Letung biar saya gak lihat pertunangan Raja dan Sekar?” Ben yang mendengar ucapan El sudah mulai berkomat-kamit mengumpat kesialan karena uangnya akan melayang. “Transfer balik uang saya! Saya gak butuh kamu buat dapetin Sekar. Saya bisa gunakan cara saya sendiri. Paham?” El segera memutus sambungan telponnya.


_____


Ben yang saat ini tengah menikmati makan siangnya, menjadi tidak berselera setelah panggilan telpon El. Dengan berat hati dia harus mentransfer balik dana yang dikirim oleh El.


Dasar Serakah! Dulu Mona diembat… Sekarang Sekar mau diembat juga… Abang macam apa kamu ini? Gue kan juga butuh mikir buat bujuk Sekar… Gak sabaran banget sih! Hm… Nih gue transfer balik! Gerutu Ben sambil mentransfer uang El lewat internet banking.


Apa maksud El pakai cara sendiri…? Apa dia sudah berhasil bujuk Sekar buat ikeh ikeh…? Tapi kayanya gak mungkin… Apa El kasih iming-iming sesuatu ke Sekar jadi Sekar mau mengiyakan kemauan El…? Hm… Kalau sampai kaya gitu ceritanya aku akan lapor ke mas Raja. Biar kena hajar dua-duanya! Hahaaa! Aku harus cari tahu ada apa antara El dan Sekar. Kalau sampai aku menemukan ada main antara mereka berdua tanpa sepengetahuan ku… Habis kalian di tangan mas Raja. Hahaaa. Jangan main-main dengan Ben! Batin Ben.


Ben segera menghabiskan makanannya untuk mencari tahu perkembangan apa yang sedang terjadi antara El dan Sekar. Dia menuju ke villa Sekar dengan buggynya.


_____


Sekar yang saat ini tengah ada di kamarnya, sedang asyik ngobrol dengan ayahnya. Mereka membicarakan banyak hal. Sekar mengaktifkan loud spekernya sambil mengotak-atik ipodnya yang lain untuk menghapus lagu-lagu lawas. Sekar juga menceritakan ke ayahnya kalau dirinya sudah bertunangan dengan Raja. Sekar meminta maaf karena acaranya juga surprise dadakan sehingga tidak sempat mengundang Ayahnya.


“Iya gak pa pa. Yang penting anak ayah udah dapet calon suami. Kirimin fotonya nak Raja ke Ayah ya, Sekar… Ayah mau pamer tuh sama pak Ali tetangga sebelah. Dia pikir anaknya yang paling hebat bisa nikah sama juragan beras?!” kata pak Ram.


Ben yang saat ini tengah berada di depan villa Sekar, menghentikan niatnya untuk mengetuk pintu. Ben menguping pembicaraan antara Sekar dan pak Ram.


“Gak usah lah ayah! Ngapain pamer-pamer segala? Ntar kalian berantem lagi. Ujung-ujungnya juga mama yang maju perang kalau lagi berantem.”


“Hahaa! Tahu aja kamu nih…”


“Iya lah…”


“Kamu ni lagi ngapain kok ayah denger suara krusek krusek?” tanya pak Ram penasaran.


“Ini loh Yah… Aku lagi menghapus lagu-lagu di ipodku. Mau aku pakai rekaman di villa abangnya mas Raja,” jawab Sekar sambil sibuk memilah-milah lagu untuk di hapus.


“Hloh? Kamu mau main ke villa abangnya tuananganmu?”


“Iya… Emang kenapa? Aku butuh cello sama ruangan kedap suara biar hasil rekaman bagus.”


“Ow… gitu… Hati-hati kamu ya. Jangan deket-deket… Meski calon ipar kan dia juga laki-laki. Harus jaga jarak.”


“Iya ayah… Mana mungkin aku main serong. Aku kan tipenya setia kaya ayah ke mama. Hihii…”


“Hahaa! Ya jelas dong. Eh, udah dulu ya Sekar. Ada rombongan mau masuk ke toko kue. Hati-hati ya Sekar… Sambung lagi besok.” Pak Ram menutup sambungan telponnya.


Ben yang masih di luar villa, mulai tercetus sebuah ide hebat untuk mendapat pundi-pundi uang dari Raja. Bibirnya sudah tersenyam-senyum memikirkan rencana yang ada di kepalanya.


“Wah wah… rejeki nomplok nih. Kalau aku laporin ke mas Raja… Entah berapa dollar yang akan ditransfer ke rekening ku… Hihiii. Hm… Aku harus menghubungi mas Raja buat laporin hal ini… Em… Tapi di Natuna susah signal. Sial! Apa aku susul mas Raja pakai helikopter? Yah… Aku susul aja mas Raja. Masih bisa mengejar waktu sampai sore nanti,” Bisik Ben dengan pelan.


Ben sudah menjerit-jerit manja di dalam helikopter. Pengemudi pilot hanya tertawa-tawa melihat Ben kelimpungan dengan kondisi alam.


_____


Akhirnya setelah perjalanan antara hidup dan mati demi dollar, Ben sampai di Natuna. Dia harus mengejar waktu untuk sampai ke tempat rapat Raja. Petir sudah menyambar-nyambar di daerah Natuna. Sore itu hujan sangat lebat.


Raja saat ini tengah meeting untuk membahas pengembangan kapal phinisi agar bisa berlayar di perairan Asia Tenggara atau lebih tepatnya di Luar wilayah Indonesia. Dia dikejutkan dengan kedatangan Ben yang sudah basah kuyup. Banyak mata melihat Ben yang memasuki ruangan meeting.


“Kenapa Ben?” tanya Raja saat Ben sudah ada di dekatnya.


“Sekar… Sama El… Di villa El…” Baru Ben mengucapkan nama Sekar dan El, mata Raja sudah hampir copot melototin Ben.


“Rapat hari ini kita akhiri sampai disini. Thank you very much. See you for the next meeting.” Raja membubarkan meeting dan segera turun dari panggung tempat presentasi. (Terimakasih banyak. Sampai jumpa di meeting yang selanjutnya)


Para anggota meeting jadi gaduh karena Raja mengakhiri meeting secara mendadak. Padahal masih banyak yang harus dibahas.


Raja segera berjalan keluar dari ruang meeting. Ben yang langkah kakinya tidak selebar Raja harus berlari sedikit agar tidak tertinggal.


Badan Ben sudah menggigil karena badannya diguyur air hujan. Bibirnya seperti tidak bisa menjelaskan apa-apa lagi.


Raja yang melihat helikopternya sudah siap di depan Gedung, langsung berjalan menuju helikopter. Sikap Raja ini mengingatkan Ben saat dia melaporkan Mona dan El yang tengah berlibur di Bandung. Ben berusaha berjalan secepat mungkin untuk ikut masuk ke helikopter.


Raja sudah duduk di kursi depan bersama pilot dan memasang sabuk pengaman. Ben ikut duduk di kursi belakang.


“Balik kita ke Pulau!” kata Raja dengan suara lantang dan keras. Yah, harus keras karena suara petir sudah menyambar-nyambar dan baling-baling ikut memenuhi gendang telinga.


“Tapi sekarang ada badai di tengah laut sana, mas!” Pilot itu menginstruksi Raja agar membatalkan penerbangan.


“MINGGIR KAMU! Saya bisa jalankan!” Kata Raja sambil mendorong pilot agar keluar dari helikopter. Sabuk pengaman yang dipasang Raja sampai lepas karena Raja berpindah ke kursi kemudi. Ben yang sudah gelagapan kalau Raja yang akan mengemudikan helikopter berusaha melepas sabuk pengaman untuk keluar dari helikopter. Tapi entah kenapa sabuk pengamannya susah dibuka.


Raja mulai membawa helikopter untuk naik ke udara. Kondisi helikopter yang terus oleng karena badai membuat Ben sangat ketakutan.


Mati… Apa aku akan mati hari ini…? Apa ini karma karna aku ngejual Sekar? Aaaaa Tidak…! Hentikan badainya! Aku mau tobat…! Lautan Anambas jangan makan aku…! Ben sudah terombang-ambing di dalam helikopter. Pikirannya membayangkan bagaimana Raja menabrak mobil El. Semoga Raja gak nabrak villa El… Aku masih mau hidup, batin Ben sambil menguatkan pegangannya.


 


*****


Selamat menikmati helikopter goyang Ben…


Buat El, bersiaplah disana


Bersambung...


*****